----
"Itu siapa yang tidur?!" ujar seorang guru pada siswinya yang duduk di ujung paling belakang itu, yang malah tertidur selama jam pelajaran berlangsung.
"Na, bangun," Kana berusaha membangunkan sahabatnya itu secara perlahan. Kana juga terkejut karena Nana tidur selama jam pelajaran, bahkan ia baru menyadarinya setelah guru itu berteriak barusan.
"Nana," panggil Lisya juga ikut membantu membangunkan.
"CK! Apaan sih Na? Ngantung banget gue," ujar Nana dengan mata setengah terbuka.
"ENAK YA! TIDUR PAS JAM PELAJARAN!" Seketika Nana langsung menegakkan tubuhnya terkejut. Semua orang di kelas itu menatap ke arahnya membuat gadis itu merasakan malu yang tiada tara sekarang.
"Maaf Bu," ujar Nana dengan kepala tertunduk.
"MAAF! MAAF! Kamu sama sekali nggak menghargai guru yang sedang mengajar! Kamu mau buat alasan apa lagi?" tanya guru itu geram.
"Maaf Bu," Nana benar- benar tidak bisa membuat alasan sekarang. Jalankan membuat alasan, untuk berpikir saja sudah sangat sulit karena nyawanya masih belum berkumpul semuanya.
"Maaf, maaf. Kamu saya hukum penghormatan bendera sampai jam istirahat karena dua jam setelah jam saya akan ada rapat," ujar guru itu tanpa memberikan toleransi apapun.
Nana meneguk salivanya, kalau dua jam setelah pelajaran guru itu, artinya ia harus melakukan penghormatan selama empat jam pelajaran, atau sekitar 3 jam- an lebih. Membayangkannya saja sudah membuat gadis itu pening.
"JAWAB!"
"Iya Bu," Nana hanya bisa pasrah sekarang. Ia tidak bisa mengelak atau melakukan apapun selain menurut.
"KELUAR SEKARANG!"
Nana menghela napas rendah. Tanpa sengaja ia menatap Kana yang terlihat iba, namun Nana hanya memberikan senyuman tipisnya saja sebelum benar- benar pergi dari sana.
"Moga nggak pingsan aja lah,"
.
.
.
Darrel menatap keluar jendela. Kelasnya sedang kosong sekarang, dan itu membuat rasa- rasa ingin membolos terasa kuat sekarang. Gavin sudah keluar entah ke mana, padahal ia ingin mengajak cowok itu pergi membolos. Tapi ya sudahlah sepertinya ia benar- benar harus membolos sebelum ia benar- benar mati karena bosan, sstt! Jangan ditiru!
Darrel membawa tasnya keluar kelas.
"Rel! Mau ke mana Lo?" tanya Adrian, teman sekelas Darrel.
"Pulang," jawab Darrel acuh.
Guru sedang rapat, jadi, tingkat kemudahannya untuk membolos sekitar 9.5 dari 10 jika diperhatikan. Jadi, ia hanya berjalan santai tanpa memperdulikan apapun.
Dan sekarang ia sudah sampai di koridor kelas lantai satu. Ia akan berjalan ke belakang sekolahan, tapi tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu di halaman utama sekolahan.
.
.
.
Sudah hampir dua jam Nana berdiri. Gadis itu sudah sangat lelah dan pusing sekarang. Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Belum lagi dengan tatapan- tatapan intimidasi dari siswa maupun siswi yang tengah menatap ke arahnya membuat kepalanya semakin terasa pening sekarang.
Cukup! Nana merasa jika pandangannya mulai mengabur sekarang, tubuhnya benar- benar lemah jika harus berhadapan langsung dengan sinar matahari sampai selama ini. Tangan Nana yang tadinya melakukan penghormatan perlahan turun. Saat tubuhnya akan roboh, Nana merasakan seseorang menahan di kedua sisi bahunya.
"Na!" Dengan pandangan sayu Nana menatap seseorang yang menahan tubuhnya.
"Kevin?"
"Gue bantu ke UKS ya?" tanya cowok itu. Belum sempat Nana merespon, tiba- tiba ada seseorang yang datang.
Grep!
Nana merasakan tubuhnya diambil alih, sampai ia merasakan tubuhnya benar- benar melayang sekarang.
"Biar gue yang bawa. Dia cewek gue," pengucapan tegas itu terdengar menyenangkan di telinga Nana, entah karena apa.
Tubuh besar yang mengangkatnya berjalan pergi dari sana. Menimbulkan pekikan- pekikan yang terdengar di sekitarnya. Nana masih mendengarnya, walaupun terasa samar.
"Jangan tutup mata Lo. Tetep sadar," ujar Darrel lembut. Cowok itu mendekatkan kepalanya, mengecup lembut kening Nana, ingin tetap membuat gadisnya tersadar.
Darrel dengan langkah cepatnya membawa gadisnya ke UKS. Dan petugas yang ada di sana pun menyuruh Darrel agar menurunkan Nana di dipan UKS.
"Cepetan obatin cewek gue!" ujar Darrel cemas.
"Iya kak," jawab petugas itu. Ia mendekat ke arah Nana,
"Apa yang dirasakan?"
"Pusing sama agak mual," jawab Nana dengan suara lemah.
"Tadi udah sarapan?" tanya petugas itu.
"Udah, dikit,"
"Arina, tolong beliin makanan di kantin. Biar aku yang nyiapin obatnya,"
"Iya kak," petugas UKS bernama Arina itupun langsung pergi keluar UKS untuk melakukan perintah Dewi, petugas UKS satunya.
"Sebentar ya kak," Dewi berjalan ke etalase untuk mengambil obat Nana.
Nana memegang kepalanya pening dengan sesekali merintih, "Akh,"
Darrel mendudukkan dirinya di pinggiran dipan, "Kenapa? Bentar dulu sayang. Obatnya masih diambilin, hm?" ujar Darrel sembari mengusap kepala Nana yang basah karena keringat.
Nana menganggukkan kepalanya lemah, "Kenapa bawa tas? Mau bolos?" tanya Nana saat melihat Darrel membawa tas sekolah di punggungnya.
Darrel berdehem sembari mengalihkan pandangannya, "Seharusnya gue yang tanya, kenapa Lo di halaman tadi. Sampek mau pingsan segala," ujar Darrel sedikit kesal saat mengingat bahwa Kevin lah yang pertama kali membantu Nana. Ia jadi sensitif dengan Kevin setelah cowok itu mengatakan jika dia juga pernah menyukai Nana, gadisnya.
"Tadi ketiduran di kelas, terus dihukum guru," jawab Nana jujur.
"Kenapa bisa ketiduran? Biasanya Lo berangkat awal kan?" tanya Darrel heran.
"Kemarin nggak bisa tidur. Terus waktu Kael bangunin, gue nggak sengaja bilang kalau hari ini libur, jadi Kael ninggalin gue. Terus, tadi sulit cari kendaraan," jelas Nana.
Darrel tersentak mendengar itu, "Lo... nggak bisa tidur gara- gara gue?" Spontan Nana langsung menggelengkan kepalanya, "Nggak! Bukan gara- gara Darrel,"
"Anu, ini kak, diminum dulu," Dewi datang lagi dengan membawa teh hangat.
"Iya, makasih ya," ujar Nana lembut, "Sama- sama,"
"Obatnya mana?" tanya Darrel langsung.
"Mbaknya kan belum makan, jadi tadi temen saya belikan makanan. Biar makan dulu, baru minum obatnya," ujar Dewi menjelaskan.
"Iya, makasih," ujar Nana lagi.
Dewi menganggukkan kepala sebelum pergi dari sana. Tidak enak jika ia harus menganggu sepasang kekasih itu, toh ia juga tidak harus berada di sana terus.
"Mau minum?" tanya Darrel sembari mengusap kepala Nana lembut.
Nana menganggukkan kepalanya singkat.
"Gue bantu duduk," Darrel meraih tangan Nana dan menempatkan tangannya yang lain di punggung gadis itu, lalu perlahan membantu Nana untuk duduk dengan kondisinya yang masih lemas. Darrel juga menempatkan bantal di belakang Nana, agar gadis itu tidak merasakan kerasnya tembok di belakangnya.
Nana meminum teh buatan petugas UKS itu, lalu memberikannya pada Darrel. Cowok itu menaruh kembali gelasnya di atas nakas.
"Berani banget tuh guru hukum cewek gue. Perlu dimutilasi emang," ujar Darrel geram, "Mentang- mentang guru bisa seenaknya sendiri. Guru kerja nggak seharian penuh, keseringan ngerumpi, sering jamkos, kagak ada kaca apa di ruang guru," ungkap Darrel kesal.
"Kok Darrel tahu kalau gurunya cewek?" tanya Nana bingung.
"Udah ketebak," Nana hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Setelah ini gue anter pulang. Lo harus banyak istirahat. Dan.... gue bakal buat perhitungan ke guru yang udah buat Lo begini," ujar Darrel dengan wajah datar dan smirk tipis
.
.
.
,