....
Setelah kejadian absurd tadi Nana hanya bisa diam saat Darrel terus menggodanya, entah dengan kata-kata maupun tatapannya. Pipi Nana merona tanpa ia minta, membuat Darrel semakin gencar mengganggunya.
"Aduh yang pipinya udah kayak tomat, kok jadi diem aja sih? Tadi kayaknya ada yang nangis-nangis gara- gara cemburu, eh kok jadi diem- dieman gini? Padahal udah dibela- belain bohong segala," goda Darrel sembari menatap Nana yang terus mengalihkan pandangan darinya itu.
"Baru jadian aja gue udah didiemin, masa gue harus ikut ngambek sih? Kayak cewek elah!" gerutu Darrel sengaja.
"Ih Darrel! Udah dong," Nana mengerucutkan bibirnya kesal, tapi pipinya langsung kembali memerah mengingat tingkah gilanya tadi.
"Na,"
"Apa?!" sahut Nana sarkas.
Darrel tersenyum hangat, tangannya terulur mengelus puncak kepala Nana, membuat gadis itu semakin panas- dingin dibuatnya.
"Mengakui perasaan itu bukan hal yang memalukan. Itu pemberani namanya, karena nggak semua orang bisa kayak Lo yang..." Darrel menggantung ucapannya lalu tersenyum jahil, "Cengeng sama cemburuan sama pacar pura- puranya,"
"Darrel!" rengek Nana kesal. Padahal ia sudah berharap banyak dengan kata- kata yang pria itu keluarkan.
"Bercanda- bercanda Na," kekeh Darrel. Sangat menyenangkan membuat wanita itu kesal, ekspresinya terlihat sangat manis.
"Nggak lucu taukk!"
Nana menatap Darrel kesal, ia melupakan fakta kalau cowok itu benar- benar sangat menyebalkan kepadanya. Padahal kalau bersama wanita lain pasti dimanis- manisin, gampang gombal lah, tapi sepertinya ia sudah dalam pengecualian.
"Yaudah yuk! Udah sore, nanti bocil Lo nyariin lagi. Nanti dikira kakak berasa adiknya ini diculik om- om lagi,"
"Ih, gue bukan anak kecil ya!" ucap Nana merevisi.
"Iya deh percaya. Kan anak kecil nggak bisa nangis gara- gara cemburu kan?" goda Darrel sekali lagi membuat Nana memekik kesal.
"Iya, iya. Gue mau ke basecamp dulu ambil jaket," ucap Darrel yang masih tertawa.
"Jaket? Buat apa?"
"Rok Lo," ucap Darrel.
Nana menatap roknya. Ia lupa kalau motor Darrel itu sangat tinggi, apalagi dengan rok seragamnya yang sudah pendek itu. Sebenarnya ia heran dengan dirinya. Kalau dibandingkan teman- temannya, ia juga tidak terlalu tinggi, tapi kenapa ia merasa kalau roknya selalu memendek setiap harinya.
"Emang basecamp- nya di mana?"
"Deket. Lo mau ikut?" Tanpa berpikir panjang Nana langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Nana tidak tahu kalau ada gang sepi juga di sana. Awalnya ia takut, tapi saat melirik Darrel di sampingnya, rasa takutnya seketika langsung hilang. Hingga mereka sampai di sebuah tempat yang entah bagaimana bentuknya, terlalu sulit Nana deskripsikan karena di sekitar tempat itu banyak pohon besarnya, intinya tempat itu terlihat mengerikan menurut Nana.
Dua orang pria yang baru saja keluar dari tempat itu membuat Nana sedikit terkejut.
"Loh itu Riko sama Kevin kan?" tanya Nana.
"Iya,"
"Woy Na, Lo di sini?" tanya Kevin jahil sambil menaikkan turunkan alisnya menatap kedua pasutri itu.
"Tumben Lo bawa cewek ke basecamp?" tanya Riko dengan suara bass-nya.
"Cewek gue? Nih bocah berasa anak gue nggak sih? Haha," Nana mencubit lengan Darrel kesal.
"Ah elah, bercanda. Sakit tau," keluh Darrel sambil menggaruk lengannya yang dicubit Nana. Bukannya merasa sakit, ia malah merasa gatal di tempat yang dicubit Nana.
"Galak banget Lo Na," kekeh Kevin.
"Yaudah, gue mau balik dulu Ama nih bocah, kuy!" ucap Kevin dengan menarik lengan Riko pergi.
Nana menatap kedua teman sekelasnya itu heran, "Mereka kayak saudara nggak sih?"
"Kayak orang pacaran iya," ucap Darrel geli.
"Hehe iya kayaknya. Sama- sama jomblo, tapi lengket banget. Kalau Lisya liat ini, pasti dia bakal bilang 'jiwa-jiwa fujo ku akhirnya keluar'," sahut Nana sembari mengikuti nada suara Lisya, lalu ia tertawa kecil.
"Lucu banget emang," sindir Darrel. Ia mengacak rambut Nana pelan, membuat wangi semerbak masuk ke Indra penciumannya.
"Gue ke dalem dulu, Lo tunggu di sini," ucap Darrel lalu berlalu pergi masuk ke dalam.
Tak lama setelah Darrel pergi seorang pria keluar seolah menggantikannya. Nana langsung gemetar melihat wajah pria yang terlihat sangat mirip dengan yang mengganggunya waktu mau membeli nasi goreng waktu itu. Ia ingin berlari, tapi kakinya terlalu lemas untuk melakukan itu.
"Eh elo yang waktu itu kan?"
Bukannya menjawab, Nana malah menangis sangking takutnya. Jojo dibuat bingung dengan gadis itu, ia mendekatinya untuk menenangkan, namun bukannya tenang, gadis itu menangis semakin kencang.
"DARREL!!! Lo di mana?!!" teriak Nana sambil terisak.
"Darrel?" beo Jojo. Lalu sesaat kemudian, Darrel datang, ia terkejut melihat Nana yang sudah menangis dengan tubuh bergetar hebat, dan langsung memukulnya tepat di pipinya.
"Lo apain cewek gue?!" tanya Darrel emosi. Awalnya ia pikir Nana hanya berpura- pura atau bahkan hanya mengetes suara saja, tapi setelah melihat sahabatnya yang membuat gadisnya menangis, Darrel tidak bisa menahan tangannya melayang ke tubuh pria itu.
"Eh! Eh! Tenang dulu elah," Jojo menahan tangan Darrel yang akan menonjoknya lagi.
"Lo diapain dia?" tanya Darrel dengan tatapan nyalangnya menatap Nana.
"Di..dia yang waktu itu ganggu gue beli nasi goreng," ucap Nana lirih, ia bersembunyi di balik tubuh kekar Darrel.
"LO!!"
"Sumpah gue belum sempet ngapa- ngapain dia," ucap Jojo dengan tubuh bergetar, "Elang mana sih?!"
Sepertinya Jojo sedang bertepati dengan Elang, buktinya Elang langsung tiba setelah Jojo mencarinya.
"Lo ngapain mukulin Jojo?" tanya Elang yang baru tiba, sambil berusaha memisahkan Jojo dan Darrel.
"Dia ganggu cewek gue!" ucap Darrel.
"Lo nggak papa?" tanya Darrel menenangkan Nana. Nana mengangguk pelan, air matanya sudah kering karena ia terlalu mengagumi Darrel yang bisa terlihat semenyeramkan itu hanya untuk membelanya.
"Ini kenapa sih? Kagak ada yang mau jelasin?" Jojo langsung berlindung di balik tubuh Elang saat Darrel kembali menatapnya.
"Dia ganggu cewek gue!" ucap Darrel.
"Cewek Lo?"
Nana mengernyitkan dahinya, ia baru menyadari pria kalau pria yang baru datang itu juga salah satu pria yang juga mengganggunya waktu itu.
"Darrel," cicit Nana takut.
"Kenapa?"
"Dia juga ganggu gue,"
Darrel melayangkan tatapan tajamnya pada Elang, sedangkan Elang hanya plonga- plongo seperti orang tak mempunyai dosa.
"Lo!"
"Ehh! Lo cewek yang waktu itu kan ya?"
"Jadi Lo ngaku?!" tanya Darrel. Elang hanya tersenyum bodoh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya maaf, kan waktu itu gue nggak tahu kalu dia cewek lo. Lagian dia juga langsung lari," ucap Elang cepat.
Darrel memutar bola matanya sambil menghela napas. Penjelasan cowok tertua di gengnya itu terdengar masuk akal untuknya.
"Lo mau maafin temen- temen gue?" tanya Darrel dengan suara rendah.
Sontak Nana langsung menjauhi Darrel, "Mereka temen Lo?"
Darrel menepuk keningnya, lalu menatap Elang untuk memintanya menjelaskan pada gadis polos yang ia bawa ini.
"Ehehe maafin yang waktu itu ya adik kecil. Gue Elang, ini Johan. Kita nggak jahat kok, waktu itu kita nggak bermaksud buat ganggu Lo, tapi Lo masih udah ngacir duluan. Btw nama Lo siapa?" tanya Elang mencairkan suasana. Ia menyodorkan tangannya ke depan Nana.
"Darrel," Nana menatap Darrel penuh harap.
Darrel menghela napas, "Mereka temen gue Na, nggak usah takut," Darrel mendekat sambil mengusap lembut kepala Nana.
Nana mengangguk paham, Nana membalas jabatan tangan pria itu. Namun dengan cepat langsung menarik tangannya.
"Iya gue maafin. Gu-- gue Nana,"
"Nana? Kayak nggak asing nama Lo. Kita pernah ketemu?" tanya Jojo sembari berusaha mengingat- ingat.
"Nana? Lo pacar Fian kan? Kakaknya Darrel? Eh- bener nggak sih?" sahut Elang.
"Dia pacar gue!" ucap Darrel menekankan.
"Lah?"
"Fian mantan gue, sekarang pacar Fian Klara. Pacar gue Darrel," jelas Nana menegaskan
"Lah? Bukannya Klara malah pacar Lo Rel?"
"Bisa nggak kalau nggak usah bahas itu? Di sini ada cewek gue," ujar Darrel dingin. Ia tahu Nana tidak nyaman dengan pertanyaan- pertanyaan yang diberikan teman- temannya.
Jojo dan Elang terkekeh canggung.
"Eh, duduk dulu deh Na," tawar Jojo dengan senyuman yang terlihat mencurigakan di mata Darrel.
Nana menggelengkan kepalanya pelan. Darrel merangkul bahu Nana posesif, "Yang lain ke mana?" tanya Darrel mengalihkan pembicaraan.
"Iko sama Sam ke kampus, Gavin kencang, Kevin sama Riko baru aja pulang," jawab Elang.
"Mereka belum selesai kah?" batin Nana, ditujukan pada Gavin dan Lisya.
"Lah Lo berdua ngapain di sini?" tanya Darrel menusuk.
"Eh anj*r, suka- suka gue lah. Lo nggak liat gue masih pake seragam?" sahut Jojo menusuk.
"Dosen gue lagi cosplay anjing, males gue liatnya," sahut Elang dengan wajah tak berdosanya.
Hanya ucapan seperti itu saja Nana sudah berhasil membuat gadis itu tertawa. Darrel menyentil kening Nana membuat gadis itu mengaduh kesakitan, "Receh banget humor Lo,"
"Ish, sakit tauk," keluh Nana sembari mengusap keningnya.
"Biasa Na. Darrel tuh gampang cemburuan, tapi suka banget nyelingkuhin anak orang," ujar Jojo tanpa sadar, dan langsung membuat Elang dan Darrel menatapnya tajam.
Jojo yang merasa diperhatikan menatap kedua sahabatnya itu bingung, "Gue salah ngomong ya?"
"F*CK You!"
.
.
.