Kristin sudah membaca pesan Caramella lima kali sebelum membalasnya. Jawaban yang akhirnya dikirim sangat singkat: ia masih mencari dokumen dan akan mengabarkan secepatnya.
Sesudah itu ia melemparkan ponsel ke sofa.
"Kenapa sekarang dia menjadi begitu teliti?"
Tidak ada yang menjawab. Apartemen yang dahulu membuatnya merasa berhasil keluar dari kehidupan menyedihkan bersama Derick kini tampak terlalu sunyi. Kantong belanja masih tergeletak di sudut, tetapi ia tidak berminat membukanya.
Ia telah berhasil menghubungi pria yang membantu penipuannya. Jawaban orang itu tidak seperti yang diharapkan. Ia tidak ingin kembali berurusan dengan Caramella, terlebih setelah mengetahui putri Derick seorang pengacara yang mulai meminta bukti.
Kristin memaki ketika mengingat percakapan tersebut. Uang yang diberikannya kepada pria itu ternyata hanya membeli bantuan untuk satu kebohongan, bukan kesetiaan menghadapi akibatnya.
Bel pintu berbunyi.
Ia langsung menegang. Dari lubang pintu terlihat wajah Robie. Kristin membiarkannya menunggu beberapa saat sebelum berbicara tanpa membuka pintu.
"Aku sedang tidak ingin menerima tamu."
"Aku bukan tamu. Buka pintunya."
"Kamu tidak tinggal di sini."
Keheningan di luar membuatnya menahan napas. Kemudian Robie mengatakan bahwa ia hanya ingin berbicara. Suaranya lebih pelan, tetapi tidak terdengar lebih ramah.
Kristin membuka pintu secukupnya untuk melihatnya. Robie mencoba melangkah maju, dan wanita itu tetap berdiri menghalangi.
"Katakan dari sana."
Matanya menyipit. "Kamu menghindariku."
"Aku punya urusan lain."
"Dengan siapa? Alexis? Atau pria yang lain?"
Kristin merasakan amarah mengalahkan ketakutannya untuk sesaat. "Itu bukan urusanmu."
Robie memandangnya lama, kemudian mengeluarkan kartu nama dari saku. Kristin mengenali nama detektif yang pernah disebutnya.
"Apa kamu ingin aku menelepon orang ini?"
Wajahnya berubah pucat. Ia membenci kenyataan bahwa Robie melihat perubahan tersebut dan langsung tampak puas.
"Aku sudah menjelaskan wanita di foto itu bukan aku."
"Kalau begitu kamu tidak perlu takut."
Kalimat itu diucapkan dengan tenang, seolah ia hanya mengingatkan sesuatu yang sederhana. Kristin mencengkeram gagang pintu sampai buku jarinya memutih.
"Aku tidak akan menikah denganmu hanya karena kamu membawa kartu itu."
Robie kehilangan senyum. Untuk beberapa detik keduanya saling memandang, dan Kristin bertanya-tanya apakah pria itu akan mendorong pintunya.
Suara lift terbuka di ujung lorong. Seorang penghuni berjalan keluar sambil membawa tas belanja. Robie menoleh, memasukkan kartu itu kembali, lalu menurunkan suaranya.
"Kita belum selesai bicara."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Kristin mengunci pintu dan menyandarkan punggung. Ia telah menipu Caramella, menyimpan masa lalu yang tidak berani disebut, dan sekarang seorang pria mencoba menggunakan semuanya untuk menguasainya. Pikiran itu tidak membuatnya merasa bebas dari kesalahan, hanya semakin terpojok.
Ia duduk lama sebelum kembali mengambil ponsel.
Nama Alexis terlihat ketika ia menggulir daftar percakapan. Kristin teringat wajah pria itu di pusat perbelanjaan, dan bagaimana Gabriella langsung menarik kakaknya pergi. Ia sempat mengetik sapaan, kemudian menghapusnya sebelum dikirim.
Apa yang akan dikatakannya? Bahwa ia membutuhkan teman setelah meninggalkan pria itu demi seseorang yang bahkan belum dikenalnya? Atau bahwa ia sedang ketakutan dan ingin Alexis segera datang tanpa menanyakan alasan?
Kristin meletakkan ponsel. Ia tidak tiba-tiba menyesali seluruh perbuatannya, tetapi untuk sesaat ia dapat melihat betapa sering dirinya mencari seseorang hanya ketika membutuhkan sesuatu.
Di meja masih ada pita dari kantong kue yang dibawanya pada kunjungan sebelumnya ke kantor Caramella. Ia meremas pita itu sampai kusut. Berpura-pura menjadi wanita yang tidak berdaya dahulu terasa begitu mudah. Sekarang, ketika ketakutannya sungguh nyata, ia tidak tahu siapa yang akan mempercayainya.
Ia berdiri dan memeriksa kunci pintu sekali lagi. Setelah itu ia kembali ke sofa, memilih nomor Caramella, dan menunggu sambil menatap tangannya sendiri. Permintaan kuitansi masih belum mempunyai jawaban, tetapi ia tidak sanggup terus mendengarkan kesunyian apartemen seolah Robie dapat muncul kembali setiap saat.
***
Caramella sedang makan siang ketika Kristin menelepon. Ia membiarkan kunyahannya selesai sebelum menjawab. Di meja terdapat catatan yang sejak tadi sengaja tidak dibukanya selama makan.
"Aku sudah membaca pesanmu," kata Kristin. "Aku benar-benar belum menemukan kertasnya."
"Kalau begitu berikan rincian pihak yang menerima pembayaran. Aku akan mencocokkannya dengan yang kamu sampaikan sebelumnya."
"Apa kamu tidak percaya kepadaku?"
Caramella memandang roti yang belum habis. Pertanyaan itu mengingatkannya pada banyak percakapan ketika sebuah permintaan penjelasan tiba-tiba berubah menjadi ujian kasih sayang.
"Aku meminta bukti transaksi. Itu tidak sama dengan menuduhmu."
"Aku sedang mempunyai banyak masalah."
"Aku mengerti. Tetapi permintaanku tetap sama."
Kristin terdiam, lalu suaranya terdengar lebih kecil. "Ada seorang pria yang terus menggangguku."
Caramella menegakkan tubuh. "Apa kamu dalam bahaya sekarang?"
"Dia sudah pergi."
"Kalau dia mengancammu, kamu bisa meminta bantuan. Apa kamu sudah melaporkannya?"
"Belum. Aku tidak ingin membuat urusan bertambah besar."
Caramella menunggu. Ia tidak mengetahui apakah Kristin sedang mencoba mengalihkan pembicaraan atau benar-benar ketakutan. Kedua hal itu mungkin saja terjadi bersamaan.
"Aku tidak bisa menilai apa yang terjadi tanpa keterangan lebih jelas," katanya. "Tapi kamu tidak harus menghadapi ancaman sendirian. Itu terpisah dari dokumen yang kuminta."
Kristin tidak menjawab pertanyaan tentang nama pria tersebut. Ia mengatakan akan menelepon lagi dan menutup sambungan.
Caramella meletakkan ponsel perlahan. Ia masih mencemaskan wanita itu, tetapi kali ini tidak langsung membuka rekening untuk mengirim uang.
***
Malamnya, Derick menelepon pada waktu yang sudah disepakati. Untuk pertama kali, nomornya sama dengan yang diberikan sebelumnya. Caramella menganggapnya kemajuan kecil, tidak lebih.
"Bagaimana pekerjaan Ayah?"
"Hari ini melelahkan. Ada banyak kamar yang harus dibereskan."
"Ayah masih di hotel yang sama?"
"Iya."
Derick menyebut nama hotel yang memang ditempati Caramella selama liburan. Mendengarnya diucapkan ayahnya membuat wanita itu kembali teringat hari-hari ketika mereka berada begitu dekat tanpa bertemu.
"Aku ingin Ayah menjawab satu hal tentang Kristin. Apa Ayah mempunyai catatan tentang utang yang tadi dibicarakan?"
"Ada beberapa surat lama. Tidak semuanya kubawa."
"Kalau Ayah menemukannya, simpan. Jangan hanya mengatakan aku harus percaya."
Derick menarik napas, lalu menyetujuinya. Ia tidak kembali menjelekkan Kristin untuk membuat dirinya tampak lebih baik.
Caramella hampir menutup telepon ketika ayahnya mengatakan bahwa ia telah menanyakan tempat untuk mendapat bantuan mengenai kebiasaan minumnya. Belum ada pertemuan yang dilakukan. Ia baru mencari informasi setelah selesai bekerja.
"Aku senang Ayah mulai mencarinya," jawabnya. "Tapi lakukan karena Ayah ingin berubah, bukan hanya supaya aku berhenti marah."
"Ayah mengerti."
Caramella tidak tahu apakah ia benar-benar mengerti. Meski begitu, kali ini ia tidak merasa harus mengisi keheningan dengan janji akan mengurus semuanya.
Sesudah panggilan selesai, ia membuat dua catatan terpisah. Satu tentang dokumen pembayaran Kristin, satu tentang kabar ayahnya. Persoalan mereka saling bertaut, tetapi tidak semuanya harus diselesaikan dengan tindakan yang sama.
Susan datang membawa teh. Caramella menutup buku dan menggeser tempat untuk ibunya.
"Besok kita sarapan di luar?" tanyanya tiba-tiba.
Susan tampak terkejut, lalu tersenyum. "Ibu mau."
Untuk malam itu, Caramella membiarkan rencana kecil tersebut menjadi hal terakhir yang dibicarakan.