Seperti tahun- tahun sebelumnya, disaat semua murid diwakili orang tua mereka dalam pengambilan raport, Nana menjadi satu- satunya siswi yang mengambil sendiri raportnya di kelasnya, tidak tahu kalau di kelas lain. Jujur saja, ia juga pernah merasa iri dengan teman- temannya yang lain. Tapi apalah dayanya, kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja entah ayah atau ibunya, mereka sama saja. Bahkan berada di rumah pun sangat jarang. Entah mulai kapan orang tuanya menjadi berubah, ia sudah lupa. Namun ia juga tidak bisa mengeluarkan semua isi pikirannya ini pada mereka, karena mereka selalu menjawab jika mereka bekerja juga untuk masa depannya dan Kael. Dan tanpa mereka sadari mereka sudah membangun masa depan anak mereka dengan sangat terperinci, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan jika sikap mereka tetap seperti ini.
Tapi untungnya para guru mengerti keadaannya, jadi ia tidak perlu wali untuk mengambil buku nilai semesteran itu. Orang tuanya merantau di kota ini, jadi hanya ada beberapa kerabat yang satu kota dengan- nya, dan kebanyakan juga selalu sibuk sama dengan orang tuanya.
"Ditingkatkan lagi ya nak, nilai kamu sudah bagus," ucap Bu Sri sambil memberikan raport itu pada Nana.
"Iya Bu terimakasih, saya permisi," Nana keluar dengan membawa raportnya. Ia yang terakhir dalam pengambilan raport-- tidak bersama- sama dengan wali murid lainnya, karena Bu Sri tidak ingin membuat Nana terlihat berbeda dari anak- anak yang lain, baik bukan?
Untuk semester ini ia mendapatkan rangking tujuh, cukup memuaskan. Setidaknya usahanya belajar karena paksaan Kael dapat membuahkan hasil. Setelah itu ia keluar di sambut dengan kedua sahabatnya yang sudah menunggu di luar kelas.
"Nana! Peringkat Lo bagus banget, huaaa. Pasti nanti waktu pulang gue diecengin sama Kak Deon lagi," ucap Lisya heboh dengan Kana di sampingnya.
"Emang dapet berapa?" tanya Nana.
"Rangking tujuh juga,"
"Berarti sama dong. Ngapain Lo sedih?" ucap Nana bingung.
"Dari belakang," sahut Kana langsung sambil menatap Lisya malas. Sedangkan Lisya hanya menunjukkan cengiran bodohnya,
"Beneran Sya? Kok bisa?" tanya Nana cukup terkejut. Walaupun Lisya yang selalu dapat peringkat lebih rendah darinya, Kana, dan Klara, tapi Lisya tidak pernah mendapat rangking 10 terakhir. Semester kemarin saja rangkingnya dan Lisya hanya terpaut satu angka, ia dua puluh tujuh, Lisya dua puluh delapan.
"Salahin aja sama oppa- oppa gue yang pada comeback rombongan, belum lagi sama ahjussi- ahjussi Gans yang main drama baru, huaaa!!"
Nana tertawa kecil menertawakan nasib sahabatnya itu. Untung saja ia ada Kael yang selalu mengingatkannya, coba kalau tidak, pasti nasibnya tidak beda jauh dengan Lisya. Dan peringkat dua puluh tujuh adalah yang paling buruk selama ia pernah sekolah, makanya Kael benar- benar posesif tentang nilainya di semester kali ini.
Nana memang bukan tipe orang yang mementingkan rangking ataupun nilai, tapi sebagai seorang cewek, terlalu gengsi kalau orang- orang tahu kalau ia mendapatkan rangking cukup bawah. Ya, walaupun mungkin itu hanya pemikirannya saja.
"Udahlah, nggak usah lebay. Tuh nyokap Lo," ucap Kana sambil menunjuk seorang wanita baya yang berkacak pinggang di ujung koridor sambil menatap mereka.
"Tuh kan! Tatapannya horror banget,"
"Udah Lo ke sana aja. Nanti tambah horor kalau Lo masih di sini," kekeh Nana.
Lisya mengangguk pasrah, "Gue menghadapi maut sementara dulu ya. Bye temen- temen," ucap Lisya sendu lalu pergi menghampiri Sang Ibunda tercinta.
Nana dan Kana tertawa. Sebenarnya mereka cukup heran dengan Lisya. Ibu Lisya itu guru, terus ayahnya dokter. Kakeknya dulu seorang arsitek, neneknya dokter. Saudaranya pun juga, kakak pertama Lisya seorang dosen, lalu kakak keduanya juga seorang mahasiswa unggul di universitasnya, tapi Lisya? Entah mendapatkan gen dari mana? Gadis itu terlalu melenceng jauh dari silsilah keluarganya.
"Oh ya, congrast Na. Lo rangking tiga besar kan?"
Kana mengangguk singkat, "Dua,"
"Ya iyalah, kan Puput udah langganan rangking satu," ucap Nana.
"Puput rangking dua, sama kayak gue,"
"Yang pertama?" tanya Nana dengan kening berkerut.
"Mantan sohib," ujar Kana malas.
Kedua mata Nana membola sempurna, "Klara?" Dan tambah terkejut lagi saat Kana menganggukkan kepalanya.
"Tapi kan Klara nggak pernah masuk pas ujian, dia masuk juga waktu ambil kartu ujian aja kan?" tanya Nana tidak terima.
"Lo nggak inget siapa bokap-nya?"
"Iya tahu kalau Ayah Klara pemilik yayasan. Tapi bukannya ini keterlaluan ya? Ini terlalu nggak adil!"
"Mantan temen Lo tuh Na," tiba- tiba seseorang menyahut dari belakang mereka.
"Puput?" Nana dan Kana saling tatap, terkejut dengan kedatangan Puput dan Lala-- teman sekelas mereka.
"Waktu itu juga dia dapat rangking tiga, padahal tugas selalu nyontek, pas ujian juga nyontek terus, bahkan sampai ke gep guru. Tapi rangkingnya tetep bagus. Gue lihat nilai ujian aslinya semua dibawah KKM, tapi kenapa dia tetep dapat rangking bagus? Rangking satu malahan, Anj*ng banget!" timpal Lala tak terima.
"Dasar Canis lupus familiaris," ujar Puput.
"Klara Barium Bismut," sahut Lala.
"Sus," timpal Kana.
Disaat teman- temannya mengumpat dengan bahasa kimia dan ilmiah hanya menggeleng- gelengkan kepalanya, "Gini amat cara anak IPA ngumpat,"
.
.
.
Nana pergi ke parkiran setelah Darrel mengirimkannya pesan.
"Mau ke mana?" tanya Darrel.
"Em, gue mau lihat basecamp Lo boleh?" tanya Nana ragu, takut Darrel menolak ajakannya.
Darrel mengangguk, lalu memberikan helmnya pada Nana. Nana pun dengan senang hati menerimanya, ia naik dengan mudah tanpa harus mengikatkan jaket ke pinggangnya, karena ia sudah mengganti roknya dengan rok yang lebih panjang dan lebih longgar dari yang waktu itu, bahkan ia juga memakai kaus kaki yang panjangnya sampai lutut, berlebihan memang.
Hari ini Minggu kedua setelah mereka resmi pacaran sungguhan. Menurut Nana, Darrel sedikit berubah. Pria itu menjadi tidak terlalu over lagi dengan perempuan lain. Padahal dulu, walaupun Darrel kalau sudah punya pacar, cowok itu pasti sudah menyiapkan banyak pengganti untuk menggantikan pacarnya. Ya, walaupun kadang masih menyebalkan kepadanya, tapi ia beruntung karena setidaknya Darrel dapat memahami perasaannya.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Dan jangan lupakan berapa kecepatan Darrel saat mengendari motornya, sepertinya Darrel sudah punya hobi nge- prank malaikat maut dalam hidupnya.
Nana turun dari motor Darrel, lalu masuk bersama dengan Darrel.
Seperti waktu pertama kali Nana mengunjunginya, tempat itu masih terlihat cukup menyeramkan untuknya.
"Eh Nana!" sapa Elang yang sudah ada di sana.
"Hai kak," sapa Nana balik.
"Baru ambil rapot ya?"
"Hehe, iya Kak,"
"Gue pergi dulu, mau cari makan. Bye Na," ucap Elang lalu melenggang pergi.
"Iya kak," jawab Nana ramah. Nana pikir cowok itu pergi karena kedatangannya, membuatnya jadi merasa tidak enak sekarang.
"Lo panggil orang lain 'kak', kenapa gue cuma nama?" tanya Darrel berbisik.
"Udah kebiasaan, hehe," jawab Nana dengan tampang wajah tak berdosa. Mata Nana terpaku pada seorang pria dengan tatapan tajam yang sedang bermain game di komputer di pojok ruangan, pria itu terlihat memiliki aura yang sama dengan sahabatnya, Kana. Dan sepertinya pria itu sama sekali tidak tertarik dengan kehadirannya.
"Yuk!"
"Ke mana?"
"Ke kamar gue," jawab Darrel.
Wajah Nana langsung memerah, jawaban Darrel terdengar begitu frontal untuknya. Iko menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada komputernya.
"Ke kamar?" tanya Nana lagi memastikan jika ia tidak salah dengar.
Darrel mengangguk kecil, lalu menarik Nana masuk ke dalam kamarnya.
"Wow!" Nana takjub dengan interior kamar itu. Dengan dominan warna hitam dan putih, kamar itu sederhana, tapi terlihat mencengkam, LAKIK-nya kelihatan. Tidak seperti kamar Kael yang malah memasang bed cover gambar Frozen di teman tidurnya, udah gitu gambar Elsa lagi.
"Lo tidurnya nggak sendiri kan?" tanya Nana saat melihat ranjang susun di sana.
"Awalnya iya, tapi gue kasian sama temen- temen gue,"
Mulut Nana membola sambil menganggukkan kepalanya paham.
"Sama siapa?"
"Iko,"
"Iko? Namanya kayak orang Jepang. Dia orang Jepang ya?" tanya Nana.
Darrel terkekeh kecil, lalu mendudukkan dirinya di kursi yang berada di ujung ruangan.
"Gue juga nggak tahu,"
"Orangnya yang mana?" tanya Nana kepo.
"Yang main game di depan,"
Nana kembali menganggukkan kepalanya paham, "Waktu gue lihat Iko, gue kayak ngerasa liat Kana. Mereka mirip banget, wajah mereka sama- sama kelihatan serius kalau main game. Auranya juga mirip banget, kayak kakak adek," ujar Nana terdengar berlebihan.
"Masa?"
"Ishh...iya," jawab Nana.
"Iya deh percaya," Darrel menyangga kepalanya dengan tangan, sambil menatap Nana yang terlihat fokus mengamati kamarnya ini.
"Fokus banget," sindir Darrel karena Nana tidak memperhatikannya.
"Hehe, gue suka sama desain kamarnya," ucap Nana jujur.
Darrel memutar bola matanya, "Ini Iko yang desain," ucapnya malas.
"Eh!" Salah ngomong deh kayaknya,
Nana menggigit bibir bawahnya, Darrel menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia langsung mengalihkan pandangannya, lalu duduk di ranjang bagian bawah.
"Itu tempat tidur Iko," ucap Darrel lagi membuat Nana langsung berdiri.
"Terus gue duduk di mana? Masa harus naik ke atas sih? Kan cuma mau duduk," tanya Nana lirih sambil menatap ranjang bagain atas. Tapi Darrel masih dapat mendengarnya, karena hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
Darrel menepuk pahanya, "Duduk di sini!"
Blush! Pipi Nana langsung memerah,
"Darrel m***m ih," ucap Nana kesal.
Darrel mengangkat satu sudut bibirnya jahil, ia menarik tangan Nana membuat gadis itu menubruk keras d**a bidangnya.
"Darrel! Apaan sih," Nana berusaha berontak, tapi Darrel dengan jahilnya malah memeluk erat gadis itu, manariknya, dan membuat gadis itu duduk di pangkuannya dengan posisi berhadapan dengannya..
"Sstt! Jangan banyak gerak, nanti gue gigit," ujar Darrel dengan suara serak.
Dan Nana dengan sangat pintarnya langsung diam, menuruti ucapan Darrel. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain karena rasa malu yang tiba- tiba menggerogoti tubuhnya.
Perlahan- lahan Darrel melonggarkan pelukannya, ia menatap wajah Nana yang semakin memerah. Tangannya terangkat menyingkap poni Nana, lalu wajahnya mendekat dan mencium kening Nana lembut. Nana langsung tersentak dengan perbuatan tanpa aba- aba yang Darrel lakukan..
"Cantik," ujar Darrel jujur sembari menatap intens Nana.
"Darrel..." cicit Nana, ia merinding mendengar suara Darrel yang terdengar berbeda dari biasanya itu.
Cklek!
Tiba- tiba pintu terbuka. Spontan Nana langsung berdiri menjauh dari Darrel. Ia memegang apapun yang berada di sekitarnya, agar tidak terlihat mencurigakan. Padahal ia yakin jika cowok itu pasti sudah melihatnya dengan posisi memalukan itu dengan Darrel tadi. Tapi, Nana masih belum tahu siapa yang barusan datang.
"Nana!" Suara itu... suara familiar itu berhasil membuat jantung Nana terasa berhenti selama satu detik sebelum akhirnya berdegup dengan begitu kencang. Nana langsung menoleh untuk memastikannya.
"Lo apain Nana hah?!" Dia Fian. Mantan pacar Nana, sekaligus kakak kandung Darrel. Cowok itu berjalan menghampiri Darrel, dan tanpa aba- aba langsung memukul Darrel dengan begitu kasarnya.
"Kak Fian!" Nana berusaha untuk menengahi, tapi Darrel malah membalas pukulan Fian membuat pertengkaran itu semakin sengit.
"KAK FIAN! DARREL UDAH!" teriak Nana berusaha melerai, namun mereka sama sekali tidak menghiraukannya.
"Kak Iko?" Nana menatap Iko, si cowok yang tadi dibicarakan Darrel. Nana langsung menghampiri cowok itu untuk meminta bantuan.
"Kak! Tolong pisahin mereka!" ujar Nana memohon. Namun Iko hanya memandangnya sekilas lalu menatap ke arah pertengkaran yang kakak beradik itu lakukan.
"LO YANG ANJ*NG SET*N!" ujar Fian yang sekarang sudah memelintir tangan Darrel ke belakang, namun dengan cepat keadaan terbalik menjadi Darrel yang diuntungkan.
"Dasar banci Lo Fian!" teriak Darrel yang memukul Fian dengan membabi buta.
Tidak ada pilihan lagi. Sepertinya sahabat Darrel itu sama sekali tidak berniat untuk memisahkan mereka. Saat Nana akan mendekat memisahkan, tiba- tiba tangannya digenggam dari belakang membuat Nana reflek menoleh.
"Kak Iko?"
"Jangan ikut campur," ujar Iko singkat, namun kesan dingin dan tajam terdengar dengan begitu jelas.
"Aku nggak peduli mereka mau berantem atau apapun. Tapi kalau menyangkut nyawa... Darrel nggak boleh kenapa-napa!" ujar Nana sungguh- sungguh.
Nana menghempaskan tangan Iko. Saat ia akan mendekat, tiba- tiba tubuh Fian mundur karena pukulan Darrel. Dan tubuh Fian menyenggol keras tubuh Nana membuat gadis itu menubruk meja yang ada di belakangnya lumayan keras.
"Akh!" pekik Nana menahan sakit pada perutnya yang terbentur ujung meja.
"CK!" Iko langsung menghampiri Nana. Sedangkan Darrel dan Fian masih belum menyadari jika mereka sudah membuat Nana terluka.
"Gue bilang jangan ikut campur. Kenapa nggak nurut sih?!" ujar Iko.
"Sakit..." ungkap Nana sembari menyentuh bagian perutnya.
"DARREL! CEWEK LO SEKARAT!" bukan Iko ataupun Nana yang berteriak. Melainkan Jojo yang baru sampai, tadinya ia berniat menyemangati Darrel yang tengah bertengkar dengan Fian, tapi ia malah melihat Iko yang tengah membantu Nana yang terlihat kesakitan.
Mendengar itu sontak membuat Darrel langsung menahan pukulannya. Ia menoleh dan terkejut saat melihat Iko sudah menggendong Nana dan membawa gadis itu ke atas ranjang.
"Na!" Darrel berdecak, lalu ia berlari menghampiri Nana. Ia langsung menggeser Iko yang baru saja menurunkan Nana di atas ranjang.
"Na, Lo nggak papa?" tanya Darrel khawatir.
"Dasar banci Lo!" ujar Jojo pada Fian yang sudah sekarat sebelum menghampiri Nana.
"Dibawa ke rumah sakit aja Rel! Kayaknya sakit banget itu," ujar Jojo.
Nana menggelengkan kepalanya, "Lo nggak papa?" Nana menangkup wajah Darrel yang terluka.
"Gue nggak papa Na. Kita ke rumah sakit ya?" tanya Darrel cemas.
"Cuma sakit biasa kok, bentar lagi juga sembuh," ujar Nana.
.
.
.