Setelah pulang sekolah Nana mengajak Darrel untuk jalan- jalan sebentar. Lalu cowok itu membawa Nana ke basecamp- nya karena seluruh anak- anak Victory sedang tidak ada di sana sekarang, jadi ia bisa dengan bebas membawa pacarnya ke sana sekarang. Itupun tanpa bertanya pada Nana, karena ia sudah hapal betul apa jawaban yang akan gadis itu berikan, 'Terserah', pasti itu kan?
Nana mengedarkan pandangannya pada gang sempit yang motor Darrel lintasi, ia seperti mengenal tempat itu. Berpikir sekejap, ia langsung tahu saat melihat bangunan yang terlihat sangat familiar di matanya. Sontak ia langsung menepuk bahu cowok itu beberapa kali, "Darrel, kok ke sini sih?"
Nana benar- benar cemas sekarang. Pikirannya sudah ke mana- mana. Apa Darrel sengaja membawanya ke sana untuk meminta maaf atas sikap kekanakan yang telah ia lakukan kemarin? Jika itu benar, Nana belum siap untuk hal itu. Ia masih belum menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan cowok- cowok itu. Ia juga yakin mereka pasti juga benar- benar marah kepadanya.
"Darrel!"
Rasanya Nana ingin menangis karena Darrel tetap mengabaikannya sampai motor cowok itu benar- benar berhenti di halaman rumah bak pondok kecil itu.
"Turun!" ujar Darrel tanpa menoleh ke belakang seraya melepaskan helmet- nya.
Nana ingin sekali protes, tapi gadis itu terlalu takut sekarang sampai tidak bisa melakukan hal itu sekarang. Hingga tanpa sadar cairan bening keluar dari kelopak mata indahnya itu. Nana menutup wajahnya dengan tangan.
Darrel mengerutkan keningnya bingung karena tidak ada pergerakan di belakangnya. Suara isakan terdengar membuat Darrel kelimpungan, ia pun langsung turun dari motornya.
"Na? Lo kenapa? Kenapa nangis?" tanya Darrel cemas.
Dari pertanyaan itu malah membuat suara isakan Nana semakin keras. Gadis itu menangis ketakutan,
"Sayang? Lo kenapa?" tanya Darrel sembari menangkup wajah Nana yang ditutupi oleh kedua tangan gadis itu sendiri. Ia menarik tangan gadis itu ke bawah.
"A... aku belum siap ketemu temen- temen kamu... hiks," ujar Nana.
Darrel tersenyum simpul, sekarang ia tahu kenapa gadisnya sampai sangat ketakutan seperti ini. Justru sebaliknya, Darrel akan berusaha menjauhkan gadisnya itu dari sahabat- sahabatnya, terutama Riko, si biang dari masalah ini. Ia tidak ingin Nana menemui mereka saat ini, karena ia sendiri juga tidak tahu apa mereka akan menyalahkan Nana atau tidak.
"Mereka nggak ada di sini. Kenapa pake nangis segala sih, hm?" Darrel mengusap pipi lembab gadis itu lembut.
Perlahan-lahan Nana membuka kedua kelopak matanya lucu memberikan tatapan polosnya pada cowok itu, "Beneran nggak ada?"
Darrel tersenyum simpul, lalu menoel hidung Nana yang terlihat kemerahan, "Ngapain juga gue bohong, hm? Yuk turun," ajar Darrel.
"Bukain," Nana menyentuh pengait helm- nya dengan tatapan meminta.
Dan Darrel dengan senang hati membukakan pengait itu, lalu melepaskannya dari kepala Nana dan menaruhnya di kursi yang berada di teras.
Nana menatap helm- nya dengan tatapan kesal, helm yang seperti biasanya sangat susah dilepas oleh dirinya sendiri, padahal Darrel bisa membukanya dengan sangat mudah.
Darrel kembali ke motornya, dan ia masih melihat Nana yang sepertinya tengah bergelut dengan pikiran gadis itu sendiri.
"Kenapa? Nggak bisa turun juga? Perlu bantuan?" tanya cowok itu usil.
"Ih, enggak. Bisa kok," ujar Nana dengan percaya dirinya yang langsung turun setelah mendapatkan ejekan dari cowok itu. Tapi entah karena takdir atau emang karena kecerobohannya sendiri, Nana hampir saja tergelincir, namun dengan cepat cowok itu menempatkan tangannya di bawah ketiak Nana, dan mengangkatnya dengan mudah untuk menapakkan kaki gadis itu di tanah.
Dengan gemas Darrel menjitak kepala Nana keras, "Lo tuh kenapa sih, ceroboh banget!" omel Darrel.
"Aduhh! Sakit taukk!" pekik Nana tidak terima seraya menyentuh kepalanya yang terasa sakit akibat perbuatan cowok itu.
Darrel tertawa kecil, mengacak gemas puncak kepala Nana hingga membuat rambut gadis itu berantakan.
"Darrel!!!"
.
.
.
Nana berada di dapur pondok Victory, ia sedang membuatkan makanan dengan bahan yang sudah tersedia di dalam kulkas. Sedangkan sekarang Darrel sedang mandi.
Nana cukup takjub dengan keadaan di pondok itu. Karena sudah diketahui dengan jelas jika seluruh penghuninya adalah cowok- cowok yang masih berusia belasan tahun, diujung belasan tahun lebih tepatnya. Tapi tetap saja, mereka semua masih sekolah, bahkan ada yang masih seusianya. Ada banyak makanan instan dan beberapa jenis minuman yang tersedia, bahkan juga ada beberapa lauk mentah.
Sekarang Nana sudah menanak nasi, lalu sekarang ia tengah menggoreng sosis dan nugget, lalu memanaskan sarden sebagai tambahan agar ada kuah saosnya.
Sebuah tangan tiba- tiba melingkar di perutnya membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Aaa!!"
"Sstt! Ngapain teriak sih?" Suara berat itu berhasil membuat Nana menoleh, dan benar saja, si pelaku adalah Darrel, kekasihnya.
"Ish! Kalau datang tuh pake suara kek, kaget tau," tukas Nana kesal.
"Hm," Darrel hanya bergumam sebagai jawaban.
Tiba- tiba Nana merasakan tubuhnya memanas, ia menahan napasnya beberapa saat ketika merasakan napas berat Darrel menerpa lehernya selama beberapa saat, belum lagi tangan cowok itu yang masih melingkar di perutnya. Namun Nana memilih untuk diam, entah mengapa ia merasa sangat malu sekarang. Ia memilih menyibukkan diri dengan wajan penggorengan, membuat suasana di dapur itu benar- benar hening sekarang.
Darrel menaruh kepalanya di atas bahu kanan Nana, "Masih belum selesai?" tanya cowok itu dengan suara yang terdengar berat.
Nana berdehem kecil, "Bentar lagi," jawabnya.
Darrel masih berada di posisinya sampai Nana benar- benar selesai dengan kegiatannya, "Darrel, berat. Minggir dulu," pinta Nana setelah mematikan kompor.
"Nggak, pengen peluk," ujar Darrel sembari mengeratkan pelukannya pada gadis itu.
Nana tersenyum malu, "Manja banget sih, hm?"
Darrel melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuh Nana agar berhadapan dengannya, membuat posisi mereka benar- benar sangat dekat sekarang.
Nana mengusap rahang tegas Darrel. Sedangkan Darrel malah memasang wajah sendu entah karena apa, "Kenapa? Kok mukanya begitu?"
"Tadi, gue udah bentak Lo," ujar cowok itu tanpa menatap Nana.
Nana tersenyum simpul, "Kan gue udah nggak papa. Kenapa masih dipikirin sih?"
"Kemarin juga gue udah bentak Lo, dulu juga gue pernah bentak Lo," ujar Darrel lagi membuat gadis itu mengerutkan keningnya bingung, ia merasa aneh melihat Darrel meminta maaf seperti ini. Yang padahal sekarang dirinyalah yang sudah bersalah pada cowok itu dan teman- temannya.
"Seharusnya gue yang minta maaf di sini," Darrel menatap manik mata Nana yang tertunduk, "gue sendiri yang udah kekanak- kanakan. Bahkan sampai udah buat Lo marah kemarin, gue udah keterlaluan,"
"Iya, gue marah sama Lo,"
Mendengar ucapan itu semakin membuat Nana merasa bersalah sekarang, bahkan ia merasa jika matanya sudah mulai memanas sekarang.
"Maafin gue," ujar Nana yang tanpa sadar sudah meneteskan air matanya, membuat Darrel terkejut setengah kaget, --apa bedanya coba,
Darrel menangkup pipi gembul Nana, "Eh, gue bercanda kali Na. Kenapa dibawa serius sih, hm?"
Nana mendongakkan kepalanya menatap manik Darrel yang mulai menghangat.
"Gue nggak tau kenapa gue ngomongin ini ke Lo," ujar Darrel sembari menatap Nana dengan tatapan sulit diartikan.
"Na?"
"Iya?" sahut Nana.
"Gue sayang sama lo. Jangan pernah tinggalin gue, apapun yang terjadi. Entah seberapa besar kesalahan yang bakal gue perbuat nantinya, karena gue pasti bakal balik lagi ke Lo, oke?"
.
.
.