Caramella sudah siap berangkat ketika menyadari ia belum memakai anting sebelah kiri. Ia berdiri di depan cermin dengan mantel merah terpasang dan tas di tangan, tetapi tidak ingat di mana meletakkan benda kecil tersebut.
"Ada di samping cangkirmu," kata Susan.
Caramella menoleh. Ibunya berdiri di pintu kamar sambil membawa sepasang sarung tangan yang tidak jadi digunakan. Pagi itu tidak sedingin perkiraan mereka.
"Aku seperti orang pelupa."
"Kamu sedang memikirkan banyak hal."
Ia memasang anting, kemudian memandang pantulannya sekali lagi. Penampilannya tidak berbeda dari biasanya. Tidak ada yang dapat mengetahui bahwa sejak bangun ia berkali-kali memikirkan alasan untuk membatalkan pertemuan pagi itu.
Susan akan menemaninya sampai tempat tujuan, lalu menunggu di luar. Mereka telah membicarakannya semalam setelah Caramella memilih waktu konsultasi yang tidak bertabrakan dengan pekerjaan.
"Kita bisa berangkat sekarang," katanya.
Di lorong, pintu apartemen Tristan tertutup. Caramella menoleh sekilas sebelum berjalan menuju lift. Tidak ada bunga di depan pintunya, tidak ada pesan yang menuntut balasan. Ia merasa lega, lalu kesal pada dirinya sendiri karena sempat menunggu sesuatu yang justru dimintanya berhenti.
Susan tidak mengomentari arah pandangnya.
***
Ruang tunggu itu mempunyai dua kursi dekat jendela dan rak berisi majalah. Caramella memilih kursi yang menghadap pintu. Ia memperhatikan suara langkah orang di lorong, kemudian memaksa dirinya melihat halaman majalah yang dibuka tanpa dibaca.
"Ibu bisa mencari kopi sementara aku masuk," katanya.
"Ibu akan menunggu di sini."
"Mungkin agak lama."
Susan tersenyum kecil. "Ibu membawa buku."
Caramella menatap buku tipis di pangkuan ibunya. Sampulnya sudah terlipat di ujung dan terdapat pembatas dari potongan kertas. Benda sederhana itu membuatnya lebih tenang. Ibunya tidak datang untuk mengawasi atau menanyakan seluruh percakapan sesudahnya. Ia hanya memilih berada cukup dekat.
Ketika namanya dipanggil, Caramella berdiri terlalu cepat hingga majalah hampir jatuh. Ia merapikannya sebelum masuk. Di ruangan berikutnya, seorang psikolog perempuan mempersilakannya memilih tempat duduk.
Caramella kembali memilih kursi yang dapat melihat pintu.
Percakapan dimulai dengan hal-hal yang tidak sulit dijawab. Namanya, pekerjaannya, dan apa yang membuatnya datang. Namun ketika harus menjelaskan bagian terakhir, kata-kata yang sudah disusun sejak semalam mendadak terasa jauh.
"Ada seseorang dari masa lalu yang mungkin kembali," katanya. "Lalu ada hal lain yang terjadi belum lama ini. Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Wanita di depannya tidak mendesak agar ia menceritakan semuanya. Caramella diberi waktu sampai dapat melanjutkan dengan kalimatnya sendiri.
Ia menceritakan kabar tentang Langford lebih dahulu. Tidak semua rincian, hanya ketakutan yang muncul ketika namanya disebut dan kebiasaan memeriksa pintu yang belakangan terasa semakin sering.
"Aku pengacara," ujarnya, seolah perlu meminta maaf. "Biasanya aku tahu bagaimana membantu orang menghadapi masalah."
"Apa yang Anda harapkan dari diri sendiri ketika masalah itu menyangkut Anda?"
Caramella memandang tangannya. "Tetap tenang. Tidak mengacaukan pekerjaan. Tidak membuat Ibu khawatir."
Setelah mengatakannya, ia baru mendengar betapa banyak tuntutan dalam jawaban tersebut.
Percakapan berlanjut perlahan. Ada bagian yang belum bersedia ia ceritakan dan ia mengatakan demikian. Tidak terjadi sesuatu yang buruk ketika ia berhenti. Wanita di depannya tetap mendengarkan, tidak kecewa, tidak menyebutnya sulit atau tidak tahu berterima kasih.
Menjelang akhir, Caramella mengatakan bahwa seseorang telah menyakitinya, tetapi ia masih mempunyai perasaan terhadap orang itu.
"Aku kesal karena itu membuatku bingung."
Ia tidak mendapat perintah untuk segera menentukan hubungan. Yang dibicarakan justru apa yang dibutuhkannya sekarang dan bagian mana yang belum ingin diputuskan. Untuk pertama kalinya, kebingungan itu dapat diucapkan tanpa harus segera disembunyikan di balik senyum.
Ketika keluar, matanya terasa panas. Tidak ada keajaiban yang membuat masa lalu lenyap. Ia masih takut, masih lelah, tetapi tidak lagi merasa seluruh ceritanya harus selesai dalam satu pertemuan.
Susan menutup buku dan berdiri.
"Mau makan sesuatu sebelum ke kantor?"
Caramella mengangguk. "Aku ingin coklat panas."
Mereka menemukan kedai kecil tidak jauh dari sana. Caramella memegang cangkir dengan kedua tangan, menikmati hangatnya tanpa merasa perlu menjelaskan mengapa ia belum banyak bicara.
***
Di kantor, Willow sudah memindahkan satu panggilan ke sore hari sesuai permintaannya. Tidak ada tumpukan pekerjaan yang tiba-tiba runtuh hanya karena Caramella datang lebih lambat.
Ia menyelesaikan satu surat dan menyerahkannya kepada Willow. Sekretarisnya memperhatikan cangkir yang masih kosong, lalu menawarkan kopi.
"Air putih saja. Aku sudah minum coklat tadi."
"Dengan Ibu Anda?"
Caramella mengangguk. Ia menceritakan bagaimana Susan memilih roti yang terlalu besar, kemudian bersikeras membawakan separuhnya untuk putrinya. Willow tertawa dan mengatakan ibunya sendiri juga selalu berpikir setiap orang yang bekerja pasti lupa makan.
Percakapan itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun ketika Willow kembali ke mejanya, Caramella merasa telah hadir sepenuhnya di ruangan tersebut. Pagi itu ia bukan hanya seseorang yang sedang menunggu kabar buruk. Ia juga masih dapat menertawakan roti yang memenuhi tasnya dan membaginya dengan orang lain saat istirahat nanti.
Ia memeriksa jadwal berikutnya, lalu berhenti ketika petugas yang menangani laporannya menelepon.
Rekaman dari sekitar pintu gedung sedang diperiksa. Ada gambar pria yang berpapasan dengannya pada pagi tersebut, tetapi sudutnya belum cukup untuk memberikan kepastian.
"Apa aku perlu melihatnya?" tanya Caramella.
Petugas menjelaskan bahwa pengaturan untuk meminta keterangannya akan diberitahukan. Ia tidak diminta menebak identitas dari bayangan yang tidak jelas.
Sesudah panggilan selesai, Caramella memandang pintu kantornya. Ia teringat betapa cepat dirinya meminta maaf kepada pria tua itu lalu pergi. Ia tidak memperhatikan cukup lama. Jika saja ia berhenti beberapa detik lagi, mungkin sekarang ia dapat menjawab lebih banyak.
Namun ia tidak mengetahui bahaya apa pun saat itu.
Ia mengulang kenyataan tersebut dalam hati sebelum kembali membuka berkas. Pikiran tentang apa yang seharusnya dilakukan tidak akan membuat rekaman menjadi lebih terang.
Menjelang pulang, ia menyimpan kartu janji pertemuan berikutnya di dalam dompet. Jadwal itu dipilihnya sendiri. Ia belum tahu apakah akan dapat menceritakan malam di Cartagena dengan lengkap, tetapi ia telah memutuskan untuk kembali.
***
Di apartemennya, Tristan menerima telepon dari Ester. Bibinya langsung menanyakan mengapa ia jarang mengabarkan perkembangan hubungannya dengan Caramella.
"Kami sedang tidak sering bertemu," jawabnya.
"Kalian bertengkar?"
Tristan berdiri di dekat jendela. Lampu dari apartemen sebelah menyala, tetapi ia tidak berjalan ke balkon untuk memanggil.
"Aku melakukan kesalahan. Dia meminta waktu."
"Mungkin kamu perlu datang membawa bunga."
"Tidak, Bibi. Dia meminta agar aku tidak berkunjung."
Ester terdiam mendengar ketegasan itu.
"Tolong jangan membujuknya untuk menemuiku," lanjut Tristan. "Dan jangan membicarakan pernikahan lagi. Aku sudah membuatnya tidak nyaman dengan perkataanku sendiri."
Setelah telepon ditutup, Tristan tetap berdiri beberapa saat. Dari luar terdengar suara kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ia kembali ke meja makan dan membuka makanan yang sejak tadi dibiarkan dingin.
Pintu sebelah tetap tertutup. Kali ini ia membiarkannya demikian.