"Nana emang beda," ujar Gavin entah untuk yang keberapa kalinya.
"Diam- diam bikin meleyot," ujar Gavin lebay, "Gue pikir Lo bakal nangis Lo Na, atau paling nggak marah- marah ke Darrel, tapi malah.... Aku padamu Na!"
"Ah, ini gara- gara Kana sih. Gue kan juga pengen liat," ujar Lisya kesal. Tadi Kana mengajaknya untuk mengumpulkan tugas, jadinya ia tidak bisa mengantarkan Nana yang ingin menemui Darrel. Dan karena satu saat saja, ia jadi melewatkan momen- momen Nana, si cewek imut mengatakan 'b***h' kepada wanita yang mendekati Darrel, dan yang paling mengejutkan adalah karena Nana mengatakan u*****n tersebut pada seorang kakak kelas yang juga cukup famous di sekolah. Jelaslah famous, karena memang Siska sudah terkenal karena senang sekali mendekati cowok yang sudah punya pacar.
Kana hanya menghiraukan ucapan Lisya. Ia tetap fokus memakan makanannya. Sudah biasa mendapatkan Omelan sejenis ini dari sahabat rempongnya itu.
"Na, coba Lo bilang b***h lagi. Sumpah, gue geregetan tau nggak?!" ujar Lisya berlebihan. Entahlah, sepertinya gadis itu sudah tidak lagi menjaga image- nya di depan Gavin. Toh Gavin juga sudah lumayan dekat dengannya. Dan Lisya juga sudah sangat percaya diri jika Gavin pun memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Bi--"
Puk!
Darrel menepuk bibir Nana cepat ketika Nana yang dengan polosnya malah hendak mengikuti permintaan Lisya.
"Jangan ngajarin cewek gue aneh- aneh," ujar Darrel memperingatkan dengan tatapan tidak suka.
"Uluh- uluh yang udah bucin," goda Gavin, "Jingin ngijirin ciwi gii Ying inih- inih HAHAHA!" ujar Gavin mengejek, "Coba kalau ada Jojo, pasti jadi bahan ghibah," ujar Gavin dengan masih tertawa puas.
Darrel sudah ancang- ancang akan mengambil garpu yang niatnya akan ia colokkan ke mata Gavin, namun dengan cepat Gavin menarik wadah sendok- garpu itu menjauh dari jangkauan Darrel.
"Bercanda elah. Jan serius- serius gitu lah Babang Darrel," ujar Gavin memelas. Dan Darrel hanya merotasikan matanya malas.
"Ya salah sendiri. Ngapain pake peluk- pelukan sama Kak Siska segala? Udah gitu itunya malah ditempel- tempelin lagi. Enak tuh pasti," sindir Nana dengan bibir mengerucut kesal.
"Iya Na enak, kenyel- kenyel gimana gitu," jawab Darrel dengan wajah tak berdosanya.
"Ih Darrel!" pekik Nana semakin kesal,"
Darrel terkekeh melihat tingkah Nana, Nana malah terlihat jauh lebih menggemaskan dengan raut wajah seperti merajuk itu. Aneh emang, tapi itulah kenyataannya.
"Maafin gue ya sayang. Gue nggak bakal ulangi lagi, hm?" ujar Darrel sembari mengacak gemas rambut pendek pacarnya itu.
"Gii nggik bikil ilingin ligi him?" ujar Gavin yang langsung ditatap tajam oleh Darrel.
Nana berdecak kesal, "Emang buaya kalau minta maaf selalu gini ya? Pembohongan banget," ujar Nana mencibir.
"Uluh- uluh ayangku," Darrel mencubit pipi Nana yang sedikit gembul.
"Ih Darrel! Lepas!" Nana menarik tangan Darrel dari pipinya.
"Stop! Keuwuan ini sangat mengganggu mataku!" pekik Lisya tak terima.
"Syirik aja lu," ujar Darrel tak peduli. Ia terus memainkan pipi Nana, sedangkan Nana terus meneriaki Darrel karena pipinya terasa sakit.
"Oh iya, btw gimana Klara? Kayaknya gue nggak pernah liat dia jalan sama Lo pada," tanya Gavin tiba- tiba membuat suasana di meja itu langsung hening. Dan sontak Darrel langsung melepaskan cubitannya pada pipi gembul kekasihnya itu.
Semuanya diam. Darrel yang memang tidak tahu dan tidak ingin tahu. Kana yang memang pada dasarnya orang yang pendiam. Lalu Nana yang menjadi sangat anti bila membicarakan sahabat, -eh, maksudnya mantan sahabatnya itu. Dan Lisya dengan mode julidnya langsung kesal karena Gavin menanyakan tentang gadis yang sangat ia benci itu.
"Lah, kok pada diem? Gue salah ngomong ya? Lagian gue cuma pengen tau aja kok," tanya Gavin bingung.
"Ngapain nanyain orang yang nggak ada sih? Nggak penting," ujar Lisya tanpa sadar.
Ah, sepertinya Gavin tahu alasan mereka semua langsung terdiam mendengar pertanyaannya.
"Kalau menurut gue ya. Lo pada nggak perlu sampai segitunya sama Klara. Toh yang punya masalah kan Nana, ngapain Lo berdua ngikut musuhan sama dia? Kan bukan cuma Klara yang salah, Bang Fian juga," tanya Gavin pada Lisya dan Kana. Kana langsung memberikan tatapan tidak sukanya pada cowok itu.
Nana mengangguk. Sebenarnya ia juga membenarkan ucapan Gavin, tapi ia juga tidak bisa memaksa temannya untuk kembali seperti dulu dengan Klara. Itu hak mereka, Nana tidak ingin terlalu mengedepankan pendapatnya. Karena pada kenyataannya, orang sekitar akan jauh lebih memahami keadaan yang telah terjadi pada orang itu daripada orang yang mengalaminya sendiri, entah kenapa.
"Emang kita keliatan nggak kesel juga sama Kak Fian? Dipikir secara logika aja sih, gimana kalau Lo yang ada di posisi Nana? Lo diselingkuhin sama sahabat Lo sendiri di hari anniv kalian, Lo nggak mungkin bakal setenang ini kan?" timpal Lisya kesal, karena ucapan Gavin seolah seperti tengah menyindirnya.
"Tapi Sya, yang dibilang Kak Gavin juga nggak salah sepenuhnya kan? Toh yang punya masalah itu kan gue, gue udah damai juga sama dia... ya walau nggak secara langsung sih. Lagian sekarang gue udah sama Darrel, dia sama Kak Fian," ujar Nana dengan bijaknya.
"Pacar gue nih," ujar Darrel. Ia menarik Nana agar bergeser mendekatinya.
"Tuh dengerin. Nggak ada gunanya juga benci sama Klara. Lagian yang punya masalah juga udah damai," timpal Gavin membuat Lisya semakin kesal mendengarnya.
"Kok Lo jadi ngeselin banget sih," geram Lisya sembari menatap Gavin tajam. Lisya meraih gelas es jeruknya, dan langsung meneguknya hingga tandas.
"Lah kok jadi gue?" tanya Gavin bingung.
"Pikir aja sendiri," jawab Lisya sinis.
"Kak Gavin," panggil Kana yang sedari tadi hanya diam. Membuat seluruh penghuni meja itu menatapnya.
"Hm?"
"Lo suka sama Klara ya?" tanya Kana tiba- tiba dengan wajah misterius, yang langsung membuat atmosfer di meja itu berubah drastis.
"KANA! LO NGOMONG APAAN SIH?!"
.
.
.