Setelah liburan panjang, akhirnya kegiatan belajar mengajar semester baru kembali dimulai. Semua murid menampilkan wajah cerianya, walaupun ada beberapa yang menganggap ini hal yang tidak menyenangkan karena setelah kembali sekolah mereka tidak dapat lagi bepergian, bersantai, apalagi bangun tidur kesiangan. Tapi banyak juga dari mereka yang menganggap kembali bersekolah adalah hal yang menyenangkan, terutama untuk para kaum rebahan yang kegiatannya tidak jelas, mereka yang lebih suka jam kosong daripada hari libur. Kecuali para kaum ambis dan anak- anak kelas 12 yang harus lebih fokus lagi belajar.
"Jangan nakal-nakal, udah kelas 9. Fokus sama sekolah," ucap Nana pada adiknya yang tengah merapihkan rambutnya. Kael menyisir rambut pendek Nana agar lebih rapi. Dan perbuatan kakak adik itu berhasil menyita perhatian anak- anak yang melihatnya, namun kakak beradik itu memilih cuek dan tidak memperdulikannya.
"Seharusnya gue yang ngomong gitu ke Lo," ucap Kael membuat senyum yang tadinya terpatri di wajah cantik Nana menghilang seketika.
Nana mengetuk kepala Kael gemas, "Udah sana pergi,"
Kael memakai helm- nya lalu berputar arah menuju sekolahannya sendiri.
"Woy!" teriak Lisya sambil menghampirinya, dan di sampingnya sudah ada Kana.
"Eh Lisya, Kana. Tumben barengan," ujar Nana sedikit terkejut melihat kedua sahabatnya itu berangkat bersama.
"Lagi barter," ucap Kana singkat lalu berjalan mendahului Nana dan Lisya.
"Barter apa?"
"Gue disuruh ngampirin Kana buat sekolah, biar nggak gampang telat. Terus gantinya, dia jadi guru les dadakan," jawab Lisya.
"Wah! Sampai segitunya,"
"Mama marah banget gara-gara nilai gue banyak yang jelek. Apalagi Abang terus- terusan ngejek gue," ucap Lisya sendu.
"Udahlah, lupakan. Gue juga males banget ingetnya, apalagi kalau Kael udah bawa-bawa kepintarannya. Dia kan awet rangking 3 besar, lah gue? Lupakan Lisya! Lupakan!" ujar Lisya sembari mengibas- ngibaskan tangannya.
"Eh Na, gimana kalau kita barter juga. Lo sama Abang gue, terus gue sama Kael, kan adil tuh. Itung- itung memperbaiki keturunan. Kalau gue ma Kael, ntar anak gua pinter, terus kalau Lo Ama Abang gue, anak Lo juga pinter. Gimana?" ucap Lisya dengan otak dangkalnya
"Ogah gue punya adek ipar kayak Lo!" kilah Nana langsung.
"Eleh!" Nana merangkul bahu Lisya, mereka masuk mengikuti Kana.
Untuk hari pertama di semester baru ini, guru hanya datang bercerita bagi guru yang pernah mengajar. Anak OSIS yang dibantu dengan beberapa guru melakukan berada di lapangan utama melakukan upacara. Lalu guru yang mengajar melakukan perkenalan diri kepada murid- muridnya barunya. Kecuali guru menyebalkan yang sudah mulai pertama pelajaran yang mereka ajar, dan juga kelas 12 yang sudah harus fokus belajar di semester genap ini.
Lisya dan Nana melirik Riko, setelah kejadian waktu itu, mereka belum lagi bertemu dengan pria itu. Nana dan Lisya berbicara lewat tatapan mata, entah apa yang mereka bicarakan. Sedangkan Kana yang tidak tahu apa- apa pun terlihat acuh sambil menatap lurus ke depan.
Beberapa menit kemudian, guru keluar dari kelas setelah bel istirahat berbunyi. Lisya berdiri menghampiri Nana.
"Riko jadi keliatan nyeremin ya," bisik Nana lirih.
"Haah, merinding gue,"
"Orangnya liatin tuh!" ucap Kana yang lalu memainkan ponselnya.
Lisya dan Kana bebarengan menatap Riko yang juga menatap mereka dengan tatapan heran.
"Napa Lo liat- liat?!" tanya Riko spontan karena merasa di perhatikan.
Kedua gadis itu langsung salah tingkah karena sudah ke gep memperhatikan cowok itu, "Ehe, nggak papa kok Ko," jawab Lisya dengan senyum samarnya.
Bukannya mengabaikan, cowok itu malah berjalan mendekati tiga gadis itu.
"Aduh Na, gimana ini? Kok malah ke sini sih?" tanya Lisya heboh dengan suara berbisik.
"Nggak tau Sya. Kok ke sini?" Nana juga sama takutnya dengan Lisya. Aura yang dikeluarkan Riko saja sudah sangat berbahaya sebelumnya, apalagi setelah kejadian kemarin.
"Ngomongin gue?" tanya Riko dengan wajah datarnya pada mereka.
Spontan Nana dan Lisya langsung menggelengkan kepala mereka bersama. Sedangkan Kana hanya memasang wajah bingung melihat wajah ketakutan kedua sahabatnya itu, namun ia hanya memilih diam tanpa bertanya apapun, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan apa yang tengah terjadi di antara mereka.
"Kita lagi... lagi bahan drakor kok Ko," kilah Lisya cepat.
"N-- Nah itu, lagi bahas drakor kan Sya?" imbuh Nana berbohong.
Tentu saja Riko tidak percaya dengan alibi mereka, "Terus ngapain ngelirik gue?" Bukannya Riko kepedean, tapi memang itulah kebenarannya. Ia yakin benar jika mereka berdua memperhatikannya sedari tadi, yang otomatis artinya gadis- gadis itu tengah membicarakan dirinya. Dan ia yakin itu pasti ada kaitannya dengan kejadian kemarin.
"Ngelirik?" Lisya dan Nana saling tatap.
"Nggak kok Ko, pasti Lo cuma salah paham, ya kan Na?" kilah Lisya, dan Nana hanya mengikuti alur kebohongan Lisya saja, ia tidak biasa berbohong, tapi sepertinya sekarang ia harus melakukannya demi keselamatan nyawanya sendiri.
"Iya Ko, mungkin kita nggak sengaja ngelirik Lo," ujar Nana tanpa berani menatap manik mata cowok itu.
"Terus--" ucapan Riko terhenti karena seseorang yang tiba- tiba merangkul bahu cowok itu dari belakang.
"Lagi ngerumpiin apa nih? Masih pagi juga," ujar sahabat paling dekat Riko, yang ke mana- mana selalu dengan cowok itu, bahkan pergi ke kamar mandi pun Riko selalu ditemani cowok itu, yang tak lain adalah Kevin. Si cowok yang kadang kalem dan selalu cepat mengerti situasi itu.
"Lo juga ngapain ngikut ngerumpi Ko?" tanya Kevin basa- basi. Karena sebenarnya ia tahu jika Riko yang tadi terlihat tengah mengintimidasi Nana dan Lisya, tadi ia sedang berada di parkiran untuk memarkirkan motornya.
Riko hanya melirik cowok itu sekilas, "Gue nggak ngerumpi," jawab Riko singkat.
Kevin terkekeh kecil. Sedangkan Lisya dan Nana ikut tertawa canggung, "Tau nih Vin. Gue kaget banget pas Riko tiba- tiba Dateng, gue pikir mau ikut ngerumpiin Oppa," ujar Lisya canggung.
Spontan Nana langsung menepuk paha Lisya. Dan Lisya yang menyadari ucapannya pun langsung terdiam tanpa ekspresi dengan keringat dingin yang mulai keluar dari pori- pori wajahnya.
"Ya kali Riko ngerumpi Sya!" kekeh Kevin. Dan Nana- Lisya hanya menanggapinya dengan senyuman canggung.
Riko menatap Nana dan Lisya sekilas, "Cabut!" ujar Riko yang langsung berlalu pergi dari sana.
"Gue cabut dulu ya, Bye!" Kevin melambai- lambaikan tangannya sebelum pergi dari sana.
"Bye juga!" jawab Nana dan Lisya bersama sembari membalas lambaian tangan cowok itu.
Lisya menghembuskan napas lega, "Akhirnya pergi juga. Sumpah, jadi merinding gue kalau Deket Riko," ujar Lisya.
Nana bergidik ngeri saat mengingat ekspresi tidak bersahabat Riko tadi, "Sama Sya, Riko jadi kelihatan beda banget," sahut Nana menyetujui ucapan Lisya.
"Gue ketinggalan sesuatu?" Akhirnya setelah beberapa menit Kana mengeluarkan suara.
"Ha?" sahut Nana bingung.
"Riko kenapa?" tanya Kana. Sebenarnya ia ingin mengabaikannya saja karena merasa itu bukanlah hal yang penting, tapi sepertinya sekarang ia juga harus tahu tentang masalah ini.
"Emm," Nana tidak ingin menjelaskan apa- apa kepada Kana. Karena merasa ini bukanlah hal yang sahur sahabatnya itu ketahui. Tapi tidak dengan Lisya, "Kemarin kan gue sama Nana ke basecamp mereka buat ketemu sama Kak Gavin, terus Nana mau ketemu Kak Gavin. Terus kita ngelihat Kak Gavin sama temen- temennya termasuk Riko babak belur, kalau dari dugaan gue. Mereka itu lagi ada masalah, dan Riko penyebabnya," ujar Lisya mengeluarkan isi pemikirannya.
"Udah Na, itu bukan hal penting kok. Belum tentu yang Lisya ucapin bener," sahut Nana, yang sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu.
.
.
.
Setelah pulang sekolah Nana menghampiri Darrel. Langkahnya terhenti saat melihat Darrel tengah berbicara dengan Riko, sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius. Bukannya pergi, diam- diam Nana malah ingin mendengarkan pembicaraan kedua orang itu dari balik tembok.
"Lo jadi ikut?" tanya Riko,
Terdengar helaan napas dari Darrel, pria itu mengangguk mengiyakan pertanyaan Riko.
"Selain keroyokan, nggak ada lagi?" tanya Darrel bernegosiasi. Namun Riko hanya menatap Darrel dengan tatapan tajam, dan Darrel langsung tahu apa arti tatapan itu.
"Gavin?" Riko tak menanggapi pertanyaan Darrel.
"Nggak, dia nggak mau,"
Nana pun mulai curiga dengan pembicaraan kedua orang itu. Ia keluar dari tempat persembunyiannya lalu menghampiri Darrel.
"Nana?"
"Anterin gue," pinta Nana tanpa menatap Riko yang saat ini menatap tajam dirinya
"Mau ke mana?" tanya Darrel bingung setelah melihat kedatangan Nana yang sangat tiba- tiba dan tidak di waktu yang tepat.
"Beli buku," jawab Nana singkat.
"Tapi gue..."
"Plisss, itu penting banget bukunya," potong Nana cepat.
Darrel melirik Riko sekilas, lalu menatap Nana. Darrel menghela napas pendek,
"Gimana kalau ajak Lisya atau Kana aja?" tawar Darrel.
"Nggak mau. Maunya sama Lo," tolak Nana cepat.
Riko berdecak kesal, "Lo kenapa sih Na?" tanya Riko dengan nada tidak suka dengan tingkah kekanak- kanakan teman sekelas sekaligus pacar Darrel.
"Kenapa apanya? Dia pacar gue, wajar dong gue minta antar," Nana menatap Riko jengkel, "Ya kan sayang?"
Darrel menaikkan sebelah alisnya dengan kedua sudut bibirnya yang sedikit terangkat, "Sayang?"
"Plisss mau ya anterin gue?" pinta Nana dengan wajah imutnya, ia mengedip- ngedipkan matanya berusaha membujuk cowok itu.
"Oke, tapi bentar aja ya?" tawar Darrel sembari melirik Riko yang kini sudah menatapnya tajam.
"Nggak,"
"Nggak? Emang lamaya? Cuma beli buku kan?" tanya Darrel bingung.
"Iya, lama banget. Udahlah, Ayuk!" Nana menarik tangan Darrel pergi. Tidak menganggap Riko yang masih memperhatikannya.
"Lo kenapa sih Na?" tanya Darrel bingung dengan sikap pacar kecilnya ini.
"Kenapa apanya?! Lo nggak mau nganterin gue?" tanya Nana sarkas.
Darrel sedikit terkejut dengan sikap Nana yang berbeda dari biasanya, "Nggak, gue mau kok,"
"Yaudah ayo,"
Tiba di toko buku, Nana hanya berkeliling tidak jelas, hingga setelah menghabiskan waktu 1 jam, barulah cewek itu menemukan buku yang ingin ia beli, dan itupun bukan buku pelajaran, melainkan novel romansa.
"Katanya buku penting Na?" tanya Darrel saat melihat buku yang dipegang Nana.
"Iya, ini penting buat aku," ucap Nana yang lalu membawanya ke kasir.
"Berapa mbak?" tanya Nana.
"Seratus dua puluh lima ribu mbak,"
"Oh iya," Nana hendak mengambil uang dari dalam tasnya, tapi dengan cepat Darrel menahan tangannya.
"Gesek bisa mbak?" tanya Darrel mengeluarkan kartu atm- nya.
"Bisa mas,"
"Ini mbak," Darrel memberikan kartunya pada pegawai kasir itu.
"Loh? Kok lo yang bayar?" tanya Nana tidak enak.
Darrel mengusap puncak kepala Nana lembut, "Gak papa, ini uang gue sendiri, bukan punya orang tua,"
"Ih Darrel keren udah bisa cari uang sendiri, nggak kayak Nana. Jadi pengen deh punya ATM sendiri. Tapi belum punya KTP," ucap Nana kagum.
"Pake yang junior aja, cocok sama Lo!" kekeh Darrel bercanda.
"Kalau pake yang junior itu tanggung, lagian tinggal empat bulan lagi kan aku udah genap 17 tahun," ungkap Nana.
"Yaudah, tungguin aja,"
"Tapi tuh kalau punya juga nggak tahu mau diisi apa? Uang dari Mama Papa aja dikasih Kael,"
"Adek Lo?" tanya Darrel.
"Iya, kan Kael lebih pinter daripada gue,"
"Ada ya alasan kayak gitu," Nana mengendikkan bahunya tidak tahu.
Nana menaruh kresek berisi novel barunya itu ke dalam tasnya. Lalu keluar dari toko itu bersama Darrel.
"Udah kan?" tanya Darrel penuh harap. Ia tidak bisa terus- terusan di sini, teman- temannya pasti tengah membutuhkannya sekarang.
"Udah,"
"Yaudah gue antar pulang,"
Nana menepuk keningnya, ia lupa kalau sekarang ia sedang mencari alasan agar Darrel tidak pergi dengan Riko setelah pembicaraan tadi.
Setelah tiba, Nana turun dari motor Darrel. Ia memegang lengan pria itu.
"Mampir dulu ya?"
"Nggak usah Na," tolak Darrel dari balik helm-nya.
"Akh!" Tiba- tiba Nana merintih sembari memegang perutnya.
Dan spontan Darrel pun langsung turun dari motornya, "Lo kenapa? Apanya yang sakit?" tanya Darrel khawatir.
"Perut aku sakit, kamu masuk dulu ya temenin aku?" pinta Nana dengan wajah memelas.
.
.
.