Telepon dari petugas datang saat Caramella sedang menunggu air mendidih. Ia mematikan pemanas, kemudian berpindah ke ruang tamu. Susan yang melihat perubahan wajah putrinya segera meletakkan koran.
Kabar yang didapatnya tidak menenangkan. Langford memang termasuk tahanan yang melarikan diri dan belum ditemukan. Keterangan Caramella mengenai pertemuan di depan gedung akan diperiksa, tetapi belum ada kepastian bahwa pria tua tersebut adalah orang yang sama.
"Jadi belum ada yang bisa memastikan dia tidak berada di London?"
Petugas tidak memberikan janji yang tidak dapat dipenuhi. Caramella mendengarkan, mencatat informasi yang perlu disimpan, lalu menjawab pertanyaan mengenai kontak dan alamatnya.
Panggilan itu tidak lama, tetapi setelah berakhir ia merasa seolah baru menyelesaikan pekerjaan berjam-jam.
"Bagaimana?" tanya Susan.
Caramella duduk di samping ibunya dan menyampaikan yang didengar. Ia tidak menambahkan kemungkinan yang baru muncul di kepalanya. Susan menggenggam korannya sampai kertas itu berkerut.
"Ibu seharusnya tidak meninggalkanmu sendirian dahulu."
"Ibu sudah menolongku setelah kejadian itu."
"Tapi Ibu tidak tahu kamu akan pergi ke rumahnya hari itu."
Caramella memandang wajah ibunya. Selama ini ia terlalu sibuk menahan ingatannya sendiri hingga tidak menyadari Susan juga menyimpan pertanyaan yang sama selama bertahun-tahun.
"Yang bersalah pria itu," katanya perlahan. "Bukan Ibu karena tidak bisa mengetahui apa yang akan dia lakukan."
Susan menutup mata. Air mata jatuh sebelum ia sempat menyekanya.
Caramella merangkul ibunya. Untuk beberapa saat, mereka tidak mencoba saling meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka hanya duduk bersama sampai napas Susan kembali teratur.
Sesudahnya, Caramella menghubungi petugas gedung dan memastikan laporan sebelumnya tercatat. Ia juga memberi tahu Willow bahwa ada urusan pribadi yang mungkin membuat jadwalnya perlu disesuaikan. Sekretarisnya tidak meminta penjelasan di luar yang bersedia disampaikan.
Pekerjaan dapat diatur. Selama ini Caramella selalu mengatakannya kepada klien yang kewalahan, tetapi baru sekarang ia mencoba menerapkan kalimat itu untuk dirinya sendiri.
***
Tristan sedang memeriksa sebuah rancangan perhiasan ketika pesan Caramella masuk. Wanita itu bertanya apakah mereka dapat berbicara sore nanti. Ia menjawab bisa dan menunggu sampai Caramella menentukan tempatnya.
Di laci meja terdapat kotak cincin yang dipilihnya sebelum liburan. Tristan membukanya sebentar. Berlian itu masih sama indahnya, tetapi sekarang ia tidak dapat membayangkan menyodorkannya untuk menyelesaikan percakapan yang sulit.
Ia menutup kotak itu ketika Finn mengetuk pintu.
"Ada perubahan jadwal?"
"Pertemuan terakhir jangan dipindahkan. Aku masih punya waktu menyelesaikannya sebelum pergi."
Finn mengangguk dan menyerahkan dokumen. Tristan memaksakan perhatiannya kembali kepada pekerjaan, meskipun beberapa kali ia harus membaca baris yang sama.
***
Mereka bertemu di ruang tamu Caramella. Susan sedang beristirahat di kamar dan mengetahui bahwa Tristan akan datang. Di meja terdapat air minum yang belum disentuh keduanya.
"Ada kabar mengenai seseorang dari masa laluku," kata Caramella. "Aku belum siap menjelaskan semuanya. Aku sudah menghubungi polisi."
Tristan langsung menegakkan tubuh. "Seseorang menyakitimu?"
"Dulu. Untuk saat ini aku ingin kamu mendengarkan, bukan mencari siapa pun sendiri."
Rahang pria itu menegang, tetapi ia mengangguk.
"Apa yang bisa kulakukan?"
"Jangan memberitahukan jadwalku kepada orang lain. Dan jangan menganggap aku harus pindah ke apartemenmu agar aman."
Usul itu memang hampir keluar dari mulutnya. Tristan menatap Caramella dengan perasaan tidak nyaman karena wanita itu sudah dapat menebak jawabannya.
"Baik. Aku tidak akan memaksamu pindah."
Caramella merapatkan kedua tangannya di pangkuan. Ia memandang pria tersebut cukup lama sebelum melanjutkan.
"Ada hal lain yang terus kupikirkan sejak kita pulang. Malam setelah pesta."
Tristan menunduk. Kini giliran tangannya sendiri yang tidak dapat diam.
"Aku sangat mabuk," kata Caramella. "Paginya aku tidak ingat. Ketika aku menanyakannya, kamu malah mengatakan aku menikmatinya."
Pria itu membuka mulut, tetapi Caramella mengangkat tangan.
"Biarkan aku selesai."
Tristan menutup mulutnya kembali.
"Aku masih marah. Aku juga bingung karena ada saat-saat aku ingin bersamamu. Tapi itu tidak membuat apa yang terjadi menjadi sesuatu yang bisa kamu putuskan untukku."
Matanya berkaca-kaca. Ia menarik napas dan berusaha tidak memalingkan wajah. Ia tidak ingin menangis, tetapi kalau air mata itu jatuh, ia tetap akan menyelesaikan perkataannya.
"Kamu tahu aku mabuk. Kamu seharusnya berhenti."
Keheningan terasa panjang. Dari luar terdengar pintu lift terbuka, lalu suara langkah yang semakin jauh. Tristan melihat gelas di meja, bayangannya pada permukaan air yang sedikit bergetar ketika ia meletakkan tangan.
"Iya," katanya akhirnya. "Aku seharusnya berhenti."
Caramella menunggu. Ia sudah terlalu sering mendengar pengakuan yang kemudian dibatalkan oleh alasan.
"Aku salah ketika menjadikan perasaanmu atau apa yang kuanggap keinginanmu sebagai pembelaan," lanjut Tristan. "Aku juga salah mengatakan pernikahan akan membereskan semuanya."
Suaranya tidak lagi terdengar seperti pria yang selalu yakin dapat memperoleh apa pun. Namun Caramella tidak merasa kemenangan. Ia hanya merasa lelah.
"Aku belum bisa memaafkanmu."
Tristan memejamkan mata sebentar. "Aku mengerti."
"Aku juga belum tahu hubungan seperti apa yang kuinginkan denganmu."
Ia mengangguk lagi, lebih lambat. Kalimat itu menyakitkan, tetapi ia tidak berhak meminta Caramella mencabutnya hanya agar dirinya merasa lebih baik.
"Aku ingin beberapa waktu tanpa kunjungan," kata wanita itu. "Kalau ada urusan berkas, hubungi kantor."
Tristan menatapnya, lalu berdiri setelah memastikan Caramella sudah selesai berbicara.
"Terima kasih sudah mengatakannya. Aku akan menghormati itu."
Ia berjalan menuju pintu tanpa meraih tangannya. Caramella membukakan pintu, menyaksikan pria tersebut kembali ke apartemennya sendiri, kemudian menutupnya.
Tubuhnya terasa lemas. Ia duduk sebelum kakinya benar-benar kehilangan tenaga.
Susan keluar beberapa saat kemudian. Ibunya tidak bertanya apa yang dikatakan Tristan. Ia hanya menawarkan air hangat dan duduk ketika Caramella memintanya tetap tinggal.
"Aku ingin mencari seseorang untuk membantu membicarakan semua ini," ujar Caramella. "Seseorang yang tidak terlibat dengan kami."
Susan mengangguk. "Ibu akan menemanimu kalau kamu mau."
Caramella menerima tawaran itu tanpa langsung menentukan waktunya. Malam tersebut ia belum merasa pulih. Namun ada sesuatu yang berbeda: ia tidak lagi memaksa dirinya tertawa agar orang lain percaya tidak ada yang salah.
Di apartemen sebelah, Tristan duduk dengan ponsel di tangan. Ia telah mengetik kalimat panjang, kemudian menghapusnya. Caramella meminta waktu, dan pesan yang meminta jawaban hanya akan menjadi cara lain untuk mengetuk pintunya.
Ia meletakkan ponsel di meja.
Matanya beralih kepada undangan ulang tahun yang masih tersisa di dekat rak. Ia teringat Caramella berbicara dengan Ailana, mendengarkan cerita tentang sekolah tanpa mencoba membuat dirinya tampak mengesankan. Kenangan itu tetap menyenangkan, tetapi tidak memberinya hak untuk meminta pertemuan lagi besok.
Tristan berjalan ke dapur dan mengambil air. Apartemennya sunyi seperti pada malam-malam sebelum liburan. Bedanya, sekarang ia mengetahui bahwa kesunyian tersebut bukan alasan untuk menarik seseorang masuk sebelum orang itu bersedia.
Ia duduk kembali. Ada banyak hal yang ingin dikatakannya, tetapi perubahan yang diminta Caramella justru dimulai dari sesuatu yang sederhana dan sulit baginya: membiarkan pintu sebelah tetap tertutup.
Untuk pertama kalinya, mencintai Caramella menuntutnya menerima kemungkinan bahwa wanita itu tidak akan memilihnya. Pikiran itu menyakitkan, tetapi malam ini ia tidak akan melarikan diri darinya dengan sebuah rayuan.