Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Nana segera membersihkan masker kopi yang menempel di wajahnya sejak 15 menit yang lalu itu. Lalu pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian yang sudah ia siapkan tadi. Setelah memakai pakaian, Nana pergi ke depan cermin untuk memoles wajahnya. Memang sudah menjadi kebiasaan Nana untuk dandan setelah berganti pakaian, walaupun itu dapat membuat pakaiannya kotor terkena bedaknya.
Nana hanya memakai bedak Tipis di wajahnya, karena wajahnya sudah putih, apalagi setelah ia memakai masker andalannya tadi. Nana lebih suka merawat wajahnya dengan masker daripada menutupi wajahnya dengan make up. Bukannya Nana membenci gadis- gadis jaman sekarang yang sudah pandai berdandan. Jujur saja, Nana malah suka melihat gadis seusianya pandai berdandan. Karena berdandan bukanlah bakat yang dapat dimiliki oleh setiap orang, alasan yang sebenarnya adalah karena ia tidak tahu cara ber-make up, ia sering melihat video tutorial cara memoles wajah dengan make up, tapi yah... dirinya terlalu malas, dan terlalu menyayangkan uangnya.
Setelah itu Nana memberikan bibirnya pelembab bibir dan liptint tipis. Ia menyisir rambut pendeknya yang sekarang sudah super lembut itu karena tadi ia juga menyempatkan diri untuk memakai masker alami ke rambutnya. Nana mengambil tas kecilnya di atas tempat tidur. Lalu mengambil ponselnya, tepat sekali, sebuah pesan langsung masuk setelah Nana membuka layar kunci ponselnya.
Darrel
SL
Nana mengernyitkan dahi bingung, ia mulai menerka-nerka maksud pesan dari Darrel, setelah beberapa kali berpikir, ia tetap tidak bisa menemukan jawabannya.
To: Darrel
SL itu apa?
Tak lama kemudian Darrel membaca dan membalas pesannya.
Darrel
Share lock
Nana ber 'oh' ria lalu mengirim lokasi rumahnya sesuai dengan permintaan pria itu. Karena biasanya Darrel hanya menurunkannya di depan gang, takut Kael tahu jika ia berpacaran dengan pria itu. Nana menaruh ponselnya di dalam tas lalu berjalan keluar dari rumahnya.
Hanya butuh waktu beberapa menit Nana menunggu, Darrel sudah tiba di depan rumahnya. Ia berlari kecil untuk membuka gerbang,
"Yuk!"
"Lo apaan pakai celana segitu?" tanya Darrel setelah melihat penampilan Nana yang menggunakan celana di atas lutut.
"Kenapa emang?" tanya Nana bingung.
Darrel membuka helm-nya, wajah tampan pria itu berhasil membuat Nana terpana beberapa saat. Namun ia segera menyadarkan dirinya.
Darrel menghela kecil,
"Lo beneran mau pakai celana segitu? Motor gue tinggi Na," ucap Darrel.
Nana langsung memukul kecil kepalanya, ia benar-benar melupakan sesuatu, dulu Fian selalu memakai mobil jika akan pergi jalan-jalan dengannya. Tapi, sekarang ia tidak mungkin mengatakan kepada Darrel kalau ia sudah terbiasa dengan pakaian ini karena Fian mengajaknya menggunakan mobil.
"Ya...nggak papa kok," ucap Nana ragu.
Tatapan Darrel berubah tajam,
Darrel melepaskan jaketnya, lalu melilitkannya di pinggang Nana, membuat gadis itu berdebar karena perlakuan tiba-tiba Darrel sekarang.
"Udah," Darrel tersenyum hangat. Ia mengambil helm satunya dan memakaikannya pada Nana yang masih terdiam lama sekarang.
Jujur saja, sebagai seorang wanita normal, Nana benar-benar baper dengan perlakuan manis Darrel. Bahkan dulu Fian tidak pernah melakukan hal yang menurutnya sangat manis ini.
Tiba-tiba Nana teringat sesuatu, "Darrel kan playboy, pasti udah pengalaman lah," ucap Nana lirih.
"Hm?" tanya Darrel sedikit terkejut dengan ucapan lirih Nana.
"Hm?" tanya Nana balik.
"Mau ke mana ini?" tanya Darrel mengalihkan pembicaraan.
"Ya ke mana kek, masa tanya sih," jawab Nana sedikit sarkas. Ia benar- benar malas dengan pertanyaan sejenis itu. Karena ia hanya mengajak, tanpa tahu akan ke mana ia pergi. Dasar cewek.
"Lah, kan Lo yang ngajak gue,"
"Tapi kan Lo cowok,"
"Hubungannya apa?"
"Ya, karena Lo cowok,"
"Gue nggak pernah ngajak cewek malam mingguan Na," ucap Darrel menyerah.
"Beneran?" tanya Nana dengan binar diwajahnya.
"Ya, soalnya gue nggak pernah lihat hari kalau mau jalan sama cewek gue," ucap Darrel dengan senyuman yang sangat menjengkelkan di mata Nana.
Nana terlihat sangat kesal sekarang. Bisa- bisanya pria itu menganaktirikannya dengan wanita lain. Giliran mereka saja Darrel yang mengajak, sedangkan dirinya? Kenapa kesannya seperti ia yang sedang memohon pada pria itu ya?
"Yaudah, biasanya itu Fian ngajak gue makan, terus..."
"Mau makan di mana?" tanya Darrel memotong ucapan Nana.
"Ya, masa Lo nggak tahu sih. Lo kan cowok,"
Darrel menahan senyumannya. Ini masalahnya, kenapa jadi seluruh bangsanya ikut-ikutan disebut sih?
"Oke, Lo sekarang mau makan di mana? Gue bukan Fian, jangan samain gue sama dia. Gue bukan cenayang, yang bisa tahu apa yang Lo mau tanpa bilang ke gue!" ucap Darrel dengan nada menegaskan.
Nana menggigit bibir bawahnya, ia merasa tidak enak dengan Darrel. Nana berdehem pelan untuk menetralisir suasana.
"Terserah lo aja," ucap Nana.
"Beneran?"
"Iya,"
Tiba-tiba Darrel mencubit pipi Nana yang sedikit berisi itu.
"Darrel!"
Darrel terkekeh pelan,
"Ayo naik!"
Nana tersenyum kesal, lalu naik ke atas motor Darrel. Mendadak ia jadi kesal setelah mengingat betapa playboy- nya Darrel, entah sudah berapa gadis yang sudah berhasil digaet pria itu.
Darrel menarik kedua tangan Nana agar melingkar di perutnya, membuat Nana kembali terkejut dengan yang dilakukan pria itu. Nana tidak berkomentar, bisa- bisa nanti tidak jadi berangkat jika dirinya yang memulai debat dengan Darrel.
Darrel tersenyum dari balik helm- nya, lalu melajukan motornya perlahan, hingga sangat cepat menembus jalanan. Ini bukan kali pertama untuk Nana diajak ngebut oleh Darrel, tapi entah kenapa ia masih merasa takut saat Darrel menggila seperti ini. Ia mengeratkan pelukannya pada pria itu, ia takut terbawa angin jika mengendurkan pelukannya. Setelah beberapa kilo meter perjalanan, Darrel berhenti di salah satu restoran yang cukup asing untuk Nana, karena Fian biasanya hanya mengajaknya pergi ke tempat-tempat terdekat saja.
Nana menatap ke sekelilingnya, lalu turun dari motor. Ia mencoba untuk membuka helm-nya, tapi entah kenapa ia tetap tidak bisa. Nana menatap Darrel yang sedang berkaca di spion untuk merapikan rambutnya yang berantakan akibat menggunakan helm.
"Darrel, bukain," ujar Nana dengan suara menggemaskan khas gadis itu.
Darrel mensejajarkan tingginya dengan Nana agar dapat melihat helm yang Nana gunakan. Tapi, perbuatan itu malah berhasil membuat Nana berdebar. Melihat raut wajah Nana yang terlihat lucu di matanya, membuat Darrel dengan sengaja terus menatap gadis itu.
Lama tak ada pergerakan, Darrel menyentil pelan dahi Nana. Gadis itu langsung tersadar dari lamunannya, seketika pipinya menjadi se merah tomat, mendadak hawa disekitarnya berubah panas karena rasa malunya kepergok mengagumi wajah Darrel.
Darrel tertawa pelan, "Lo mau di sini aja?" tanya Darrel. Ia berjalan duluan, dan Nana langsung mengikutinya. Tapi setelahnya Nana kembali lagi untuk melepaskan helm-nya.
Itu bukan restoran, melainkan kafe yang sepertinya biasa dikunjungi anak muda di jaman sekarang. Buktinya, hanya ada orang-orang seumurannya, atau malah anak-anak yang jauh dibawah umurnya.
Bukan pengunjungnya saja yang muda, bahkan pegawainya pun masih tergolong muda menurut Nana.
Buku menu sudah ada di tengah-tengah meja,
"Lo mau pesen apa?" Darrel menyodorkan buku menu yang sekarang sudah ada di tangannya.
"Bentar," Nana mengambil buku menu yang Darrel berikan.
Melihat buku menu itu membuat Nana sedikit kebingungan, karena itu semua adalah makanan kesukaannya.
"Gue cheese cake in jar, macaroon, fish and chips, chicken katsu, minumnya lemon tea," ucap Nana dengan wajah berbinar.
"Oke," ucap Darrel tanpa banyak berkomentar.
"Lo pesen apa?"
"Belom tahu," ucap Darrel lalu pergi ke kasir untuk memesan sekaligus membayar makanan pesanan Nana dan ia nanti.
.
.
.
Setelah selesai makan, mereka langsung pergi dari sana setelah Nana mendapatkan pesan dari Kael yang mengatakan kalau adiknya itu sudah kelaparan. Hal seperti ini sudah biasa terjadi sebelumnya, Kael sangat suka menganggu kencannya, kalau dulu bersama Fian, sekarang malah dengan adik Fian, Darrel.
"Berhenti di depan minimarket itu!" teriak Nana cukup keras agar Darrel mendengarkan ucapannya.
Darrel mengangguk singkat, lalu menyebrang ke depan sebuah minimarket yang ditunjukkan Nana.
Nana turun dari motor besar Darrel, setelah Darrel mematikan mesin motornya.
"Lo beli es krim ya, rasa coklat. Gue mau beliin Nasgor buat Kael,"
"Di mana?" tanya Darrel.
"Di sana!" ucap Nana sambil menunjuk sebuah warung kecil yang hampir tidak terlihat sangking jauhnya.
"Biar gue aja yang beli," tawar Darrel.
"No! Gue aja, gue udah biasa kok. Bye," Nana segera berlari, keburu malam.
Sedangkan Darrel pun masuk ke dalam minimarket untuk membeli es krim pesanan Nana.
Jalanan cukup jauh dan sepi, tapi tidak membuat Nana takut, hingga dua orang pria yang sedang duduk di atas motor menggodanya membuat Nana sedikit takut.
"Eh cantik,"
"Main yuk,"
Pria itu turun dari motornya untuk mendekati Nana. Nana bergidik takut saat pria itu dengan sengaja menyentuh punggungnya.
"Lepasin!" ucap Nana takut, hingga tanpa sadar ia mengeluarkan keringat dingin.
"Ayuklah main, seru kok. Ikut ya,"
"Nggak!"
"Kok Lo nyolot sih!"
"Huaaaa!!!!" Nana menangis lalu membalikkan badannya dan berlari.
"Bocil ternyata. Pergi aja lah," ucap pria satunya lalu pergi dengan motor mereka masing-masing.
Darrel yang baru saja keluar dari minimarket itu terkejut saat mendengar suara teriakan seseorang. Namun, ia jauh lebih terkejut lagi saat ia melihat Nana menangis sambil berlari.
"Lo kenapa?" Nana langsung memeluk tubuh Darrel erat, ia benar- benar takut sekarang.
"Gu... gue takut,"
"Lo kenapa Na?" tanya Darrel. Terlihat jelas guratan khawatir di wajah pria itu.
.
.
.