----
Nana terbangun pada pukul satu dini hari. Gadis itu mendudukkan dirinya dengan keadaan setengah sadar. Nana merasakan tenggorokannya kering. Ia merasa nakas yang berada di samping tempat tidurnya,
Nana berdecak karena ia lupa menaruh wadah air di sana. Ia menghentak- hentakkan kakinya kesal, lalu memilih turun dari tempat tidur karena dengan marah tidak akan membuat rasa hausnya terselesaikan. Dengan mata sayup-sayup Nana berjalan menuruni undakan anak tangga. Ia mengucek matanya beberapa kali saat melihat adiknya tengah belajar di ruang keluarga.
Hal itu membuatnya teringat jika sekarang Kael tengah marah kepadanya. Bahkan tadi Kael hanya memakan sedikit masakan buatannya, membuktikan jika cowok itu benar- benar marah kepadanya. Nana menghembuskan napas pendek, lalu terus berjalan ke arah dapur.
Setelah menuntaskan keinginannya, Nana berbalik lagi. Biasanya jika berada pada kondisi ini adiknya itu akan basa- basi dengan bertanya "Kebangun?". Tapi kali ini ia tidak mendengarnya. Nana memilih menghampiri Kael karena tidak betah dengan suasana canggung ini, yang padahal kemarahan Kael belum sampai setengah hari.
"El," Nana mendaratkan bokongnya di atas sofa yang berada di sisi kanan Kael yang duduk di atas karpet.
Cowok itu tidak menjawab, ia terus sibuk dengan bukunya.
"Kael dengerin kakak, pliss," pinta Nana.
Hening. Kael tetap tidak mau mendengarkan Nana. Cowok itu tetap teguh dengan pendiriannya. Tadi, ia sudah memikirkan untuk mendiami Nana saja sampai kakaknya itu sadar apa kesalahannya, walaupun sebenarnya itu sangat berat untuknya.
"Kakak cuma punya kamu El. Mama sama Papa juga nggak pernah ada buat kita. Kalau kamu marah sama kakak, terus kakak harus gimana?" terdengar suara isakan yang tiba- tiba muncul di tengah- tengah kalimat yang Nana ucapkan.
Kael reflek menoleh dengan kepala sedikit mendongak menatap kakaknya yang sudah menutup wajahnya dengan tangan.
Kael benci. Ia sangat membenci sifat kakaknya yang terlalu gampang terbawa perasaan itu, dan ia juga sangat membenci dirinya yang selalu dengan mudahnya hanyut, dan berakhir memaafkan semua kesalahan Nana.
Semakin lama suara tangisan Nana semakin terdengar. Kael berdecak kesal, ia berdiri dan mendudukkan dirinya di samping Nana.
"Kenapa pake nangis sih ha?" Kael menarik telapak tangan Nana yang menutupi wajah imutnya. Membuat Nana semakin menundukkan kepalanya karena air matanya tak kunjung berhenti.
"Baperan banget sih Lo!" cibir Kael.
"Ini gara- gara Lo juga. Kan kakak cuma berbaik hati ke tamu, emang salah?" sahut Nana tidak mau kalah.
Kael menghela napas, ternyata sifat kekanak- kanakan kakaknya masih belum hilang sampai sekarang. Dan pada akhirnya ia tetap menjadi orang yang harus mengalah.
"Tuh orang cerita apa aja ke Lo? Bela diri sendiri? Bilang kalau dia yang bener, terus gue penjahatnya?" tanya Kael menebak.
Namun Nana langsung menggelengkan kepalanya, "Nggak! Reno sama sekali nggak nyeritain tentang keburukan kamu. Malah sebaliknya, dia bilang kalau sebenarnya Dilla--"
"Dilla yang salah? Gitu?" Kael merotasikan bola matanya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Udah ketebak," lanjut cowok itu.
"Ih dengerin dulu," ujar Nana meminta waktu agar Kael mengizinkannya untuk menjelaskan semuanya,
"Dilla yang udah nembak Reno duluan. Dan Reno terpaksa terima gegera Dilla bilang kalau kamu yang udah jahatin Dilla, makanya Reno terima. Itu yang Reno coba jelasin tadi," ujar Nana sembari sesekali menatap Kael.
Kael mengerutkan keningnya berpikir tentang apa yang barusan Nana jelaskan, "Gue yang udah jahatin? Kapan?" gumam cowok itu bingung.
"Itu juga. Dilla tuh suka banget playing victim. Dia selalu ngerasa jadi korban, padahal dia sendiri yang salah. Dia selalu menanggapi secara berlebihan apapun yang orang lain lakukan. Termasuk ke kamu. Mungkin aja kamu pernah nggak sengaja marahin Dilla, terus Dilla udah ngerasa kalau kamu jahatin dia. Kakak juga nggak tahu," jelas Nana menjawab pertanyaan Kael.
Mendengar penjelasan Nana membuat Kael teringat jika dulu ia pernah sekali bertengkar cukup hebat dengan Dilla karena kelalaian cewek itu sendiri. Waktu itu Dilla pernah melabrak seorang adik kelas hanya karena adik kelas itu meminta nomor teleponnya. Untuk marah sepertinya tidak apa- apa, tapi kalau sampai mempermalukan adik kelas itu.... menurut Kael hal tersebut terlalu berlebihan. Makanya Kael mencoba untuk menasihati cewek itu, dan seingatnya, ia juga sudah berusaha menggunakan suara lembut agar Dilla bisa mengerti. Apa mungkin karena hal itu?
"Sekarang lo nggak marah kan ke kakak?" tanya Nana hati- hati.
Mata Kael menunduk menatap Nana yang memang jauh pendek darinya. Dirinya yang 178 cm di usia 15 tahun, sedangkan Nana 163 cm di usia 16 tahun, sebentar lagi 17 tahun. Walaupun dalam posisi duduk, Nana tetap jauh lebih pendek darinya.
"Nggk," jawab Kael sembari menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Kalau Reno?" tanya Nana takut, takut Kael malah akan menyemburnya dengan kata- kata kurang menyenangkan sekali lagi.
"Guna apa dia ceritain semuanya ke Lo? Dia ada masalah sama siapa, terus cerita ke siapa. Masuk akal?" cibir Kael menatap lurus ke depan.
"Tapi itu juga gara- gara Lo yang nggak mau dengerin omongan dia El. Coba kalau kamu mau dengerin penjelasan dia dulu,"
Kael berdecak, "Dia bisa bilang ke gue setelah Dilla nembak dia kan? Kenapa baru sekarang? Supaya apa? Baikan juga nggak ada gunanya,"
Nana menghela napas, sepertinya ia harus mengalah sekarang. Ia juga tidak ingin memaksakan keinginannya pada adiknya itu. Karena ia juga pernah ada di posisi itu. Kael sudah berusaha keras untuk melupakan hal itu, dan sebagai kakak, ia hanya harus mendukung Kael. Toh nanti juga Kael mungkin tidak akan satu sekolah lagi dengan mereka. Hanya butuh waktu beberapa bulan lagi untuk Kael menghilangkan semua masa buruk itu. Ia tidak ingin membebani adiknya.
"Kalau gitu kakak naik dulu ya?"
Kael menoleh sekilas, lalu menganggukkan kepalanya.
"Lo juga cepetan tidur. Udah malem," ujar Nana sembari berdiri.
"Hm,"
Nana mengusap bahu Kael sebelum berbalik badan untuk pergi menaiki undakan tangga yang akan membawanya ke kamar.
Nana pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dengan air. Sepertinya ia tidak akan bisa tidur sekarang. Nana mendudukkan dirinya sembari bersandar di kepala tempat tidur. Ia mengambil ponselnya di atas nakas, lalu menghidupkan jaringan WiFi yang langsung tersambung dengan jaringan WiFi di rumahnya.
Ia menunggu beberapa saat karena ponselnya mendadak nge- lag karena ada banyak pesan muncul dari chat pribadi ataupun dari grup chat yang ia miliki. Setelah menunggu beberapa menit, Nana melihat notifikasi yang mengatakan kalau Darrel tengah online saat ini.
Lantas Nana pun mencari kontak Darrel dan benar, cowok itu masih online jam segini.
"Biasa, cowok doyan ngopi," ujar Nana pada dirinya sendiri. Ia pun memulai percakapan di room chat- nya dengan Darrel.
To: Boo
Belom tidur?
Nana hendak pergi dari aplikasi itu, tapi terhenti karena Darrel sudah mengetik hanya dalam jangka waktu beberapa detik setelah pesannya terkirim.
"Tumben banget fast respon,"
From: Boo
Blm. Mau vc?
Kedua ujung bibir Nana terangkat senang. Tanpa menunggu banyak waktu pun ia langsung mengiyakan tawaran cowok itu. Dan beberapa saat kemudian terdapat panggilan video call dari kontak yang sama, dan Nana pun langsung menerimanya.
"Kenapa belum tidur?" tanya cowok itu langsung setelah panggilan tersambung.
"Tadi kebangun. Terus barusan ngobrol sama Kael. Darrel lagi di mana?" tanya Nana saat melihat area sekitar Darrel cahayanya terlihat remang- remang di kamera.
"Abis balapan," Cowok itu mengacak- acak rambutnya menjadi berantakan.
"Kok balapan lagi sih? Nanti kalau ada keroyokan gimana? Kalau sampai kecelakaan siapa yang mau nolongin? Belum lagi kalau sampai ke gep polisi gimana? Harusnya nggak usah balapan lagi. Emang gunanya apa sih? Nggak ada perlindungan juga, malah nantang maut itu namanya," ujar Nana menasihati.
Terdengar suara decakan tipis terdengar dari sana, "Darrel! Dengerin nggak sih? Nggak usah balapan- balapan lagi! Ngerti?!" ujar Nana menekankan.
"Gue nggak suka diatur Na, Lo tahu kan?" ujar cowok itu memperingatkan.
"Kan gue cuma mau ngasih tahu. Itu juga demi kebaikan Lo sendiri, kenapa nggak ngerti- ngerti sih?!" ujar Nana yang mulai tersulut emosi.
"Gue bilang, gue nggak suka diatur! Lo ngerti nggak sih?! Lo itu cuma pacar gue! Jangan ngekang gue atas apapun yang gue lakuin!" ujar Darrel membentak tidak suka.
Nana terkejut mendengarnya. Terlihat jelas gurat amarah di wajah cowok itu walaupun keadaan di sana hanya dengan cahaya remang. Tatapan Nana berubah sendu. Nana tidak suka dibentak, sepertinya bukan hanya Nana saja yang tidak menyukai hal itu.
"Gue cuma khawatir, gue salah ya?" tanya Nana sendu.
Darrel langsung menatap layar ponselnya saat mendengar suara Nana terdengar bergetar. Cowok itu tadi menjauh dari teman- temannya karena sengaja agar mereka tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Nana.
Dan untuk yang barusan, ia juga tidak pernah berniat membentak Nana. Sepertinya ia harus minta maaf sekarang.
"A--"
"Ya udah, maaf udah ikut campur,"
Tuutt! Tuutt
"Lah? Dimatiin?"
Darrel mencoba menghubungi Nana lagi, tapi tidak tersambung. Antara nomornya yang diblokir atau memang karena Nana sedang tidak online.
"Masih ada pp- nya," ujar Darrel lega.
"CK! Gobl*k banget sih Lo! Ngapain pake bentak segala!" ujar Darrel mengomeli dirinya sendiri. Nana, satu- satunya wanita selain ibunya yang berhasil selalu membuatnya kelimpungan jika mereka marah.
Rasanya Darrel ingin membuat para binatang di rumah ataupun kebun binatang bersin karena ia ingin mengabsennya satu persatu.
"t***l!"
.
.
.