Hanya melihat bayangannya saja sudah membuat Darrel kesal setengah babi. Tanpa menatap dan menganggap kehadirannya, cowok itu langsung berjalan melewatinya, tidak peduli dengan teriakan cewek itu yang menyuruhnya berhenti.
“Kak Darrel tunggu!”
Begitupun dengan keluarga lengkapnya yang sedang berkumpul di ruang tamu, Darrel hendak melewati mereka saja, namun langkahnya langsung berhenti saat mendengar suara berat itu.
“Darrel, sini kamu!”
Darrel menghela napas, hendak kembali melanjutkan langkahnya.
“Kamu ke sini sekarang, atau Papa bakal bikin perhitungan sama teman-teman kamu yang berandalan itu,” ancam Romeo.
Darrel mengepalkan tangannya kuat. Selain ibunya, orang kedua yang sangat ingin ia lindungi adalah sahabat-sahabatnya, mereka yang selalu hadir di saat-saat terburuk untuknya.