....
Nana sudah merasa baikan dengan Darrel yang masih setia di samping tempat tidur yang Nana tempati. Tadi Nana merasakan perutnya sakit, sepertinya bukan karena benturan pada meja, melainkan karena datang bulan. Walaupun Nana tidak bisa menampik kenyataan jika perutnya juga sakit saat terdorong tadi, tapi ia yakin jika rasa sakit yang terasa melilit tadi adalah karena datang bulannya.
Setelah tidur selama beberapa menit akhirnya perutnya sudah lumayan membaik.
Merasakan pergerakan di sampingnya, Darrel yang tadinya ikut terlelap langsung menegakkan tubuhnya.
"Nana? Udah bangun? Perutnya masih sakit?" tanya Darrel dengan mata yang masih sayu dan merah khas orang bangun tidur.
Nana tersenyum simpul, lalu menganggukkan kepalanya, "Udah nggak papa. Maaf ya ngerepotin," ujar Nana nggak enak.
"Kenapa Lo minta maaf? Ini semua salah gue, maafin gue ya?" ujar Darrel tulus.
Nana jadi merasa bersalah kala mendengar permintaan maaf dari cowok itu, tapi ia terlalu malu untuk mengungkapkan jika ia merasakan sakit karena masa haidnya, bukan karena cowok itu. Walaupun sebenarnya Darrel juga ikut berperan sih.... sudahlah, itu tidak penting.
"Kak Fian tadi..." Belum sempat Nana menyelesaikan ucapannya, Darrel keburu memotongnya, "Kenapa? Masih peduli Lo sama dia?" sahut Darrel sinis.
"Ish, kan aku cuma nanya. Kamu nggak bikin dia masuk rumah sakit kan?" tanya Nana curiga dan sedikit merasa takut jika hal itu benar- benar terjadi.
"Kayaknya. Nggak peduli juga gue," jawab Darrel acuh.
Nana menghembuskan napas pendek. Sepertinya Darrel benar- benar tidak suka jika ia perhatian pada Darrel. Ya jelaslah! Kan sekarang cowok itu pacarnya,
"Gimana lukanya tadi, udah diobatin?" tanya Nana mengalihkan pembicaraan.
Tangannya terangkat untuk menyentuh sudut bibir Darrel yang robek, lalu pelipisnya juga lebam, dan ada luka yang ia yakini berasal dari kuku yang menarik kulit bagian hidung mancung Darrel. Ini pasti ulah Fian, ia pasti akan memukul keras p****t Fian jika bertemu dengannya nanti. Bisa- bisanya cowok itu membuat pacarnya menjadi seperti ini!
"Udah," jawab Darrel sembari menatap Nana lekat.
Nana menatap Darrel curiga, "Siapa yang ngobatin? Nggak becus banget, masa lukanya masih ori sih," sungut Nana.
"Gue yang ngobatin," Tiba- tiba seseorang datang ke kamar itu. Ralat, bukan seseorang, tapi ada tujuh cowok yang masuk secara bersamaan ke kamar itu.
Nana mengerjapkan matanya menatap delapan cowok tampang yang rata- rata tingginya di atas 180cm itu. Lalu dengan ketampanan yang sangat bervariasi. Mereka terlihat sangat mempesona jika berdiri bergerombol seperti itu.
"Wow," Nana benar- benar terpana melihat mereka semua, bahkan sampai ia tidak sadar jika mulutnya sudah setengah terbuka sekarang. Dan semua itu tidak luput dari pandangan Darrel yang menatap kekasihnya itu dengan sangat intens.
"Na!" panggil Darrel.
"Hm?" Nana menyahut, namun matanya masih belum selesai mengagumi cowok- cowok tampan itu.
"Gue tahu kalau gue ganteng kok Na. Lo juga cantik, imut lagi. Tapi sayangnya Lo udah sama Darrel. Karena gue LAKIK, Jadi skip dulu ya," ujar seseorang yang tadi menyahuti ucapannya pertama kali. Kalau tidak salah cowok itu namanya Jojo atau Johan.
Mendengar itu membuat Nana langsung tersadar atas kelakuan memalukannya barusan. Ia langsung menutup wajahnya dengan bantal di sampingnya. Namun seseorang dengan cepat menarik bantal itu dari Nana.
"Itu punya Iko!" ujar Darrel yang langsung melemparkan bantal tak berdosa itu ke ujung ruangan.
"SubhanAllah akhi, kasar banget," ujar Sam reflek.
"ANJ*NG! Sans Baz*ng!" ujar Gavin terkejut.
Nana menatap Darrel bingung. Cukup terkejut dengan tindakan Darrel barusan. Darrel menangkup wajah Nana cukup kuat, "Gue ganteng?" tanya Darrel tiba- tiba, membuat cowok- cowok yang berada di sana sama- sama memutar bola mata malas.
"Mulai- mulai!"
"Cepu banget Lo Rel!"
"Baz*ng emang!"
"Diem Lo kawanan B*BI!" sungut Darrel kesal, "Jawab Na!" ujar Darrel lagi. Dan Nana hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban.
"Nah itu tahu! Cowok Lo udah dikasih kegantengan yang sangat plus- plus, kaya, pinter balapan, pinter berantem, pinter dapat cewek, apa coba kurangnya gue Na? Jadi, jangan pernah liat cowok lain selain gue, ngerti?!"
Nana kembali dibuat terpana oleh ucapan cowok itu. Ia tidak menyangka jika Darrel benar- benar memiliki kepercayaan diri setinggi itu. Walaupun semuanya adalah kenyataan.
.
.
.
"Oke satu jam lagi, bye!" Nana mematikan sambungan teleponnya. Lalu tersenyum melihat foto profil kontak yang ia beri nama 'My Love❤️' itu.
Segera Nana pergi ke dapur untuk memakai masker cucian air berasnya, setelah hampir kering ia membilasnya dengan air. Lalu Nana membuat masker kopi andalannya. Kemudian memakaikannya ke kulit wajah dan tangannya.
Liburan semester adalah yang paling menyenangkan untuk Nana. Di samping waktunya yang cukup lama, ia suka karena dapat menghabiskan waktu lebih banyak untuk dirinya sendiri, Kael, sahabat, tak lupa juga dengan pacarnya. Kalau dulu dengan Fian, sekarang dengan adiknya. Lucu memang, dulu ia selalu menganggap Darrel sebagai adik iparnya, tapi lihatlah sekarang? Pria itu malah dapat membuatnya menjadi seperti sekarang ini.
Nana di rumah sendiri, karena tadi Kael sudah pergi pagi- pagi sekali untuk mendaki dengan teman- temannya. Sebenarnya tadi Kael mengajaknya, tapi Nana langsung menolaknya karena ia tidak suka dengan kegiatan- kegiatan yang memicu adrenalin itu. Ia lebih suka mencari tenang dan mencari aman, misalnya kencan dengan pacarnya, xixi.
Setelah lima belas menit, Nana membilas wajah dan tangannya yang ia beri masker dengan sabun, lalu ia langsung pergi mandi dan berganti pakaian. Kali ini ia memakai celana panjang, terlalu tidak nyaman jika harus memakai rok terus saat duduk di motor Darrel yang super tinggi itu. Lagipula ia juga tidak ingin membuat Darrel selalu melepaskan jaketnya untuk ia pakai, kasian kalau Darrel kedinginan.
Tepat pukul 10 pagi Darrel tiba di depan rumahnya, dengan wajah berbinar Nana langsung berlari menghampiri cowok itu setelah mengunci pintu utama rumahnya.
"Tumben pakai celana?" tanya Darrel.
"Biar nggak diomelin terus," cibir Nana. Ia mengambil helm di depan Darrel lalu memakainya dan ia naik ke atas motor pria itu.
Sesuai rencana kemarin, mereka pergi ke mall untuk menonton, makan dan berbelanja sesuai permintaan Nana. Dan rencana mereka sekarang adalah pergi menonton film. Darrel memesan tiketnya, sedangkan Nana membeli beberapa makanan ringan dengan uang Darrel. Sebenarnya Nana tidak apa- apa membayar sendiri atau setengah- setengah dengan Darrel, tapi sebagai seorang pria, Darrel tidak bisa membuat seorang wanita mengeluarkan uang untuknya, apalagi itu adalah kekasihnya. Ia yang sudah mengajak gadis itu pergi, otomatis ia harus bertanggung- jawab atas semua yang gadis itu butuhkan, asalkan tidak berlebihan, itu dari pandangan Darrel.
"Loh? Kok Marvel sih?" tanya Nana setelah melihat intro layar yang tadinya putih itu.
"Lo nggak bilang mau nonton apa. Jadi ya gue pilih yang gue suka," jawab Darrel santai sambil menikmati popcorn-nya.
Nana mendengus, lalu menghela napas. Ia tidak boleh marah, ini masih terlalu pagi, dan ia juga tidak ingin liburannya sia- sia jika harus bertengkar dengan Darrel hanya karena masalah kecil ini.
Nana berusaha untuk membuka matanya, tapi apalah dayanya yang sudah terlalu mengantuk melihat film yang layaknya dongeng untuknya, ia benar- benar tidak paham dengan jalan ceritanya. Nana tidak bisa menahannya, ia menyandarkan kepalanya, mencari posisi ternyaman untuk tidurnya. Lalu perlahan ia memejamkan matanya yang sudah sangat berat untuk dibukanya.
Berbeda dengan Nana, sepertinya Darrel sangat menikmati film itu, matanya fokus menatap ke layar lebar, sedangkan tangan dan mulutnya sibuk bergelut dengan makanan dan minuman. Di tengah- tengah film, ia merasakan bahunya memberat. Darrel menoleh ke samping, ternyata Nana terlelap dengan kepala bersandar pada bahunya. Darrel mengusap kepala Nana, lalu kembali menatap ke depan.
Setelah film berakhir Darrel dilema untuk membangunkan Nana atau tidak. Gadis itu terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya, tapi tidak mungkin juga ia membiarkan gadis itu tidur di situ terlalu lama, pasti nanti tubuhnya akan pegal-pegal.
"Na," panggil Darrel sambil mengusap lengan Nana lembut.
Perlahan Nana membuka matanya, kesadarannya belum sepenuhnya kembali, ia hanya menatap Darrel dengan mata setengah terbuka. Namun seperkian detik kemudian ia kembali memejamkan mata. Tak lama kemudian matanya menyipit saat melihat sosok Darrel, rasanya ia seperti sedang bermimpi.
"Na, ayo bangun,"
"Sayang, bangun. Filmnya udah selesai," ujar Darrel berbisik tepat di samping telinga Nana.
Dan seperti mendapat tarikan dari mimpinya, Nana benar- benar langsung membuka kedua matanya. Tatapannya meremang, ia mengedarkan pandangannya, sampai ia benar- benar sadar kalau ada Darrel di sampingnya.
Sontak Nana langsung menutupi wajahnya dengan tangan saat sadar jika ia baru saja bangun tidur, dan pastinya kondisi wajahnya sedang tidak baik- baik saja sekarang.
"Jangan liat Darrel! Aku lagi jelek!"
"Sayang..." Menyadari itu Darrel hanya bisa terkekeh kecil menggoda gadisnya itu.
"Shut Up!"
.
.
.