....
Nana cukup terkejut melihat cowok yang dulunya adalah teman dekat adiknya itu berdiri di depan pintu rumahnya. Sebenarnya Nana ingin mengusir cowok itu, tapi ketika mengingat beberapa bekas luka di wajah cowok itu membuat Nana teringat jika luka itu Kael lah yang sudah membuatnya.
"Kak?" panggil Reno.
"Ah, yuk masuk," ajak Nana, ia masuk terlebih dahulu, lalu Reno mengikutinya dari belakang.
"Duduk Ren,"
"Iya Kak," Reno mendudukkan dirinya di atas sofa. Suasana canggung mulai terasa sekarang. Padahal dulu mereka berdua cukup dekat, karena dulu ia sering datang ke rumah sahabat baiknya itu. Tapi, sepertinya Nana sudah mengetahui semuanya, buktinya orang yang sudah ia anggap kakak itu bahkan sama sekali tidak menatapnya dengan tatapan ceria seperti dulu.
"Kael belum pulang kak?" tanya Reno setelah sekian detik berlalu.
Nana melirik Reno sekilas, "Bentar lagi kayaknya," jawab Nana seadanya.
"Kamu udah nggak papa?" Reno menoleh tidak paham, "Itu, luka kamu," ujar Nana seraya menunjuk ke wajahnya sendiri.
"Udah enggak kak,"
"Kael mukulnya kekencengan ya pasti? Maafin dia ya? Makasih juga karena kamu udah nolak bawa masalah ini ke jalur hukum," Ya, Nana mengetahui semua itu. Ia yang memaksa Kael untuk mengatakan semuanya, ia bahkan juga tahu jika Reno memilih pindah sekolah agar Kael tidak dikeluarkan. Ia sangat terkejut saat mendengar itu untuk pertama kalinya, tapi saat mengingat koneksi keluarga Reno, ia jadi kembali tidak menyukai cowok itu, dan ia yakin adiknya juga masih memikirkan hal yang sama dengannya.
Cowok itu menundukkan kepalanya dalam, "Kak Nana juga tau ternyata," ujar cowok itu getir.
Nana tersentak mendengar ucapan Reno, "Eh, Kael nggak ngadu kok sama Kakak. Tapi emang kakak sendiri yang minta Kael buat jelasin semuanya, apalagi pas tau kalau Kael diskors, padahal seumur- umur kakak belum pernah liat Kael bolos sekolah, tapi kakak malah tahu kalau Kael diskors, makanya kakak tanya," jelas Nana panjang lebar, ia tidak ingin membuat citra adiknya menjadi buruk di depan mantan sahabat adiknya itu.
Reno menggelengkan kepalanya pelan, "Padahal Kael udah baik banget sama aku. Tapi, aku malah nggak tau diri kayak gini," ujar Reno sendu.
Nana mengernyitkan keningnya, sebenarnya apa tujuan cowok itu ke sini dengan mengucapkan kalimat seaneh itu? Apa Reno benar- benar menyesali perbuatannya dan ingin berbaikan dengan Kael... atau ada hal lain lagi?
"Kalau boleh kakak tahu, ngapain kamu datang ke sini," Sepertinya ucapannya terlalu sarkas, "Maksud kakak... Kakak yakin kamu juga tahu kalau Kael belum sekolah kan? Terus ngapain kamu menyempatkan diri ke sini?" Sepertinya sudah cukup halus.
Reno mendongak menatap Nana, membuat gadis itu bingung. Cowok itu memainkan jemarinya, seperti ada yang ingin dikatakan, tapi dia tidak tahu harus berbicara mulai dari mana.
"Kalau mau ngomong sesuatu, ngomong aja. Mungkin kakak bisa bantu," ujar Nana pengertian.
Reno terlihat menghela napas, mempersiapkan diri untuk mengatakan semuanya, "Waktu itu.... sebenarnya Dilla yang udah nembak aku,"
Deg!
Flashback On
"Reno, aku mohon. Kamu mau ya jadi pacar aku?" pinta gadis berambut sepunggung itu penuh harap.
"Lo apa- apaan sih Dil! Gila Lo!" Reno menghempaskan tangan Dilla yang menggenggam tangannya. Marah? Tentu saja ia marah. Bagaimana bisa cewek yang notabenenya adalah pacar dari sahabat baiknya itu berbuat sampai sejauh ini, dan itu kepada dirinya pula?
Tiba- tiba cewek itu terisak membuat Reno semakin kesal sendiri dibuatnya, "Mau Lo apa sih Dil? Lo nyuruh gue buat nyelingkuhin sahabat gue sendiri? t***l Lo?!"
Tangis Dilla semakin pecah, "Kael udah kasarin aku Ren,"
Flashback end
"Kael nggak mungkin kasar sama cewek! Apalagi Dilla! Kakak tahu gimana sayangnya Kael ke Dilla, nggak mungkin Kael ngelakuin itu!" sela Nana cepat, tidak terima jika adiknya dituduh seperti ini.
"Aku tahu kakak juga nggak percaya. Awalnya aku juga nggak percaya kak, tapi..."
"Ngapain kamu ngasih tahu kakak? Kenapa nggak langsung ke Kael? Apa sengaja, biar kakak benci sama Kael? Kamu pikir kakak bodoh apa! Jalankan kasarin Dilla, buat bentak cewek aja Kael nggak berani, apalagi kasar sama cewek yang dia suka! Kamu pikir itu masuk akal, Reno?!" Raut wajah Nana berubah dingin dengan tatapan mata yang menunjukkan bahwa ia tidak terima dengan tuduhan yang Reno berikan.
Reno menghembuskan napas panjang, ia tidak menyangka Nana akan se marah ini mendengar ceritanya yang bahkan belum pada intinya, "Aku juga tahu itu Kak. Ternyata emang Kael nggak kasar sama Dilla. Dilla...."
"Nggak usah berbelit- belit, sebenarnya kamu mau ngomong apa?!" tukas Nana kesal.
"Dilla itu punya penyakit mental, yang membuat dia merasa kalau dia itu orang yang paling menderita di dunia ini. Salah satu cirinya, dia itu selalu jadi korban atas apapun yang orang perbuat ke dia," Raut wajah Nana langsung berubah bingung, namun ia tidak bertanya, ia hanya mendengarkan saja, "Aku baru tahu beberapa hari yang lalu. Waktu aku nggak sengaja bentak dia karena Dilla bilang kalau dia pengen mati. Dilla nangis- nangis, dan setelah itu dia langsung cerita ke temennya kalau aku udah jahat dan kasar ke dia, padahal aku nggak ngelakuin apa- apa, aku cuma marah karena keinginannya itu. Untuk lebih jelasnya aku nggak tau penyakit apa itu, tapi memang itu bukan yang pertama kalinya buat Dilla. Dilla pernah pacaran sama temen satu sekolahan aku, ya gitu. Dia selalu melebih- lebihkan cerita dari apa yang terjadi sebenarnya, sama kayak yang dia bilang tentang Kael dan aku," jelas Reno panjang lebar.
Nana terperangah mendengar penjelasan itu. Antara percaya dan tidak percaya dengan semua yang Reno katakan. Tapi, semuanya langsung terdengar masuk akal untuknya sekarang.
Saat ingin mengucapkan sesuatu, tiba- tiba ponselnya berdering, ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja, dari Darrel.
"Bentar ya, kakak angkat telepon dulu," ujar Nana, dan Reno hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.
Nana menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan ponselnya ke depan telinga, "Kenapa lagi?" tanya Nana.
"Gue liat Kael di minimarket tadi. Berarti bukan Kael kan yang Dateng?" tanya Darrel tiba- tiba.
Nana menatap Reno, lalu tersenyum pada cowok itu, "Emang bukan Kael. Yang datang Reno, temennya Kael," jawab Nana.
Mendengar namanya disebut Reno pun menatap Nana dengan tatapan seperti bertanya 'Siapa itu?'
"Pacar," ujar Nana tanpa mengeluarkan suara. Dan Reno pun dengan cepat memahaminya.
"Ngapain dia Dateng? Ada perlu apa dia nemuin Lo? Masih di sana tuh cowok?" tanya Darrel dengan nada posesif.
"Dia ngomongin sesuatu barusan. Iya, dia masih di sini sekarang," ujar Nana menjawab pertanyaan pacarnya.
"Ngomongin apa? Dia nembak Lo? Curhat? Minta kerjain tugas? Apa minta aneh- aneh," sahut Darrel cepat.
Nana membelalakkan matanya terkejut mendengar pertanyaan yang terdengar seperti tuduhan itu, "Hush! Ngomong apa sih Lo? Ini masalah pribadi Reno sama Kael. Hapus pikiran jeleknya,"
Darrel terdiam sejenak, "Masalah pribadi? Tuh cowok pacaran sama adek Lo? Apa pernah pacaran?"
"Udah, nanti aja. Pertanyaannya terlalu nggak masuk akal. Bye!" Nana langsung menutup sambungan telepon. Tidak menyangka jika Darrel dapat berpikiran sampai sejauh itu, aneh emang.
"Hehe, maaf ya. Orangnya agak aneh," ujar Nana malu. Untung saja tadi ia tidak me- loud speaker volumenya, bisa- bisa ia malu tujuh turunan jika Reno mendengar semua ucapan absurd pacarnya itu.
Reno hanya tersenyum canggung, "Iya, nggak papa kok kak,"
Tak lama setelah itu, kini ganti ponsel Reno yang berdering. Reno mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, lalu menatap Nana seolah mengatakan kalau dia ingin mengangkat panggilan tersebut. Sedang Nana yang seolah paham hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Sorry, aku nggak bisa nemuin Kael," ujar seseorang.
Reno menghela napas berat. Ia tahu jika Kael pasti tidak akan mau menemui Dilla lagi setelah apa yang terjadi, "Iya, nggak papa. Makasih udah mau bantuin gue. Dan maaf, gue bener- bener nggak bisa sama Lo lagi Dil," Dan setelahnya Reno langsung mematikan sambungan teleponnya. Reno kembali menghela napas dengan kepalanya yang tiba- tiba terasa berat.
"Dil? Dilla?" tanya Nana tanpa sadar, namun Reno sudah mendengarnya.
"Iya. Aku nyuruh Dilla buat minta maaf ke Kael, tapi Kael nggak mau ketemu Dilla," jawab Reno. Padahal Nana belum menanyakan apa- apa, tapi saat melihat tatapan Nana, Reno paham apa yang kakak Kael itu inginkan.
"Terus kamu mutusin Dilla?" tanya Nana hati- hati. Sebenarnya ia tidak ingin ikut campur, tapi melihat Reno sepertinya tidak apa- apa jika ia bertanya lebih, Nana jadi tidak sungkan lagi.
Reno menganggukkan kepalanya, "Aku udah pengen berhenti bahkan sebelum Kael tau semuanya. Tapi terlambat, Kael udah terlanjur benci sama aku sekarang," jawab cowok itu getir.
Reno menyayangi Kael sebagai sahabat. Dulu ia pernah dibenci teman- temannya karena ia dapat diterima di sekolah elit yang ia tempati sekarang tanpa melalu tes, nilai Ujian Nasional maupun piagam penghargaan. Ya, ia masuk lewat jalur uang, karena ayahnya sendiri yang melakukan hal itu tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu. Ia menjadi bulan- bulanan anak satu sekolah, disindir, diteriaki, dijauhi. Andai ia dapat melawan saat, mungkin ia tidak akan sampai diperlakukan seperti itu. Tapi, ia bukan cowok yang sampai se pemberani itu. Sampai Kael yang sejatinya tidak terlalu dekat dengan orang lain mau berbicara dengannya. Dan Reno sangat menyukai itu, ia senang mendapatkan Kael sebagai temannya. Tapi lihatlah sekarang! Justru ia malah mengkhianati orang yang sudah sangat baik kepadanya.
Nana merasakan ketulusan dari ucapan Reno. Entah mengapa ia merasa sedih sekarang. Mendadak ia teringat tentang Klara. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa yang sedang ia lakukan? Kenapa ia sangat jarang masuk sekolah? Berbagai pertanyaan mulai muncul. Disusul dengan perasaan bersalah yang tiba- tiba bersarang. Karena dirinya lah Klara dijauhi, padahal ia sudah melupakan semuanya, tapi malah orang lain yang terus mempermasalahkan masalah itu.
Kael memasukkan motornya ke bagasi, ia mengambil kresek berisi bahan makanan itu masuk ke dalam. Ia langsung menuju dapur untuk menaruh belanjaannya itu. Lalu hendak pergi ke kamar untuk membersihkan diri, tapi terhenti saat melihat pintu utama terbuka, dan ia juga baru menyadari jika kakaknya tidak terlihat di dapur ataupun ruang keluarga.
"Siapa yang Dateng malam- malah begini? Kak Fian?" gumam Kael. Untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, Kael menaruh tasnya ke sofa ruang keluarga. Lalu berjalan ke depan, tatapannya langsung berubah tajam saat melihat orang yang sangat familiar tengah berbincang dengan kakaknya.
"Iya, kayaknya tadi ada suara motor? Itu pasti Kael," ujar Nana, gadis itu masih belum menyadari kehadiran Kael. Tapi Reno menyadarinya, cowok itu reflek berdiri saat melihat Kael memberinya tatapan tajam,
"El?" Nana pun menolehkan kepalanya,
"El? Bikin kaget aja sih Lo!" cibir Nana karena terkejut melihat Kael tiba- tiba sudah berada di belakangnya.
"Ngapain Lo biarin dia masuk?" tanya Kael ditujukan pada Nana, namun Kael malah menatap Reno dengan sangat tajamnya.
Mendadak Nana merasa gugup sekarang, Kael terlihat sangat menyeramkan, "Tadi kakak pikir Lo yang Dateng, ternyata Reno. Dia pengen ngomongin hal penting sama Lo," ujar Nana hati- hati.
Kael hanya menghiraukan ucapan Nana, ia melangkahkan kakinya beberapa langkah, "Keluar dari rumah gue sekarang!" ujar Kael tanpa bisa dibantah.
"Kael! Nggak sopan!" sela Nana memperingatkan.
"Dia bukan orang yang pantes gue sopan-in sekarang," jawab Kael, "Keluar! Gue yakin kuping Lo masih berfungsi kan?"
"Ka--"
"Nggak papa kak. Aku bakal pulang sekarang kok," ujar Reno dengan tatapan sendunya. Lalu dengan kepala tertunduk Reno berjalan keluar dari rumah itu.
Nana menatap Kael tajam, "Lo kenapa sih?!" Nana yang hendak berjalan menghampiri Reno terhenti karena interupsi dari Kael, "Jangan berani- beraninya Lo keluar dari rumah ini!"
Nana menolehkan kepalanya tidak terima, "Lo apa- apaan sih El!"
Tanpa banyak bicara Kael berjalan mendahului Nana, lalu segera menutup pintu itu kasar, dan langsung menguncinya.
"Kael!"
"Gue nggak suka sama cara Lo, kak," ujar Kael membuat Nana tersentak kaget.
Kael langsung berbalik dan berjalan melewati Nana begitu saja. Membuat jantung Nana tiba- tiba berdebar kencang.
"Gue yang salah?" tanya Nana sembari menunjuk dirinya sendiri.
Lalu beberapa saat kemudian ia menggelengkan kepalanya, "Nggak! Kenapa jadi gue yang salah? Kan gue cuma dengerin penjelasan Reno!" ujar Nana membela dirinya sendiri.
Nana berlari kecil menyusul Kael yang sudah menaiki anak tangga, "Kael!" Sampai di atas, Kael menghentikan langkahnya, dan Nana pun juga reflek berhenti.
"Gue capek!" Hanya itu yang Kael ucapkan sebelum cowok itu menghilang masuk ke dalam kamar.
Brak!
Nana mengerjapkan matanya terkejut, "Jadi, gue yang salah?"
.
.
.
Darrel mengepulkan asap rokoknya. Tanpa sadar kedua ujung bibirnya terangkat kala melihat foto kekasihnya yang ia ambil secara diam- diam. Ada beberapa foto aib Nana, dan beberapa juga terlihat estetik.
"Ngeliatin mbak pacar bang?" tanya Kevin yang entah datang dari mana. Darrel reflek menyembunyikan ponselnya ke belakang tubuhnya.
"Nggak, bukan," jawab Darrel spontan.
Kevin terkekeh, ia mendudukkan bokongnya di samping Darrel, "Gue nggak marah kok sama Nana, bang," ujar Kevin.
"Em," jawab Darrel. Tetap saja, ia masih takut teman- temannya tidak menyukai Nana, atau jika nekat, mereka akan menyakiti gadis polos itu, walaupun tentu saja itu tidak mungkin.
"Mereka juga nggak marah sama Nana," Darrel menolehkan kepalanya tajam, "kecuali Riko, hehe," lanjut Kevin.
"Vin," panggil Darrel
"Apa bang?"
"Lo pernah suka sama Nana?"
"What the f*CK are you mean?!" sahut Kevin spontan.
Darrel melirik sengit, "Pernah?"
"Pernah," jawab Kevin santai yang langsung dipelototi oleh Darrel.
Run Kevin Run!
.
.
.
Suasana canggung terasa begitu kental di ruang makan itu. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang bertubrukan dengan piring saja yang terdengar. Walaupun memang biasanya seperti itu, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda.
Sesekali Nana melirik Kael yang terlihat fokus dengan makanannya. Hingga semua makanan di piring adiknya itu habis, dan tanpa basa- basi Kael membawa piringnya pergi dari sana
"Aish!"
.
.
.