---
Dengan lincah jemari Kael menari- nari di atas buku tebal yang kebanyakan bertuliskan angka- angka itu. Matanya terlihat santai dengan sesuatu di dalam kepalanya yang tengah bekerja keras untuk menjawab soal- soal itu. Teman- teman sekelasnya sudah pergi keluar dari kelas karena memang sudah waktunya jam istirahat, dan hanya beberapa murid di dalam yang memakan bekal makanan yang mereka bawa dari rumah.
Terlalu sibuk dengan soal- soal itu hingga ia tidak sadar dengan kehadiran seorang siswi yang sudah berdiri cukup lama di samping mejanya.
"El," panggil gadis itu membuat Kael sontak menolehkan kepalanya. Kael berdecak kecil, ia hanya menghiraukan kehadiran gadis itu tanpa ada niat melakukan apa- apa. Ia mencengkram kuat pena miliknya, rahangnya mengetat, namun ia berusaha menahan emosinya agar tidak keluar sekarang, karena itu tidak ada gunanya.
"Kael... aku mau bicara sama kamu," ujar siswi dengan name tag yang nama tengahnya adalah Dilla itu.
"Sekarang Lo udah ngomong," ujar Kael tanpa menatap gadis itu.
Dilla menatap sekelilingnya, beberapa murid yang berada di sana kini sudah menatapnya dengan berbagai macam tatapan yang tidak asing untuknya. Ya, ia sudah pernah mendapatkan tatapan itu saat ia selingkuh dengan sahabat Kael waktu itu.
"Tapi nggak di sini. Kamu ikut aku ya?" pinta Dilla memohon.
"Gak," jawab Kael tak peduli.
"Aku mohon El, aku mau bicara sesuatu sama kamu... Pliss,"
Kael menghela napas jengah, rasanya ia ingin memukul sesuatu untuk melampiaskan amarahnya sekarang. Tapi ia masih ingin berada di sekolah ini, apalagi sebentar lagi ia akan mengikuti ujian nasional, akan sangat tidak lucu jika ia dikeluarkan hanya karena masalah sepele seperti ini.
"Pulang sekolah," Hanya dua kata, namun berhasil membuat kedua ujung bibir cewek itu melengkung sempurna.
"Oke, aku tunggu ya. Aku nggak ganggu kamu kok, aku pergi dulu ya," Tanpa menunggu balasan-- percuma soalnya, Dilla berjalan keluar dari kelas itu.
Kael menghela napas berat, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi. Ia benar- benar tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Dulu, gadis yang selalu menunjukkan sisi polos dan menyenangkannya itu adalah satu- satunya wanita selain kakak dan ibunya yang paling ia sayangi. Bahkan ia sampai merasa jika Dilla adalah orang terpenting untuknya. Entah apa yang terjadi sampai gadis itu selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Hah! Rasanya menyebalkan jika ia harus mengingat kembali kenangan buruk itu.
"f**k!"
.
.
.
Sepulang sekolah Kael ingin langsung pergi pulang tanpa menemui Dilla. Ia sama sekali tidak ada pikiran akan berbicara lagi dengan cewek itu, bahkan setelah cewek itu memohon sendiri kepadanya. Lagipula ia sudah berjanji pada kakaknya jika ia akan pulang cepat hari ini. Dan karena sekarang juga sudah cukup larut karena tadi ia harus mengikuti bimbingan belajar wajib dari sekolahan untuk persiapan ujian. Ia segera menaiki motornya di saat sedang ramai- ramainya siswa maupun siswi akan pulang sekolah. Padahal Kael merupakan orang yang sangat anti berdesakan, bahkan biasanya ia rela menunggu sampai lebih dari satu jam hanya untuk menunggu parkiran sepi.
Sedangkan Dilla yang sudah berada di koridor kelas 9 unggulan akan berjalan ke kelas mantan pacarnya. Jujur saja, ia masih terlalu takut pada Kael setelah kejadian saat Kael memukuli Reno tempo hari, tapi ia benar- benar sangat perlu membicarakan sesuatu pada cowok itu, dan ia harus mengenyampingkan rasa takut dan gengsinya itu.
Sepi. Tidak ada satu orang pun di kelas itu. Dilla mengedarkan pandangannya, hanya ada anak- anak organisasi yang berkeliaran di koridor itu, ia tidak melihat tanda- tanda adanya Kael di sana. Apa Kael membohonginya?
"Kael..." Dilla menggeram rendah.
Dilla merogoh saku roknya, mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi cowok itu.
"s**t!" Dilla lupa jika Kael sudah memblokir nomor dan sosial medianya sejak lama.
Lalu ia beralih menelepon kontak orang lain. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai panggilannya tersambung.
"Sorry, aku nggak bisa nemuin Kael," ujar Dilla dengan suara sendu.
"Iya, nggak papa. Makasih udah mau bantuin gue. Dan maaf, gue bener- bener nggak bisa sama Lo lagi Dil," ujar seseorang dari seberang.
Tut!!
"Ren! Reno! Reno! Gue nggak mau!" Telat! Panggilan itu sudah terputus terlebih dahulu.
"ARGH!"
.
.
.
Sekarang Nana mengganti seragamnya dengan baju longgar dengan celana di atas lutut favoritnya ketika berada di rumah. Ia mengambil sapu di belakang, lalu mulai menyapu teras rumah orangtuanya itu. Setelahnya Nana pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuknya dengan Kael.
Nana tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum, ia benar- benar bahagia sekarang. Masalahnya dengan teman- teman Darrel. Akhirnya ia bisa tidur nyenyak malam ini.
Setelah dianggap selesai, Nana pergi ke kamarnya untuk mandi, karena mungkin sebentar lagi Kael akan pulang, tadi adiknya itu mengatakan akan pulang sebelum Isya', itupun juga tidak pasti. Setelah mandi dan sholat, Nana keluar dari kamarnya, dan benar, adiknya itu baru saja datang dengan wajah penatnya.
Nana hendak memanggilnya, namun sepertinya Kael tidak melihatnya, karena cowok itu langsung masuk begitu saja ke kamarnya. Nana mengernyitkan keningnya heran, ada apa lagi dengan adiknya itu?
Nana menghela napas rendah, lalu memilih untuk membiarkannya saja untuk saat ini. Nanti ia akan bertanya lagi jika raut wajah Kael tetap tidak berubah. Karena mungkin saja Kael capek setelah pulang sekolah, apalagi sekarang cowok itu sudah kelas 12, kegiatannya pasti tidak jauh- jauh dari ujian dan Try out. Nana akan memakluminya.
Nana turun ke bawah, sampai di tangga terakhir ia merasa teleponnya bergetar.
"Vid call?" Nana menggeser tombol hijau dari panggilan video call dari kekasihnya itu.
"Hai," sapa Nana terlebih dahulu.
"Lagi apa Lo?" tanya cowok itu.
"Baru aja mandi. Lo ngerokok?" tanya Nana ketika melihat asap keluar dari mulut dan hidung cowok itu.
Darrel tidak mengelak, ia malah menunjukkan satu puntung rokok lalu menghisapnya.
"Ih Darrel. Ngerokok itu nggak bagus tau," ujar Nana sembari berjalan menuju ruang keluarga. Ia mendudukkan bokongnya di atas sofa.
"Tau," jawab Darrel acuh, ia terus menghisap rokok itu lalu mengeluarkan asapnya dari mulut.
Nana mengerucutkan bibirnya karena Darrel hanya menjawabnya tanpa menghentikan kegiatannya itu, "Udah dong ngerokok nya. Itu nggak bagus buat kesehatan, Darrel,"
"Ntar," ujar Darrel, sepertinya cowok itu menyandarkan ponselnya pada sesuatu, karena kedua tangannya terlihat di layar.
Nana mendengus jengah, "Padahal di bungkusnya udah ditulisi 'Merokok Membunuhmu' tapi tetep aja ngerokok," cibir Nana.
"Walaupun nggak ngerokok gue juga bakal mati Na," jawab Darrel dengan logikanya.
Jika ada di sana, ia pasti akan menonjok d**a kotak- kotak cowok itu karena sudah menjawab seperti itu, "Ya tapi kan... Ah sudahlah, percuma juga gue ngomong, nggak bakal didengerin," ujar Nana kesal.
"Gue dengerin Na. Dari tadi gue dengerin," ujar cowok itu dengan nada tak berdosa. Nana merotasikan bola matanya malas.
"Gimana caranya supaya berhenti ngerokok nya? " tanya Nana.
Darrel diam, seperti tengah memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan Nana, beberapa saat terdiam, tiba- tiba cowok itu tersenyum penuh arti, "Cium gue," ujar Darrel menggoda.
Blush!
Pipi Nana langsung memerah, tidak! Bukan hanya pipinya, tapi seluruh wajah sampai telinganya sudah sangat merah sekarang. Sontak, ia menjauhkan kamera dari wajahnya. Nana mengibas- ngibaskan tangannya di wajahnya yang memanas. Dua kata, namun efeknya sangat luar biasa untuk gadis itu.
"Na? Kok ngilang sih? Blushing ya? Sini cefat cium!" ujar Darrel yang semakin gencar menggoda gadis itu.
Mendengar itu Nana mengambil ponselnya, walaupun tetap tidak menunjukkan wajahnya yang sudah Semerah tomat di kamera.
"Dasar ngeselin!" Darrel malah tertawa terpingkal- pingkal dengan respon menggemaskan gadisnya itu.
"Cefat cium. Ntar berhenti ngerokok nya. Cefat! Cefat!"
"Ih! Darrel berisik!" ungkap Nana kesal karena Darrel terus- menerus menggodanya.
Ting! Tong!
Suara bel mengalihkan perhatian Nana.
"Kael?" tanya Nana pada dirinya sendiri.
"Udah dulu. Lanjut nanti aja, Kael udah dateng," Nana langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Darrel. Lalu berjalan ke depan.
Setelah membuka pintu Nana sedikit terkejut karena bukan Kael yang berada di sana, "Reno?"
.
.
.