Apa yang terjadi bukanlah patokan untuk masa kini. Dan apa yang sekarang kamu lakukan, bisa menjadi hal yang akan kamu banggakan atau malah kamu sesalkan di masa depan-- Darrell's Is Mine
Nana terpaksa menunggu bus di halte karena taksi yang tadi ia tumpangi mendadak mogok dan tidak bisa mengantarnya sampai ke sekolah. Biasanya Nana akan berangkat bersama Kael, adiknya. Tapi, hari ini Kael harus berangkat pagi- pagi untuk mempersiapkan suatu acara di sekolahannya. Biasalah, anak OSIS kan memang selalu sibuk.
Berkali-kali Nana melihat jam tangannya, sudah terhitung lebih dari 15 menit Nana menunggu, jangankan bus, ia bahkan tidak melihat satu kendaraan pun sedari tadi. Hingga matanya menatap sebuah moge yang berjalan ke arahnya, lalu berhenti tepat di depannya.
Nana menghela napas pelan, lalu melangkah mundur untuk menjauhi Fian yang sekarang masih duduk di atas motor sambil melepaskan helmnya.
Fian turun dari motornya, lalu mendekati Nana yang mulai tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Na,"
Nana menatap ke arah lain, ke manapun asal ia tidak melihat wajah cowok b******k di hadapannya ini.
"Kamu masih sakit?" tanya cowok itu. Nana yakin jika pria itu hanya berbasa- basi saja dengannya.
"Menurut Lo?" Nana memutar bola matanya sembari mengalihkan pandangan malas, memangnya respon apa yang harus ia berikan pada orang yang sudah mengkhianatinya.
Fian menatap Nana dengan tatapan sendu, ini pertama kalinya gadis itu bersikap ketus kepadanya selama hampir tiga tahun mereka berpacaran, "Aku minta maaf," ucap Fian menyesal.
Nana berdecak pelan. Enak aja udah nyakitin terus minta maaf. Maaf, maaf aja ya. Walaupun Nana adalah tipe orang yang sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain, tapi tidak dengan cowok di depannya ini. Benar kata orang, mantan adalah sampah, termasuk perbuatan dan semua ucapannya. Termasuk permintaan maafnya, sama-sama sampah seperti orangnya.
Fian menatap Nana sendu. Tatapan Nana kepadanya berubah. Nana-nya yang hangat dan ceria sudah tidak ada, kini Nana hanyalah Nana, bukan miliknya lagi. Ia tidak menyangka kalau Nana akan berubah sampai sejauh ini,
"Kamu beneran udah sembuh Na?" tanya Fian tidak menyerah.
Nana menghela napas, "Maafin Kael karena kemarin udah nyuruh-nyuruh Lo. Nanti biar gue kasih tahu..."
"Gue- Lo?" Fian menatap Nana yang mengganti nama panggilan mereka. Bodoh! Memangnya apa yang ia harapkan sekarang, Nana akan tetap menjadi Nana-nya setelah apa yang sudah ia lakukan? Jangan bodoh, Fian!
"Aku nggak papa Na. Kalau kamu butuh bantuan, aku bakal selalu sempatin bantu selagi aku bisa," Nana menatap Fian malas. Pria itu semakin menyebalkan saja, padahal dulu kehadiran Fian sangat berarti bagi Nana. Entahlah, itu hanya masa lalu, lebih tepatnya mimpi buruk untuknya.
Nana menatap jalanan, dan ia tersenyum senang saat melihat sebuah motor berhenti di belakang motor Fian. Lalu setelahnya cowok itu turun dari motornya dan mendorong Fian hingga hampir membuat Fian tersungkur jika pria itu tidak segera menyeimbangkan tubuhnya.
Darrel merengkuh bahu Nana, lalu menatap Fian dengan tatapan angkuh. Nana sedikit terkejut dengan perlakuan Darrel. Ini pertama kalinya ia dipeluk oleh seorang pria selain ayah, Kael, dan tentu saja Fian, mantan pacarnya. Dulu tidak ada yang berani melakukan skinship dengannya, karena Nana akan menolak dengan tegas dan mengatakan kalau ia sudah punya Fian sebagai pacarnya. Entahlah, ia merasa sangat bodoh jika mengingat semua itu.
"Bukannya Lo udah punya cewek baru bang?" tanya Darrel sinis.
Fian menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya.
Nana melihat jam tangannya, dan terkejut saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih lima menit.
"Darrel, ayo berangkat. Kurang lima menit lagi bel masuk, ayo!" Nana menarik tangan Darrel.
Darrel menatap kakaknya dengan senyum kemenangan. Lalu ia segera naik ke motor, karena Nana terus mendorong tubuhnya untuk segera berangkat. Darrel menge-gas berkali-kali motornya, seolah sedang meremehkan Fian atas kekalahannya tentang Nana. Fian hanya menatap Darrel kesal, lalu Darrel menjalankan motornya setelah mendapat cubitan dari gadis di belakangnya ini.
"Iya sayang. Kita berangkat," ucap Darrel menanggapi Nana.
Fian menatap kepergian motor Fian. Ia hanya bisa menyesal karena semua ini. Ia pasti sudah sangat menyakiti Nana. Percaya atau tidak, Fian sepertinya sudah punya perasaan pada Nana.
Flashback on
Setelah pulang dari sekolah, Fian langsung menjemput adiknya yang sedang berlatih sepakbola di sekolahannya. Saat itu Fian sudah kelas 11 SMA, sedangkan Darrel masih kelas 8 SMP.
Fian menunggu Darrel di luar gedung tempat berlatih sepakbola di sekolah itu.
Seorang siswi tiba-tiba tersandung di samping motor Fian, bahkan sampai beberapa buku yang ada ditangannya berserakan di tanah. Fian pun secara reflek turun dari motornya untuk membantu gadis itu.
Gadis itu segera menunduk dan mengambil bukunya, dan kalau Fian tidak salah, ia melihat gadis itu menangis masih dengan posisi menunduk.
"Lo gak papa?" Gadis itu menggeleng pelan.
"Aku nggak papa,"
Flashback of
Dan sepertinya dari jawaban itulah Fian mulai ingin mencari tahu tentang gadis itu. Hingga timbul rasa cinta padanya, dan berakhir menyakiti gadis lain demi egonya sendiri.
"Maafin gue Na,"
.
.
.
Darrel memilih jalan tikus untuk mereka lewati, karena bel masuk akan segera berbunyi, dan karena Nana tidak memakai helm. Ia tidak ingin mengambil resiko yang malah akan membuatnya dalam masalah nantinya.
"Pegangan! Gue ngebut!" teriak Darrel.
Dengan reflek Nana memegangi seragam Darrel karena pria itu secara tiba-tiba menaikkan kecepatannya. Tapi karena kecepatannya itulah mereka dapat tiba di sekolahan tepat waktu, dan tepat saat motor Darrel masuk melewati gerbang sekolah, bel pertanda dimulainya jam pelajaran langsung berbunyi.
Nana segera turun dari motor Darrel.
"Makasih! Gue duluan!" ucap Nana sambil berlari cepat ke kelasnya.
Darrel tersenyum tipis di balik helmnya. Sikap Nana benar-benar masih sama seperti dulu. Dulu memang Nana dan Darrel cukup dekat karena Nana menganggap Darrel sebagai adik iparnya, Nana juga selalu marah jika Darrel membuat seorang gadis menangis karenanya, dan juga akan tersenyum cerah saat ia membuat candaan-candaan lucu untuk gadis itu. Lebih lucunya lagi, dulu Nana sering memaksanya untuk memanggil gadis itu dengan sebutan 'Kakak Ipar' yang sangat membuat Darrel kesal dan jengkel. Tapi Darrel tidak bisa apa-apa, ia hanya menuruti permintaan gila gadis itu.
"Dari kakak ipar, jadi pacar," ucap Darrel geli. Lalu ia turun dari motornya.
.
.
.
Nana mengembungkan pipinya, membuatnya terlihat sangat imut. Ia hanya duduk di samping Kana sambil memperhatikan sahabatnya yang saat ini sedang bermain game. Entah game apa itu Nana tidak mengerti, tidak pernah mengerti tepatnya.
Di jam kosong seperti ini Kana pasti menghabiskan waktunya dengan bermain game. Entah apa yang terjadi, walaupun Kana sering terlihat bermain game, tapi nilai akademiknya pasti selalu bagus, bahkan Kana tidak pernah absen peringkat tiga besar selama di SMA. Dan tentunya itu membuat banyak orang iri dengannya.
"Na!" panggil Lisya yang saat ini sedang menonton drama Korea di tempat duduknya.
"Kenapa?" tanya Nana.
"Request drama China dong, udah tamat ini," ucap Lisya sengaja mengeraskan suaranya, untuk mengganggu fokus Kana tentunya. Sedangkan Kana hanya mendesis kecil tanpa menanggapinya.
Nana mengangguk singkat, lalu hendak menyobek kertas untuk menuliskan yang Lisya minta, agar ia tidak perlu berbicara yang malah akan mengganggu sahabatnya bermain game. Ingatlah, Nana benar-benar manusia dengan hati malaikat.
Tanpa bicara Kana langsung berdiri, dan duduk di tempat duduk yang sebelumnya merupakan milik Klara, namun, berhubung Klara tidak masuk hari ini, jadi ia bisa menempatinya dengan bebas.
Nana menatap kepergian Kana, sedangkan Lisya tertawa kecil melihat kekesalan Kana. Ia membawa laptopnya ke meja Kana.
"Lo mau nonton apa? Kuy lah, mumpung wifinya belum ganti password," ucap Lisya.
Ya, Lisya selalu menggunakan wifi yang berada di ruang komputer di samping kelasnya, tentunya dari Kana yang sudah sangat ahli dalam hal curi-mencuri password WiFi untuknya bermain game. Sebenarnya sekolahan juga menyediakan Wi-Fi untuk seluruh penghuni sekolah. Tapi terkadang lemot, bahkan sampai menyebabkan trouble. Jadi, mumpung kelas mereka dekat dengan lab komputer, dan mereka lebih memilih yang dekat dan membuat nyaman. Kek yang virtual tuh...
"Gimana kalau Put Your Head On My Shoulder. Pernah viral dramanya, katanya sih bikin baper, tapi nggak tau juga. Masih mau nonton, tapi ketunda terus sama tugas," ucap Nana lesu.
"Kuyy!" Lisya dengan sangat cepat mengetikkan judul drama yang Nana sebutkan di salah satu aplikasi khusus nonton drama China yang ia miliki.
.
.
.
Sedari tadi Lisya tidak bisa berhenti menggerutu. Bagaimana tidak? Tadi ia pikir guru akan benar-benar tidak datang, pasalnya sudah tiga puluh menit terlewat. Tapi malah dengan sangat percaya dirinya guru itu datang dan mengajar, bahkan hingga mengambil banyak waktu jam istirahat untuk mengajarkan materinya.
Sedangkan Kana dan Nana yang ada di sampingnya hanya diam. Tidak ada yang berniat mengganggu Lisya, karena itu tidak akan ada habisnya. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju kantin.
"Cowok Lo tuh," bisik Kana pada Nana.
Mereka menatap Darrel dan Gavin yang entah sedang membicarakan apa di salah satu meja kantin. Sebenarnya Nana tidak peduli, toh hubungannya dengan Darrel hanya sebatas untuk menyenangkannya saja. Berpikir tentang hubungannya dan Darrel, Nana jadi merasa bersalah pada pria itu. Karena kesannya, seperti ia yang hanya memanfaatkan kebaikan pria itu saja. Walaupun memang itulah kebenarannya.
Nana tersenyum, lalu menggenggam tangan Kana dan Lisya, membawa mereka mendekati meja yang ditempati Darrel dan Gavin.
"Boleh duduk di sini nggak?" tanya Nana menghentikan obrolan dua pria tampan itu.
"Eh Na, boleh kok. Ada pacar aja, pake izin-izin segala," ucap Gavin menggoda Nana.
"Yuk!" ajak Nana pada kedua sahabatnya itu.
Lisya terkejut dengan tindakan Nana. Ia menahan napasnya saat Nana menyuruhnya untuk duduk di samping Gavin. Sedangkan sang pelaku hanya tersenyum untuk menggodanya. Jelas saja, karena Nana sudah mengetahui tentang perasaan Lisya pada pria di sampingnya itu.
"Hai. Gue nggak pernah liat Lo deh kayaknya, anak baru?" tanya Gavin membuka suara.
"Ah... aku?" tanya Lisya gugup,
"Iya. Soalnya gue udah kenal sama Nana, sama si cewek judes itu gue juga udah kenal. Tapi Lo belum, siapa namanya?" tanya Gavin lagi.
Kana yang mendengar namanya disebut langsung memberikan tatapan tajamnya pada Gavin.
"Bercanda elah," ujar Gavin setelah menyadari tatapan itu.
Lidah Lisya kelu, ia tidak tahu harus bicara apa. Terlalu mendebarkan untuk berbicara secara langsung dengan pangeran berkudanya itu.
"Dia Lisya, bukan anak baru kok," ucap Nana mewakili Lisya.
"Yang ditanya dia, bukan Lo." sahut Darrel.
Nana menampilkan wajah polosnya, "Emang salah ya?"
Darrel gemas sendiri dengan sikap polos gadisnya ini. Ia mengacak poni Nana, membuat gadis itu mengerutkan bibirnya kesal karena sudah rambutnya berantakan.
"Apaan sih Rel," kesal Nana sambil merapihkan rambutnya.
"Mau makan apa? Gue beliin," ucap Darrel.
"Nasi campur," ucap Kana.
Darrel menatap Kana bingung,
"Yang gue tanya cewek gue. Lo siapa?" tanya Darrel dengan wajah menyebalkannya.
"Ayam geprek aja, minumnya lemon tie," sahut Nana dengan terkekeh kecil menyadari tingkah absurd Kana.
Darrel langsung berdiri dan pergi untuk membeli makanan pesanan Nana. Sedangkan Kana mengetatkan rahangnya kesal karena Darrel tidak menanggapi pesanannya.
"Bi... biar gue yang pesenin Na," ucap Lisya yang langsung pergi begitu saja dari sana.
"Temen Lo kenapa?" tanya Gavin bingung dengan tingkah aneh Lisya.
Kana dan Nana sama-sama mengendikkan bahu. Tidak mungkin juga mereka bilang kalau Lisya seperti itu karena gugup dekat dengan Gavin.
Untuk rahasia ini akan aman, walaupun hanya sementara.
.
.
.