"Darrel!" pekik Nana lirih. Ia mencubit perut Darrel, membuat pria itu mengaduh sakit akibat cubitan mematikan Nana.
"Sakit sayang!"
Dan dari situlah bisik-bisikan buruk tentang Nana dimulai. Dari kata 'sayang' yang diucapkan Darrel, berkembang menjadi omongan jelek yang hanya ditujukan pada Nana. Iya, hanya Nana. Karena pria yang menggenggam tangan Nana, alias Darrel adalah cowok yang terkenal gonta-ganti pasangan, atau biasa disebut playboy. Cowok itu bukan hanya terkenal playboy di sekolahan ini saja, tapi juga di sekolah-sekolah tetangga. Bahkan beberapa dari mereka pun menghitung jumlah mantan Darrel di sekolahan ini, mantan Darrel sudah mencapai tiga belas siswi, ditambah Klara mantan terakhirnya, kini jumlah mantan Darrel sudah ada 14 siswi. Itupun hanya di sekolahan ini saja, belum lagi yang ada di luar sekolahan.
Nana menghela napas pelan, lalu melirik Darrel sekilas. Darrel tidak akan terkena dampaknya, tapi Nana yang pasti akan mendapatkan dampaknya. Ya, inilah resikonya jika ingin bangkit. Pasti akan ada saja masalah baru yang menimpanya. Entah kecil, maupun besar.
.
.
.
Satu Minggu berlalu, hari-hari Nana di sekolah semakin tidak karuan. Dulu, orang-orang selalu bersikap ramah padanya, orang-orang selalu membicarakan hal baik tentangnya. Namun, semuanya berubah begitu saja setelah Darrel memperjelas hubungan mereka.
Apalagi satu Minggu ini Darrel tidak ke sekolah karena harus mengikuti pertandingan basket di luar kota, tidak ada satu orang pun yang bisa melindunginya. Sebenarnya kemarin Darrel dan timnya sudah pulang, tapi sekolahan memberikan mereka dispen istirahat setelah mengharumkan nama sekolah dengan membawa piala juara pertama.
Sama seperti satu Minggu yang lalu, Nana menjadi murung dan pendiam. Teman-teman sekelasnya pun ikut berubah setelah kejadian di kantin waktu itu. Mereka yang dulu akrab dengan Nana menjadi sering membicarakan Nana secara terang-terangan, bahkan mereka sering mengatai Nana dengan kata-kata buruk yang bahkan belum pernah Nana bayangkan seumur hidupnya.
"b***h naneun solo!" Itulah salah satu kata-kata yang mereka gunakan untuk menyindir Nana. Sebenarnya mereka tidak menyebutkan namanya, tapi sepertinya sudah terlihat jelas dari sikap mereka kepada Nana.
Kana tidak tega melihat teman-teman sekelasnya membuli Nana. Tapi ia tidak bisa apapun, Nana melarangnya untuk bicara. Dan sebagai sahabat yang baik, Kana pun mendengarkan ucapan Nana. Kana menuruti ucapan Nana bukan karena Kana ingin melihat Nana tersiksa seperti ini, ia hanya takut jika ia ikut campur dalam masalah Nana, malah nantinya akan semakin menyulitkan sahabatnya itu. Maka dari itu Kana hanya diam, dan berusaha untuk menulikan Indra pendengarannya agar tidak mendengarkan ucapan-ucapan buruk tentang Nana.
Berbeda dengan Kana, Lisya malah ikut mengolok-olok Nana seperti teman-teman sekelasnya yang lain. Jujur saja, ia cukup muak saat mengingat semua tingkah polos Nana selama ini. Ia pikir gadis itu memang benar-benar polos seperti kelihatannya, tapi lihatlah! Sekarang gadis itu terlihat seperti monster di pandangannya.
Andai Lisya tahu masalah yang sebenarnya, pasti gadis itu akan menjadi orang terdepan yang akan melindungi Nana, tapi Nana tidak memberi tahunya, juga melarang Kana untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Lisya.
"Hey b***h!" ucap Shella tepat di samping meja Kana.
Kana langsung memberikan tatapan tajamnya pada Shella.
"Kana! Lo kenapa sih masih mau temenan sama b***h ini, udah ngerebut pacar temen sendiri, pacaran sama adek mantannya lagi. Lagaknya sih sok jadi cewek paling polos sedunia, tapi nyatanya..? b***h garis keras cuyy!!" Semua orang di kelas itu menyoraki ucapan pedas Shella, bahkan anak laki-laki yang biasanya masa bodo itupun ikut-ikut bersorak agar suasana semakin memanas.
"Namanya b***h mah ya tetep b***h. Jangan-jangan nyokap Lo juga gitu ya....UPS!"
'Brak!' 'Brak!'
Dua suara gebrakan itu berasal dari Nana dan seorang pria yang sekarang berdiri di ambang pintu.
Semua mata menatap Darrel yang baru saja tiba di kelas itu, laki-laki itu menggebrak pintu keras, membuat kegiatan yang berada di kelas itu terhenti karena ulahnya. Darrel berjalan dengan gaya cool-nya mendekati Shella. Shella yang melihatnya langsung berdiri kaku, ia tidak pernah melihat Darrel dengan tatapan setajam pisau seperti sekarang , benar-benar mengerikan.
Shella dan Darrel berdiri berhadapan. Cukup lama suasana hening, sampai suara pekikan Shella terdengar menyakitkan karena Darrel dengan sangat kasar menyepak kaki Shella hingga gadis itu menubruk meja Kana dengan sangat keras. Semua orang terkejut melihat perlakuan Darrel pada Shella.
"Kalau Nana pacaran sama gue yang adek mantannya, terus pacaran sama gue yang mantan pacar sahabatnya disebut b***h," Darrel menggantung ucapannya, ia menarik kerah baju Shella kasar agar bisa kembali berdiri di hadapannya.
"Terus gue yang sering gonta-ganti pacar ini harusnya disebut apa? APA HAH?!"
Darrel tersenyum tipis, tiba-tiba sekelebat ide muncul di otaknya.
"Lo juga b***h kan? Bukannya elo itu udah ngerebut tunangan kakak Lo sendiri, hah?! Bukan rahasia umum lagi kan? Tapi kenapa Lo nggak dibuli sama kayak Nana?!" Ingin rasanya Darrel memukuli gadis itu, andai kata Shella adalah laki-laki, ia tidak akan membuatnya hidup dengan tenang, harus ada yang dikorbankan, entah nyawa ataupun salah satu anggota tubuhnya. Tapi, berhubung Shella itu cewek, jadi sepertinya melakukan hal ini sudah cukup membuat gadis itu menderita seumur hidupnya.
Shella menangis, ucapan Darrel benar-benar menghunus sampai ke ulu hatinya, sangat menyakitkan.
Tapi memang benar, dulu Shella pernah jatuh cinta dengan tunangan kakaknya sendiri. Dan seluruh sekolahan pun tahu akan hal itu, karena dulu kakaknya datang melabraknya di depan teman-temannya. Dari teman-temannya, kini hal itu menjadi rahasia umum bagi publik.
"Darrel! Lepasin dia!" ucap Nana yang masih berdiri di tempatnya.
Nana keluar dari bangkunya, lalu berdiri di samping Shella. Shella pikir Nana akan menolongnya, tapi harapannya langsung hilang begitu saja. Hanya dalam hitungan detik, tangan Nana terangkat dan melayang mulus di pipi Shella, Nana menampar Shella.
'Plak!'
Nana mengambil alih kerah baju Shella yang tadinya dicengkeram Darrel. Lalu ia menghempaskannya begitu saja karena ia sudah sangat marah dengan wanita itu. Mereka boleh saja menghinanya, mungkin ia masih bisa diam. Tapi tidak mungkin ia akan diam jika mereka sudah membawa-bawa orang tuanya ke dalam masalahnya. Jika mereka bisa berubah, Nana pun juga bisa.
"Asal Lo semua tahu! DI SINI ITU GUE YANG JADI KORBANNYA! BUKAN DIA!!" teriak Nana sambil menunjuk Klara yang berusaha menampilkan wajah tidak bersalahnya itu.
Tanpa sadar Nana menangis, setetes air mata berhasil meluncur halus membasahi pipinya kala ia mengingat kenangan mengerikan itu.
"Apa yang Lo semua tahu tentang masalah gue? Apa?!" Nana menatap Klara tajam.
"Gue pacaran sama Darrel itu setelah gue putus sama Fian, dan setelah Darrel udah lama putus sama Klara,"
"Sedangkan dia!" Nana menunjuk Klara.
"DIA PACARAN SAMA FIAN WAKTU GUE MASIH PACARAN SAMA FIAN, MEREKA PACARAN DI SAAT ANNIV HUBUNGAN GUE SAMA FIAN. Apa Lo semua tahu?" teriak Nana tidak bisa menahan semua yang selama ini ia pendam.
"Lo semua nggak ngerti..."
Nana tidak bisa dalam posisinya sekarang, ia langsung pergi seperti biasanya, meninggalkan masalah yang belum terselesaikan. Nana berlari pergi ke kamar mandi, lalu menangis di dalam sana.
Darrel tersenyum tipis melihat kepergian Nana, lalu menatap Shella yang saat itu menangis dengan tubuh bergetar menahan takut. Darrel sedikit membungkukkan tubuhnya mendekati Shella.
"Sorry!" ucap Darrel tajam disertai seringaian tajam.
Sekilas Darrel menatap dua orang siswa yang duduk di bangku pojok belakang yang berlawanan dengan bangku Kana.
"Lo berdua ikut gue!"
Setelah mengucapkan itu Darrel membalikkan badannya meninggalkan kelas itu. Kemudian diikuti kedua siswa yang dipanggil Darrel untuk mengikutinya.
"Nanti ke basecamp, gue mau ngomong sama Lo berdua!" ucap Darrel tajam tanpa menoleh, lalu ia berjalan santai meninggalkan kedua orang itu.
.
.
.
Setelah kejadian kemarin, tiba-tiba tubuh Nana panas dan lemas, yang membuatnya hari ini tidak bisa pergi ke sekolah. Di samping ranjang tempat tidurnya duduk seorang cowok yang saat ini sedang mengompresnya tanpa sepengetahuan Nana. Semalaman Nana tidak bisa tidur, tubuhnya terlalu tidak nyaman, alhasil ia baru bisa tertidur tadi pagi, dan masih belum bangun sampai sekarang.
Tanpa sengaja air dari kain kompresan itu turun mengenai mata Nana, membuat gadis itu dengan perlahan membuka kedua kelopak matanya.
"Kak," panggil cowok itu setelah mendapati kakaknya membuka mata.
"Kael? Lo nggak sekolah?" tanya Nana.
"Nggak," jawab Kael singkat. Ia mengambil kain di dahi Nana lalu memasukannya ke dalam baskom.
Kael mengambil sepiring makanan di meja samping tempat tidur Nana.
"Makan dulu kak, terus minum obat," ucap Kael lembut.
Nana mengangguk pelan, Kael menaruh kembali piring itu lalu membantu Nana untuk mendudukkan dirinya.
Nana mengambil piring di sampingnya, lalu memakannya perlahan, tenggorokannya sedikit kering membuat ia langsung tersedak karena tidak bisa menelan makanannya. Kael dengan cepat menyodorkan segelas air mineral itu pada Nana, dan Nana langsung meminumnya.
"Pelan-pelan kak," ucap Kael lembut sambil menaruh gelas di tangan Nana.
"Udah," ucap Nana lemas. Ia menaruh piring di tangannya.
"Nggak, kakak harus makan. Kakak punya maag. Biar gue suapin," ucap Kael posesif. Ia langsung menyodorkan sesendok makanan pada Nana.
Dengan sangat terpaksa Nana menerima suapan Kael, ia terlalu lemas untuk memulai pertengkaran dengan adiknya itu.
Setelah beberapa suap Nana meminta Kael untuk berhenti menyuapinya, rasa makanan itu terlalu pahit di lidahnya. Setelah minum, Kael memberikan sebuah pil obat kepada Nana.
"Ini di makan sekarang. Obat demamnya di makan agak nanti aja," Nana mengangguk sambil memakan obat yang Kael berikan kepadanya.
"Kenapa lo nggak sekolah?" tanya Nana dengan suara sedikit serak.
"Terus yang jagain lo siapa?" tanya Kael mencibir.
Nana menghembuskan napas pelan, adiknya ini memang tidak bisa bicara baik-baik, kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu membuat Nana naik darah. Tapi sekarang Nana berusah Loa menahan kemarahannya, sekarang dirinya sedang sakit, kalau ia bertengkar dengan adik kandungnya itu, siapa lagi yang akan menjaganya.
"Lo udah buat surat izin kakak?" tanya Nana mengalihkan pembicaraan.
"Tadi gue udah suruh Kak Fian, sekalian sama surat izin gue. Gue nggak bisa biarin kakak di rumah sendirian," Nana terkejut dengan penjelasan Kael.
"Kenapa Lo suruh Kak Fian?" tanya Nana berusaha sabar, karena memang posisinya Kael belum tahu jika hubungannya dengan pria itu sudah kandas.
"Emang kenapa? Dia nggak ngampus katanya hari ini," ucap Kael santai.
"Serah lah," sahut Nana kesal. Lagipula Kael memang tidak tahu kalau ia dan Fian sudah putus. Ia tidak bisa memberitahunya, Fian dan Kael sudah sangat dekat. Ia tidak ingin membuat rasa percaya Kael pada Fian hilang karena masalahnya.
"Sekarang jam berapa?" tanya Nana.
Kael melihat jam tangannya,
"Jam tiga," ucap Kael.
Nana terkejut dengan jawaban Kael. Kalau sekarang sudah jam tiga, berarti ia sudah tidur selama 10 jam sejak tadi pagi.
"Kebo banget gue," batin Nana pedih.
Kael berdiri, ia membawa nampan makanan itu keluar dari kamar. Kael langsung mencuci piring bekas kakaknya. Lalu setelah itu mengambil sapu untuk menyapu bagian dapur dan ruang tamu saja, karena selainnya sudah ia bersihkan tadi pagi.
Ya, Kael melakukan semua itu sendiri. Ia selalu melakukan pekerjaan ringan seperti ini setiap hari di bantu dengan Nana tentunya, ia cukup sadar diri untuk tidak merepotkan kakaknya melakukan pekerjaan rumah sendiri, apalagi disaat sedang sakit seperti sekarang.
Setelah selesai menyapu lantai ruang tamu, ia hendak kembali ke kamar kakaknya, tapi terhenti saat terdengar suara bel dan ketukan dari pintu utama. Kael menaruh sapunya, lalu berjalan untuk membukakan pintu.
"Kak Kana, Kak Lisya," ucap Kael saat melihat Kana, Lisya, dan beberapa wanita di sekitar mereka.
Beberapa gadis itu terpekik kecil setelah melihat wajah tampan Kael, apalagi tatapan tajamnya membuat kesan ketampanannya semakin terlihat.
"Mereka teman sekelas gue, kita mau jenguk Nana," ucap Kana.
"Oh, masuk aja,"
Kael memutar tubuhnya, lalu berjalan mendahului para gadis teman sekelas kakaknya itu.
"Na, itu beneran adiknya Nana?" tanya Sasha.
"Hm," jawab Kana seadanya.
"Gila! Ganteng banget,"
"Nana aja cantik kayak gitu, adeknya ya nurun lah," timpal Lala.
Kana dan Lisya hanya diam, mereka tidak menanggapi bahan obrolan teman-temannya itu. Di samping Kana yang memang cenderung bersifat pendiam, Lisya pun tidak punya nyali untuk kembali berbicara. Ia merasa sangat bersalah kepada Nana, apalagi setelah kejadian beberapa hari ini yang ia yakini adalah penyebab Nana menjadi sakit.
Waktu itu, Nana langsung pulang karena tidak enak badan. Dan hal itu membuat Lisya dan teman-teman sekelasnya khawatir dengan keadaan Nana, mereka juga sama merasa bersalahnya pada Nana. Maka dari itu, hari ini mereka datang untuk menjenguk sekaligus meminta maaf pada Nana.
Kael membuka pintu kamar Nana, sekarang Nana sedang duduk bersandar pada bantal yang ia taruh berdiri di tempat tidurnya.
"Ada temen-temen kakak," ucap Kael singkat. Lalu mempersilahkan teman-teman kakaknya itu untuk masuk ke dalam. Lalu setelah itu ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk para gadis itu.
Nana meletakkan ponselnya, ia tidak menyangka akan melihat mereka secepat ini. Jujur saja, ia masih belum siap berhadapan dengan mereka. Nana menundukkan kepalanya canggung.
"Nana!!" Lisya langsung berlari dan menghamburkan pelukannya pada Nana, membuat Nana terkejut. Beberapa saat kemudian Lisya melepaskan pelukannya, lalu menatap Nana dengan mata berair menahan tangis.
"Maafin gue. Gue udah salah sama Lo, gue udah jahat sama Lo, maafin gue," ucap Lisya lalu kembali memeluk Nana erat.
Nana tersentuh dengan ucapan Lisya, ia tersenyum lalu membalas pelukan Lisya. Jujur, ia sangat merindukan sahabatnya ini. Ia tidak bila lama-lama jauh dari Lisya maupun Kana, mereka berdua sangat berharga untuknya. Lalu untuk Klara? Sepertinya tidak perlu ditanyakan lagi.
Lisya melepaskan pelukannya, lalu mengusap air matanya.
"Maafin gue ya. Gara-gara gue, Lo sampai sakit kayak gini," ucap Lisya merasa bersalah.
Nana terkekeh pelan, "Gue sakit karena emang waktunya sakit. Bukan karena Lo atau siapapun Sya," ucap Nana. Lisya mengangguk ringan, sahabatnya ini selalu rendah hati seperti biasanya.
Sedangkan di depan pintu, teman-teman Nana yang lainnya sibuk berdebat untuk memilih salah seorang untuk meminta maaf pada Nana. Hingga Lala kesal, dan ia menunjuk dirinya sendiri sebagai perwakilan. Toh cuma minta maaf saja, itu tidak akan melukai harga dirinya, karena ia juga merasa bersalah di sini.
"Emm... Na, kita juga mau minta maaf sama Lo. Kita udah keterlaluan sama Lo, maafin kita ya?" ucap Lala mewakili teman-temannya.
Nana mengalihkan pandangannya pada Lala,
"Iya, gue nggak papa kok," ucap Nana dengan hati malaikatnya itu.
Lalu suasana hening, tiba-tiba atmosfer di antara mereka menebal, membuat keadaan semakin dingin dan kaku.
"Gimana kalau di ruang tamu aja. Daripada berdiri kan?" ucap Nana sambil beranjak dari tempat tidurnya.
"Nggak. Lo tiduran aja Na," ucap Nada
"Iya, Lo masih sakit Na," timpal Lisya.
"Gue nggak papa kok, yuk!" ajak Nana.
Mereka keluar dari kamar Nana. Dan tepat saat Nana akan melewati ambang pintu, Kael meraih tangannya.
"Mau ke mana?" tanya Kael,
"Ke ruang tamu," jawab Nana.
"Lo masih sakit kak," peringat Kael.
"Gue gak papa," ucap Nana kekeh.
"Aw!" Kael mencubit perut kakaknya itu gemas. Di saat sakit seperti inipun kakaknya itu masih bisa keras kepala.
"Sakit tau El," Nana mengerucutkan bibirnya kesal.
Kael tidak bicara, ia membantu kakaknya untuk berjalan ke ruang tamu. Dan perlakuan manis Kael kepada kakaknya itu pun tidak luput dari tatapan teman-teman Nana. Kael berhasil membuat teman-teman Nana kagum dengan sikap manisnya kepada sang kakak.
"Itu mereka manis banget sih. Adek gue aja nggak pernah kayak gitu sama gue,"
"Mereka nggak sister complex kan?" tanya Sasha dengan wajah polosnya.
"Mulut Lo!" ucap Lisya memperingatkan. Sedangkan Kana hanya memutar bola matanya malas. Tidak tahu saja mereka kalau kedua kakak beradik itu seperti apa di hari-hari biasanya. Berdebat? Adu otot? Sampai jambak-jambakan pun Kana sudah pernah melihatnya dan itupun hanya karena perkara remote tv.
Kael mendudukkan kakaknya di samping tempat Kana yang masih kosong.
"Gue ambil minum dulu," ucap Kael.
"Eh nggak usah dek. Nggak usah repot-repot,"
"Iya dek, nggak usah,"
Kael menghentikan langkahnya lalu melirik para gadis itu.
"Gue nggak repot," ucap Kael singkat lalu pergi ke dapur.
"Ihh gila. Cool banget, calon sweet boy itumah,"
"Ganteng banget gila!"
.
.
.
Malam harinya Nana sudah merasa agak mendingan. Ia merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik setelah kehadiran teman-teman sekelasnya tadi. Sepertinya memang benar, ia sakit karena terlalu memikirkan masalah itu.
Nana masih asik memainkan ponselnya, sedangkan sekarang di sampingnya ada Kael yang sedang asik menonton pertandingan sepakbola di tv. Ini sudah menjadi kegiatan mereka setiap malam, tapi biasanya mereka menonton sinetron pilihan Nana, sedangkan hari ini Nana harus mengalah karena adiknya itu tidak bisa melewatkan pertandingan perebutan bola di atas rumput hijau itu, apalagi kalau tim kesukaannya yang bermain.
Nana yang sedang menonton vidio-vidio lucu di facebooknya itu beralih dengan sebuah pesan chat dari aplikasi w******p miliknya. Nama 'Darrel' terlihat di layar paling atas ponselnya, ia menyentuhnya agar bisa melihat detail pesan yang dikirimkan Darrel kepadanya.
Darrel
Cil
Lu bnran sakit?
Lalu Nana dengan lincah membalas pesan dari Darrel tersebut.
To: Darrel
Iya tadi, sekarang udah sembuh?
Tak lama kemudian pesannya terbaca, dan Darrel kembali mengetikkan sesuatu.
Darrel
Besok sekolah?
To: Darrel
Iya, gue udah sembuh
Di tempat lain, Darrel sekarang sedang berada di tongkrongan bersama teman-temannya. Di sekitarnya sudah ada banyak cowok yang saat ini sedang berbincang, merokok, vc dengan pacar, main game, nge-t****k, bahkan yang bertingkah lebay pun ada. Sedangkan Darrel saat ini sedang merokok sambil berbalas pesan dengan pacar imutnya, Nana.
Setelah mengakhiri balas berbalas pesan dengan Nana, Darrel pun mengalihkan pandangannya pada teman-temannya.
"Lo tau gak apa bedanya durian sama cewek?" tanya Gavin dengan suara bass khasnya
"Apa tuh?" sahut Darrel.
"Kalau durian baunya nggak enak tapi rasanya enak. Kalau cewek, udah baunya wangi rasanya enak lagi," ucap Gavin yang langsung diberikan tepuk tangan dari Gavin sendiri tentunya. Sedangkan yang lainnya hanya menanggapi Gavin dengan senyuman tipis, lalu kembali melakukan kegiatan mereka.
"Si Jepang ke mana?" tanya Gavin sambil mengedarkan pandangannya.
"Palingan lagi mojok," jawab Johan, atau yang lebih akrab dipanggil Jojo itu.
Darrel melihat notif pesan dari ponselnya.
"Pergi ah...apel cewek-cewek gue. Bye!"
"Bangke Lo!"
Darrel beranjak dari tempatnya, lalu mengambil kunci motor di meja dan pergi keluar dari basecamp genk-nya. Biasa, kegiatan rutin Darrel setiap harinya, apel gebetan barunya.
.
.
.