"Na, Lo kenapa sih?" tanya Kana setelah kelas sepi, hanya ada mereka berdua di kelas itu, Lisya dan Klara pun juga sudah pergi ke kantin sekarang.
Nana tidak menjawab, ia masih menaruh kepalanya di atas tumpukan buku di atas meja.
Kana menarik bahu Nana agar ia dapat melihat sahabatnya itu. Dan ia langsung dibuat terkejut saat Nana tiba-tiba memeluknya sambil menangis. Kana tidak tahu harus berbuat apa, ini kali pertamanya melihat Nana menangis seperti ini.
"Na..."
Nana melepaskan pelukannya pada Kana, ia mengusap air matanya kasar, lalu kembali menangis.
"Kana..." isak Nana tidak bisa menahan diri.
"Lo kenapa Na?" tanya Kana panik.
Nana tetap tidak bisa berhenti menangis, membuat Kana khawatir dan bingung karena ia masih belum mengetahui alasan kenapa sahabatnya itu menangis sekarang.
"Na.... Jangan bikin gue panik dong,"
"Fian jahat..." ucap Nana parau.
"Fian? Bukannya kemarin anniv kalian? Kenapa Lo malah kayak gini?" tanya Kana.
Nana mengehentikan tangisannya, ia mulai menceritakan semua yang terjadi kemarin pada Kana. Mulai dari ia yang mengetahui Fian dan Klara makan di restoran, terungkapnya hubungan Fian dan Klara. Lalu Darrel yang menceritakan alasan tentang Fian yang memacarinya,
Kana hanya diam sambil mendengarkan, ia memang tidak banyak berkomentar, tapi raut wajahnya sekarang sudah cukup menjelaskan bahwa ia sangat marah setelah mendengarkan cerita Nana.
Nana kembali menangis, dan Kana berusaha menenangkan sahabatnya itu. Ia tahu kalau masalah yang dihadapi Nana itu berat, tapi apa yang dilakukan Nana sekarang hanya akan membuat gadis itu semakin terpuruk. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Ia lebih suka melihat Nana bersikap kekanakan daripada melihat air mata terus turun membasahi wajah gadis itu.
"Udah Na, lagian Lo udah glow up juga kan? Hati Lo di glow up juga, sampah udah sama sampah, Lo harusnya senang," ucap Kana menenangkan Nana.
"Glow up?" tanya Nana tidak mengerti dengan ucapan Kana.
"Tuh! Rambut Lo acak-acakan," ucap Kana singkat sambil menunjuk rambut Nana.
"Ihh... Ini tuh gara-gara gue nggak keramas tadi pagi, bukan gara-gara glow up atau apalah," ucap Nana merevisi.
"Ngapain juga gue tampil kayak orang gila kayak gini cuma gara-gara putus sama Fian, kurang kerjaan banget gue!" tambah Nana tidak terima karena Kana menyudutkannya.
"Iya deh iya," sahut Kana menyerah.
"Bantu rapiin," ujar Nana sembari menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.
"Nih," Kana memberikan karet rambut yang tadinya berada di pergelangan tangannya kepada Nana.
"Makasih," Nana menerimanya, lalu mengikat rambutnya menjadi satu di bawah.
Tak lama setelah itu, salah satu seseorang yang menjadi penyebab kesedihan Nana masuk ke dalam dengan wajah menunduk, juga dengan Lisya di sampingnya.
Lisya berjalan cepat mendahului Klara, lalu berhenti di samping meja Kana dan Nana.
"Nih gue bawa makanan kesukaan Lo. Kalau gue ada salah, maaf lah ya," ucap Lisya dengan suara memelas.
Senyum Nana timbul, namun sesaat kemudian senyumannya langsung luntur saat Klara sudah berdiri di samping Lisya.
"Kesel banget liat muka sok polos Lo! Pelakor!" batin Nana kesal.
"Yaudah nih uangnya! Sana! Gue gedek lihat lo!" ucap Kana tajam seperti biasanya. Ia langsung memberikan selembar uang dua puluh ribu, lalu menarik dua bungkus makanan yang ada di tangan Lisya.
"Ihh...gue ngomong sama Nana ya, bukan ma Lo!" ucap Lisya tak mau kalah.
"WOY!"
Teriakan itu berhasil menarik perhatian Kana, Nana, Lisya, dan Klara. Darrel, pria itu dengan wajah bengisnya masuk ke dalam kelas 11 IPA 3 menghampiri meja paling belakang, alias tempat di mana keempat siswi itu sekarang berkumpul.
"Kalian balikan ya?" tanya Lisya pada Klara.
Darrel berdiri di belakang Klara, hingga mereka berhadapan karena Klara memutar tubuhnya.
"Temenin gue ke kantin!" Bukan pada Klara, melainkan pada Nana yang masih menahan keterkejutannya karena kehadiran tiba-tiba Darrel, begitupun dengan ketiga gadis itu.
"Gue laper sayang. Ke kantin yuk, temenin gue makan," ucap Darrel dengan nada suara manja.
Merasa tidak ada pergerakan dari gadis di hadapannya, Darrel menatap Klara tajam.
"Hai mantan! Bisa geser nggak? Lo ngalangin cewek gue," ucapan itu terdengar seperti perintah di telinga Klara, ia segera berlari keluar dari kelas karena tidak menyangka akan melihat ini semua dari sahabat dan mantan pacarnya.
"Kalian pacaran?" tanya Lisya tidak percaya.
Nana cukup bingung dengan pertanyaan Lisya, posisinya saat ini benar-benar tidak menguntungkannya.
"Iya, gue pacaran sama Nana," jawab Darrel santai.
"Ha?"
Darrel menggenggam tangan Nana, lalu menariknya keluar setelah Kana menyingkir agar Nana bisa lewat. Nana tidak protes sedikitpun, ia hanya terkejut dengan perlakuan Darrel padanya sekarang. Darrel membawa Nana keluar dari kelas.
Lisya mencengkram seragamnya, ia masih belum percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Nana, bisa-bisanya gadis itu berpacaran dengan orang yang sudah jelas merupakan mantan dari sahabatnya sendiri. Bukannya Lisya melarang mereka berpacaran, tapi setahu Lisya, selain mantan dari Klara, Darrel juga adalah adik dari pacar Nana. Bagaimana pikiran Nana? Bisa-bisanya ia berpacaran dengan adik dari pacarnya sendiri? Berbagai macam pertanyaan meradang di kepala Lisya.
"Jangan ikut campur urusan mereka," ucapan Kana berhasil menyadarkan lamunan Lisya.
"Lo udah tahu?" Kana menggeleng, karena Nana memang tidak menceritakan hal ini kepadanya tadi.
"Nana kok gitu sih?! Udah tahu kalau Kak Darrel itu mantan Kana, lagipula Kak Darrel kan adiknya Kak Fian. Udah gila apa dia?!" cerca Lisya kesal.
"Mereka udah putus," ucap Kana singkat.
"Putus?"
"Kemarin," jawab Kana singkat.
Lisya semakin dibuat terkejut dengan semua ini. Tapi tetap saja, menurutnya Nana tetap bersalah. Lisya memukul bangku Kana keras, lalu ia keluar dari kelas untuk mencari Klara. Pasti gadis itu sangat membutuhkannya sekarang ini.
Sedangan sekarang Nana mulai merasa tidak nyaman. Sedari ia keluar dari kelas tadi, ia dan Darrel tidak lepas dari tatapan semua orang yang mereka lewati. Darrel masih menggenggam tangan Nana erat, dan itulah yang menjadi awal tanda tanya di pikiran mereka.
Bukannya apa-apa, pasalnya hampir seluruh murid di sekolahan tahu kalau Nana itu berpacaran dengan Fian, kakak Darrel. Nana pernah ditembak oleh beberapa siswa di sekolah, tapi gadis itu selalu menolak dengan alasan ia sudah berpacaran dengan pria yang bernama Fian. Jadi, itu sudah menjadi rahasia umum akan hubungan Nana dan Kakak Darrel tersebut.
"Rel, lepasin. Kita dilihatin terus itu," ucap Nana sambil berjinjit.
Darrel tersenyum tipis, lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Nana.
"Lo cantik," ucap Darrel jahil.