Nana benar- benar bingung saat melihat foto yang Lisya kirimkan, dan ada gambar Kael yang tengah memukuli seseorang. Apa itu Darrel? Nana bertanya- tanya. Ia juga sudah menanyakan tentang orang yang ada di foto itu pada Lisya. Tapi Lisya hanya mengatakan jika ia mendapatkan foto itu dari adik sepupunya, dan adik sepupu Lisya juga tidak tahu siapa cowok yang Kael pukuli.
"Kalau beneran Darrel gimana? Berarti tadi Darrel ke sekolah Kael?" tanya Nana pada dirinya sendiri. Ia menggigit bibir dalamnya khawatir. Lebih tepatnya takut kalau Darrel membalas, tentu saja Kael akan langsung kalah tanpa telak. Tidak! Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Ah udahlah. Itu tadi kayaknya di sekolah Kael, gue ke sana aja," ujar Nana meyakinkan diri. Nana pergi ke kamar untuk mengambil tas, ia hanya memakai jaket tanpa mengganti pakaian rumahannya. Saat ia sudah akan membuka pintu utama, tiba- tiba bel berbunyi.
"Jangan bilang kalau itu..." Nana dengan ketakutannya langsung menarik pintu itu karena memang ia tidak menguncinya tadi.
"Kael?" Nana terkejut melihat Kael sudah ada di hadapannya sekarang. Nana mengerjapkan matanya beberapa kali saat Kael juga terlihat sama terkejutnya dengan dirinya.
Dan beberapa saat kemudian cewek itu terlihat gugup dan cemas, "Kael nggak papa? Ada yang luka nggak? Ada yang sakit?" tanya Nana menatap keseluruhan adiknya itu sembari menyentuh wajah adiknya. Namun, ia tidak mendapatkan luka sedikitpun, bahkan seragamnya hanya kusut dan tidak kotor.
Kael meraih tangan Nana yang sudah mengerayangi bahunya, "Gue nggak papa kak," jawab Kael menenangkan Nana. Ia sedikit bingung dengan respon yang Nana berikan. Apa kakaknya itu sudah tahu kalau dirinya memukuli Fian tadi?
"Kok bisa nggak papa- bukannya tadi-- Darrel!!" Nana memekik kala seorang cowok berjalan menaiki undakan tangga, dan sekarang cowok itu sudah ada di samping adiknya, dia Darrel.
Kael melirik Darrel sekilas, lalu merotasikan bola matanya malas saat Darrel datang dengan gaya songongnya, yang selalu berhasil membuat Kael kesal, geli sih lebih tepatnya.
Kini Nana menatap Darrel, lalu Kean, tidak ada satupun luka di tubuh ataupun wajah kedua cowok itu. Bahkan baju Darrel terlihat lebih rapi, walaupun tidak disetrika. Apa Lisya memberikan berita yang salah? Kenapa sekarang jadi dirinya yang terlihat seperti orang yang sok tau?
"Kok kalian?"
Tiba- tiba Darrel merangkul bahu Kael, "Liat! Gue cepet akrab kan ma adek ipar," Darrel menaik- turunkan alisnya.
Kael hanya diam tak berkutik, malas meladeni cowok dengan ke percaya-dirian yang benar- benar di atas awan itu.
Nana menatap Kael yang sama sekali tidak memberontak, walaupun wajahnya terlihat sangat tertekan saat ini, "Kalian beneran baikan?" tanya Nana ragu- ragu.
"Ya dong. Malah dia yang minta baikan duluan," Kael mendelik tidak percaya dengan ucapan cowok itu, namun lagi- lagi ia memilih diam, karena memang itu kebenarannya.
Tadi setelah kembali memukuli Fian habis- habisan. Kael menghampiri Darrel, ia pun terpaksa minta maaf karena cowok itu terus mengatakan "Kayaknya bakal ada yang minta maaf nih," bukan cuma sekali Darrel mengatakan kalimat menyebalkan itu, sampai- sampai telinga Kael panas karena sangking terlalu seringnya cowok itu menyindirnya dengan kalimat itu. 'Yang waras ngalah', itulah prinsip yang Kael gunakan. Alhasil ia mengalah dan memilih minta maaf pada cowok itu agar semuanya kelar.
.
.
.
Setelah mengantarkan Kael pulang, Darrel pun pergi, katanya ada urusan penting. Padahal sebenarnya cowok itu hanya ingin memberikan waktu untuk Kael dan Nana berbicara berdua, walaupun sebenarnya ia tidak suka kalau gadisnya berbicara dengan cowok selain dirinya, tapi ya sudahlah.
"Kakak udah masak tadi, eh--" Nana menghentikan langkahnya lalu meneguk salivanya lamat- lamat, "Kael mau makan? Atau mau kakak pesen aja," tanya Nana hati- hati. Ia teringat jika kemarin Kael mengatakan kalau cowok itu tidak akan memakan masakannya lagi.
"Kak..." Kael benar- benar merasa bersalah pada kakaknya. Ia sadar jika selama ini ia sudah keterlaluan, bahkan ia tidak pernah memberikan kesempatan kepada Nana untuk menjelaskan semuanya.
Nana menoleh, "Iya?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
Kael meminta Nana untuk duduk di ruang keluarga. Nana agak ragu menerima permintaan adiknya itu, telinganya masih trauma kala mengingat bagaimana Kael berteriak dan mengatainya dengan kata- kata buruk yang tidak ingin Nana dengar lagi. Namun, ia tidak ingin memperpanjang masalah lagi, ia menyetujui permintaan cowok itu.
"Ada apa?" tanya Nana sembari menautkan jemarinya cemas.
Kael menatap Nana sendu. Ia merasakan ada dinding pembatas antara dirinya dan kakaknya. Dan sekarang ia baru sadar, jika kelakuannya sudah sangat keterlaluan.
"Gu... gue minta maaf," Nana mendongak, lalu kembali menundukkan kepalanya saat matanya bertatapan langsung dengan cowok itu, "Gue udah nuduh Lo, bahkan ngomong yang enggak- enggak sama Lo. Maaf kak," ujar cowok itu menyesal, bukan menyesal lagi, tapi sudah sangat- sangat menyesal.
Nana tidak tahu harus merespon apa. Hatinya masih sangat saat mengingat kata- kata buruk yang Kael berikan kepadanya. Tapi ia juga tidak bisa sok jual mahal dengan tidak mau memaafkan kesalahan adiknya. Walaupun ia masih memiliki orang tua yang lengkap, tapi Nana merasa jika hanya Kael yang selalu ada untuknya, yang selalu mengerti keadaannya, dan tempat berkeluh kesah tanpa harus takut kalau Kael akan menyebarkannya.
"Iya, kakak maafin," ujar Nana pada akhirnya.
Kael terlalu terkejut dengan respon yang Nana berikan. Bukankah seharusnya Nana mengomelinya terlebih dahulu, atau memarahinya atas semua yang sudah ia lakukan. Tapi sekarang? Kenapa kakaknya itu sangat suka membuatnya merasa bersalah seperti ini?!
"Kak..."
Nana berdiri, "Kamu mau makan masakan kakak kan? Kalau nggak mau kakak bisa pesen," tanya Nana sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kak..."
"Plis El, jangan bikin kakak kayak gini," Kael menatap Nana, punggung kakaknya sudah bergetar. Nana menangis, itu yang dapat Kael simpulkan saat ini.
"Kakak ke kamar dulu. Kalau Kael mau makan, makan aja. Kalau nggak mau Kael bisa pesen," Nana mengusap air matanya, lalu berjalan pergi meninggalkan Kael dengan perasaan campur aduk.
Nana menutup pintu kamarnya pelan- pelan, takut menimbulkan suara keras, lalu mengunci pintunya dari dalam. Gadis itu melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Membungkam mulutnya yang terisak dengan bantal. Isakan putus- putus membuat dadanya sakit. Nana memilih duduk, namun terus menutup wajahnya dengan bantal, berusaha meredam suara.
Nana sendiri tidak tahu kenapa ia jadi selebay ini. Ia hanya ingin menangis sekarang, menenangkan hati dan pikirannya.
.
.
.