Lagi, Klara kembali tidak masuk sekolah tanpa alasan. Ketidakhadiran Klara seolah bukan hal yang aneh lagi. Dalam satu bulan ini gadis itu sudah absen sebanyak 25 hari dengan alasan maupun tanpa alasan, artinya Klara terhitung masuk hanya satu hari saja. Dan hal itu membuat Bu Sri selaku wali kelas XI IPA 3 bingung dengan ketidakhadiran Klara di sekolahan. Ada yang bilang kalau Klara dibuli di kelas, tapi ia tidak dapat memastikannya. Akhirnya Bu Sri memutuskan untuk menanyakan masalah ini kepada murid-muridnya. Bu Sri bahkan rela meminta izin guru yang waktunya mengajar kelasnya untuk meminta waktu mendiskusikan masalah ini.
Kehadiran Bu Sri membuat seluruh murid kelas 11 IPA 3 terkejut, pasalnya hari ini tidak ada jam Kimia, mata pelajaran yang diajar Bu Sri di kelas mereka. Semua mulai menerka-nerka kedatangan Bu Sri ke kelas mereka.
"Kayaknya bahas masalah Klara ya?" tanya Nana lirih kepada Kana. Sedangkan Kana hanya mengangguk singkat, karena ia juga memikirkan hal yang sama dengan Nana.
"Selamat pagi anak-anak!" ucap Bu Sri setelah mendudukkan dirinya di kursi guru yang tersedia di depan kelas.
"PAGI BU!!" jawab murid-murid serentak.
"Kalian tahu kenapa ibu sekarang di sini?" tanya Bu Sri dengan aura tajam khas-nya.
Seluruh penghuni kelas itu diam, tidak ada yang menjawab pertanyaan wali kelas mereka. Bahkan Raka yang biasanya dapat dengan tegas menjawab pertanyaan para guru pun terdiam. Ia juga bingung akan mengatakan apa, karena satu kata yang keluar dari mulutnya itu dapat sangat berbahaya untuk teman- teman sekelasnya.
"KENAPA TIDAK ADA YANG MENJAWAB?!"
"Ibu dengar kalian buli Klara, benar?" tanya Bu Sri berusaha sabar.
Bu Sri memijat pelipisnya pusing. Percuma ia marah- marah, yang ada murid- muridnya akan semakin takut, dan ia juga tidak akan mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Bu Sri kembali bersuara, ia hanya menasehati mereka saja, tidak ada lagi bentakan. Semua muridnya hanya diam mendengarkan.
"Saya tidak bertanya apa masalah kalian dengan Klara. Jika yang saya dengar kalau kalian membuli Klara itu benar, saya harap kalian dapat bersikap dewasa, dan seenggaknya mau minta maaf pada Klara. Semua orang pasti pernah salah, jadi saya mohon kalian mengerti...."
.
.
.
"Pasti tuh nenek lampir laporan Bu Sri deh. Gedek banget gue," ucap Lisya dengan tangan seperti sedang memeras sesuatu. Lisya benar- benar tengah kesal sekarang.
Hampir seluruh siswi membicarakan hal yang sama dengan yang dibicarakan Lisya saat ini. Berbeda dengan para anak laki-laki yang memilih bermain game di pojok kelas. Ya begitulah, dinasehati bukannya sadar, malah membuat rasa kebencian mereka semakin besar.
Sedangkan Nana malah merasa bersalah pada Klara. Semua ini bermula dari masalahnya, hingga semua teman- temannya ikut campur dan Klara memilih menjauh. Ia memang membenci Klara yang mengkhianatinya, tapi hanya karena hal itu saja tidak mungkin membuatnya melupakan semua kenangan indahnya dengan Klara. Dan yang terpenting ini adalah masalah pribadinya dengan Klara, tapi tanpa sadar ia malah membawa teman- temannya untuk ikut membenci gadis itu.
Nana tersentak saat tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya, itu tangan Kana.
"Nggak usah dipikirin, ini bukan salah Lo," ucap Kana yang seolah tahu isi pikiran Nana saat ini.
"Bener Na. Nggak usah Lo pikiran tuh si pelakor, udah punya temen baik aja masih dipelakorin," ucap Lisya tak bisa menghilangkan kekesalannya.
"Bener kata Lisya. Dia udah dapet Fian, Lo udah ada Darrel, jadi semua impas. Lagipula Lo juga kan nggak minta orang- orang buat balik benci sama dia," ucap Kana berusaha menenangkan kegelisahan Nana.
"Tuh. Kana aja yang biasanya males ngomong aja udah bilang gitu. Udahlah Na, mending nanti Lo malam mingguan aja sama Kak Darrel, itung- itung makan gratis kan," ucap Lisya membuat Nana kembali berpikir.
"Oh iya, gue sama Darrel kan belum pernah nge-date," ucap Nana tanpa sadar.
.
.
.
Nana sudah mengirimkan pesan kepada Darrel untuk menunggunya di parkiran karena ia ingin pulang bersama pria itu, kebetulan Kael juga akan pulang malam lagi hari ini.
Nana pergi bersama Lisya. Nana pergi menghampiri Darrel, sedangkan Lisya menghampiri Gavin yang motornya bersebelahan dengan Darrel.
Ya, hubungan Lisya dan Gavin sudah semakin dekat, entah siapa yang mulai, tapi sekarang mereka sudah terlihat layaknya orang yang sedang berpacaran. Berangkat pulang sekolah bareng, ke kantin bareng, jalan bareng, chatting- an, VC, intinya kayak pacaran deh. Walaupun pada kenyataannya mereka memang belum pacaran. Lisya tidak peduli dengan Gavin yang menggantung perasaannya, dekat dengan pria itu saja sudah membuatnya bahagia.
"Kak Gavin, temen gue jangan digantung terus nanti diambil orang Lo," goda Nana membuat Gavin tersenyum kecil, sedangkan Lisya sekarang sudah semerah kepiting rebus sekarang.
"Iya Na," jawab Gavin pasrah.
Gavin segera mengajak Lisya untuk naik ke atas motornya, ia tidak bisa lama- lama. Karena nanti ia masih ada urusan dengan teman-temannya.
"Lo pilih kasih banget sih. Manggil dia Kak, tapi manggil gue nama doang. Gue kakak kelas Lo kalau Lo lupa," ungkap Darrel tidak terima. Ia menyentil kening Nana gemas.
"Bukannya pilih kasih, tapi emang udah kebiasaan panggil nama, dulu malah gue manggil Lo bukan Darrel, tapi adik..." Nana langsung menutup mulutnya rapat-rapat,
"Adek ipar gitu," sahut Darrel membuat Nana reflek memukulnya, Nana benar-benar malu kala mengingat kejadian beberapa bulan lalu,
Flashback On
"Lo itu calon adik ipar gue. Jadi gue harus manggil Lo adik ipar, terus Lo manggil gue kakak ipar. Itu yang bener," ucap Nana kekeh.
Darrel mengacak rambutnya kesal, "Oke Kakak Ipar, puas!"
Sedangkan Nana tersenyum saat Darrel menuruti permintaannya.
"Iya adik iparku,"
Flashback Of
"Udahlah, ayo pulang," Pipi Nana sudah sangat merah sekarang, Darrel selalu bisa membuatnya malu. Padahal dulu ia sering dibuat kesal dengan tingkah gila pria itu.
Darrel tersenyum senang, lalu memberikan helm pinjamannya pada Nana. Karena tadi Nana memberi tahunya secara mendadak kalau gadis itu akan pulang bersamanya, dan ia tidak memiliki persiapan, jadi ia lebih memilih meminjam dari temannya daripada harus cari jalan tikus untuk keselamatannya.
Saat Darrel akan memakai helm-nya, Nana menahan tangannya.
"Kenapa?"
"Emm...Nanti malming yuk," ajak Nana ragu.
"Ngapain?"
"Ih masa ngapain sih. Ya ngapain kek. Bukannya Lo udah sering malming sama pacar-pacar Lo dulu," ucap Nana mendadak kesal.
"Lah emang Lo pacar gue?" tanya Darrel menantang.
"Ih Darrel. Gue tuh cuma...cuma takut Kael curiga sama gue, soalnya biasanya gue kalau malam Minggu itu pasti jalan sama Fian," ucap Nana sedikit ragu, tapi itu memang benar. Kael sering curiga tentang hubungannya dengan Fian, jadi ia tidak berbohong.
"Fian lagi," ucap Darrel lirih, entah mengapa ia kesal saat mendengar nama Fian dari mulut Nana.
"Ya," ucap Darrel lalu memakai helm-nya dan naik ke atas motor.
Melihat Darrel yang tidak mendebatnya membuat Nana tersenyum senang, ia juga ikut naik ke atas motor Darrel yang lumayan tinggi itu. Dengan sedikit perjuangan akhirnya Nana bisa naik ke atas motor itu. Ini kali kedua Nana naik motor Darrel, kali pertama adalah saat taksi online pesanannya mogok tempo hari.
.
.
.
Setelah mengantarkan Nana pulang ke rumah dengan selamat, sekarang giliran Darrel yang pulang ke rumah karena ia baru saja mendapatkan panggilan dari ayahnya.
Darrel memarkirkan motornya di luar rumah. Karena kalau ia memarkirkannya di dalam, pasti nanti ia tidak akan bisa keluar hari ini.
Baru saja Darrel melangkahkan kakinya melewati pintu utama rumah itu, tiba-tiba sebuah tamparan mendarat mulus di pipinya hingga hampir membuatnya tersungkur ke lantai.
"AYAH!" Riska berlari mendekati putranya, ia tidak menyangka suaminya itu dapat berbuat sejauh ini pada putra bungsunya.
"Kamu nggak papa nak?" tanya Riska sambil memegang pipi Darrel yang memerah akibat tamparan Romeo, suaminya.
"Kenapa? Sakit? Masih berani kamu keluar lagi dari rumah ini?" tanya Romeo tajam.
Darrel menjauhkan tangan ibunya, lalu menatap tajam ayahnya.
"Bukannya ayah tahu sendiri kenapa aku keluar dari rumah?" tanya Darrel.
Romeo menghela napas berat,
"Bukannya ayah sendiri yang bilang kalau cuma Fian anak ayah. Itu kan yang Ayah bilang ke temen- temen Ayah?! Ayah nggak mau aku di hadapan Ayah, begitu kan?!"
Riska sudah tidak dapat menahan air matanya, sebagai seorang ibu dan istri ia merasa gagal karena tidak dapat membuat anak dan suaminya itu kembali dekat seperti dulu. Hatinya benar- benar sakit melihat semua ini.
"Udah Yah, Darrel sayang maafin ayah nak. Mama mohon," ucap Riska.
"Dia yang udah usir Darrel, jadi dia juga yang bakal memohon buat Darrel kembali ke rumah ini," ucap Darrel.
"Siapa yang bakal memo..."
"Saya tidak menyuruh Anda untuk melakukan hal itu. Permisi," ucap Darrel lalu membalikkan badannya dan langsung keluar dari rumah itu.
Dan tepat saat ia keluar, Fian hendak masuk ke dalam rumah.
"Silahkan menikmati hak milik orang lain," Darrel langsung pergi meninggalkan rumah itu, lalu pergi dengan motornya ke basecamp, hanya di sana tempat paling nyaman menurut Darrel. Tidak ada tekanan dan aturan, itu yang membuat Darrel tenang berada di sana daripada harus hidup mewah di rumah penuh drama ini.
.
.
.