Darrel pulang ke rumah untuk pertama kalinya dalam minggu ini. Matanya menyapu ke seluruh penjuru rumah, tidak ada siapapun di dalam rumah mewah itu. Sedikit lega, karena ia tidak perlu mendengarkan omelan- omelan dari ayahnya yang hanya akan merusak gendang telinganya. Ia langsung pergi ke kamar untuk mengambil bagi- bajunya, terutama seragam sekolah. Setelah dianggap cukup, ia pergi ke dapur untuk menaruh pakaian kotornya di keranjang.
Aneh memang, Darrel tidak tinggal di rumah. Tapi, semua pakaian kotornya tetap asisten rumah tangga rumah ini yang mencucinya. Sebenarnya itu bukan permintaannya semata, tapi ibunya. Ibunya itu tidak ingin ia pergi dari rumah ini, tapi Darrel tetap memaksa pergi. Akhirnya ibu Darrel menyuruhnya untuk selalu membawa pakaian kotornya ke rumah seminggu sekali, agar Darrel tetap pulang walaupun tinggal di luar rumah.
Kegiatannya itu tidak luput dari pandangan Fian yang sekarang berada di belakangnya. Setelah urusannya selesai, Darrel membalikkan badannya. Ia menatap malas ke arah kakaknya. Lalu melewatinya begitu saja, tanpa bertukar sapa atau apapun.
Darrel mengambil tasnya yang ia taruh di atas meja makan.
"Ngapain Lo ngikutin gue?" tanya Darrel tanpa membalikkan badannya.
"Jauhin Nana," ucap Fian sambil memegang bahu kanan Darrel.
Darrel tersenyum sinis, lalu membalikkan badannya agar ia berhadapan dengan Fian.
"Dia cuma mantan Lo! Mantan!" ucap Darrel menekankan. Lalu ia berlalu pergi dari rumah itu meninggalkan Fian.
Bukan tanpa alasan Fian menyuruh Darrel menjauhi Nana. Fian tahu sendiri karakter adiknya itu, Darrel tidak pernah serius dengan wanita manapun. Dan itu yang Fian takutkan, ia takut Darrel juga memperlakukan Nana sama dengan wanita-wanita lainnya. Nana terlalu polos untuk pria seperti Darrel. Tapi ia tidak bisa apapun, Nana juga menjadi sangat sulit diperingatkan.
Fian mengacak rambutnya frustasi, semua masalah ini berawal darinya, bahkan Nana pun ikut mendapatkan akibat dari perbuatan gilanya itu. Bodoh emang,
.
.
.
Senyuman di bibir Nana tidak kunjung pudar. Ia terlalu bahagia setelah kemarin malam maraton film China yang benar-benar membuatnya bahagia seperti sekarang. Membuat seorang Nana senang itu hal yang mudah, hanya dengan hal kecil saja dapat membuat Nana menampilkan senyuman manisnya. Dan kalau ingin membuat Nana jadi kacau juga mudah, tinggal mengkhianati dia saja, dijamin Nana akan benar- benar marah, semarah- marahnya kepada orang itu.
"Manis banget neng," goda Candra, teman sekelasnya.
"Makasih Candra," balas Nana sambil menunjukkan deretan gigi rapinya.
Ia menghampiri Lisya yang sedang mengerjakan pr.
"Lo udah Na?" tanya Lisya saat melihat Nana di samping mejanya.
"Udah dong," jawab Nana. Ya begitulah, kalau mood Nana sedang baik, semuanya pun dapat diatasinya, dan begitupun sebaliknya, jika mood- nya buruk, jalankan tugas, berjalan saja kalau ia tidak mood akan membutuhkan waktu lima jam untuk jarak 1 meter saja.
Nana pergi ke tempat duduknya. Kursi di sampingnya masih kosong, pertanda kalau Kana belum tiba.
Nana mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu membukanya. Sebuah notif pesan dari nomor tidak dikenal langsung terlihat setelah ia mengaktifkan data selulernya. Ia memencetnya untuk melihat isi pesan itu.
+62134***
Pliss Na, jauhin Darrel dia nggak baik buat Lo,
Nana mengernyitkan matanya bingung, lalu membuka foto profil dari nomor tidak dikenal itu.
Nana langsung menghapus pesan itu setelah melihat Fian di foto profil itu. Mood-nya langsung berubah setelah membaca pesan itu. Ia semakin kesal dengan mantannya itu. Darrel nggak baik untuknya? Nggak ada kaca apa di rumah. Jelas- jelas kalau pria itu sendiri yang sudah menyakitinya, dan sekarang pria itu juga yang berusaha menjauhkannya dari pria lain.
Mau membuatnya gagal move on? Eitss... Tidak akan bisa! Seorang Aqilla Nadine Chalondra tidak akan bertekuk lutut pada pria sama untuk kedua kalinya. Apalagi pria yang sudah mengkhianatinya, tentu saja Nana tidak akan sebodoh itu.
Setelah menyelesaikan pr-nya, Lisya langsung pindah ke kursi Kana karena seseorang yang duduk satu mejanya itu sudah datang.
"Kenapa Lo?"
Seketika Nana tersadar dari lamunannya, lalu menatap Lisya.
"Oh iya, kemarin itu gue nonton Go Go Squid. Beneran deh, itu rekomen banget. Baper banget," ucap Nana mencari topik pembicaraan. Yah, beginilah Nana kalau sudah membicarakan drama kesukaannya.
"Lo cepet banget sih. Gue aja yang waktu itu belum kelar," ucap Lisya takjub.
"Lo maraton semaleman?" tanya Lisya curiga.
Nana menggeleng cepat, "Nggak kok. Kemarin pulang sekolah gue langsung nonton, terus jam enam gue tidur, terus jam sebelas bangun nonton. Terus gue tidur lagi tadi jam tiga, terus jam lima tadi bangun buat sholat," jelas Nana secara rinci.
"Terus?" tanya Lisya karena Nana banyak menggunakan kata 'terus' dalam ucapannya.
"Terus sekarang Lo minggir! Go away!" sahut Kana yang saat ini berdiri sambil membawa tasnya di samping mejanya.
Lisya menatap Kana, lalu tersenyum.
"Kana... Lo kan temen gue yang cantik dan baik hati, Lo duduk di sana dulu ya," ucap Lisya memohon sambil melirik Klara.
"Minggir!" ucap Kana tajam.
"Ishh, iya iya," Lisya menghentak- hentakkan kakinya kesal, lalu kembali duduk di tempat duduknya. Ia sengaja menggeser jauh tempat duduknya agar tidak berdekatan dengan Klara.
"Ngapain Lo senyum-senyum?" tanya Kana tanpa menatap Nana.
Nana terkekeh malu, "Hehe,"
Absurd memang, tapi inilah Nana yang asli. Bersikap polos, dan ceria, itulah ciri khas dari gadis cantik itu.
"Na, ajarin gue main game dong," pinta Nana saat Kana hendak membuka aplikasi game-nya.
"Adik Lo gamers juga kan?" tanya Kana yang lalu berkutat dengan game yang sudah tidak asing lagi di hadapan Nana.
"Kalau minta Kael, nanti dia marah- marah terus. Kesel gue," ucap Nana.
Kana tersenyum tipis, "Gue juga gitu Na," ucap Kana lirih.
"Lo main Talking Angela aja, itu bagus juga Na," ucap Kana mengimbuhi.
"Angela tuh kadang ngeselin tau nggak. Sok cantik banget lagi," ucap Nana mencibir.
"Serah Lo bocah," ucap Kana lirih.
.
.
.
Jam pelajaran sebelum istirahat pertama ko
song, jadilah kelas XI IPA 3 sangat ramai sekarang. Tapi mereka tidak keluar dari kelas, karena sudah ada peraturan dari wali kelas mereka. "Barang siapa keluar kelas sebelum waktu istirahat, tanpa alasan yang jelas, atau tidak izin pada guru
yang mengajar dan ketua kelas, maka anak itu harus menjalani hukuman piket selama satu bulan, dan membayar uang kas dua kali setiap minggunya," begitulah isi dhalil dari wali kelas mereka.
Namun berbeda lagi kalau wali kelas yang tidak masuk, mereka akan dengan sangat bebas keluar kelas, entah ke kantin atau ke manapun, karena hanya di saat inilah Raka, ketua kelas dapat diajak kompromi.
Nana dan Lisya duduk di lantai antara kursi Lisya dan Kana. Seperti biasanya, mereka akan membicarakan tentang drama ataupun novel yang ia tonton dan baca kemarin.
"Eunwoo itu ganteng banget gila!"
"Yang Yang juga nggak kalah ganteng kok, udah gitu cool banget lagi," ucap Nana membela idolanya.
For Your Information, Lisya itu pencinta Korea akut, spesifiknya ke drama dan idol. Sedangkan Nana lebih menyukai drama China daripada Korea.
"Emang indah ciptaan Tuhan," ucap Lisya sambil melihat foto-foto dari aktor Korea itu di ponselnya.
Nana mengambil ponselnya yang bergetar pelan di saku roknya. Itu notifikasi pesan dari Darrel yang mengatakan kalau pria itu akan ke kelasnya untuk mengajaknya pergi ke kantin bersama.
"Siapa Na? Mantan lo?!" tanya Lisya sedikit keras, berusaha menyindir Klara yang saat ini sedang belajar, mungkin cuma pura-pura saja.
"Bukan, Darrel," ucap Nana cepat.
Ucapan Nana terdengar sampai siswi-siswi di kelasnya yang sedang berkumpul di depan kelas.
"Sikat Na!! Jangan kasih kendor!" ucap Cici yang langsung disoraki teman-teman yang lainnya.
"SIAP!!" Bukan Nana, tapi Lisya. Nana memukul pelan paha Lisya.
"NA! DICARIIN COWOK LO!" teriak Cici lagi yang membuat Nana reflek langsung berdiri karena terkejut.
Nana merasa malu diperhatikan teman-teman sekelasnya yang kini tengah menggodanya. Ia menutup wajahnya, lalu menarik Lisya dan Kana untuk keluar dari kelas.
"Kenapa Lo?" tanya Darrel. Nana menoleh ke cowok di samping Darrel.
"Eh Kak Gavin," ucap Nana menggoda Lisya yang sekarang berdiri malu-malu di belakang Gavin.
"Eh Nana. Kenapa?" tanya Gavin balik.
Darrel menatap interaksi keduanya dengan malas. Lalu ia merangkul Nana dan membawa gadis itu untuk berjalan.
"Lu suka sama Gavin?" tanya Darrel berbisik.
"Nggak kok," jawab Nana polos. Namun jawaban itu belum bisa memuaskan perasaan aneh di d**a Darrel sekarang.
"Kenapa Lo care banget sama dia?" tanya Darrel sarkas.
"Yang suka itu bukan gue, tapi Lisya," ucap Nana berbisik sambil sesekali menoleh pada Lisya yang masih terlihat gugup saat Gavin mengajaknya bicara.
Darrel nampak berpikir sebentar lalu menggelengkan kepalanya, karena hal ini bukan urusannya.
Nana menurunkan tangan Darrel dari pundaknya. Ia sangat malu saat ia dan Darrel ditatap oleh beberapa orang yang berpapasan dengan mereka. Ia juga belum terlalu nyaman berinteraksi dengan Darrel sedekat ini.
"Kenapa?" tanya Darrel.
"Gue nggak biasa," cicit Nana.
Darrel malah kembali merangkul Nana setelah mendengar jawaban dari gadis itu.
"Darrel," lirih Nana.
"Lo harus biasa. Lupain Fian, dia bukan siapa-siapa Lo lagi. Sekarang gue yang pacar lo," ucap Darrel santai, namun terdengar tegas.
Nana mengangguk ragu, ucapan Darrel ada benarnya. Sekarang Darrel lah pacarnya. Ya, walaupun mereka berpacaran tanpa alasan yang jelas, tapi nyatanya Darrel-lah yang saat ini bersamanya. Ia harus terbiasa dengan pria itu.
"Makasih," ucap Nana pelan, membuat Darrel mengernyit bingung.
"Makasih pacar," ucap Nana tanpa sadar, membuat Darrel mengembangkan senyumannya.
.
.
.
Darrel pergi ke basecamp-nya setelah latihan futsal. Di dalam basecamp itu ada beberapa ruangan, tiga diantaranya adalah kamar tidur, satunya untuk kamar mandi, lalu satu lagi ruangan untuk mereka bersantai. Sebenarnya ini merupakan basecamp dari geng lain, tapi karena dulu ketua dari geng itu kalah taruhan, alhasil tempat ini menjadi milik Darrel dan teman- temannya karena taruhan yang mereka buat sendiri.
Di dalam sana semua anggota Victory berkumpul.
Ada Gavin, teman sekelas Darrel. Lalu Kevin dan Riko, teman sekelas Nana. Elang, Johan, Sam, dan Iko. Mereka bertemu secara tidak sengaja. Berawal dari balapan mereka menjadi teman dekat hingga sekarang. Umur mereka pun rata-rata sama. Hanya saja Elang, Sam, dan Iko sudah lulus sekolah. Kalau Elang dan Sam itu memang sudah seharusnya lulus, tapi kalau Iko itu sebenarnya seumuran Darrel, ia pernah ikut kelas akselerasi waktu SMP dulu.
Darrel, Gavin, dan Johan juga seumuran, tapi Johan berada di sekolah yang berbeda. Sedangkan Kevin dan Riko seumuran dengan Nana.
"Lo ditantang balapan," ucap Elang setelah melihat kehadiran Darrel.
"Siapa?"
Elang mengangkat sudut bibirnya sinis, "Lo bakal tahu nanti,"
.
.
.