Nana mengetuk pensilnya ke meja secara sengaja untuk mengganggu konsentrasi Darrel. Tatapan tajamnya terus menuju pada wajah tampan di sampingnya ini. Lalu saat Darrel menatapnya, ia akan secara langsung mengalihkan pandangannya. Lama memperhatikan Darrel, Nana jadi melupakan soal- soal di depannya.
Nana meringis kecil saat melihat jam tangannya, ujian hanya tinggal berlangsung dua puluh menit lagi, dan ia sama sekali belum mengerjakan satu soal pun. Di sampingnya, Darrel tersenyum melihat Nana yang terlihat terburu-buru mengerjakan soal. Hanya tinggal beberapa orang saja di kelas itu, termasuk dirinya dan Nana.
Secara sengaja Darrel menyenggol pelan lengan Nana, lalu bangkit untuk mengumpulkan lembar jawabannya. Nana yang melihat itu semakin gugup, jumlah murid di kelas itu semakin sedikit, hingga lama kelamaan tinggal ia dan pengawas saja di kelas itu.
"Itu kamu masih kurang banyak yang belum dikerjakan?" tanya guru yang menjadi pengawas ujian di kelas itu.
Mendengar pertanyaan itu Nana segera menyelesaikannya tanpa membaca terlebih dahulu soalnya.
"Sudah kok Pak," Nana maju ke depan dengan membawa kertasnya.
Setelah itu Nana pergi keluar. Ia memejamkan matanya sebentar, lalu mengangkat kedua ujung bibirnya. Ia berjalan seperti tanpa ada beban, karena sesuai prinsip saat melakuan ujian yang juga dimiliki banyak murid 'Datang kerjakan, selesai lupakan,'. Toh ini hanya ujian biasa, ia tidak perlu memikirkannya lagi. Dengan senyuman manisnya Nana hendak menuju ke kantin untuk menghampiri teman-temannya yang lain, atau mungkin bertemu kedua sahabatnya di sana. Tapi raut wajahnya langsung berubah suram saat melihat Darrel berduaan bersama Vania di kelas yang ia lewati. Mau tidak mau Nana berhenti melangkah, lalu mengintip dari pinggir jendela.
"Kamu nggak jalan lagi kan sama Cantika?"
"Nggak,"
"Pembohong kelas atas," batin Nana.
"Kamu ini lagi ngajak balikan ya sama aku?" tanya Vania dengan suara manja.
"Gue pengen muntah, sumpah," Nana membuat ekspresi ingin muntah, lalu secepat mungkin ia tersenyum saat ada siswi yang lewat di depannya.
"Gue pacaran sama Nana Van," jawab Darrel.
"Tapi kamu pasti nggak cinta kan sama dia? Dia kan suka caper, sok imut, sok polos, udah gitu nggak cantik lagi,"
Nana meremat roknya kesal, "Dia lagi jelek-jelekin gue? Nggak ngaca apa? Mantan gue aja Fian, sekarang Darrel, kurang cantik gimana coba gue?" gerutu Nana kesal, namun ia langsung tersadar akan suatu hal, "Oh iya, Fian kan cuma manfaatin gue. Darrel juga cuma pacar pura- pura. Apa bener gue nggak cantik ya, makanya Fian sampai selingkuhin gue?" tanya Nana mulai tidak percaya diri.
"Gue emang playboy, tapi gue bukan cowok yang suka selingkuh. Gue suka atau nggak sama Nana itu urusan gue, Lo nggak perlu ikut campur," ucap Darrel dengan suara yang terdengar serius.
Jawaban Darrel membuat Nana tersenyum senang. Hatinya langsung menghangat mendengarnya, ia benar- benar sangat bahagia sekarang. Saat ia membalikkan badan, tiba- tiba Gavin berdiri di depan Nana membuatnya terpekik karena terkejut.
"Kak Gavin!" Nana reflek memegang dadanya,
"Lo ngapain sih Kak tiba-tiba muncul?" tanya Nana berusaha sabar.
"Bukannya gue yang harusnya tanya sama lo? Lo ngapain di sini?" tanya Gavin balik.
Mendadak Nana bingung dengan pertanyaan Gavin, ia bergumam pelan untuk mencari jawabannya.
"Kenapa Vin?" Nana menoleh, ia tambah gugup saat melihat Darrel keluar dari kelas itu lalu menghampirinya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Darrel pada Nana yang sekarang menundukkan kepalanya.
Nana mendongakkan kepalanya ragu. Tidak mungkin ia menjawab kalau ia di sini karena menguping pembicaraan Darrel dengan Vania, ia harus memikirkan jawaban lain yang lebih masuk akal.
"Emm, gu-gue tadi mau..." Nana tersenyum lebar, "Gue kangen sama Lo," ucap Nana manja, lalu meraih tangan Darrel tanpa ragu.
"Lo diemin gue terus sih, kan gue jadi kangen," ucap Nana. Rasanya ia ingin muntah karena ucapannya sendiri,
"Ha?" tanya Darrel bingung.
Gavin berdeham, "Gue pergi aja deh," Gavin tersenyum geli lalu pergi dari sana.
Nana terlalu nyaman memeluk tangan Darrel, hingga ia tidak menyadari kalau sekarang Darrel sudah menatapnya dengan tatapan bingung. Bukan hanya Darrel, tapi orang yang lewat juga menatap mereka dengan tatapan geli.
"Na, Lo ngapain?" bisik Darrel.
Nana mendongak menatap Darrel, "Gue beneran kangen sama Lo," ucap Nana dengan polosnya.
"s***p nih bocah,"
.
.
.
Darrel tahu Nana sedang mencari perhatiannya, bukannya Darrel kepedean. Ia rasa tebakannya benar, karena sedari tadi Nana terus berkeliaran di depannya. Entah saat istirahat, dan saat pulang sekolah sekarang.
"Darrel!" Akhirnya Nana memanggilnya setelah sekian menit.
Darrel hanya menoleh tanpa bersuara, kakinya terus melangkah maju.
"Lo kenapa sih? Gue ada salah ya sama Lo?" tanya Nana. Ia sedikit kesusahan mengikuti langkah kaki Darrel yang panjang.
Darrel tidak menjawab,
"Lo marah gara-gara kemarin gue ganggu kencan Lo ya?" Darrel tetap tidak menjawab.
"Darrel! Darrel!" teriak Nana saat Darrel malah berjalan cepat meninggalkannya.
"Dia beneran marah ya?"
"Na!" Nana menoleh saat mendengar suara memanggil namanya.
"Kevin?" tanya Nana saat melihat Kevin, lalu ia menatap sedikit takut pada seseorang di samping Kevin, "Hai Riko," cicit Nana.
Riko hanya menatap Nana sekilas, "Gue ke depan dulu," ujar Riko pada Kevin. Kevin menganggukkan kepalanya, lalu Riko segera pergi dari sana. Ia masih sangat kesal pada Nana karena kejadian tempo hari. Daripada ia membuat masalah karena mungkin bisa saja ia menyakiti gadis itu, lebih baik ia pergi menjauh.
Nana menghela napas saat Riko pergi. Dan itu tak luput dari pandangan Kevin yang menatap gadis itu bingung, "Lo masih takut sama Riko?" tanya Kevin.
"Eh, enggak. Bukan takut sih, cuma rada ngeri aja, hehe," ujar Nana.
"Tapi jangan bilang- bilang sama Riko loh ya," ujar Nana setelah sadar jika ia sedang membicarakan orang lain di depan sahabat orang itu sendiri. Bisa dead beneran dia jika Riko mendengar ucapannya barusan.
Kevin terkekeh kecil, "Sans Na. Gue nggak se- Cepu itu juga lagi," ujar Kevin.
Nana menganggukkan kepalanya percaya, "Oh ya, kenapa Lo manggil gue barusan?"
.
.
.
Nana dibuat bingung dengan perasaannya sendiri. Hatinya merasa nyaman bersama Darrel, Nana mengakuinya. Tapi saat hatinya mengatakan kalau ia menyukai Darrel, ia selalu menyangkalnya. Benar-benar membingungkan,
Namun, perbuatannya sekarang benar- benar sudah mirip penguntit daripada menyukai seseorang.
Tadi, setelah pulang sekolah ia langsung mengikuti Darrel yang akan mengantarkan Vania entah ke mana. Tentu saja ia tidak sendiri. Ada Kana yang untungnya dengan suka cita mau mengantarkannya.
Motor yang disetir Kana berhenti saat motor di depannya juga berhenti. Itu Darrel yang sedang menurunkan Vania, sepertinya Darrel hanya mengantarkan Vania pulang saja, tanpa ada kencan ataupun sejenisnya.
"Ini Lo beneran nggak mau nyamperin dia?" tanya Kana.
Dengan cepat Nana menggeleng tanpa berpikir panjang, "Bisa malu banget gue kalau muncul tiba-tiba. Iya kalau Darrel nggak marah, kalau malah jauhin gue lagi gimana?"
Kana hanya mengangguk singkat. Sebenarnya ia malas mengantarkan Nana seperti ini, tapi karena rasa kemanusiaan ia mau mengikuti kemauan sahabatnya itu.
Kana kembali menjalankan motornya lagi setelah Darrel juga pergi dari sana. Untung Kana sudah terbiasa mengebut dijalanan, jadi untuk mengikuti motor Darrel yang sudah jelas jauh berbeda dari motornya pun hal mudah untuknya.
"NA JANGAN NGEBUT-NGEBUT!" teriak Nana sedikit keras. Namun, bukannya menuruti ucapan Nana, justru Kana malah semakin mengencangkan laju motornya.
Mereka kembali berhenti di sebuah taman yang cukup terkenal di kota. Nana turun dari motor Kana, begitupun dengan Kana.
Di sana Darrel tidak lagi sendiri, tapi bersama dengan Cantika. Benar-benar playboy k*****t! Baru saja mengantarkan Vania pulang, lalu dalam waktu sangat singkat ia sudah bertemu lagi dengan wanita yang berbeda, batin Nana kesal.
Darrel dan Cantika sedang mengobrol, entah membicarakan apa, suara mereka tidak terdengar karena jarak mereka yang lumayan jauh.
"Eh Na! Gue harus pulang sekarang!"
"Eh! Eh! Terus gue gimana?" tanya Nana panik.
"Pliss maaf. Ini penting banget soalnya, maaf ya," Kana naik ke atas motornya, lalu segera melaju pergi meninggalkan Nana.
Nana menggerutu pelan, ia menoleh, tapi Darrel dan Cantika sudah tidak ada lagi di sana. Nana berjalan mengitari taman itu untuk mencari mereka, setelah lama berjalan, akhirnya ia menemukan mereka yang sedang makan es krim di kursi panjang yang tersedia di taman itu. Nana berjalan mendekat, tapi berusaha sepelan mungkin agar tidak ketahuan.
Namun sepertinya Tuhan sedang tisak baik kepada Nana, tanpa sengaja kakinya menginjak kayu hingga akhirnya ia terpeleset lalu jatuh menubruk rerumputan di bawahnya.
"AKH!"
Darrel dan Cantika menoleh bersamaan.
"Nana?"
.
.
.