Sudah satu Minggu sejak kejadian di mana Kael mengetahui jika Nana berpacaran dengan Darrel. Setelah itu, Kael benar- benar menjadi orang yang irit bicara, bahkan ia jarang menanggapi orang yang sedang mengajaknya berbicara.
Baru saja Kael keluar dari gerbang sekolahnya. Dan pemandangan buruk langsung terlihat menghiasi matanya. Tanpa memikirkan apapun cowok itu berlari menghampiri kedua orang yang berdiri di luar mobil dengan bergandengan tangan itu.
"Kael?" Fian reflek melepaskan tautan tangannya dengan Klara saat melihat adik dari mantan pacarnya itu.
"Lo!" Kael dengan amarahnya langsung menarik kerah baju Fian mendekat, "Maksud Lo apa pegangan tangan sama sahabat kakak gue?!"
Klara yang melihat itu berusaha menjauhkan Kael dan Fian, "Lo apa- apaan sih El!" Klara berhasil memisahkan mereka.
"Emang kenapa kalau gue pegangan tangan sama cowok gue. Emangnya salah?" cerca Klara tak terima.
"Pacar?" gumam Kael. Mendadak pikirannya nge- blank sekarang. Ia menatap Fian yang juga menatapnya penuh arti.
"Lo nyelingkuhin Kak Nana?" tanya Kael berusaha untuk tidak percaya dengan ini semua.
Klara tak terima dengan kata 'nyelingkuhi' yang Kael ucapkan, ia mendorong tubuh Kael lebih jauh lagi, "Kak Fian sama Nana udah putus! Lagian Kak Fian juga nggak suka sama Nana, ngapain juga Kak Fian bertahan sama cewek cilldish kayak Nana," ujar Klara dengan tidak tahu dirinya.
"Ra!" Fian berusaha mengingatkan agar Klara tidak berlebihan.
"Kenapa? Emang bener kan? Nana aja yang terlalu berharap. Kayak dia apa aja. Lagian juga kamu deketin dia cuma gara- gara pengen deket sama aku kan?" ujar Klara yang mulai keterlaluan.
Kael mengepalkan tangannya kuat, lalu dalam hitungan detik Bogeman dari Kael mendarat mulus di wajah Fian.
"KAEL!" Klara berusaha untuk memisahkan, tapi apalah dayanya yang tentu saja tidak bisa melakukan itu karena takut pukulan Kael akan menuju ke arahnya.
Kael menindih tubuh Fian, menguncinya, lalu memukuli wajah cowok itu membabi buta seraya menyebutkan nama- nama binatang yang ia tahu. Sedang Fian sama sekali tidak melawan, ia merasa pantas mendapatkan semua itu, walaupun ia harus membuat nyawanya menjadi taruhan.
Tiba- tiba seseorang menarik tubuh Kael dari belakang membuat cowok itu menghentikan kegiatannya.
"b*****t! Siapa Lo?!"
"Gue! Kenapa Lo mukulin dia hah?!" Darrel baru saja datang ingin bertemu dengan Kael untuk menyelesaikan masalahnya dengan cowok itu. Ia tidak tega melihat Nana yang selalu melamun memikirkan masalah ini.
"Kenapa?! Lo mau belain si b*****t ini?!" Kael tidak bisa menahan dirinya lagi. Tidak peduli jika ia sudah menjadi pusat perhatian sekarang.
Darrel mengangkat salah satu sudut bibirnya, "Oh, jadi udah tau," ujar Darrel.
"Tau apa?!"
"Tau kalau Lo udah t***l! Dia!" Darrel menunjuk ke arah Fian, "Dia yang udah nyelingkuhin kakak Lo. Dan bisa- bisanya Lo ngatain Nana murahan! Lo nggak tau gimana Nana gara- gara kelakuan t***l Lo," Darrel menghembuskan napas, "Tapi syukurlah kalau Lo udah tahu, gue jadi nggak perlu capek- capek buat Lo ada di posisi dia sekarang," ujar Darrel sembari melirik Fian di kalimat terakhirnya.
Kael menatap Darrel lekat. Lalu menatap Fian yang sudah terkapar dan tengah dibantu Klara.
"Kak, kamu nggak papa kan? Kak Fian!" Klara berusaha membantu Fian untuk berdiri. Cewek itu memapah tubuh Fian yang jelas lebih besar darinya.
Kael berjalan mendekat, "Lo mau ngapain lagi ha?" Klara berusaha menjauhkan Fian dari keberingasan adik mantan sahabatnya itu.
"Gue percaya banget sama Lo berdua, dulu," Kael menyeringai lalu berdecih, membuat Klara bergidik ngeri melihat seringaian mengerikan itu.
"Terutama Lo b*****t!" Rasanya Kael ingin memukul Fian lagi sampai membuat nyawa cowok itu di ujung bayangan. Tapi Fian masih sayang dengan kakaknya, ia tidak bisa meninggalkan kakaknya yang polos dan lemah itu sendirian jika sampai ia menghilangkan nyawa Fian sekarang.
Darrel tersenyum di tempatnya. Benar- benar puas dan senang melihat drama di depannya sekarang. Andai Nana tahu, pasti cewek itu... nggak! Nana nggak mungkin menikmatinya juga, palingan Nana malah akan menghentikan drama itu. Darrel kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, tidak jadi menghubungi Nana. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini.
"Kael!" Suara teriakan cempreng membuat Kael yang sudah mengangkat tangannya terhenti, ia mengenal jelas suara siapa itu. Dan orang- orang yang ada di sana pun ikut- ikutan menoleh ke arah seorang siswi yang berlari menghampiri ketiga manusia yang sekarang menjadi pusat perhatian.
"Kamu apa- apaan sih?! Kenapa kamu mukulin Kak Fian?!" Itu Dilla dengan wajah memerahnya. Tadi ia sedang ada urusan di ruang guru, lalu ada temannya yang memberitahu kalau kalau mantan pacarnya tengah memukuli pacar kakaknya. Dan tanpa berpikir panjang Dilla langsung pergi ke sana.
"Kael! Jawab pertanyaan aku!" Dilla menarik lengan Kael agar cowok itu menatapnya.
Darrel mengerjapkan matanya kagum, "Makin panjang nich," ujarnya, lalu cowok itu tertawa lirih. Ia menjauh dari kerumunan, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Nana. Butuh waktu cukup lama, tapi Nana tetap menjawab penggilan video call darinya.
"Hai By," sapa Darrel dengan senyum cerahnya.
Nana baru menampakkan wajah lesunya, "Hai juga. Ada apa?"
"Kok ada apa sih? Emang gue nggak boleh liat cewek gue? Tadi aja di sekolah gue dicuekin," ujar Darrel membuat Nana tidak enak hati.
"Maaf ya, gue nggak pernah bermaksud buat cuekin Lo. Maaf,"
Lah, malah minta maaf. Padahal bukan ini yang Darrel inginkan, "Lo lagi ngapain?" tanya Darrel mengalihkan pembicaraan.
"Lagi duduk, napas, vc Lo," jawab cewek itu jujur. Terlihat kernyitan di wajah Nana saat merasa kalau air muka Darrel terlihat senang karena sesuatu, dan cowok itu juga sedang menatap ke arah lain yang tidak ia ketahui.
"Lagi di mana? Kelihatannya bahagia banget," tanya Nana.
Darrel kembali menatap layar ponselnya, "Bentar lagi Lo nggak bakal kayak gini lagi. Masalah Lo bakal selesai," Darrel tetap memperlihatkan senyuman menawannya, "Gue tutup dulu ya, ada sinetron live action. Bye by," Darrel segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu kembali menghampiri kerumunan.
"Cocok Lo berdua jadi adek kakak. Satunya pelakor, satunya tukang adu domba," ujar Kael dengan sadisnya.
"Emang adek ipar gue,"
.
.
.
Nana bingung karena Darrel tiba- tiba mematikan sambungan teleponnya. Dan lagi, apa maksud ucapan cowok itu tadi?
"Masalah gue selesai? Maksudnya apaan sih?" Nana berusaha berpikir keras, tapi ia sendiri tidak tahu harus berpikir apa sekarang. Mendadak otaknya nge- lag saat membaca pesan yang Lisya kirimkan, bukan pesan, melainkan sebuah foto. Saat Nana akan mengunduhnya, tiba- tiba jaringan WiFi yang tersambung hilang.
"Loh, kok nggak bisa?" Nana menatap sekitarnya, ia baru sadar jika lampu di kamarnya juga sudah mati sekarang.
"Kok mati lampu sih? Mana kagak punya paket data! Gini nih, punya kaya gegera WiFi, miskin gegara kagak punya paket data," keluh Nana kesal.
"Lisya ngirim foto apa ya?" tanya Nana pada dirinya sendiri. Ia menatap foto yang masih benar- benar blur itu, tapi ia tetap tidak tahu foto apa itu.
"Yeh, hidup lagi!" ujar Nana saat melihat tersambungnya jaringan WiFi di bagian atas layar ponselnya.
Nana bersorak senang, dan ia langsung mengunduh foto yang sahabatnya itu kirimkan. Nana reflek menjatuhkan ponselnya. Untung di karpet, kalau lantai mah... nggak usah ditanyakan lagi.
"Kael berantem, sama siapa?"
.
.
.