Nana segera pergi ke kelas Darrel setelah bel istirahat berbunyi. Darrel tidak menghubunginya sejak kemarin, ia takut terjadi apa- apa dengan pria itu. Ditambah lagi hari ini Riko dan Kevin juga tidak masuk sekolah. Sebenarnya bukan hal aneh lagi sih untuk kedua teman sekelasnya itu, karena kedua laki- laki bak saudara itu sudah sangat sering bolos bersama, entah ke mana mereka ketika sedang membolos, itu pun hanya mereka yang tahu. Tapi jika mengingat rencana mereka yang akan pergi tawuran, Nana jadi benar- benar mencemaskan Darrel.
Sampai di kelas itu, Nana hanya melihat Gavin yang baru saja keluar dari kelas dengan beberapa murid lainnya.
"Hei mbak bro. Ngapain Lo ke sini?" tanya Gavin menghampiri Nana.
"Darrel nggak masuk kak?" tanya Nana khawatir. Ia mengedarkan pandangannya ke dalam seluruh penjuru kelas itu, tapi ia tetap tidak menemukan Darrel.
Raut wajah Gavin seperti berubah gugup setelah mendengar pertanyaan Nana, tapi ia berusaha untuk menyamarkan ekspresinya agar cewek itu tidak curiga, "Oh itu, Darrel bolos lah. Biasa,"
"Bolos sekolah apa bolos kelas? Ke mana? Kak Gavin tau?" tanya Nana menyelidik.
"Eh, itu..." Gavin meneguk salivanya saat melihat orang yang Nana cari tepat berada di belakang gadis itu. Dan itupun tidak sendiri, ada siswi lain yang sudah merangkul manja sahabatnya itu.
"Kenapa Lo nanyain Darrel?" tanya seseorang dari belakang Nana, membuat Nana terperanjat kaget dan seketika langsung menoleh ke belakang. Bola mata Nana langsung melebar ketika melihat pemandangan di hadapannya itu, tiba- tiba ia merasakan dadanya panas.
"Kenapa?" tanya siswi yang sekarang tengah menggandeng lengan Darrel dengan tampang angkuhnya. Sedangkan Darrel yang berada di samping siswi itu malah mengalihkan pandangannya dari Nana, membuat Nana semakin kesal dibuatnya.
"Gue tanya kenapa Lo nyariin Darrel? Dia lagi sama gue, ngapain Lo nyariin dia?" tanya siswi itu membuat Nana semakin gedek melihatnya.
Nana menghiraukan pertanyaan siswi itu, "Iya, gue lihat," jawab Nana acuh. Darrel diam memperhatikan, ingin melihat respon yang akan Nana berikan setelah ini, sepertinya akan sedikit menyenangkan.
Nana menatap name tag yang berada di seragam bagian depannya. Siska, itu nama awal wanita itu, ia tidak peduli dengan kata selanjutnya, tidak penting. Nana menatap gadis itu menyeluruh dari atas sampai bawah dengan tatapan menyeledik, seperti merendahkan. Bisa juga Nana membuat tatapan seperti itu kepada orang lain.
"Heh?! Ngapain Lo liatin gue kayak gitu?" tanya Siska tak suka, ia semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Darrel, bahkan sampai menempelkan aset atasnya pada cowok itu.
"Apaan sih Sis!" Darrel berusaha melepaskan diri dari Siska, namun gadis itu benar- benar tidak peduli, "Kamu diem dulu! Biar aku hadapin cewek sok imut ini!" sahut Siska sembari menatap Nana dengan tatapan tajam.
Nana menghembuskan napasnya, benar- benar kesal dengan tingkah murahan salah satu kakak kelasnya itu. Namun, ia harus menahannya.
Sedangkan Darrel dan Gavin saling bertukar pandangan, mereka juga bingung dengan respon Nana yang terlewat santai itu. Padahal sekarang Nana tengah melihat pacarnya dengan wanita lain terang- terangan di depan matanya. Bukankah seharusnya Nana marah?
"Heh?! Lo b***k apa gimana sih?" geram Siska yang semakin tidak suka dengan respon gadis itu.
Tanpa disadari, sekarang mereka jadi bahan perhatian siswa- siswi lain. Kabar berpacaran Nana, si gadis baik nan imut dengan Darrel, si cowok ganteng berpredikat playboy level buaya buntung sudah menyebar di seluruh penjuru sekolah. Ditambah lagi dengan kabar tentang perselingkuhan Klara dengan mantan Nana yang sampai menghabiskan beberapa episode itu.
Dan sekarang mereka mendapat tontonan baru dengan melihat secara live Darrel yang berusaha menyelingkuhi si gadis imut tersebut, benar- benar drama yang menyenangkan.
Nana menatap wajah Siska, lalu mengangkat satu sudut bibirnya sinis, "b***h?"
Pertanyaan Nana berhasil membuat seluruh murid yang ada di sana takjub. Mereka langsung menyoraki ucapan Nana. Darrel sedikit terkejut mendengar u*****n dari bibir tipis gadisnya itu. Sudut bibirnya terangkat tipis-- smirk, memberikan oplos atas keberanian gadis itu.
Hal tersebut berhasil membuat Siska langsung naik pitam karena ejekan Nana. Matanya membola sempurna dengan perasaan marahnya yang semakin menggelora. Hingga tanpa sadar ia melepaskan pelukannya pada lengan Darrel.
Ia melangkahkan kakinya satu langkah mendekati Nana, "Apa Lo bilang barusan?" tanya Siska dengan wajah memerah.
Nana tersenyum semakin lebar, dan dengan percaya dirinya Nana tersenyum remeh sambil mengulang pertanyaannya tadi sesuai dengan permintaan Siska, "b***h?"
"Lo yang jalang! Sial!"
Siska menggeram rendah, tangannya terangkat hendak menampar wajah Nana. Reflek Nana memejamkan matanya takut, ini kali pertamanya ada seseorang yang mengangkat tangan kepadanya. Namun di detik berikutnya Siska langsung terdorong ke belakang karena ulah seseorang di samping Siska.
"Akh!" rintih Siska karena tubuhnya yang menubruk seseorang di belakangnya.
Suara ricuh di sekitarnya membuat Nana bingung. Perlahan ia membuka kedua matanya karena merasa pipinya tak tersentuh apapun selama beberapa detik. Nana membelalakkan matanya kaget ketika melihat Siska yang kini berhadapan dengan Darrel. Dengan Darrel yang mencengkram kuat tangan Siska sampai membuat gadis itu merintih kesakitan.
Nana hendak protes karena posisi mereka terlalu dekat. Namun niatnya langsung menghilang ketika mendengar ucapan Darrel setelahnya.
"Darrel! Kamu apa- apaan sih?! Sakit tau!" rintih Siska, sembari memberontak untuk melepaskan cengkraman Darrel yang terlalu kuat.
"Lo yang b*tch! Ngaja Anj*Ng!" umpat Darrel tak terima Siska memberikan kata- kata kotor kepada pacarnya.
"Dan satu lagi, jangan pernah ganggu cewek gue lagi, ngerti?!" ujar Darrel dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.
Siska membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan tegas Darrel. Jadi, dirinya ditolak?
"Kamu kenapa sih? Bukannya tadi kita baik- baik aja?!" tanya Siska tak terima.
Darrel menyeringai, "Nggak akan ada yang baik- baik selama Lo ganggu cewek gue. Lo pikir Lo siapa hah?" tanya Darrel sinis.
"CK! Darrel! Kamu ngeselin banget sih!" pekik Siska kesal, lalu ia langsung pergi memecah kerumunan. Malu? Tentu saja. Padahal tadi ia sudah sangat percaya diri jika Darrel akan membelanya, tapi justru ia malah mendapatkan penolakan dan penghinaan secara langsung dari kedua manusia menyebalkan itu.
Darrel membalikkan badannya, menatap Nana dengan tatapan sayu. Dan Nana langsung merubah ekspresi terkejutnya dengan senyuman penuh kemenangan karena ternyata Darrel masih menjadi miliknya. Huft! Padahal tadi ia akan membuat suasana semakin panas lagi, tapi semuanya lenyap karena ia yang terlalu takut karena Siska sudah mengangkat tangannya. Tapi, ia sudah sangat- sangat puas karena ternyata Darrel membelanya, bukan wanita kurang belaian itu.
"Hm?" gumam Nana sembari menatap Darrel lekat.
.
.
.