Nana bangun dengan mata bengkak. Semangatnya hilang entah ke mana. Gadis itu masih mengingat ucapan kasar yang Kael berikan padanya untuk pertama kalinya. Menangis benar- benar menghabiskan tenaga.
Saat bangun, Nana meringis. Rasanya kepalanya ingin pecah, pusing terus melanda seperti jarum yang menusuk kepalanya. Sangat menyakitkan.
Nana berjalan ke meja rias. Mengambil obat di laci, lalu meminumnya dengan air. Nana tidak tahu sekarang jam berapa, karena yang ia ingat, kemarin ia menangis berjam- jam sampai tidak sadar dan berakhir ketiduran. Ia juga tidak makan malam karena kemarin Kael pergi dari rumah, entah ke mana, Nana tidak tahu.
Nana berjalan gontai ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya dengan air dingin tanpa menggantinya ke mode air hangat. Bahkan ia tidak merasakan apapun, walaupun tubuhnya sudah bergetar karena kedinginan. Kejadian kemarin terlalu mengejutkan untuknya, sampai Nana tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Nana lupa membawa pakaiannya, ia hanya memakai handuk keluar dari kamarnya. Nana mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, lalu menyalakannya. Pukul 3 pagi. Yah, sepertinya ini akan menjadi rekor baru untuknya karena sudah mandi pagi- pagi buta, pantas tubuhnya sangat menggigil sekarang.
Ada banyak sekali pesan dan panggilan dari seseorang sesuai tebakannya. Tapi Nana memilih mematikan ponselnya dan berjalan menuju almari pakaian untuk memakai baju. Ia hanya memakai dalaman dan daster selutut, ia mengambil ikat rambut di laci, lalu mengucir rambutnya yang sudah mulai panjang.
Nana berjalan keluar dari kamarnya. Ia menatap kamar di depannya, ada cahaya di celah- celah di pintu yang tertutup rapat itu. Nana menghela napas lega, "Seenggaknya Kael pulang," gumam gadis itu lirih.
Nana berjalan menuruni undakan anak tangga. Lalu langsung menuju dapur untuk membuat waffle, itu salah satu makanan kesukaan Kael. Semoga aja semuanya akan baik- baik saja setelah adiknya itu bangun.
.
.
.
Darrel meregangkan otot- otot tubuhnya, lalu langsung mengambil ponselnya yang ia letakkan di samping bantal.
"Cuma diread?" gumam Darrel saat melihat pesannya hanya dibaca oleh Nana, tanpa ada balasan satu huruf pun.
"Ck! Awas aja lu bocah biadab! Enak aja bilang cewek gue murahan! Gue kebiri juga ntar!" oceh Darrel yang tentu saja ia tujukan pada Kael.
"Rel?"
"Apa?!" sahut Darrel reflek dengan suara tinggi.
"Ini bukan Jum'at, ngapain Lo khotbah? Masih pagi juga" tanya cowok yang duduk di ranjang bagian bawah, dia Jojo.
"Bacot!" Darrel menuruni tangga kecil itu. Lalu berjalan keluar dari kamar.
Iko tidur di atas sofa dengan tangan tangan kirinya sebagai bantalan, dan tangan kanan yang menutupi matanya dari silaunya lampu. Cowok itu tidur di luar karena kemarin Jojo ketiduran di sana, alhasil si pemilik tempat tidur memilih tidur di luar daripada tidur di ranjang Jojo yang bau jigong.
Mendengar suara langkah kaki Iko reflek bangun dan mendudukkan diri dengan kesadaran yang masih belum berkumpul sepenuhnya. Ia menatap Darrel yang sekarang sudah duduk di sofa lainnya.
Iko menguap, "Kenapa Lo?"
Darrel menoleh pada cowok itu, "Nana nggak bales chat gue," ujarnya dengan tampang sedih yang berhasil membuat Iko sedikit terkejut.
"Telfon,"
"Nggak diangkat,"
"Samperin,"
"Dia nggak mau,"
Iko menatap Darrel dengan tatapan bingung, "Berantem?"
Darrel menggelengkan kepalanya dengan tampang polos, "Dia yang berantem sama adeknya. Gara- gara gue,"
"Mending Lo siap- siap sekarang, terus jemput Nana," saran Iko.
"Nana nggak bakal mau. Malah tambah marah," terka Darrel.
"Temuin dia di sekolah," saran lainnya.
Darrel menganggukkan kepalanya lagi. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Menuruti saran yang Iko berikan dengan sangat polosnya.
Iko menggeleng- gelengkan kepalanya, merasa aneh dengan sikap Darrel yang dulunya sangat anti dibuat ribet sama cewek, bahkan pacarnya sendiri.
.
.
.
"Kael, nggak makan dulu?" tanya Nana pada Kael yang baru saja menuruni anak tangga, dan hendak berjalan ke depan.
Kael menghentikan langkahnya, "Gak," jawabnya singkat.
Nana menghembuskan napas berat. Ia juga tidak berharap terlalu banyak. Lalu membawa waffle buatannya ke dapur dan memasukkannya ke dalam kulkas. Lalu ia kembali, mengambil tasnya. Dan berjalan ke depan.
"Tungguin kakak," ujar Nana pada Darrel yang tengah memasukkan bukunya ke dalam tas.
Darrel menegakkan tubuhnya, "Suruh aja selingkuhan Lo jemput," ujar Darrel.
Begini lagi.
"Kakak nggak selingkuh El. Harus berapa kali lagi kakak bilang, kalau bukan kakak yang selingkuh?" Rasanya tenaga gadis itu sudah lenyap sekarang, tubuhnya terasa berat.
Kael menolehkan kepalanya menatap kakaknya yang terlihat sangat kacau itu. Ia menaruh sedikit rasa iba kepada kakaknya saat melihat kondisinya, tapi semuanya lenyap begitu saja. Kael sangat membenci penghianat, entah siapapun itu, bahkan termasuk kakaknya sendiri.
"Lo nggak ada bedanya sama Dilla," Nana menatap Kael sendu, "Bedanya cuma satu. Kalau Dilla karena emang egoimenya dia, sedangkan Lo... karena murahan. Ntar suruh aja cowok Lo yang nganter, Jan telfon gue, nomer Lo gue block," Kael mengaitkan tasnya ke lengannya. Dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Nana yang sudah benar- benar rapuh.
Nana memegang dadanya, rasanya seperti ada sebuah jarum yang menusuk jantungnya saat ini. Nana mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri untuk tidak kembali emosional. Tapi tetap saja, air mata nakal itu keluar tanpa diminta.
Nana mengusap air matanya, lalu berjalan keluar dari rumahnya. Ia menatap Kael dengan motornya yang baru saja keluar lewat gerbang. Kael tidak pernah main- main dengan ucapannya.
Nana mengambil dompetnya dari dalam tas, "Cukup buat naik bis," ujar Nana. Ia lupa jika uangnya sudah habis. Seperti yang diketahui, uang dari orang tuanya semua dipegang Kael, jadi biasanya ia yang akan meminta uang dengan Kael setiap satu Minggu sekali. Tapi, karena masalah beberapa hari ini, ia sampai lupa meminta uang dari Kael.
Nana menepuk kepalanya sendiri, "Lo pasti bisa lewatin hari ini Na," ujar Nana.
.
.
.
Nana datang terlambat, itu sudah jelas. Karena ternyata ia harus membeli pembalut kala mengingat bahwa barang pentingnya itu sudah kehabisan stok. Alhasil ia tidak bisa naik angkot ataupun bus karena uangnya kurang. Dan karena sudah terlalu siang, tidak ada murid satu sekolahnya yang lewat, atau mungkin ada, tapi hanya mengabaikannya.
Untungnya setelah setengah jam lebih berlari Nana bisa sampai di depan gerbang sekolah, dan itupun ia terlambat. Jika tahu akan terlambat seperti ini, lebih baik ia tidak usah masuk sekalian saja tadi. Lalu membuat izin ke wali kelas. Nana meneguk air salivanya, saat melihat murid- murid yang berlari- lari mengitari sekolahan, mereka pasti anak- anak yang datang terlambat.
"Pulang aja gimana?" pikir Nana sembari bersembunyi di balik tembok.
"Tapi ntar capek. Kalau pingsan di jalan gimana?" Ia baru teringat kalau dirinya belum sarapan pagi ini, dan kemarin ia juga melewatkan makan malamnya. Sudah pasti ia akan tidak sadarkan diri di jalan jika memaksa berlari.
Saat Nana akan memanggil Pak satpam untuk membukakan gerbang, tiba- tiba tangannya ditarik oleh seseorang, dan membawanya ke bagian belakang gedung sekolah. Nana tahu persis siapa pelaku yang sudah menarik tangannya itu, tapi Nana hanya diam tidak berkomentar.
Sampai di bagian belakang sekolah Darrel menghentikan langkahnya, dan membalikkan badannya menatap gadis itu.
"Kenapa Lo pucet banget? Keringetan?" Darrel menyentuh kening Nana, ia juga baru menyadari jika seragam gadis itu basah, dan dicium dari baunya, ia yakin itu bau keringat.
Nana dengan napas yang masih tersengal hanya mengalihkan pandangannya, tidak berniat membalas pertanyaan cowok itu.
"Na? Lo jalan kaki ke sekolah?" tebak Darrel. Melihat diamnya Nana, membuat Darrel yakin jika gadis itu memang berjalan ke sekolahan.
"Emang ngajak perang adek Lo!" Darrel bersiap pergi, sepertinya ingin menghampiri Kael.
"Darrel. Kita putus ya?"
Deg!
Darrel menurunkan secara perlahan kaki kanannya yang sudah mengambang. Lalu menatap Nana, "Lo bercanda?" Tidak! Darrel tahu jika gadis itu sedang tidak main- main dengan ucapannya sekarang, tapi... kenapa?
Tes! Setetes air mata Nana turun membasahi pipinya. Gadis itu hanya menunduk, tidak sanggup menatap wajah orang yang ia cintai itu.
"Gara- gara adek Lo kan? Ini nggak masuk akal buat gue. Dan gue nggak mau putus sama Lo," ujar Darrel murka menghadapi keterdiaman Nana.
"Apa perlu gue samperin adek Lo sekarang?" Nana menggelengkan kepalanya cepat.
"Itu nggak ada gunanya Rel. Kael nggak mau dengerin gue, dia marah sama gue. Dia nggak mau ngomong sama gue. Apalagi Lo yang bahkan bukan siapa- siapanya Rel," terang Nana.
"Terus mau Lo apa? Kalau putus... gue nggak mau, alasan Lo kurang masuk akal di gue," tukas Darrel tidak terima.
Nana terisak kecil, "Kael satu- satunya keluarga yang selalu ada buat gue Rel. Gue mohon Lo ngerti," ujar Nana meminta pengertian.
"Lo udah buat gue kayak gini. Dan sekarang Lo mau tinggalin gue gitu aja?!" Darrel menahan diri untuk tidak membentak Nana atas sikap egoisnya itu, ia tidak ingin semakin membuat hati gadis itu hancur.
"Gue juga sayang sama Lo Rel. Tapi gue nggak bisa liat Kael marah sama gue," Pecah sudah tangisan Nana. Gadis itu menangis dengan pilunya, apalagi saat mengingat kebencian yang Kael tunjukan secara terang- terangan untuknya.
Darrel menggeram rendah, lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Memberikan ketenangan untuk gadisnya yang saat ini sedang rapuh.
"Gue cinta sama Lo. Gue nggak bakal lepasin Lo dengan alasan kayak gini. Ngerti?"
.
.
.
Sebenarnya Kael benar- benar malas pulang ke rumah. Rasa marahnya semakin besar saat mengingat betapa baiknya Fian kepadanya. Bisa- bisanya kakaknya itu melepaskan cowok sebaik Fian untuk cowok berandalan seperti Darrel yang entah memiliki kelebihan apa sampai membuat kakaknya buta.
Kael masuk ke dalam rumah karena pintunya tidak dikunci. Ia akan pergi ke kamarnya, namun berhenti saat melihat Nana tengah menyiapkan makanan di meja makan.
"Lo nggak usah masak lagi. Gue nggak bakal makan masakan Lo. Jangan buang- buang tenaga," ujar Kael sebelum berjalan menaiki undakan tangga yang akan membawanya ke kamar.
Nana mencengkram kuat piring di tangannya. Nana menundukkan kepalanya, membuat wajahnya tertutupi helaian rambutnya yang padahal sudah ia kuncir. Nana mengangkat kepalanya, menepuk pipinya berusaha menyadarkan diri. Matanya sudah kembali memanas, Nana menghembuskan napasnya guna menahan air matanya yang memaksa ingin keluar.
Nana tersenyum simpul, lalu membawa kembali masakan buatannya ke dapur. Dan semua itu tak luput dari tatapan Kael yang masih berdiri di undakan tangga terakhir.
Kael menghembuskan napas gusrah, lalu memilih pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
.
.
.