Nama Evelyn Hart tertulis pada map yang dibawa Caramella ke ruang pertemuan. Ia mengenal rekannya itu sebagai orang yang teliti dan tidak terburu-buru berbicara. Pagi tersebut, kebiasaan itu membuatnya bersyukur.
Evelyn sudah memeriksa bahan yang dapat disiapkan untuk peralihan penanganan perkara Tristan. Beberapa pertanyaan ditandai agar dapat dibahas bersama klien sebelum ia mengambil alih.
"Kamu tidak perlu menjelaskan urusan pribadimu kepadaku," katanya. "Aku hanya perlu tahu hal yang memengaruhi penanganan berkas ini."
Caramella mengangguk. "Terima kasih."
Ia menyerahkan catatan mengenai dokumen yang belum lengkap dan pembicaraan tentang Ailana. Keinginannya untuk tetap mengatur seluruh perkara muncul ketika melihat Evelyn menata halaman dengan urutan berbeda.
Caramella menarik tangannya kembali sebelum ikut memindahkan map.
Evelyn memperhatikan gerakan itu, tetapi hanya tersenyum kecil. "Aku akan bertanya kalau ada yang belum jelas."
Beberapa menit kemudian, Tristan datang. Ia mengenakan jas biru tua yang mengingatkan Caramella pada pertemuan pertama mereka di lift. Kenangan itu muncul begitu cepat hingga ia harus memusatkan perhatian pada pintu yang sedang ditutup Willow.
"Mr. Ramsey, ini Evelyn Hart."
Tristan menjabat tangan pengacara barunya, kemudian duduk di kursi yang dipersilakan. Ia menyapa Caramella dengan sopan tanpa mencoba mencari waktu berdua.
Pertemuan dimulai dengan penjelasan tentang peralihan penanganan. Tristan memeriksa pengaturannya dan bertanya kepada siapa dokumen tambahan harus dikirim setelah hari itu. Evelyn menjawab pertanyaannya satu per satu.
Caramella merasakan kelegaan yang tidak sepenuhnya menyenangkan. Sebentar lagi nama Tristan tidak lagi berada dalam daftar klien yang harus ia hubungi sendiri.
"Ada pembicaraan baru dengan Sherly?" tanya Evelyn.
"Kami ingin menjaga agar Ailana tidak mengalami perubahan mendadak. Tetapi kami belum menyepakati semuanya."
"Baik. Kita pisahkan hal yang sudah disepakati dari hal yang masih harus dibicarakan."
Tristan mengeluarkan catatan yang dibawanya. Untuk sekali ini, Caramella hanya mendengarkan. Ia menambahkan penjelasan ketika Evelyn menanyakan dokumen lama, lalu membiarkan rekannya melanjutkan.
Tidak ada yang runtuh ketika ia berhenti menjadi orang yang menjawab setiap pertanyaan.
Setelah persetujuan peralihan selesai dicatat dan berkas diterima Evelyn, Caramella merapikan salinan yang perlu disimpan firma. Ia berdiri lebih dahulu, meninggalkan mereka untuk membicarakan langkah berikutnya.
"Terima kasih atas bantuanmu selama ini," kata Tristan.
Ia menoleh. "Semoga prosesnya berjalan baik."
Hanya itu yang dikatakannya sebelum keluar.
***
Tristan baru menyadari betapa sering ia menggunakan perkara perceraian sebagai alasan menghubungi Caramella ketika Evelyn menanyakan jadwal yang tersedia minggu berikutnya.
Wanita di depannya menunggu jawaban mengenai pekerjaan. Tidak ada kesempatan menyelipkan rayuan atau memperpanjang percakapan hanya karena ingin mendengar suara seseorang.
Ia memeriksa kalender dan memberikan waktu yang benar-benar dapat dipenuhi.
Evelyn mencatatnya. Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan akan dibicarakan berdasarkan dokumen dan tanggapan yang diterima, bukan janji tanggal selesai yang belum dapat dipastikan.
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan," kata Tristan. "Ailana khawatir harus pindah dari rumah. Aku sudah mengatakan belum ada keputusan untuk itu."
"Kalau begitu kita catat kekhawatirannya bersama pengaturan yang sekarang berjalan. Apa Anda dan Sherly sudah membahas kebutuhan sekolahnya secara rinci?"
"Sebagian. Belum semuanya."
Evelyn memintanya membawa hasil pembicaraan yang dapat dijelaskan bersama dokumen terkait. Ia tidak menjanjikan dapat menghapus semua kegelisahan Ailana melalui sebuah berkas. Tristan menghargai jawaban tersebut meskipun sempat berharap ada sesuatu yang dapat langsung membuat putrinya merasa aman.
Ia mengambil pena dan menuliskan hal yang perlu dibicarakan lagi dengan Sherly. Tulisan itu lebih lambat daripada tanda tangan yang biasa dibubuhkannya pada laporan perusahaan. Untuk urusan ini, ia tidak dapat menyerahkan seluruh perhatian kepada orang lain lalu menunggu kabar bahwa semuanya sudah selesai.
Sebelum menutup map, ia melihat lembar catatan Caramella yang telah diterima Evelyn. Ada pertanyaan pendek yang dulu luput dijawabnya. Tristan menunjuk bagian itu dan memberikan keterangannya sekarang. Ia tidak mempunyai alasan lagi untuk menunda hanya agar dapat menjadwalkan pertemuan tambahan dengan pengacara lamanya.
Evelyn mendengarkan sampai selesai, kemudian memperbaiki catatannya.
Tristan mengangguk. Dahulu ia mungkin akan meminta semuanya dipercepat. Kini ia memikirkan wajah Ailana ketika menanyakan apakah masih boleh memanggilnya Ayah.
Ada orang yang harus menjalani akibat keputusan tersebut jauh setelah berkas ditutup.
Ketika akhirnya keluar, ia melihat Caramella di ujung lorong sedang berbicara dengan Willow. Langkahnya sempat melambat. Caramella tidak melihatnya, dan Tristan tidak memanggil.
Ia berjalan menuju lift dengan map miliknya sendiri.
***
Sore itu, Caramella menerima kabar bahwa pertemuan berikutnya dengan Tristan sudah dijadwalkan melalui kantor Evelyn. Ia membaca pemberitahuan tersebut, kemudian menutupnya.
Willow masuk membawa surat yang perlu ditandatangani.
"Apa saya perlu menghapus pengingat untuk Mr. Ramsey dari agenda Anda?"
"Iya. Yang berkaitan dengan penanganan berikutnya sudah melalui Evelyn."
Sekretarisnya melakukan perubahan itu di hadapannya. Sebuah nama berpindah dari satu daftar ke daftar lain, gerakan kecil yang tidak sebanding dengan beratnya di dada Caramella.
Willow tidak menanyakan mengapa ia terdiam.
Sesudah pekerjaan selesai, Caramella pulang lebih awal dari biasanya. Di toko dekat gedung apartemen, ia membeli roti yang disukai ibunya. Ia sempat berdiri terlalu lama di depan pilihan coklat panas, lalu mengambil yang biasa dibelinya sebelum mengenal Tristan.
Hal-hal kesukaannya masih ada. Ia hanya perlu mengingat untuk mencarinya kembali.
***
Ester menelepon setelah makan malam. Caramella ragu sebelum menjawab, khawatir percakapan akan berubah menjadi bujukan untuk mengunjungi Tristan.
Namun wanita itu justru menanyakan perjalanan pulang dan keadaan Susan. Caramella menjawab seperlunya, sedikit lebih tenang ketika tidak mendengar kata pernikahan.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan," ujar Ester kemudian. "Tentang gaun yang kamu pakai ke pesta."
Caramella menegakkan tubuh. "Gaun biru itu?"
"Iya. Aku yang mengirimnya."
Ia terdiam, mengingat kartu kecil dengan nama Tristan yang dulu ditemukannya di dalam kotak.
"Kenapa menggunakan namanya?"
Ester terdengar malu. "Aku ingin kalian lebih dekat. Kupikir itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan."
Caramella menatap cangkir di tangannya. Misteri kecil itu akhirnya mempunyai jawaban yang sederhana, tetapi ia tidak merasa ingin tertawa.
"Aku benar-benar mengira gaun itu darinya."
"Aku tahu. Seharusnya aku mengatakan yang sebenarnya sejak awal."
"Dan seharusnya Anda tidak membuat keputusan seperti itu untuk kami."
Ester tidak langsung menjawab. Di belakangnya terdengar suara seseorang memanggil, tetapi ia meminta waktu sebentar.
"Kamu benar. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya."
Caramella mengembuskan napas perlahan. Ia berterima kasih karena Ester menjelaskan, tanpa mengatakan bahwa semuanya tidak penting. Kemudian ia menanyakan kabar Margaret dan mendengarkan cerita singkat tentang nenek Tristan yang mulai sering duduk di teras.
Panggilan berakhir dengan lebih tenang daripada yang dimulainya.
Susan menghampiri setelah Caramella meletakkan ponsel.
"Kabar buruk?"
"Bukan. Hanya sesuatu yang akhirnya dijelaskan."
Ia menyandarkan tubuh pada sofa dan memandang ibunya membelah roti. Hari itu beberapa hal berpindah tempat: sebuah berkas, satu nama di agenda, dan sebuah kesalahpahaman yang tidak perlu lagi dipikirkannya sebelum tidur.