Nana benar- benar tidak membiarkan Darrel pergi satu inci pun darinya. Bahkan ia sengaja menyimpan ponsel Darrel dengan alasan agar tidak ada yang mengganggu waktunya dengan pria itu.
Setelah dari toko buku, Nana mengajak Darrel pergi ke rumahnya dengan alasan perutnya yang sakit, padahal tidak. Sungguh, ia tidak ada niatan untuk berbohong pada cowok itu, tapi karena terlalu khawatir Darrel akan ikut tawuran dengan Riko, jadi ia tidak punya pilihan selain melakukan ini. Tadi Kael juga memberitahu Nana kalau dia ada kelas tambahan hari ini, jadi dia akan pulang lebih telat dari biasanya. Membuat Nana jadi lebih mudah untuk menahan Darrel agar tetap di sisinya.
Nana kembali ke ruang tamu sembari membawa dua gelas minuman dan makanan ringan dari dapur.
"Perut lo udah nggak papa Na?" tanya Darrel.
Nana menggelengkan kepalanya ragu, "Udah lumayan,"
"Adek Lo nggak ada di rumah Na?" tanya Darrel lagi. Nana yakin, pasti pria itu sedang mencari alasan untuk pergi menemui teman- temannya.
"Pulang telat," jawab Nana ketus.
"Oh,"
Suara dering ponsel Darrel kembali berbunyi entah untuk keberapa kalinya. Sekarang panggilan itu berasal dari Gavin. Darrel hendak meraihnya, tapi kalah dengan Nana yang langsung menolak panggilan itu dengan cepat.
"Lo tuh kenapa sih Na?!" tanya Darrel emosi.
"Nggak kenapa- kenapa. Gue cuma nggak mau ada orang yang ganggu gue sama Lo," jawab Nana santai.
Darrel menghela napas jengah. Nana sudah terlalu keterlaluan. Baru berpacaran saja gadis itu sudah mengaturnya sampai seperti ini. Apalagi jika hubungan ini bertahan lebih lama lagi, ia tidak tau gadis itu akan mengekangnya sampai seperti apa nantinya.
"Kenapa? Gue terlalu posesif? Gitu?" tanya Nana yang seolah tahu apa yang sedang Darrel pikirkan sekarang.
Darrel diam, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kepalanya terus memikirkan apa yang terjadi dengan teman- temannya sekarang. Mereka pasti sedang membutuhkannya. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Nana, karena gadis itu sedang sakit sekarang, ia juga yakin Nana akan langsung memaksa ikut, atau mungkin Nana sendiri yang akan mengikutinya jika ia pergi sekarang.
"Tadi gue denger pembicaraan Lo sama Riko," ujar Nana pada akhirnya.
Darrel menoleh terkejut, "Apa yang Lo denger?"
Nana memberenggut kesal, "Riko ngajak Lo tawuran kan? Ngajak Kak Gavin juga kan?" tebak Nana sinis.
Darrel tersenyum sinis. Jadi ini alasan gadis itu tidak memperbolehkannya pergi ataupun menghubungi teman -temannya. Sial! Ia kecolongan!
"Malah kalau Lo nahan gue kayak gini. Tawuran itu bakal beneran terjadi, Na! Apa sih yang Lo pikirin hah?!" Darrel menggeram rendah. Dia merasa gadis itu benar- benar kekanakan karena sudah menyimpulkan semuanya sendiri, tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu darinya.
Nana mengernyitkan dahi bingung sekaligus terkejut karena Darrel sudah meninggikan suaranya, "Maksudnya?"
"Gue sama Gavin rencana mau cegah Riko buat nggak ikut tawuran. Tapi Lo malah nahan gue," ujar Darrel. Terlihat jelas dari raut wajah dan nada suaranya kalau Darrel sekarang tengah marah kepada Nana.
Nana meneguk ludahnya kaku, Darrel benar- benar terlihat menyeramkan sekarang. Tapi tunggu dulu, ia seperti mengingat sesuatu yang tiba- tiba mengganjal di kepalanya.
"Lo sama Kak Gavin yang mau nahan?" tanya Nana kaget sendiri.
Darrel mengerutkan kening menatap Nana yang terlihat mencurigakan,
Nana melihat ponselnya sendiri, menatap nanar pesan yang sudah ia kirimkan kepada Lisya tadi.
To: Lisya
Lisya! Lo tahan Kak Gavin.
Jangan sampai ketemu sama Riko
Riko mau ngajak tawuran
From: Lisya
Ok! Gue bakal tahan Kak Gavin
Gue ajak dia jalan
Melihat raut wajah Nana membuat Darrel secara spontan mengambil benda persegi panjang itu dari tangan Nana. Matanya langsung berubah tajam ketika membaca pesan yang tertulis di sana.
Kak Gavin
Lo sama Darrel Na?
Suruh dia ke sini. Gue butuh dia
Na!
To: Kak Gavin
Darrel GK bkl prg!
Sedangkan Nana benar- benar takut kala melihat Darrel yang mencengkram erat ponselnya sembari pria itu menatapnya dengan tatapan tajam.
"s**t!"
Darrel meraih ponsel dan kunci motornya di atas meja, lalu segera beranjak pergi dari sana meninggalkan Nana yang masih dalam keterkejutannya.
"Tuhan! Apa yang udah gue lakuin?!" Nana mengacak rambutnya kasar melihat Darrel yang sudah benar- benar pergi dari pekarangan rumahnya. Cowok itu pasti akan sangat marah padanya.
"Lo kekanakan banget sih Na!" pekik Nana. Ia jadi benar- benar merasa bersalah sekarang.
"Semoga nggak terjadi apa- apa. Please..."
.
.
.
Inilah hasil yang Darrel dan teman- temannya harus terima karena perbuatan lancang Nana. Motor- motor besar itu terlihat rusak di mana- mana. Belum lagi dengan keadaan semua temannya yang babak belur karena tingkah egois pacarnya itu. Ia masih tidak habis pikir dengan kelakuan gadis itu.
Andai tadi ia mengabaikan Nana, setidaknya ini semua tidak akan terjadi sampai separah ini. Ia benar- benar merasa bodoh sekarang!
"Lo dari mana aja, hah?!" tanya Riko kasar. Ia berusaha berjalan menghampiri Darrel dengan kaki pincangnya, ia menarik kasar kerah seragam Darrel. Sedangkan Darrel hanya diam tanpa perlawanan. Ia juga tidak tahu harus menjelaskan mulai dari mana. Tidak mungkin ia mengatakan jika tadi dirinya bersama Nana, atau mereka akan membuat gadis yang tidak tahu apa- apa itu dalam bahaya nantinya. Ia tidak ingin melibatkan gadis itu.
"Jawab bangs*t!" teriak Riko frustasi.
Dari belakang, Iko menarik kaos Riko kasar hingga Riko melepaskan cengkeramannya pada Darrel dan membuat tubuhnya jatuh menubruk Sam.
"As*! Minggir Lo!" teriak Sam yang langsung mendorong tubuh Riko dengan kakinya, membuat Riko kembali merintih kesakitan.
"Percuma Darrel ada di sini tadi. Kita udah sempet bahas juga kan? Kalaupun dia di sini, dia nggak bakal ngikutin cara g****k Lo itu. Lo nya aja yang kekanakan," timpal Gavin tak sabaran.
Riko tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti meremehkan, "As* emang! Gara- gara Nana kan?!" tanyanya sambil menatap Darrel tajam.
Darrel tersentak dengan ucapan Riko. Namun ia segera menetralkan raut wajahnya agar cowok itu tidak curiga. Ia akan melindungi Nana, apapun yang terjadi, ia tidak ingin membuat gadis itu dalam bahaya karena masalah ini.
"Ini mau gue. Nggak ada hubungannya sama Nana," elak Darrel.
"Sejak kapan Lo jadi se bucin itu sama cewek, ha?! Sampai Lo lupain temen- temen Lo sendiri," sindir Riko.
"Bullsh*t! Ini semua gara- gara Lo b*****t! Lo sendiri yang cari masalah sama mereka! Lo nggak sadar diri, hah?! Kita semua bonyok juga gara- gara Lo, Baz*ng!" ujar Elang kesal, kepalanya semakin sakit karena teriakan tak berdasar Riko yang terus menyudutkan Darrel, sedangkan di sini Riko lah yang bersalah.
Darrel menghela rendah, ia masuk ke dalam, ia mendudukkan dirinya di kursi samping Gavin yang juga berhadapan dengan Kevin yang tengah membersihkan luka yang cukup lebah di kakinya.
"Kenapa bisa jadi kayak gini?" tanya Gavin pada Kevin. Gavin bertanya karena memang dia juga tidak tau apa- apa, karena tadi ia jalan dengan Lisya.
Sam yang tadi lesehan di atas lantai berdiri dan ikut mendudukkan dirinya di samping Kevin yang terlihat lemas.
"Tuh bocah cari perkara di markas geng Rigo," Darrel dan Gavin langsung tahu siapa 'bocah' yang Sam maksud. Riko, pasti dia.
"Otomatis dia kalah lah, orang dia sendiri. Ya geng Rigo nyamperin ke sini, keroyokan sama kita. Tapi jelas kalau kita kalah jumlah, kita cuma bertiga tadi," ujar Sam menjelaskan dengan wajah garangnya yang terus tertuju pada Riko.
"Yang paling parah Elang, Kevin, sama Riko. Gue, Iko, sama Gavin datang agak lambat, gara- gara kita juga nggak tau apa- apa," ujar Sam lagi.
"Babi emang tuh bocah!" sindir Sam lagi membuat Riko menatapnya tajam.
"Lo tadi ke mana?" tanya Kevin yang sedari tadi diam.
"Gue..." s**t! Dia harus menjawab apa sekarang.
"Gak penting Darrel ke mana! Yang penting sekarang semuanya kelar. Gue nggak mau ada pekara kayak gini lagi nantinya," ujar Gavin. Darrel menoleh, pasti Gavin sedang berusaha melindungi Nana dan Lisya.
"Yang butuh kuburan chat gue," ujar Iko tajam. Iko pergi masuk ke dalam ruangan yang merupakan kamarnya dengan Darrel.
"Bangs*t Lo Ko! Ya kali butuh kuburan," ujar Sam,
"Langsung bakar aja kalau cari pekara lagi," timpal Elang menyindir Riko.
Riko berusaha berdiri, ia menghela napas panjang lalu menatap keseluruhan anggota Victory, kecuali Iko yang sudah pergi dari sana.
"Maaf. Semua gara- gara gue," ujar Riko yang setelahnya ikut pergi masuk ke dalam kamarnya yang berada di rumah itu.
Lalu satu persatu dari mereka ikut masuk ke kamar masing- masing, kecuali Gavin dan Darrel yang masih setia di tempat mereka semula.
Darrel mengacak rambutnya frustasi. Ia benar- benar menyesal ikut Nana tadi. Seharusnya ia menahan Riko agar semua ini tidak terjadi. Melihat teman- temannya babak belur seperti itu membuat perasaan bersalah Darrel semakin besar. Dan dia tidak tahu harus menyalahkan kepada siapa semua masalah yang terjadi hari ini. Karena menyalahkan Nana juga tidak akan ada gunanya sekarang.
"Lo nggak usah marah sama Nana. Dia nggak salah, dia cuma khawatir sama Lo," ujar Gavin yang seolah tahu apa yang menjadi beban pikiran Darrel sekarang.
Darrel mendongak menatap Gavin. Gavin berdiri, ia menepuk pundak Darrel. Lalu berlalu pergi ke kamarnya. Ia terlalu lelah dengan aksi baku hantam tadi. Ia ingin istirahat sekarang.
Setelah kepergian Gavin membuat Darrel sendirian di ruang tamu. Ia mengambil ponselnya yang terus bergetar sedari tadi. Begitu banyak penggilan dan pesan yang berasal dari satu orang yang mengganggu pikirannya, Nana. Darrel membuka pesan yang Nana kirimkan kepadanya.
Nana
Darrel!
Lo marah ya sama gue?
Pliss jawab panggilan gue!
Pikiran gue nggak tenang Rel
Darrel mematikan layar ponselnya, lalu menaruhnya di atas meja. Darrel menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Lepas?"
.
.
.