Darrel bersama dengan Johan, atau yang lebih akrab dipanggil Jojo itu sudah tiba di arena balap liar yang akan dimulai. Hanya Darrel dan Jojo saja yang mengikuti balapan kali ini, karena hanya Darrel dan Jojo saja yang mendapatkan tantangannya. Entah dari siapa, Darrel dan Jojo tidak ada yang tahu siapa lawan mereka. Karena yang menerima tantangan ini adalah Elang.
"Rel, itu Fian kan?" tanya Jojo sambil menunjuk seorang pria yang saat ini sedang berbincang dengan beberapa pria lain di sana.
Darrel hanya tersenyum tipis, lalu ia naik ke atas motor merah yang sudah disiapkan untuknya. Dan sesuai tebakannya, musuhnya kali ini adalah Fian, kakaknya sendiri.
Fian mengambil motor satunya, lalu mensejajarkannya dengan motor yang ditumpangi Darrel.
"Yakin Lo?" tanya Darrel seolah meremehkan Fian.
Fian hanya menatap Darrel dingin, tanpa berniat membalas menjawab Darrel.
"Taruhan!" ucap Darrel sedikit keras.
"Kalau gue menang, Lo jauhin Nana," ucap Fian.
Darrel tertawa pelan, meremehkan kakaknya, memang benar-benar adik laknat.
"Kalau gue menang, sesuai perjanjian. 10 juta milik gue. Plus, jauhin Nana!" ucap Darrel dengan senyum sinis.
Fian menatap lurus ke depan. Tidak menganggap pentin ucapan Darrel. Mereka berdua memakai helm masing- masing. Lalu mereka langsung merajai jalanan setelah kain hitam putih itu terlempar ke udara.
Suara teriakan para wanita terdengar keras ketika kedua motor itu melaju cepat di jalanan.
Setelah melewati dua putaran, penumpang dengan motor berwarna merah lah yang menang. Sedangkan penumpang motor dibelakangnya terlihat frustasi. Pria itu langsung menghentikan motornya dan melepas helm-nya kasar. Fian menatap Darrel dengan napas terengah- engah, marah. Setelah dua tahun pun ia masih belum bisa mengalahkan adik kandungnya itu. Memang benar- benar sangat sial dirinya sekarang.
Darrel dengan kemenangannya dihampiri Jojo dan para wanita di sekitarnya. Yang menonton balapan ini cukup banyak, terutama dari kalangan wanita. Banyak dari mereka adalah penggemar si playboy Darrel, namun tak sedikit pula dari mereka merupakan penggemar si good boy Fian.
Jojo merangkul bahu Darrel bangga, "Keren Lo!" ucap Jojo bangga. Sahabatnya ini memang tidak bisa diragukan.
Darrel turun dari motornya, lalu menghampiri Fian yang sekarang pasti sangat frustasi karena kekalahannya ini. Apalagi ini bukan kekalahan Fian yang pertama.
Dua tahun yang lalu, mereka pernah sekali balapan karena suatu hal.
"Kalau gue menang, gue bakal pacaran sama Klara!" Itulah yang harus dipertaruhkan Fian kala itu. Dan sekarang ucapan itu kembali terulang, dengan wanita yang berbeda, dan tetap saja Darrel yang memenangkannya.
Sedangkan di tempat lain, seorang gadis sedang tengkurap dengan memangku kepalanya dengan bantal, lalu di hadapannya sekarang sudah ada laptop yang menampilkan drama baru yang sudah ia jadwalkan tonton hari ini.
Pertengkaran dua orang dengan bahasa Mandarin itu membuat Nana semakin gemas. Bahkan sangking gemasnya, ia sampai menggigit bantal di bawahnya sebagai pelampiasan.
Ia bebas menonton sampai malam karena Kael belum pulang dari sekolahan. Kalau Kael ada di rumah, pasti sekarang ia akan dipaksa tidur oleh adiknya itu. Kael selalu mengecek ke kamarnya setelah selesai menonton tv, dan Kael akan sangat marah saat mendapati Nana sedang mengerjakan tugas ataupun menonton drama sampai larut malam.
Perhatian Nana teralihkan oleh benda persegi panjang yang bergetar di samping laptopnya. Ia membuka pesan yang ternyata dari Darrel.
Darrel
Kalau lo blm tdr
Vc gw skrng!
Nana mengernyitkan dahinya bingung. Untuk apa Darrel menyuruhnya video call dengan pria itu semalam ini. Untuk mengobati rasa penasarannya, Nana mem-pouse dramanya, lalu menerima panggilan pria itu.
"Kenapa?" tanya Nana saat melihat Darrel yang terlihat di sekitar orang banyak.
"Kok Lo belum tidur?" Sebenarnya saat ini Darrel sedang sengaja membuat Fian kesal dengannya.
Sesekali Darrel melirik Fian yang kini masih berdiri di belakangnya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Darrel lagi.
"Lagi nonton," jawab Nana seadanya.
Darrel sengaja menyorot Fian ke dalam kameranya,
"Lo di mana sih?" tanya Nana saat ia seperti melihat Fian di belakang Darrel.
"Abis balapan sama mantan Lo. Terus gue menang," ucap Darrel mengeraskan suaranya, sengaja untuk membuat Fian semakin kesal.
Belum sempat Nana mencerna ucapan Darrel, tiba-tiba pria itu membalikkan badannya dan menggunakan kamera belakang untuk menyorot Fian yang sekarang berdiri di sana.
"DARREL! BALIKIN NGGAK KAMERANYA!" teriak Nana kesal, ia langsung mengarahkan kamera ponselnya ke langit-langit kamarnya. Ia masih sangat anti dengan yang namanya mantan.
Darrel tertawa renyah melihat respon Nana.
"Dia nggak mau lihat Lo katanya," ucap Darrel pada Fian. Sedangkan sekarang Fian sedang menahan mati-matian rasa ingin memukul laki-laki di depannya ini. Andai saja ia tak mengingat kalau Darrel adalah adiknya, pasti sekarang Darrel sudah masuk ICU. Atau malah sebaliknya,
"Yaudah ya By. Lo tidur gih, nanti sakit lo," ucap Darrel jahil.
Setelah Nana mematikan panggilannya, Darrel memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Lalu berjalan mendekati Fian.
"Jangan lupa 10 jutanya," ucap Darrel.
"Dan jangan lupa dengan taruhannya. Lo jauhin Nana, dia punya gue!" ucap Darrel menekankan.
Fian hanya dapat menahan kekesalannya saat ini. Wajahnya sudah sangat merah karena menahan amarah yang ia pendam sedari tadi.
"b*****t!"
Setelah mematikan panggilannya, Nana kembali berkutat dengan laptopnya. Mood-nya buruk setelah melihat wajah Fian, dan cara terbaik untuk mengembalikannya adalah dengan menonton wajah-wajah tampan di layar laptopnya itu. Belum lama Nana menonton, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka menampilkan Kael dengan wajah lelahnya.
Dengan cepat Nana langsung menutup laptopnya, lalu tersenyum canggung saat Kael menatapnya tajam seperti itu. Hanya dalam satu menit, Kael langsung menutup pintu kamar Nana.
Nana menatap kepergian Kael bingung. Tidak biasanya Kael diam saja saat mendapatinya menonton sampai larut seperti sekarang. Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi pada adiknya itu.
Nana menaruh laptopnya di atas meja belajarnya, lalu keluar dari kamar.
Ia mengetuk pelan pintu kamar Kael. Tidak ada jawaban, Nana masuk begitu saja ke dalam kamar Kael, dan betapa terkejutnya ia saat melihat adiknya duduk bersandar pada dinding sambil menangis.
"Kael!" Nana berlari mendekati Kael.
"Kenapa dek?" tanya Nana khawatir. Nana menyentuh dahi Kael, panas.
"Kamu demam,"
Nana membantu Kael untuk berdiri, tubuh adiknya benar-benar lemas, seperti sama sekali tidak mempunyai tenaga. Nana membantu Kael agar tiduran di atas ranjang.
Kael terlihat sangat kacau, wajahnya terlihat pucat, rambutnya acak-acakan. Entah apa yang sudah dialami oleh cowok itu tadi.
"Kamu ngerasain apa? Pusing? Perutnya sakit? Atau apa dek?" Nana tidak bisa menahan air matanya, ia sangat takut dengan keadaan Kael sekarang. Ia tidak pernah melihat Kael sampai seperti ini.
"Kael jawab kakak!" ucap Nana parau.
Kael tersenyum, ia langsung menarik kakaknya ke dalam pelukannya. Ia tidak bisa melihat kakaknya menangis, apalagi karena dirinya. Sesayang itu Kael terhadap Nana. Karena hanya Nana yang selalu mengerti keadaannya, lebih dari orang tua mereka sendiri.
"Gue nggak papa kak," ucap Kael lirih.
Nana melepaskan pelukan Kael.
"Kamu jangan tidur dulu. Kakak ambil makan sama obat," ucap Nana.
"Pokoknya jangan tidur dulu!" ucap Nana sebelum benar-benar keluar dari kamar Kael.
Kael tersenyum tipis, melihat kakaknya yang seperti ini membuat Kael merasa bahagia memiliki Nana sebagai kakaknya. Hanya Nana satu- satunya wanita yang peduli kepadanya, bahkan orang yang ia pikir menyayanginya pun tidak akan bisa menjadi Nana di saat seperti ini.
Nana kembali cepat dengan membawa makanan dan obat untuk Kael. Untung saja ia selalu sedia beberapa jenis obat di kotak P3K, jaga- jaga di saat-saat seperti ini.
Nana menyuapi Kael dengan telaten, raut wajahnya masih terlihat khawatir. Sesekali ia menyentuh dahi Kael yang malah semakin panas.
Setelah piring itu kosong, Nana menyodorkan obat pereda panas pada Kael, dan Kael menerimanya dengan tubuh lemas.
Setelah minum obat Kael langsung terlelap. Sedangkan Nana sekarang sudah kembali dari dapur sambil membawa baskom dan kain untuk mengompres Kael.
Nana merawat Kael dengan telaten. Ia mengompres dahi Kael. Lalu dengan segera membuka atasan Kael, Nana mengoleskan minyak angin di d**a sampai perut Kael.
Setelah itu Nana pergi ke almari Kael untuk menggantikan baju adiknya. Nana menyelimuti Kael, lalu terus mengompres adiknya, hingga tanpa sadar ia tertidur.
Paginya, Kael bangun dengan kepala yang masih sedikit pusing, ia mengambil kain di dahinya. Ia menatap kakaknya yang tidur di pinggir ranjangnya. Ia tersenyum tipis sambil mengusap lembut surai pendek Nana.
"Makasih kak," ucap Kael lirih.
Perlahan ia turun dari atas ranjang, lalu mengangkat Nana perlahan dan memindahkannya di atas tempat tidurnya, Nana pasti kecapekan karena sudah merawatnya semalaman.
Tak lama setelah Kael keluar dari kamar, Nana membuka kedua matanya.
"Sama-sama," Nana menaikkan selimut lembut adiknya itu, lalu kembali terlelap.
Ia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan bagus seperti ini, xixi.
.
.
.