"Nana!! Ayo bangun!" Lisya menggoyangkan tubuh Nana agar temannya itu bangun dari tidurnya.
"Nggak ah Lis, masih ngantuk gue," jawab Nana dengan memejamkan kedua matanya.
Lisya pun tak kehabisan cara, ia menarik lengan Nana hingga mau tidak mau Nana bergerak agar tidak jatuh ke lantai.
"Cepetan!" Lisya menarik Nana lalu mendorongnya masuk ke kamar mandi.
"Ngapain Lo ke sini?" tanya Kael yang baru keluar dari kamarnya.
"Emang nggak boleh, ini kan rumah temen gue," jawab Lisya sarkas.
Kael menghela napas pasrah, "Dari mana Lo masuknya?" tanya Kael curiga.
"Hehe, Nana ngasih gue kunci serep," ujar Lisya sembari menunjukkan kunci yang pernah Nana berikan kepadanya.
Kael hanya memutar bola matanya malas, "Mau ke mana emangnya?"
"Ya jalan- jalan lah, liburan itu dipake buat senang- senang, nonton, makan, hangout lah pokoknya, bukannya rebahan di rumah aja. Kayak orang nolep" ucap Lisya dengan nada suara yang terdengar tidak mengenakkan telinga.
"Lo nyindir gue?" tanya Kael setelah meresapi ucapan wanita itu.
Lisya mengibaskan rambut panjangnya, "Nggak kok, kalau ngerasa ya udah," jawab Lisya acuh.
"Oke gue ikut kalian, gimana?" tantang Kael.
"Oke, siapa takut. Tapi Lo harus bawa cewek, nanti jadi obat nyamuk lagi," ucap Lisya tidak mau kalah.
"Gak jadi," Kael langsung pergi dari sana.
"Bilang aja kalau jomblo," cibir Lisya. Ia mengendikkan bahunya acuh, lalu masuk ke kamar Nana setelah mendengar pintu di belakangnya berdecit.
Sedangkan Nana benar- benar kesal sekarang, ia masih tidak rela tidurnya diganggu. Apalagi kemarin ia tidur sangat malam gara- gara maraton drama setelah hampir tidur seharian gegera nyeri haid, bahkan kantung matanya sudah mulai menghitam sekarang. Dasar teman tidak pengertian. Asal diketahui saja, Lisya membangunkannya pagi- pagi buta gini cuma ingin mengajaknya ketemuan dengan Gavin, dan lagi ketemuannya itu bukan sekarang, tapi dua jam lagi. Sungguh, karakteristik sahabat- able banget.
Nana menyisir rambutnya dengan malas, lalu menguncirnya setengah bagian atas sampai poninya.
"Lo cute banget deh Na," ujar Lisya berusaha memenangkan hati sahabatnya itu.
"Diam Lo!"
Nana mengoleskan bedak itu ke wajahnya, lalu meratakannya dengan malas. Ia membalikkan badannya, ia mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang dengan matanya yang masih setia melirik Lisya tajam.
"Ih Na jangan marah dong, gue kan cuma mau Lo siap- siap aja. Lagian mau ketemu Darrel juga kan?" ucap Lisya membujuk.
"Berisik!"
"Iya deh, istrinya Shawn Mendes diam," Nana melirik Lisya geli, lalu memutar bola matanya. Punya dosa apa dia hingga punya teman yang modelnya kayak gini,
"Punya dosa apa Kak Gavin punya cewek kek Lo," ujar Nana sinis.
"Ya ampun Na. Kita mah belom pacaran, tapi Lo doain ya... kalau perlu Lo doain gue di sepertiga malam, pasti manjur tuh," ujar Lisya antusias.
"Serah Sya! Serah!"
.
.
.
"Gimana kalau kita keroyok satu- satu, pasti abis juga kan?" ucap Jojo dengan tampang serius, tidak tengil seperti biasanya.
"Banci! Ogah gue keroyokan, nggak level," ucap Elang.
"Udah gue bilang, nggak usah ditanggapin. Lagian Lo pada mau masuk sekolah kan bentar lagi? Lupain aja, nggak penting," ucap Iko memotong pembicaraan.
"Ini masalah harga diri Ko, Lo tahu sendiri kan mereka udah sabotase motor Jojo sama Sam. Mereka juga udah main keroyokan sama Riko. Untung Darrel datang tepat waktu, coba kalau nggak? Mungkin Riko nggak bakal di sini sekarang," ucap Gavin yang langsung dibalas anggukan oleh yang lainnya, kecuali Iko.
"Gue tetap nggak ikut," jawab Iko teguh dengan pendiriannya.
"Kok Lo gitu sih?! Banci Lo As*! Harga diri bro! Harga diri!" tanya Riko tak bisa sabar,
Iko menjilat bibirnya frustasi, "Oke, gue tahu itu. Tapi Lo semua inget gak? Alasan kita semua di sini? Kita di sini karena balapan, karena pelarian dari masalah masing- masing. Kita itu cari ketenangan. Dan kalau Lo pada lanjutin rencana konyol ini. Yang ada kita nggak tenang. Gue tahu Lo semua marah. Sama, gue juga marah. Iya kalau semuanya langsung selesai setelah itu, tapi kenyataannya itu nggak bakal menyelesaikan masalah, yang ada malah nambah masalah baru! Atau bahkan nyawa bisa melayang," ucap Iko tegas, "Terserah Lo mau dengerin gue apa nggak. Gue tetap sama pendirian gue," lanjutnya lalu pergi keluar dari sana.
"Bangs*t!" teriak Riko kesal.
"Tenangin diri Lo dulu," ucap Kevin.
Elang menepuk tangannya, agar semua perhatian beralih kepadanya, "Gue setuju sama yang diomongin Iko..."
"LO!" Riko hendak memukul Elang, tapi Kevin dan Gavin langsung menahannya.
"LO TENANG DULU AS*! JANGAN EMOSI!" teriak Gavin, membuat Riko mendorong kasar kursi di sampingnya sebagai pelampiasan.
"Gue tahu Lo marah Ko. Tapi ini nggak ada gunanya, lagian Lo juga nggak papa kan? Motornya juga udah beres. Apa yang mau dimasalahin lagi? Apa ha?" tanya Sam yang sedari tidak mengeluarkan suara, ia diam karena ingin mendengarkan pendapat Iko, cowok itu selalu berpikir dengan kepala dingin akan suatu hal, dia juga selalu memberikan alasan yang realistis seperti sekarang ini.
"Banci Lo!"
Bugh!
Sam menonjok Riko saat itu juga. Ia sudah menahan amarahnya sedari tadi. Ia diam bukan berarti ia mendukung, tapi ia diam karena ia tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi, seperti sekarang ini. Riko pun tak mau kalah, ia balas memukul Sam dengan membabi buta.
Yang lainnya berusaha memisahkan Sam dan Riko, tapi semakin dipisahkan malah mereka malah semakin gencar menyerang satu sama lain.
Di sisi lain Nana dan Lisya baru tiba di basecamp Darrel cs. Mereka datang sendiri karena Darrel dan Gavin tidak bisa dihubungi. Dan karena khawatir juga, akhirnya kedua gadis itu memutuskan untuk ke sini memastikan keadaan kedua cowok itu.
"Nyeremin banget tempatnya," ucap Lisya bergidik takut.
"Jangan berisik Sya," ucap Nana yang juga takut.
Mereka berjalan melewati gang sepi itu, hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang ingin mereka datangi.
"Eh Kak Iko," sapa Nana saat melihat Iko sedang duduk di luar. Iko yang mendengar namanya dipanggil pun langsung berdiri dan menghampiri kedua gadis itu.
"Lo ngapain di sini?" tanya Iko langsung.
"Darrel ada nggak? Kok dari tadi nggak bisa dihubungi,"
"Kak Gavin juga ada nggak?" imbuh Lisya.
"Mending sekarang Lo berdua pulang," ucap Iko tegas.
"Kenap--"
"LO BERDUA BISA BERHENTI NGGAK?!" suara itu berasal dari dalam, dan langsung berhasil mencuri perhatian Nana dan Lisya.
Nana menajamkan pendengarannya, ia sangat mengenal suara itu, "Itu suara Darrel kan?" tanya Nana.
Tanpa menunggu jawaban, Nana langsung berjalan melewati Iko dan masuk ke dalam.
Semua kegiatan di dalam sana langsung terhenti karena kehadiran Lisya dan Nana. Termasuk Sam yang tadi dengan ganasnya memukuli Riko pun berhenti dengan napas tersengal.
"Nana?"
"Kenapa Riko dipukulin?" tanya Lisya terkejut melihat teman sekelasnya terkapar lemah di atas lantai. Ia benar- benar terkejut saat melihat cowok- cowok di sana juga terlihat terluka, termasuk Gavin.
"Darrel?" tanya Nana pada pria yang menjadi pusat perhatiannya sekarang.
Darrel memejamkan matanya sebentar, lalu menghampiri Nana. Begitupula dengan Gavin yang menghampiri Lisya.
"Kalian berantem? Kenapa?" tanya Nana takut, karena ia tidak pernah melihat mereka bertengkar sampai seperti ini, walaupun ini kali pertamanya melihat mereka bertengkar.
"Nggak. Gue antar Lo pulang ya?" Darrel menarik Nana keluar dari sana. Untuk saat ini Nana tidak boleh ikut campur dalam masalahnya dengan teman- temannya.
"Darrel," rengek Nana, ia benar- benar ingin tahu masalah yang terjadi di antara mereka.
"Nggak usah dipikirin, gue antar Lo pulang ya?" ucap Darrel lembut sambil mengusap lembut kepala Nana. Nana tidak merespon, ia hanya menatap teman- teman Darrel yang mengalihkan pandangan darinya, semuanya.
Darrel menoleh, "Lo anterin dia!" perintah Darrel pada Gavin agar mengantar Lisya.
Tanpa menjawab, Nana mengikuti Darrel yang pergi ke motor pria itu. Lalu mengantarnya pulang kembali ke rumah.
"Darrel kelihatan beda banget tadi," batin Nana.
.
.
.
Sedangkan di sisi lain, seorang gadis dengan rambut panjang itu tengah berbicara via telepon dengan seseorang. Ia berdiri di pojokan ruangan yang ramai itu,
"Iya, gue baru sadar kalau ternyata gue sayang banget sama dia. Gue nyesel," ujarnya pada seseorang di seberang.
.
.
.