Darrel berjalan menuju ruang guru setelah sekolahan lumayan sepi karena murid- murid sudah banyak yang pulang, sedangkan beberapa guru masih berada di ruang guru untuk persiapan pulang. Darrel masuk ke dalam ruangan itu, tanpa harus mencari lebih lama ia langsung menemukan orang yang ia cari. Darrel mengangkat sudut bibirnya lalu berjalan menghampiri guru itu.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya guru yang usianya sekitar 35- an itu. Bu Rere namanya. Karena nada suara Bu Rere yang memang sedikit tinggi membuat guru- guru yang juga berada di ruangan itu menatap ke arahnya.
Darrel tak segan menatap tepat pada mata guru itu dengan sudut bibir kanannya yang menukik tajam, "Seharusnya saya tanya. Anda yang kenapa?!"
Bu Rere membelalakkan matanya tidak percaya karena murid itu berani berbicara dengan suara tinggi kepadanya, "Berani ya kamu membentak guru! Kamu bakalan diskors kare--"
Darrel tertawa sinis, "Karena apa? Memangnya anda siapa berani men- skorsing saya? Anda cuma guru yang nggak kompeten, yang suka seenaknya sendiri. Menghukum murid seenaknya sendiri tanpa tahu apa alasan murid itu membuat kesalahan? Sedangkan jika anda yang membuat kesalahan dan ditegur... murid yang di salahkan, apa saya salah?" cerca Darrel tak peduli dengan para guru yang mulai berdatangan mendatanginya.
"Kamu berani ya sama saya!" Tidak terima karena dipermalukan di depan rekan kerjanya, guru itu memilih untuk mengangkat tangannya ke arah siswa itu, tapi sayangnya dengan cepat Darrel menahannya.
"Kenapa nggak berani, emang Lo siapa? Emak gue? Tuhan? Atau apa?" tanya Darrel menantang.
Darrel mengangkat jari telunjuknya pada guru itu, "Lo udah cari masalah sama orang yang salah,"
"Darrel Arsenio!" pekik guru pria yang datang dengan gaya sok pahlawannya membela Bu Rere, dia Pak Andre.
Darrel menoleh menatap Pak Andre. Ia hanya menunjukkan smirk andalannya, lalu mengambil sesuatu dari saku celananya, ponsel.
"Apa perlu saya menelepon Bapak Romeo sekarang? Atau perlu saya telepon Bapak Arga juga?" tanya Darrel dengan senyuman meremehkan.
Seketika semua orang di sana kicep. Termasuk Pak Andre.
"Memangnya kamu siapa berani mengancam saya?!" tukas Bu Rere.
Darrel membuat raut wajahnya pura- pura terkejut, lalu menunjuk dirinya sendiri, "Saya? Saya siapa?"
"Kamu benar- benar nggak pernah diajarkan sopan santun ya sama orang tua kamu!" terka Bu Rere menahan amarahnya.
Darrel mengangguk dengan wajah sendu dibuat- buat, "Pak Romeo nggak pernah ngajarin saya sopan santun. Tapi dia selalu ngajarin buat berani membela diri, kalau saya nggak salah tentunya," ujar Darrel membuat Bu Rere terkejut setengah mampus.
"Pak Romeo?" gumam Bu Rere lirih.
"Ya, Pak Romeo ayah saya. Ah, seharusnya saya panggil Papa Romeo ya?" tanya Darrel dengan tampang menyebalkannya. Bu Rere menelan salivanya lamat-lamat, benar- benar terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengar. Karena memang Bu Rere ini adalah guru yang baru bekerja dari awal semester baru ini.
"Tapi, saya yakin kalau Papa Romeo kenal Pak Arga juga kok. Perlu saya buktikan?" Darrel sengaja mengambil ponselnya lagi.
"Jangan! Darrel, kamu jelaskan apa masalah kamu. Jangan sedikit- sedikit lapor orang tua, itu nggak baik," ujar Pak Andre.
"Oh, harus diancam dulu ya, baru mau dengerin apa yang murid katakan?" tebak Darrel dingin.
"Bu-- bukan gitu. Kan tadi kamu datang langsung marah- marah. Ya kita bingung mau gimana," kelakar Pak Andre mencari alasan.
"Oh,"
.
.
.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan guru yang sudah membuat kekasihnya hampir pingsan, Darrel pergi ke rumah Nana untuk mengecek kondisi gadis itu. Ia takut Nana kenapa- kenapa, karena ia tahu jika Kael selalu pulang malam. Dan karena sifat Nana yang tidak enakan, ia yakin gadis itu juga tidak memberitahu ke adiknya jika dia sedang sakit.
Tiba di rumah yang cukup besar itu, Darrel turun dari motornya untuk membuka gerbang dan memasukkan motornya ke dalam pekarangan rumah itu. Darrel melepaskan helm nya, lalu berjalan ke beberapa undakan tangga hingga sekarang ia berdiri tepat di depan pintu utama rumah itu.
Darrel menekan bel dua kali. Lalu mengambil ponselnya di dalam saku bagian dalam jaketnya, memberikan pesan singkat pada Nana yang mengatakan jika dirinya sudah berada di depan rumah gadis itu.
Terdengar suara langkah kaki yang mulai mendekati pintu. Hanya mendengar suara langkah kaki saja berhasil membuat sudut bibir Darrel terangkat manis. Tak lama kemudian terdengar suara kunci berputar sebelum pintu itu benar- benar terbuka.
"Kok udah di sini? Nggak ada bimbel?" tanya Nana terkejut melihat kedatangan kekasihnya itu.
Darrel masih tersenyum sembari memperhatikan wajah gadisnya yang selalu terlihat cantik dan imut di waktu bersamaan. Hal itu membuat Nana tersipu karena Darrel memperhatikannya sampai seperti itu.
"Darrel ih, kenapa sih?"
"Lo cantik banget Na," ujar Darrel dengan wajah tak berdosanya karena sudah membuat jantung anak orang berdisko ria sekarang.
Nana tidak tahu harus merespon apa, ia masih mengendalikan detakan jantungnya yang semakin kuat karena serangan tiba- tiba cowok playboy itu.
Playboy? Ia baru teringat jika Darrel pasti sudah mengatakan itu kepada banyak wanita selain dirinya. Mengingat hal itu membuat mood- nya mendadak buruk sekarang.
"Ngapain ke sini?" tanya Nana judes.
Darrel mengernyit bingung, "Kenapa marah?"
"Yang pujian itu.... pasti bukan ke gue doang kan bilangnya," Entah kenapa Nana malah mengatakan hal itu sekarang.
Darrel terkekeh kecil, gadis kecilnya sedang cemburu ternyata, "Jadi cemburu nih ceritanya?" tanya Darrel menggoda.
Nana mendengus tak suka dengan tuduhan cowok itu, "Kalau gue bilang Kevin lebih ganteng, Lo cemburu nggak?" Dan entah kenapa juga Nana malah menyebutkan nama Kevin sekarang, membuat Darrel langsung mendelik dengan tatapan tak percaya.
"Kevin lebih ganteng dari gue?" Pertanyaan macam apa itu. Nana menghela napas, "Kalau mau masuk, masuk aja!" ujar cewek itu malas. Lalu berbalik masuk ke dalam.
Tak menyia- nyiakan kesempatan, Darrel langsung masuk ke dalam rumah itu dengan perasaan campur aduk. Pernyataan Nana membuatnya kepikiran.
"Na, Kevin beneran lebih ganteng dari gue?" tanya Darrel sembari berjalan mengejar cewek itu. Lalu memeluk leher Nana dari belakang membuat tubuh mungil itu berhenti berjalan. Lalu memutar tubuh Nana agar berhadapan dengannya.
Nana merotasikan bola matanya, "Kenapa sih?"
"Gue lebih ganteng dari Kevin?" Nana menatap Darrel bingung. Kenapa jadi Darrel menanyakan hal absurd seperti ini?
"Coba tatap gue," Darrel menangkup wajah Nana agar menatapnya, "Gue lebih ganteng dari Kevin?" tanya Darrel sekali lagi.
Nana melepaskan tangan Darrel yang menangkup wajahnya, "Ih, apaan sih. Kenapa jadi ngomongin Kevin coba?"
"Ya Lo tadi bilang Kevin lebih ganteng dari gue. Gue insecure Na," ujar Darrel membuat Nana terkejut. Ia membalikkan badannya menatap Darrel, sangat- sangat terkejut saat melihat wajah Darrel yang seolah mengatakan kebenaran atas apa yang cowok itu barusan ucapkan.
Nana berusaha menahan tawanya, "Ke-- kenapa pake insecure?" tanya Nana dengan suara bergetar menahan tawa.
Darrel menatap Nana dengan tatapan seperti anak kecil yang tengah meminta sesuatu pada ibunya.
"Gue nggak suka Lo bilang dia lebih ganteng dari gue. Padahal gue yang lebih- lebih ganteng dari dia," Nana membuat wajah julidnya, benar- benar tidak menyangka seorang Darrel akan mengatakan hal itu kepadanya. Ia baru sadar jika pacarnya itu mempunyai tingkat kepercayaan diri jauh lebih besar dari yang ia pikirkan.
"Pede banget sih. Siapa yang bilang kalau Lo lebih ganteng dari Kevin?" Pertanyaan Nana justru membuat telinga Darrel sangat panas sekarang, ia tidak suka dengan pertanyaan itu.
"Kevin lebih ganteng dari gue?" tanya Darrel bersungguh- sungguh.
Nana berdecak sebal, "Udahan ngomongin Kevin- nya," ujar Nana memilih menghentikan pembicaraan yang semakin absurd ini.
Darrel menahan tangan Nana yang akan pergi, "Nggak! Lo harus pilih! Gantengan gue apa Kevin?"
"OMG Darrel. Kenapa sih nanyain hal nggak penting kayak gini?"
Darrel tidak menjawab, ia hanya memberikan tatapan penuh harap kepada gadis itu. Dan hal itu berhasil membuat Nana melemah. I benar- benar lemah pada orang tampan, ia tidak bisa menyangkal fakta tersebut. Apalagi dengan jarak sedekat ini, membuat jantungnya berdebar karena ketampanan cowok itu terlihat berkali- kali lipat lebih jelas.
"Na..." Darrel merengek. Terlihat sangat menggemaskan. Sungguh! Ini benar- benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"I-- iya. Ganteng kamu. Udah kan?" Nana mengalihkan pandangan, menenangkan jantungnya yang sangat suka berdisko ria.
Darrel tersenyum bangga. Ternyata mata Nana masih sehat, ia melepaskan tubuh Nana. Nana berdehem beberapa kali sembari memegang dadanya yang masih terus berdebar kencang, "Ak-- gue ke dapur dulu," ujar Nana yang langsung terburu- buru pergi dari sana.
Lihatlah tingkah menggemaskan gadis itu. Darrel menyesal karena tidak menyukai gadis itu lebih awal. Tidak! Mungkin saja sekarang mereka akan benar- benar putus jika kala itu ia terus membohongi perasaannya sendiri, dan Nana yang berpegang teguh pada egonya.
Darrel tersenyum simpul, lalu mendudukkan dirinya di sofa sembari menunggu gadis itu kembali.
Lama menunggu, Darrel jadi bosan, "SAYANG! LO NGGAK KETIDURAN KAN DI DAPUR?!"
"NGGAK! BENTAR!" sahut Nana dari dapur.
Di luar rumah. Seorang cowok yang hendak memegang gagang pintu menghentikan kegiatannya saat mendengarkan teriakan dari dalam rumahnya. Kael mengernyitkan keningnya berpikir,
"Kak Fian?" pikir cowok itu. Kael , menatap motor yang terlihat asing untuknya.
Untuk mengurangi rasa ingin tahunya, cowok itu menarik ke dalam pintu rumah itu, tidak ada siapapun. Terdengar keributan kecil di dapur,
"Ih, apaan sih? Minggir nggak!
"Nggak mau,"
Kael berjalan ke arah dapur untuk melihat siapa yang tengah berbincang dengan kakaknya.
"Darrel,"
"Darrel?" gumam Kael. Raut wajahnya langsung berubah marah saat melihat siapa yang tengah berada di dapur rumahnya itu.
"KAK NANA!"
Nana yang tadinya tertawa lepas langsung kicep mendengar teriakan itu. Lantas ia menoleh dan sangat terkejut saat melihat Kael sekarang sudah berdiri tepat di belakang Darrel.
"Kael?" gumam Nana. Jika tadi jantungnya berdebar kencang karena Darrel, sekarang jantungnya berdebar kencang karena adiknya.
Darrel menatap raut wajah Nana yang berubah, ia menoleh dan mendapati adik gadis itu di sana.
"Ngapain Lo di sini?!" tanya Kael yang jelas ditujukan pada Darrel.
"Ngapel cewek gue," jawab Darrel santai. Toh sekarang juga Nana tidak akan bisa mengelak.
"Darrel" Nana memukul lengan Darrel. Dan Darrel merasa terganggu karena hal itu, "Kenapa sih? Emang kita pacaran kan? Salah emang?"
"Bisa- bisanya Lo nyelingkuhin Kak Fian sama cowok b***t kayak dia kak!" ujar Kael dengan amarah yang semakin membara.
"What! Nyelingkuhin? Nggak salah?" sela Darrel tidak suka dengan tuduhan calon adik iparnya itu.
"Darrel diem," peringat Nana. Darrel pun memilih diam menurut
Kael memperhatikan kedua manusia berbeda jenis itu dengan tatapan kesal dan marah, "Murah!"
Deg!
Nana tahu kata itu ditujukan pada siapa. Tapi, apa benar itu Kael yang mengucapkannya?
"Bangs*t! Ngomong apa Lo barusan?!" cerca Darrel tidak terima dengan ucapan cowok itu.
Nana merasakan sesak di dadanya, masih tidak menyangka dengan apa yang Kael ucapkan barusan.
"Darrel, Lo pulang dulu ya?" pinta Nana tanpa menatap cowok itu.
"Tapi Na--"
"Plis," Nana memotong ucapan Darrel. Darrel menatap Nana bingung, lalu ia melayangkan tatapan tajam kepada Kael yang juga sedang menatap ke arahnya. Namun pada akhirnya ia memilih menuruti permintaan Nana, dan pergi keluar dari sana.
Nana melirik punggung Darrel yang mulai menjauh, lalu menatap Kael, "Kael, kakak---"
Kael memotong ucapan Nana yang ingin menjelaskan alasannya. Kael tersenyum sinis, senyuman yang terkesan mengejek dan meremehkan yang ia tujukan kepada kakaknya, "So sweet banget ya. Cowok berandalan sama cewek murahan. Cocok banget, beban dunia," ujar Kael tanpa memikirkan perasaan Nana sedikitpun.
Deg!
Nana menatap Kael dengan tatapan tidak percaya dan matanya yang mulai berkaca- kaca, "Kamu bilang kakak apa El? Murahan?" tanya Nana memastikan apa yang baru saja di dengarnya.
"Ya bener murahan. Nyelingkuhin cowok sebaik Kak Fian demi Darrel...?"
"Kakak nggak selingkuh. Kakak sama Kak Fian udah putus! Berhenti nyalahin kakak dan bela Fian! Karena kamu nggak tau apa- apa!" ujar Nana tidak terima. Itu terdengar sangat menyakitkan untuknya, matanya mulai menggelap karena tumpukan air mata yang akan jatuh.
"Iya, Lo putusin yang setia sama Lo. Demi--"
"Tutup mulut kamu Kael! Lo nggak tau apa---"
"Ya! Gue nggak tau apa- apa. Cuma Lo yang tau betapa bejatnya kelakuan cewek sok lugu sama Lo! Kak Fian kurang apa hah?! CK! Nyesel gue udah pernah nyuruh Kak Fian buat terus bertahan sama cewek nggak ada adab kayak Lo! Cilldish, dan sekarang... murahan" ujar Kael yang kemudian langsung pergi begitu saja meninggalkan Nana, tanpa sedikitpun memikirkan perasaan kakaknya itu.
Nana merasakan dadanya sesak, benar- benar tidak menyangka kalau adiknya dapat berbicara buruk tentangnya sampai seperti ini. Nana bertumpu pada pantry, rasanya sakit. Ia masih belum percaya adiknya mengatakan semua ini kepadanya.
"Kael... kakak nggak salah," Andai Kael mau mendengarkan penjelasannya. Andai Kael mau memberikannya sedikit waktu. Iya, dia yakin adiknya pasti akan mau memberikannya waktu untuk menjelaskan kan? Mereka akan berbaikan kan? Dan Kael tidak akan mengatakan kata- kata buruk itu lagi kan?
Nana mulai berandai- anda dengan apa yang akan terjadi nantinya. Ia benar- benar takut sekarang,
.
.
.