Darrel tersenyum tipis dari balik helm- nya, ia sengaja melajukan motornya dengan kecepatan sedang agar dua orang gadis yang mengendarai motor matic di belakangnya itu dapat mengikutinya. Lalu ia berhenti saat tiba di depan rumah Vania.
"Makasih ya udah nganterin," ucap Vania sembari melepaskan helm- nya.
"Ya,"
Darrel melihat ponselnya yang bergetar, sebuah panggilan dari kontak yang ia beri nama 'Cantika'. Ah! Ia lupa kalau sudah ada janji dengan Cantika. Huh! Gara- gara wanita rempong ini ia jadi harus repot- repot mengantarnya, dan akhirnya ia terlambat menemui Cantika. Darrel menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis sambil mematikan sambungan telepon itu.
"Kayaknya gue harus buru- buru deh Van. Sorry ya,"
"Eh, nggak mau mampir dulu?" tanya Vania buru- buru sebelum Darrel melajukan motornya.
"Nggak!" teriak Darrel.
Awalnya Darrel mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, namun saat melirik motor di belakangnya yang ternyata masih tetap mengikutinya itu ia langsung mengebut dengan harapan mereka akan kehilangan jejaknya. Sepertinya pertemuannya dengan Cantika adalah privasinya.
Setelah tiba di sana, ia langsung menghampiri Cantika yang sedang bersandar pada pohon besar di taman itu.
"Eh! Akhirnya kamu datang juga," sindir Cantika sedikit kesal saat melihat kedatangan Darrel dengan seragam sekolahnya.
Darrel tertawa pelan sambil menggaruk kepalanya, "Ya maaf, kan tadi ada ujian," alibi Darrel.
"Iya deh, moga nilainya bagus ya," ucap Cantika, lalu memeluk tubuh Darrel.
"Aku kangen banget sama kamu," ucap Cantika sembari mengeratkan pelukannya.
"Halah! Baru dua hari aja udah kangen," ucap Darrel sambil terkekeh kecil.
Cantika melepaskan pelukannya, ia mengerucutkan bibirnya tidak suka.
"Aku tuh kangen sama kamu setiap saat. Dua hari itu dua puluh empat jam, belum menitnya, detiknya, itu lama banget tahu," ucap Cantika manja.
"Iya deh iya. Yuk! Katanya mau es krim," Darrel merangkul bahu Cantika, lalu membawanya ke kedai es krim yang juga berada tidak jauh dari sana.
Setelah membeli es krim, mereka duduk di kursi panjang yang tersedia. Sembari menikmati es krim itu tidak lupa Cantika mengabadikan momennya bersama Darrel dengan kamera ponselnya. Ya walaupun mereka belum pacaran juga sih, tapi rasanya ia sangat nyaman bersama dengan pria itu.
"Oh iya, kamu ini niatnya ngapain sih sama aku? Cuma pengen cari temen aja, atau gimana?" tanya Cantika.
Darrel menatap Cantika bingung, ia pun tidak tahu yang ia lakukan sekarang. Ia tidak mencintai wanita itu. Walaupun sudah beberapa kali putus nyambung dengannya, tapi untuk kali ini Darrel tidak ada niatan untuk mengajak Cantika balikan.
"Gue udah punya pacar," ucap Darrel pada akhirnya.
"Ha?"
"Sorry Can,"
"Terus maksud Lo apa deketin gue, ha?! Lo lagi berantem sama cewek Lo, makanya itu Lo deketin gue? Gue nggak semurahan itu ya mau sama cowok yang udah punya pacar! Dan gue nggak mau cuma jadi pelarian, Brengs*k!" tuduh Cantika bertubi- tubi. Rasanya sangat menyakitkan, bisa- bisanya pria itu dengan gampangnya mendekatinya, lalu mengatakan kalau ia sudah memiliki wanita lain?
"Can gue beneran minta maaf. Lo cewek baik, gue cuma ngerasa nyaman sama Lo. Gue nggak pernah punya niat buat jadiin Lo pelampiasan. Gu--"
"AKH!"
Mereka berdua menoleh bersama karena terkejut dengan suara pekikan yang berasal dari belakang mereka.
"Nana?" tanya Cantika.
Darrel langsung menghampiri Nana, diikuti Cantika dibelakangnya.
"Nana? Lo ngapain di sini?" tanya Cantika sembari membantu gadis itu berdiri.
"Gu-- gue.."
"Lo apa-apaan hah?! Lo ngikutin gue?!" tanya Darrel membentak.
Nana terkejut karena Darrel membentaknya, ia tidak pernah melihat Darrel membentak wanita manapun. Atau mungkin dirinya adalah wanita pertama tersebut? Sepertinya tindakannya kali ini sungguh sudah keterlaluan sampai membuat pria itu marah seperti ini. Ia menundukkan kepalanya dalam, tanpa sadar setetes demi setetes air mata mengalir di pipinya.
"JAWAB GUE!"
"Darrel!" ucap Cantika memperingatkan,
"IYA GUE NGIKUTIN LO, KENAPA?!" jawab Nana dengan deraian air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Kenapa?" beo Darrel, " Bisa- bisanya Lo tanya kenapa?! Lo nggak sadar diri hah?!"
"IYA GUE NGGAK SADAR DIRI, kenapa?! Gue cuma hiks nggak mau Lo deket sama cewek selain gue. Gue hiks... gue nggak suka Lo deket sama mereka," ucap Nana tanpa berpikir panjang. Kata- kata itu secara tiba-tiba langsung muncul di otaknya.
Darrel diam, jujur saja, ia juga cukup terkejut dengan yang diucapkan Nana.
"Gu-- gue tahu gue salah. Seharusnya gue nggak boleh suka sama Lo. Tapi gue bisa apa? Gue suka sama Lo, gue cemburu Lo deket sama cewek lain," Nana menutupi wajahnya. Perasaannya sudah sangat campur aduk sekarang, antara malu dan sakit hati saat mengakui semua itu di hadapan Darrel.
"Ha? Jadi lo suka sama Darrel? Apa cewek yang Lo bilang pacar Lo itu Nana? Bukannya Nana pacar Fian? Darrel Jawab!" tanya Cantika bertubi- tubi pada Darrel.
"Mending sekarang Lo pergi, ini urusan gue," ucap Darrel enggan menjawab pertanyaan Cantika.
"Tapi gue--"
"Pergi Can!" ucap Darrel dengan setiap tekanan dalam katanya.
Cantika menggeram kesal, ia langsung pergi sebelum amarahnya membuncah. Ia masih punya harga diri untuk tidak memaki Darrel sekarang, karena di sini dirinyalah yang terlihat seperti orang ketiga. Dan ia juga yakin jika kedua insan tersebut memang punya hubungan lebih dari sekadar teman.
Nana masih menunduk dengan air matanya, ia merasa sudah tidak punya hak lagi untuk mendongakkan kepalanya. Rasanya benar- benar sangat memalukan. Dan karena rasa malu itulah air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
Darrel menatap Nana geli. Lucu saja melihat gadis itu mengakui perasaan kepadanya dengan keadaan seperti ini.
"Jadi ceritanya Lo lagi nembak gue?" tanya Darrel membuat Nana perlahan mendongakkan kepalanya.
"Ha?"
"Lo suka sama gue? Terus Lo nembak gue?" Pipi Nana langsung memerah malu. Ia mengalihkan pandangannya untuk menetralisirkan debaran di dadanya.
"Na?" panggil Darrel menggoda Nana.
"Ng..nggak gitu, gue cuma...cuma..."
"Cuma?"
"Darrel," rengek Nana, ia kembali meneteskan air matanya sangking malunya berhadapan dengan cowok itu.
"Iya deh. Gue yang nembak Lo, Lo mau nggak jadi pacar gue?"
Nana membelalakkan matanya tidak percaya, mulutnya ikut membola. Ini terlalu tiba-tiba untuknya, kalimat itu sangat singkat, namun efeknya sangat besar untuk wanita sepolos Nana.
"Ini beneran?"
Darrel mendekatkan kepalanya, "Emang gue pernah bercanda?"
"Ha?"
"Oke kita pacaran beneran, gue udah males punya status nggak jelas," Darrel menaik-turunkan alisnya, dengan senyuman yang entah kenapa terlihat sangat menyebalkan di mata Nana.
Nana menutup wajahnya lagi, ia tidak pernah merasa se- malu ini sebelumnya. Ia benar- benar tidak menyangka jika ia akan keceplosan menyatakan perasaannya kepada Darrel karena rasa cemburu yang tidak dapat ia bendung. Benar- benar memalukan!
Darrel tersenyum simpul, tangannya terangkat untuk mengusap lembut puncak kepala Nana, membuat gadis itu reflek mendongak dengan mata mengerjap bingung.
"Maaf," Darrel semakin intens mengusap kepala Nana, lalu beralih untuk mengusap lembut pipi Nana yang lembab karen air mata, "Maaf karena gue udah bentak Lo tadi. Maaf udah bikin Lo nangis sekarang," ujar Darrel tulus.
Diam- diam Nana menahan dirinya untuk tersenyum, lagi- lagi ia dibuat meleleh dengan perlakuan Darrel. Entah mengapa ia baru menyadari semua ini sekarang, tentang betapa tampannya Darrel, betapa manisnya pria itu, dan yang terpenting, betapa menggodanya pria itu sekarang. Berbeda dengan Fian yang selalu menunjukkan image good boy and good attitude- nya yang ternyata hanya untuk menutupi kebusukannya saja. Bukan! Fian memang pria baik dan ramah, ia juga sangat menghormati wanita, tapi semua pemikiran itu hanya Nana rasakan ketika masih berpacaran dengan pria itu. Untuk sekarang, hatinya sudah benar- benar tertutup untuk pria seperti Fian, ia sudah tidak ingin berharap apa- apa lagi pada pria itu. Sekarang ada Darrel, ia akan berusaha untuk membiasakan diri terhadap kepribadian Darrel yang berbeda 180 derajat dari Fian.
Nana memberanikan diri untuk menatap manik mata Darrel, ia meraih tangan Darrel yang tengah menangkup kedua pipinya, "Maaf karena udah suka sama Lo, padahal gue sendiri yang bilang kalau kita nggak boleh saling suka," ujar Nana sendu.
Darrel menarik salah satu sudut bibirnya, menyeringai kecil saat mendengar ucapan Nana.
"Jadi Lo nyesel karena udah suka sama gue?" tanya Darrel menggoda Nana. Dan lihatlah respon cepat Nana sekarang.
Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya cepat, "Nggak! Gue nggak nyesel! Sama sekali enggak, beneran!" ujar Nana meyakinkan.
"Serius?" Darrel semakin gencar menggoda gadis imutnya itu.
Nana menganggukkan kepalanya cepat, "Iya! Asal Lo jangan pernah bikin gue menyesal karena udah suka sama Lo, okay?" Darrel tersenyum hangat, lalu menganggukkan kepalanya paham.
Suara dering familiar terdengar menghancurkan suasana yang ada. Darrel menghembuskan napas, lalu menjauhkan dirinya. Nana terkekeh melihat tingkah Darrel yang terlihat menggemaskan itu. Lalu ia segera mengambil ponselnya dari dalam tas karena suara dering yang terus terdengar.
"Kael?" Nana menatap Darrel sebentar, lalu mengangkat panggilan itu.
"Halo El?"
"Lo udah pulang?" tanya seseorang dari seberang.
"Eh, kakak lupa. Lo udah jemput?" tanya Nana khawatir karena ia lupa jika Kael biasanya menjemputnya pulang sekolah.
"Kenapa nggak bilang sih? Gue udah dikerubungin anak- anak sekolah Lo, anjir," ujar Kael mengeluh. Karena memang benar, banyak siswi yang terus mengerubunginya dengan berbagai macam pertanyaan.
Nana menjauhkan teleponnya dari telinga karena Kael mengucapkannya dengan sedikit berteriak, "Ya maap, eh- baterei hp gue udah habis, bye El!"
Tut!
"Huft!" Nana segera mematikan ponselnya beneran, lalu menyimpannya di dalam tas.
"Ekhm, cie yang boong," sindir Darrel.
Nana menyebikkan bibirnya kesal, "Kalau aku bilang lagi sama kamu, Kael pasti bakal langsung ke sini,"
Darrel tersenyum mendengar Nana menggunakan 'Aku-Kamu', Darrel kembali berdehem, "Ekhm, aku-kamu nih,"
Blush!
Pipi Nana kembali memerah ketika menyadari ucapannya tadi, "Darrel!"
"Iya, gue tau gue ganteng. Kalau nggak ganteng mana mau Lo sama gue," ujar Darrel tengil.
.
.
.