Tristan datang ke kantor Caramella sepuluh menit lebih awal. Kali ini ia tidak membawa bunga. Di tangannya terdapat map berisi dokumen yang diminta, dan selama menunggu ia terus memandang pintu ruangan yang masih tertutup.
Willow mempersilakannya masuk tepat pada waktunya.
"Selamat pagi, Miss Hewitt."
Caramella mengangkat wajah. Panggilan formal itu terasa janggal setelah hari-hari di Cartagena, tetapi ia tetap mempersilakan Tristan duduk.
"Aku sudah membaca kembali berkasmu. Ada beberapa hal yang belum selesai, terutama tentang Ailana."
Tristan meletakkan map di meja. "Sherly bersedia membicarakannya. Aku sudah menghubunginya tadi pagi."
"Apa Dexter sudah tahu?"
"Seharusnya sudah. Tapi aku belum mendengar langsung darinya."
Caramella mencatat. "Kalau begitu jangan membuat keputusan berdasarkan dugaan. Ailana juga perlu mengetahui apa yang akan berubah dalam kesehariannya."
"Aku tidak ingin dia merasa dibuang."
Suara Tristan berubah ketika menyebut putrinya. Caramella memandangnya sesaat. Ia mengenali kesungguhan itu dan justru merasa semakin sulit menyatukannya dengan sikap pria tersebut terhadap dirinya.
Seseorang dapat menyayangi anaknya dan tetap melakukan kesalahan yang menyakiti orang lain. Ia tidak ingin melupakan salah satunya hanya karena yang lain terasa lebih menyenangkan untuk dipercaya.
"Jangan menjanjikan bahwa semuanya akan tetap sama," katanya. "Jelaskan yang sudah pasti dan dengarkan pertanyaannya."
Tristan mengangguk. Ia membuka map dan mengeluarkan salinan informasi sekolah serta catatan kebutuhan Ailana. Caramella memeriksanya sebentar sebelum meletakkannya kembali.
"Ada hal lain yang harus aku sampaikan."
Pria itu menegang.
"Aku ingin meminta rekan di firma mengambil alih penanganan perceraianmu. Tentu dengan persetujuanmu dan pengaturan yang jelas."
Tristan menatapnya lama. "Karena aku mengatakan akan menikah denganmu?"
"Karena hubungan kita sudah terlalu pribadi. Aku kesulitan memisahkan pekerjaanku dari apa yang terjadi di antara kita. Aku tidak mau berpura-pura sebaliknya."
"Apa ini caramu menjauh dariku?"
Pertanyaan itu keluar lebih cepat daripada yang diinginkannya. Caramella meletakkan pena. Matanya tetap tertuju kepada Tristan.
"Ini caraku menjaga pekerjaanku. Kalau aku membutuhkan jarak, aku juga berhak mengatakannya."
Tristan menyandarkan punggung. Ia ingin mengatakan bahwa wanita itu masih dapat mempercayainya. Namun kalimat tersebut terdengar terlalu mudah dibandingkan keberatan yang baru saja disampaikan Caramella.
"Apa aku masih boleh datang ke apartemenmu?"
"Tanyakan dahulu. Jangan datang dengan anggapan aku pasti ingin ditemani."
Ia mengangguk perlahan.
Caramella menjelaskan bahwa pemindahan berkas tidak akan dilakukan diam-diam. Ia akan membicarakan pengaturannya di firma dan memperkenalkan orang yang akan menangani perkara tersebut. Sampai itu selesai, komunikasi mengenai dokumen tetap melalui kantor.
"Aku ingin kamu mendapat penanganan yang baik," katanya. "Tetapi aku juga harus jujur tentang keadaanku."
"Baiklah. Lakukan yang perlu dilakukan."
Caramella memperhatikan wajahnya. Tidak ada senyuman menggoda sekarang, hanya kekecewaan yang tidak berusaha disembunyikan. Ia hampir merasa perlu menghiburnya, tetapi mengurungkan niat itu.
Caramella mengambil selembar daftar dokumen dan menggesernya ke hadapan Tristan. Beberapa bagian diberi tanda untuk diperiksa kembali. Pria itu membaca satu per satu, kemudian menunjuk catatan mengenai rumah.
"Kesepakatanku dengan Sherly tetap sama. Aku tidak akan menariknya hanya karena kami sedang tidak sepakat soal hal lain."
"Sampaikan itu kepada pengacara yang nanti menangani berkasmu juga. Semua harus dipahami dengan jelas."
Tristan mengangguk dan memasukkan daftar tersebut ke mapnya sendiri. Selama beberapa menit mereka dapat berbicara seperti dua orang yang sedang menyelesaikan pekerjaan. Caramella menyukai kejelasan itu, meskipun mengetahui hubungan mereka tidak mungkin kembali menjadi sekadar nama pada jadwal.
Ia menuliskan pertanyaan yang belum terjawab agar tidak ada yang tertinggal ketika berkas berpindah tangan. Tangannya lebih tenang sekarang. Keputusan tersebut sulit, tetapi ia tidak perlu membatalkannya hanya karena Tristan terlihat sedih.
Pertemuan berakhir lebih cepat daripada perkiraan. Sebelum berdiri, Tristan menanyakan pesta ulang tahun Ailana.
"Undangannya tetap berlaku. Tapi aku tidak akan memaksa kamu datang."
"Aku belum memutuskan."
"Aku mengerti."
Setelah pria itu pergi, Caramella memandang kursi kosong di depannya. Kelegaan dan kesedihan datang bersamaan. Ia mengambil waktu beberapa menit sebelum memanggil Willow untuk membicarakan jadwal.
***
Sherly sedang memeriksa daftar kebutuhan pesta ketika Tristan datang ke rumah. Rumah yang dahulu mereka tempati bersama itu terasa akrab sekaligus jauh. Sepasang sepatu Ailana berada dekat tangga dan sebuah buku terbuka diletakkan di sofa.
"Dia sedang di kamarnya," kata Sherly. "Sebentar lagi turun."
Tristan mengangguk. "Aku ingin kita bicara sebelum dia datang."
Sherly menutup catatannya. Ia sudah dapat menebak pembicaraan mereka tidak lagi hanya mengenai makanan pesta.
"Dexter tahu Ailana tinggal di sini," katanya. "Dia bersedia membicarakan pengaturannya bersama. Aku tidak akan menyuruh Ailana pergi hanya karena aku akan menikah lagi."
Bahunya tampak tegang ketika mengatakannya. Tristan menyadari istrinya pun merasa takut dianggap meninggalkan anak yang telah mereka terima di rumah tersebut.
"Aku senang mendengarnya. Aku hanya ingin semuanya jelas."
"Aku juga."
Mereka duduk saling berhadapan. Tidak ada pertengkaran tentang siapa yang lebih banyak bekerja atau siapa yang terlambat pulang. Kali ini mereka membicarakan jadwal sekolah, waktu kunjungan, dan pertanyaan yang mungkin akan disampaikan Ailana.
Belum semua mempunyai jawaban.
Ketika gadis itu turun, ia berhenti di anak tangga terakhir dan memandang mereka bergantian.
"Apa aku melakukan sesuatu?"
"Tidak, Sayang," jawab Sherly. "Kami ingin membicarakan rencana setelah perceraian selesai."
Ailana duduk di ujung sofa. Keceriaan yang biasanya menyambut Tristan belum terlihat.
"Aku harus pindah?"
Tristan merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Ia hampir mengatakan tidak akan ada perubahan apa pun, tetapi teringat perkataan Caramella.
"Belum ada keputusan untuk memindahkanmu. Kami ingin mendengar apa yang kamu pikirkan juga."
"Sekolahku dekat dari sini."
"Kami tahu."
Gadis itu menunduk, merapikan ujung lengan bajunya. "Kalau Ibu menikah, aku masih boleh memanggil Ayah seperti biasa?"
Tristan berpindah duduk lebih dekat, menyisakan ruang agar Ailana tidak merasa dikepung.
"Tentu saja. Perceraian kami tidak membuatku berhenti menyayangimu."
Sherly mengangguk. "Dan kamu tidak harus memilih siapa yang boleh kamu sayangi."
Ailana mengusap hidungnya cepat-cepat. Ia tidak ingin menangis menjelang ulang tahunnya. Tristan melihatnya, tetapi tidak menyuruhnya segera tersenyum.
Mereka membiarkan percakapan berjalan pelan. Ailana menanyakan apakah Dexter akan tinggal di rumah itu dan apakah ia masih dapat bertemu Tristan pada akhir pekan. Sherly menjawab bagian yang sudah dibicarakan, lalu mengakui hal yang masih harus diatur.
Sesudahnya, Ailana mengambil daftar lagu pesta dan menyodorkannya kepada ayahnya.
"Yang ini jangan diganti dengan lagu pilihan Ayah."
Tristan akhirnya tersenyum. "Seburuk itu seleraku?"
"Untuk pesta ulang tahunku, iya."
Sherly tertawa. Untuk beberapa saat rumah itu terasa ringan kembali, meskipun masalah mereka belum selesai.
Ketika pulang, Tristan berhenti di mobil dan memandang layar ponselnya. Ia ingin menceritakan percakapan itu kepada Caramella, tetapi menahan diri untuk tidak langsung menelepon.
Ia mengetik pesan singkat: pembicaraan dengan Ailana sudah dilakukan, terima kasih atas pengingatnya.
Balasan datang saat ia tiba di apartemen.
"Semoga dia merasa didengar."
Tristan membaca kalimat itu dua kali. Kemudian ia menyimpan ponsel, menyadari bahwa hal yang sama juga sedang diminta Caramella darinya.