Willow baru saja meletakkan secangkir kopi ketika Caramella memasuki ruang kerjanya. Mantel merah itu masih tersampir di lengannya. Untuk beberapa saat ia berdiri memandangi meja yang ditinggalkannya selama liburan, seolah perlu memastikan semua benda masih berada di tempat yang sama.
"Selamat datang kembali, Miss Hewitt! Bagaimana liburannya?"
"Terlalu banyak kejadian untuk diceritakan sekarang."
Willow mengangkat alisnya, tetapi tidak langsung bertanya. Ia meletakkan buku agenda di meja dan menunggu Caramella duduk.
"Ada beberapa telepon yang perlu Anda balas. Kristin juga datang waktu Anda pergi."
"Untuk apa?"
"Membawakan makan siang. Saya sudah mengatakan Anda sedang berlibur."
Caramella mengangguk. Ia teringat percakapan dengan ayahnya sebelum berangkat. Peringatan mengenai Kristin kembali mengusik pikirannya, tetapi bayangan pria yang kabur di pantai membuatnya kesal lagi. Jika ayahnya mempunyai sesuatu untuk dikatakan, kenapa ia justru melarikan diri?
Ia mengambil kopi dan baru menyadari tangannya sedikit gemetar.
"Anda baik-baik saja?" tanya Willow.
"Kurang tidur."
Itu bukan sepenuhnya kebohongan. Ia memang tidur lama, tetapi pikirannya tidak merasa beristirahat. Nama Mr. Langford masih mengendap di kepalanya sejak semalam. Ia sudah berusaha mengatakan pada ibunya bahwa pria itu tidak mungkin menemukannya, padahal dirinya sendiri belum percaya.
Willow membuka agenda. "Mr. Ramsey meminta waktu untuk membicarakan berkasnya besok. Apa saya boleh mengonfirmasi?"
"Boleh. Hanya untuk urusan perceraiannya."
Sekretarisnya terdiam sesaat, lalu mencatat tanpa menggoda seperti biasa. Caramella bersyukur atas hal itu. Ia belum siap menjelaskan mengapa nama seorang klien dapat membuat dadanya terasa sesak oleh begitu banyak perasaan yang bertentangan.
Sebelum keluar, Willow berhenti di pintu. "Ada klien yang meminta jadwal lebih cepat. Saya belum menjanjikan apa-apa."
Caramella membaca nama pada catatan itu dan memeriksa waktu yang tersedia. Dahulu ia mungkin langsung menyelipkan pertemuan tambahan pada jam makan siang. Pagi ini ia menyadari dirinya bahkan belum dapat menenangkan tangan.
"Tawarkan waktu yang masih kosong besok. Kalau mendesak, tanyakan apakah dia bersedia menemui rekan lain."
"Baik."
Willow mengambil catatan tersebut tanpa menunjukkan kekecewaan. Caramella mengikuti kepergiannya dengan pandangan, lalu merapikan map di depannya. Dunia ternyata tidak berhenti hanya karena ia tidak dapat mengurus semuanya sekaligus.
Setelah Willow keluar, Caramella mengambil ponsel dan menelepon ibunya.
"Ibu sudah makan?"
"Sudah. Kamu melupakan sarapan yang tadi Ibu buat?"
Caramella tersenyum kecil. "Aku hanya ingin memastikan Ibu baik-baik saja."
Di seberang sana, suara Susan menjadi lebih pelan. "Kamu memikirkan berita semalam?"
Caramella tidak menjawab langsung. Ia memandang pantulan wajahnya pada kaca jendela. Di belakangnya, kota bergerak dengan kesibukan yang tidak peduli pada kegelisahan seseorang.
"Dari mana Ibu mendapat kabar itu?"
Susan menjelaskan siaran berita yang dilihatnya sebelum berangkat. Ia mengingat nama penjara dan pengumuman tentang tahanan yang melarikan diri, tetapi tidak mengetahui perkembangan terakhir.
"Baiklah. Aku akan mencari keterangan yang lebih jelas. Jangan keluar jauh dahulu sebelum aku pulang. Kalau Ibu membutuhkan sesuatu, telepon aku."
"Ponsel Ibu masih rusak."
Caramella memejamkan mata. Lagi-lagi ia melupakan sesuatu yang baru diberitahukan kepadanya.
"Ada telepon di ruang tamu. Nomor kantorku tertulis di sampingnya. Nanti kita urus ponsel Ibu."
Setelah panggilan selesai, ia menghubungi kepolisian melalui saluran yang tersedia. Ia memperkenalkan diri dan menjelaskan hubungannya dengan kasus lama Langford. Suaranya terdengar tenang sampai petugas meminta ia mengulangi nama lengkapnya.
"Caramella Hewitt."
Nama itu terasa asing ketika diucapkan bersama ingatan tentang ruang bawah tanah. Ia menekan telapak tangannya pada meja, menunggu rasa dingin di ujung jarinya berlalu.
Petugas mencatat keterangan dan menyampaikan bahwa informasi pelarian akan diperiksa. Caramella diminta memberikan nomor yang dapat dihubungi. Belum ada kepastian mengenai keberadaan pria itu.
Sebelum menutup telepon, ia teringat lelaki tua yang ditabraknya tadi pagi.
"Ada seseorang di depan apartemenku," katanya perlahan. "Aku tidak tahu apakah itu berhubungan. Aku hanya bertabrakan dengannya dan pergi."
Ia menjelaskan yang masih diingat tanpa menambahkan sesuatu yang tidak dilihatnya. Tidak, ia tidak mendengar pria itu menyebut namanya. Tidak, ia tidak dapat memastikan wajahnya. Justru karena itulah ingatan tersebut membuatnya gelisah.
Telepon berakhir dengan janji bahwa keterangannya akan diteruskan. Caramella menyandarkan punggung dan mengembuskan napas panjang. Melakukan sesuatu ternyata tidak langsung menghilangkan rasa takut, tetapi sedikit lebih baik daripada duduk menunggu.
***
Tristan baru keluar dari ruang rapat ketika Finn menyampaikan jadwal pertemuan dengan Caramella. Ia tersenyum mendengar nama wanita itu, kemudian senyumnya memudar setelah membaca pesan yang masuk beberapa menit sebelumnya.
Caramella ingin berbicara dengannya malam itu. Di apartemennya, bersama Susan yang masih menginap.
"Apa ada masalah?" tanya Finn.
"Aku belum tahu."
Tristan hampir menelepon saat itu juga. Namun ia membaca kembali kalimat terakhir pesan Caramella: ia sedang bekerja dan akan menghubunginya jika ada perubahan.
Untuk sekali ini, Tristan membalas singkat bahwa ia akan datang pada waktu yang diminta.
***
Sore hari, Caramella pulang setelah menyelesaikan pekerjaan yang tidak dapat ditunda. Ia berbicara sebentar kepada petugas gedung tentang pria yang ditemuinya pagi tadi. Petugas tidak langsung mengenalinya, tetapi bersedia mencatat kejadian dan menyimpan rekaman yang tersedia jika diperlukan dalam pemeriksaan.
Di apartemen, aroma sup menyambutnya. Susan sedang mengaduk panci kecil dan menoleh dengan senyum lega.
"Kamu kelihatan lelah."
"Hari pertama kembali bekerja selalu begitu."
Ia ingin mempercayai jawabannya sendiri.
Ketika Tristan datang, Caramella mempersilakannya duduk di kursi seberang sofa. Pria itu sempat mengulurkan tangan, tetapi berhenti ketika melihat wanita itu memilih duduk di samping ibunya.
"Aku ingin meluruskan perkataanmu kemarin," kata Caramella.
Tristan memandangnya. "Tentang apa?"
"Pernikahan. Kamu mengatakan pada Ibu bahwa kamu calon suamiku. Aku belum pernah menyetujui itu."
Senyuman yang hampir muncul di wajah Tristan menghilang. Kali ini tidak ada nada bercanda dalam suara Caramella.
"Aku tahu aku terlalu jauh bicara."
"Kalau begitu katakan pada Ibu."
Keheningan memenuhi ruang tamu. Susan meletakkan cangkirnya dan menunggu. Untuk pertama kalinya sejak mereka berkenalan, Tristan tampak tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dengan kedua tangannya.
Ia akhirnya menoleh kepada Susan. "Caramella benar. Kami belum bertunangan. Saya seharusnya tidak mengatakan bahwa pernikahan sudah diputuskan."
Susan mengangguk perlahan. "Ibu akan mendengar dari Caramella kalau memang sudah ada keputusan."
Tristan menerima kalimat itu tanpa membantah. Ia kembali memandang wanita di depannya, tetapi Caramella belum selesai.
"Dan aku ingin kamu berhenti menciumku tiba-tiba. Aku pernah mengatakan tidak."
Kali ini suaranya bergetar. Ia membenci getaran itu, tetapi tidak menarik kembali perkataannya. Tristan menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah.
"Aku mendengarnya sekarang. Maafkan aku."
Caramella tidak langsung menjawab. Permintaan maaf itu belum dapat membereskan apa yang dirasakannya. Setidaknya, malam ini ia berhasil mengatakannya dengan jelas.
Ketika Tristan pulang, ia tidak mencoba menyentuhnya di ambang pintu. Caramella menutup pintu perlahan dan kembali duduk di samping ibunya. Susan meraih tangannya setelah wanita itu mendekat.
"Apa Ibu ingin bertanya?"
"Banyak. Tapi kamu boleh bercerita ketika sudah siap."
Caramella menunduk. Untuk beberapa saat ia hanya menggenggam tangan ibunya, membiarkan kopi di meja menjadi dingin.