Caramella memandangi undangan di meja rias sambil memasang anting. Ia sudah mengatakan akan datang, tetapi sejak tadi masih berpikir apakah keputusan itu tepat. Di samping undangan terdapat hadiah kecil yang dibungkus kertas biru.
"Kamu tidak harus pergi kalau tidak ingin," kata Susan dari ambang pintu.
"Aku ingin menemui Ailana. Aku belum pernah berbicara dengannya secara langsung."
Susan mengangguk. "Kalau begitu pergilah untuk alasan itu."
Caramella tersenyum. Ia memilih gaun sederhana yang nyaman dan membawa mantelnya. Kali ini ia pergi dengan kendaraan yang dipesannya sendiri. Tristan telah menawarkan menjemput, lalu menerima ketika ia mengatakan tidak perlu.
Perubahan kecil itu membuatnya lebih tenang daripada rayuan yang panjang.
Di rumah Sherly, suara tawa terdengar sampai ke halaman. Beberapa teman Ailana sudah datang. Hiasan berwarna cerah memenuhi ruang keluarga tanpa menutupi foto-foto yang masih tergantung di dinding.
Sherly menyambut Caramella di pintu.
"Senang kamu bisa datang. Perjalananmu lancar?"
"Lancar. Terima kasih sudah mengundangku."
"Ailana ada di belakang. Sejak tadi dia bertanya siapa tamu yang diundang ayahnya."
Caramella mengikuti Sherly sambil memegang hadiahnya. Ia sempat melihat Tristan berbicara dengan seorang pria di dekat meja makanan. Pria itu menoleh dan tersenyum, tetapi tidak langsung menariknya mendekat seperti yang dahulu sering dilakukannya.
Seorang gadis berambut biru silver menghampiri mereka. Matanya tampak ingin tahu.
"Ini Caramella," kata Sherly. "Yang Ayah ceritakan kepadamu."
"Selamat ulang tahun, Ailana."
Gadis itu menerima hadiah dengan senyum lebar. "Terima kasih. Boleh aku membukanya sekarang?"
"Tentu saja."
Isinya sebuah buku catatan bersampul biru dan pena. Caramella sempat khawatir hadiah itu terlalu biasa, tetapi Ailana segera mengusap sampulnya.
"Aku bisa memakainya untuk mencatat kegiatan sekolah."
"Kalau tidak suka, kamu boleh menggunakannya untuk hal lain. Jangan merasa harus membuat catatan yang rapi."
Ailana tertawa. "Bagus. Tulisanku kadang jelek sekali."
Percakapan sederhana itu mengurangi kegugupan Caramella. Ia tidak perlu langsung menjadi seseorang yang istimewa dalam kehidupan anak tersebut. Untuk hari ini, berkenalan sudah cukup.
Tristan mendekat setelah Sherly dipanggil seorang tamu. Ia berdiri di samping Ailana dan menanyakan apakah hadiah itu boleh dilihat.
"Jangan dibaca kalau sudah aku isi," jawab gadis itu cepat.
"Baik. Aku akan meminta izin dahulu."
Caramella meliriknya. Tristan menangkap pandangan itu, tetapi tidak mengubahnya menjadi godaan.
Gabriella datang membawa dua gelas minuman dan memanggil Ailana. Kedua gadis itu segera kembali kepada teman-temannya. Dari seberang ruangan, Alexis mengangkat tangan menyapa Tristan.
"Itu sahabatku," kata Tristan kepada Caramella. "Aku ingin memperkenalkan kalian, kalau kamu tidak keberatan."
Caramella mengangguk.
Alexis Monroe menyambutnya dengan ramah. Ia tampak mudah diajak berbicara dan segera menanyakan apakah perjalanan ke Cartagena menyenangkan. Caramella memilih menceritakan pantainya tanpa membahas kejadian yang lain.
"Tristan pernah mengatakan ingin memperkenalkanku kepadamu," ujar Alexis.
Tristan berdeham. Caramella menoleh kepadanya.
"Benarkah?"
"Dulu aku mempunyai gagasan yang ternyata tidak terlalu bijaksana," jawabnya.
Alexis tertawa kecil. "Dia sedang mencoba menjadi mak comblang."
Caramella mengangkat alis. "Tanpa bertanya kepadaku?"
"Iya," aku Tristan. "Dan rencana itu tidak dilanjutkan."
Alexis menyadari ada sesuatu dalam nada percakapan mereka. Ia segera mengatakan bahwa ia senang berkenalan tanpa harapan apa pun. Caramella menghargai caranya membuat suasana kembali ringan.
Mereka berbicara tentang pekerjaan Alexis di penyewaan kapal. Ketika Gabriella memanggil kakaknya untuk membantu membawa sesuatu, pria itu berpamitan sebentar.
"Kamu mempunyai banyak rencana untuk hidupku rupanya," kata Caramella pelan.
Tristan menatap gelas di tangannya. "Sepertinya aku harus berhenti membuatnya sebelum bertanya kepadamu."
"Sepertinya begitu."
Ia tidak tersenyum, tetapi juga tidak pergi. Keduanya berdiri dalam keheningan yang sedikit canggung sampai Sherly memanggil para tamu berkumpul di dekat kue.
***
Ketika lagu ulang tahun dinyanyikan, Ailana berdiri di antara Tristan dan Sherly. Dexter berada tidak jauh dari mereka. Caramella memperhatikan pria itu memberikan ruang ketika Ailana menarik kedua orang tuanya mendekat untuk berfoto.
Gadis itu memejamkan mata sebelum meniup lilin. Apa pun permintaannya, ia menyimpannya sendiri.
Sesudah tepuk tangan mereda, Ailana memotong kue dengan bantuan Sherly. Potongan pertama diberikan kepada ibunya, kemudian kepada Tristan. Ia sempat terlihat bingung ketika memandang Dexter.
Pria itu tersenyum. "Aku bisa menunggu giliran. Tidak perlu terburu-buru."
Ailana tampak lega. Caramella berharap orang-orang dewasa di sekelilingnya terus dapat mengingat bahwa kebingungan itu tidak harus dijawab dalam satu pesta.
Saat para tamu mulai makan, Sherly menghampiri Caramella dengan piring kecil.
"Tristan memberitahuku tentang perubahan pengacara."
Caramella berhenti mengambil minuman. "Pengaturannya sedang dibicarakan di kantor. Berkasnya akan dijelaskan kepada pengganti sebelum diserahkan."
"Aku mengerti. Aku hanya ingin memastikan prosesnya tetap berjalan."
"Itu juga yang kuinginkan."
Sherly mengangguk. Tatapannya tidak menyimpan tuduhan, dan Caramella menyadari sejak tadi dirinya sudah bersiap menerima sesuatu yang bahkan belum diucapkan.
"Hari ini kita bicarakan hal lain saja," ujar Sherly. "Ailana sudah mengingatkan kami agar tidak membahas perceraian di depan teman-temannya."
"Dia berhak menikmati pestanya."
Keduanya tersenyum.
Ailana kembali menghampiri mereka dengan sebuah foto yang baru diambil Gabriella. Ia tidak puas karena matanya terpejam saat lampu kamera menyala. Sherly tertawa dan menawarkan mengambil ulang setelah gadis itu selesai membagikan kue.
"Apa aku boleh berdiri di sini?" tanya Caramella sambil menyingkir dari jalur tamu.
"Boleh. Nanti ikut foto juga."
Caramella sempat terkejut, lalu tersenyum menerima ajakan itu. Ketika saatnya tiba, ia berdiri bersama beberapa tamu lain di belakang Ailana. Tidak ada yang menyuruhnya menggantikan tempat Sherly atau berpasangan dengan Tristan. Ia hanya menjadi salah seorang yang hadir merayakan hari gadis tersebut.
Sesudah foto diambil, Gabriella menunjukkan hasilnya. Kali ini Ailana tertawa dengan mata terbuka, sementara Alexis tampak berbicara sebelum hitungan selesai. Mereka memilih menyimpannya juga.
Caramella ikut tertawa. Ia tidak menyangka dapat menikmati bagian kecil pesta tersebut tanpa terus memikirkan bagaimana orang lain menafsirkan kedatangannya. Kehangatan keluarga tidak selalu harus datang bersama tuntutan untuk segera mempunyai tempat di dalamnya.
Menjelang pulang, Caramella berdiri sebentar di teras untuk memeriksa kendaraan jemputannya. Tristan datang, berhenti beberapa langkah darinya.
"Terima kasih sudah datang. Ailana senang dengan hadiahmu."
"Aku senang mengenalnya."
Tristan memasukkan tangan ke saku, lalu mengeluarkannya lagi tanpa membawa apa pun. Caramella tidak mengetahui bahwa di rumah, sebuah cincin masih tersimpan di kotaknya. Pria itu sempat ingin membawanya tadi pagi, tetapi akhirnya membiarkannya tetap di sana.
"Aku ingin bicara tentang malam di Cartagena," katanya.
Jemari Caramella mengencang pada ponsel.
"Bukan sekarang."
Tristan menarik napas. "Baik. Kapan kamu siap."
Mobil yang dipesannya berhenti di depan rumah. Caramella berpamitan kepada Ailana dan Sherly, kemudian berjalan keluar. Tristan tidak mengejarnya. Dari kursi belakang, ia melihat pria itu tetap berdiri di teras.
Caramella menyandarkan kepala. Untuk pertama kali, pergi dari hadapan Tristan tidak memerlukan perdebatan. Ia belum tahu apa arti perubahan itu bagi hubungan mereka, tetapi ia ingin melihat apakah pria itu dapat mempertahankannya ketika tidak ada pesta dan tidak ada orang lain yang memperhatikan.