Pagi berikutnya, Kristin berdiri di depan cermin sambil memilih anting. Gaun yang dikenakannya terlalu mencolok untuk rencana kunjungan ke kantor Caramella. Ia menggantinya dengan pakaian yang lebih sederhana, lalu menilai bayangannya sekali lagi.
"Seperti ini lebih baik," gumamnya.
Ia masih mempunyai sebagian uang dari cek yang diberikan putri tirinya. Namun memikirkan biaya apartemen dan kebiasaan berbelanjanya membuat jumlah itu terasa semakin kecil. Ia membutuhkan alasan baru untuk meminta bantuan, sesuatu yang tidak terlalu besar agar tidak mengundang pertanyaan.
Ponselnya berbunyi. Nama Robie membuat senyumnya menghilang.
Kristin membiarkan panggilan itu berakhir, kemudian membaca pesan yang masuk. Pria tersebut menanyakan kapan mereka bertemu lagi. Tidak ada kata tentang detektif, tetapi justru itulah yang membuatnya tidak tenang.
Ia membalas bahwa ia sedang mempunyai urusan dan akan menghubungi nanti. Sesudahnya, ia mengambil tas dan keluar sebelum sempat berubah pikiran.
***
Caramella baru menyelesaikan pertemuan ketika Willow memberitahukan kedatangan Kristin. Ia memandangi agenda sebentar, lalu meminta sekretarisnya mempersilakan wanita itu masuk.
"Kamu sudah pulang," kata Kristin dengan senyum hangat. "Bagaimana liburanmu?"
"Cukup menyenangkan. Silakan duduk."
Kristin menaruh kantong makanan di meja. Kali ini ia membawa kue yang dibelinya dalam perjalanan. Ia mengatakan teringat Caramella dan ingin memastikan putri tirinya tidak terlalu lelah bekerja.
"Terima kasih. Willow bilang kamu datang waktu aku pergi."
"Iya. Aku tidak tahu kamu sedang berlibur. Seharusnya aku menelepon dahulu."
Caramella mengangguk. "Apa ada kabar dari Ayah?"
Pertanyaan itu membuat Kristin sedikit mengubah posisi duduknya.
"Tidak ada. Dia menghilang begitu saja. Kamu juga belum mendengar kabarnya?"
Caramella terdiam sesaat. Bayangan ayahnya yang berlari di pantai terlintas, tetapi ia belum ingin menceritakan tempatnya melihat Derick. Ia sendiri belum memahami alasan pria itu berada di sana.
"Kami belum berhasil berbicara lagi."
Kristin menghela napas seolah sedih. "Aku tidak tahu harus menunggu sampai kapan."
"Tentang utang yang kemarin, aku membutuhkan bukti pelunasannya."
Senyuman wanita itu tertahan.
"Bukti?"
"Kuitansi atau tanda penerimaan. Aku ingin menyimpan salinannya."
"Tentu. Sepertinya ada di apartemen. Aku tidak membawanya sekarang."
Caramella meraih pena dan mencatat. "Kalau begitu kirimkan setelah kamu menemukannya. Sekalian dokumen yang menunjukkan kamu dijadikan penjamin."
Kristin menelan ludah. Ia tidak menyangka percakapan akan mengarah ke sana. Selama ini Caramella lebih banyak memaki ayahnya daripada menanyakan rincian.
"Kenapa tiba-tiba kamu membutuhkan itu?"
"Karena aku sudah membayar. Aku seharusnya memeriksanya sejak awal."
Nada Caramella tidak menuduh. Justru ketenangannya membuat Kristin semakin sulit menentukan apakah wanita di depannya sudah mengetahui sesuatu.
Ia tertawa kecil. "Tentu saja. Aku mengerti. Kamu pengacara, semua harus tertulis."
Caramella menutup penanya. "Apa ada hal lain?"
Permintaan uang yang disiapkan Kristin tertahan di ujung lidah. Ia akhirnya menggeleng dan mengatakan hanya ingin berkunjung. Ketika berpamitan, pelukannya terasa lebih singkat daripada yang direncanakan.
Di luar gedung, Kristin segera menelepon pria yang pernah berpura-pura menjadi penagih utang. Panggilannya tidak dijawab. Ia mencoba sekali lagi sebelum menyimpan ponsel dengan kesal.
Untuk pertama kali, cek yang dahulu membuatnya gembira terasa seperti sesuatu yang dapat menyeretnya kembali.
Ia membuka percakapan dengan Caramella dan menatap permintaan dokumen yang baru masuk. Mengetik bahwa semua kertas hilang akan terdengar terlalu mudah. Mengatakan penagih tidak memberikan kuitansi juga dapat membuat Caramella menghubungi pria tersebut secara langsung.
Kristin menyimpan ponsel sebelum membalas sesuatu yang akan disesalinya. Di kaca sebuah toko, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Rambut rapi dan pakaian sederhana tadi tidak lagi membuatnya merasa memegang kendali.
Di kantor, Caramella meminta Willow menyimpan keterangan waktu kedatangan Kristin pada kunjungan sebelumnya. Sekretarisnya membuka agenda, lalu menanyakan apakah terjadi sesuatu.
"Ada pembayaran yang perlu kuperiksa. Untuk sementara aku hanya ingin mencocokkan catatan."
Willow mengangguk dan menyerahkan tanggal yang diminta. Caramella menyalinnya, kemudian meletakkan catatan itu bersama salinan cek. Ia teringat betapa cepat dirinya menyetujui pembayaran setelah mendengar ayahnya kembali membuat masalah.
Rasa kesal kepada Derick tidak dapat menggantikan pemeriksaan. Ia mengetahui hal itu dalam pekerjaannya, tetapi rupanya mengetahui sesuatu tidak selalu membuatnya mudah dilakukan ketika keluarganya sendiri terlibat.
Caramella menutup map. Ia tidak akan menuduh Kristin sebelum memperoleh keterangan yang cukup, dan ia juga tidak akan mengirim uang lagi hanya karena merasa bersalah.
***
Sore itu, sebuah nomor yang tidak tersimpan muncul di layar ponsel Caramella. Ia hampir membiarkannya berdering, tetapi akhirnya menjawab.
"Caramella."
Ia langsung mengenali suara itu.
"Ayah. Jangan tutup teleponnya lagi."
Di seberang sana, Derick terdiam. Caramella berdiri dan berjalan menjauhi pintu kantor yang terbuka sedikit.
"Aku melihat Ayah di Cartagena. Kenapa Ayah lari dariku?"
"Ayah malu."
"Aku sudah melihat Ayah di kantor polisi berkali-kali. Kenapa justru sekarang malu?"
Pertanyaan itu membuat Derick menarik napas panjang. Suara orang berbicara terdengar samar di belakangnya, lalu semakin jauh seolah ia berpindah tempat.
"Ayah bekerja di hotel. Belum lama. Aku belum ingin datang kepadamu dengan janji yang belum bisa kubuktikan."
Caramella memejamkan mata. Jadi ayahnya memang berada dekat dengannya selama liburan itu, sementara ia mencari tanpa tahu harus mulai dari mana.
"Bekerja itu baik. Tetapi berlari dariku tidak membuatku lebih tenang."
"Ayah tahu."
Ia menunggu alasan lain, tetapi kali ini Derick tidak memberikannya.
"Apa Ayah masih minum?"
Keheningan kembali terdengar.
"Aku sedang berusaha menguranginya."
"Dulu Ayah setuju mencari pertolongan."
"Aku ingat."
Caramella menyandarkan bahu pada dinding. Ia ingin percaya, tetapi tidak ingin kembali menyusun seluruh hidup ayahnya sementara pria itu pergi kapan saja merasa takut.
"Aku bisa mendengar kabar Ayah. Tapi aku tidak bisa terus memperbaiki semua akibatnya."
"Ayah tidak menelepon untuk meminta uang."
Kalimat itu mengingatkannya pada Kristin.
"Kalau begitu jelaskan utang yang membuat istri Ayah datang kepadaku."
Derick terdengar terkejut. "Dia meminta uang?"
"Aku sudah membayar melalui cek. Katanya dia dijadikan penjamin dan diancam penagih."
"Aku tidak pernah menjadikannya penjamin."
Caramella membuka mata. "Ayah yakin?"
"Iya. Aku pernah mempunyai tunggakan, tetapi bukan seperti yang kamu katakan. Aku tidak menandatangani sesuatu yang menjadikan Kristin penjamin."
Caramella mencengkeram ponselnya lebih erat. Bantahan itu belum merupakan bukti. Ayahnya pernah berbohong, dan Kristin pun belum memberikan dokumen. Ia harus mengingat keduanya.
"Kirimkan nomor yang bisa dihubungi. Aku tidak ingin mencari Ayah lewat nomor berbeda lagi."
Derick menyetujuinya. Sebelum menutup telepon, ia meminta maaf karena melarikan diri di pantai. Caramella menerima kata-kata itu tanpa mengatakan semuanya sudah baik-baik saja.
Ia kembali ke meja dan membuka catatan pengeluaran. Cek tersebut memang sudah dicairkan. Angka yang terlihat di layar tidak menjelaskan siapa yang berbohong, tetapi kini ia mempunyai alasan untuk memeriksa lebih jauh.
Di luar jendela, langit mulai gelap. Caramella menyimpan salinan catatan itu, lalu menghubungi Kristin untuk meminta dokumen yang tadi dijanjikan. Pesannya terkirim, tetapi belum dibaca.
Ia tidak menelepon Tristan. Untuk masalah ini, ia perlu lebih dahulu memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.