Margaret Reyes meminta Ester mengambilkan kotak foto dari lemari atas. Permintaan itu membuat putrinya berhenti di tengah langkah.
"Kotak yang mana?"
"Yang bersampul kain coklat."
Ester sudah mengetahui jawabannya sebelum bertanya. Ia berdiri di depan lemari, menatap kotak yang selama ini jarang disentuh. Debu tipis menempel di permukaannya.
"Apa Mr. Emerson menelepon lagi?"
"Dia akan menelepon sore ini. Ada beberapa hal yang ingin dia pastikan."
Ester membawa kotak itu ke meja dekat kursi ibunya. Dari jendela teras masuk cahaya yang hangat, menimpa ujung-ujung foto yang mulai menguning.
Margaret membuka tutupnya dengan perlahan. Di bagian paling atas terdapat gambar Karina sedang berdiri di dekat seekor kuda. Rambutnya tertiup angin dan wajahnya menoleh ke seseorang di luar bingkai.
Untuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara.
"Dia selalu mengeluh rambutnya berantakan di foto itu," ujar Ester akhirnya.
Margaret tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Padahal Ibu menyukainya."
Mereka memilah foto tanpa menemukan wajah yang dicari. Ada pesta keluarga, perjalanan, dan halaman rumah yang dahulu belum ditumbuhi pepohonan sebesar sekarang. Joana tidak muncul dalam gambar-gambar tersebut.
Di antara lembaran itu, Ester menemukan foto Tristan kecil yang berdiri terlalu dekat dengan kamera. Sebagian kepalanya terpotong, sementara Karina tertawa di belakangnya.
"Dia ingin memotret kita setelah ini," kata Ester. "Tetapi terus lupa menunggu sebelum menekan tombol."
Margaret menyentuh tepi foto dengan hati-hati. Ia ingat suara cucunya yang tidak sabar dan Karina yang akhirnya berjongkok agar wajah mereka dapat masuk dalam satu gambar.
"Kita pernah mempunyai hari-hari yang menyenangkan," ujarnya.
"Masih ada, Bu. Hanya tidak sama."
Margaret mengangguk, meskipun tenggorokannya terasa penuh. Selama pencarian ini berlangsung, ia terlalu sering membuka kotak untuk menemukan bukti kehilangan. Ia hampir lupa bahwa benda yang sama juga menyimpan kehidupan putrinya sebelum hari kematian itu.
Ia meminta Ester menyisihkan foto tersebut untuk diperlihatkan kepada Tristan pada kesempatan lain. Bukan sebagai pengganti penjelasan yang belum diberikan, hanya sebagai kenangan yang juga berhak dimiliki cucunya.
Margaret menghela napas. Ia ingin mempunyai sesuatu yang lebih jelas daripada satu foto lama dan ingatan yang dibawa selama bertahun-tahun.
Ester menutup satu amplop kosong. "Mungkin memang tidak ada lagi."
"Kita belum memeriksa semuanya."
"Ibu sudah memeriksanya berkali-kali."
Suara itu tidak keras, tetapi membuat Margaret mengangkat kepala. Ester segera menunduk, menyesal karena terdengar tidak sabar.
"Aku tidak ingin Ibu terlalu lelah."
"Ibu juga lelah karena terus tidak tahu di mana dia."
Kali ini Ester tidak menjawab.
***
Jason Emerson menelepon sesuai waktu yang dijanjikan. Ia tidak membawa kabar penangkapan. Ia menjelaskan bahwa beberapa keterangan lama sedang dicocokkan kembali dan meminta Margaret memisahkan hal yang pernah dilihatnya sendiri dari hal yang didengar setelah kematian Karina dan George.
Margaret menjawab dengan teliti. Ada bagian yang diingat jelas, ada pula yang hanya dikenalnya melalui pembicaraan lama. Mengakui perbedaan itu tidak mudah. Selama bertahun-tahun, semuanya telah menyatu menjadi satu cerita di kepalanya.
"Aku ingin dia ditemukan," katanya.
"Saya mengerti, Mrs. Reyes. Tetapi saya tidak ingin memberikan nama seseorang hanya karena wajahnya mirip."
Jason kemudian menanyakan apakah ada foto lain yang lebih baru. Margaret memandang kotak terbuka di hadapannya.
"Belum ada. Kami baru saja mencarinya lagi."
"Kalau ada nama lama atau tempat yang belum pernah disebut, catat dahulu. Tidak perlu memaksakan ingatan sekarang."
Margaret memegang tepi meja. "Apa Anda menemukan sesuatu di London?"
Jason terdiam sebentar sebelum menjawab. Ada orang yang reaksinya ketika melihat foto membuatnya ingin menanyakan lebih jauh. Namun reaksi tersebut belum dapat diperlakukan sebagai bukti bahwa orang itu mengetahui Joana.
Ia tidak menyebut nama yang belum dimilikinya.
"Saya masih menindaklanjuti bagian itu. Saya akan mengabarkan jika ada sesuatu yang bisa dipastikan."
Panggilan berakhir tanpa jawaban yang selama ini ditunggu Margaret. Ia menutup kotak foto, tetapi menyisakan gambar Karina di atas meja.
***
Di London, Jason melihat kembali catatan pertemuannya dengan seorang pria di dekat gedung apartemen. Orang itu mengatakan tidak mengenali wanita dalam foto, tetapi keterkejutannya terasa terlalu besar untuk sekadar mendengar ada tersangka pembunuhan yang sedang dicari.
Perasaan tersebut cukup untuk membuat Jason ingin bertanya lagi. Tidak cukup untuk menuduh.
Ia kembali ke kawasan itu dan menanyakan pria yang pernah ditemuinya kepada orang yang memang bersedia berbicara. Salah seorang mengenali gambaran tersebut sebagai pengunjung yang sesekali datang, tetapi tidak dapat memberikan nama pasti.
Jason mencatat jawaban itu tanpa mengubahnya menjadi kepastian. Ia meninggalkan cara untuk menghubunginya jika ada informasi yang relevan, lalu kembali ke mobil.
Hari itu ia pulang dengan lebih sedikit jawaban daripada yang diharapkan. Pekerjaannya tidak selalu menghasilkan pintu yang mendadak terbuka. Kadang yang diperolehnya hanya alasan untuk datang kembali dengan pertanyaan yang lebih tepat.
***
Robie melihat kendaraan Jason meninggalkan jalan ketika ia sedang menuju apartemen Kristin. Langkahnya langsung melambat. Ia mengenali wajah pria di balik kaca meskipun pertemuan mereka sebelumnya singkat.
Detektif itu kembali.
Ia meraba kartu nama di saku, lalu berhenti sebelum mencapai pintu gedung. Selama ini ia merasa memegang sesuatu yang dapat membuat Kristin menurut. Kini ia mulai menyadari bahwa pengetahuan tersebut juga dapat menarik dirinya masuk ke dalam perkara yang tidak dipahaminya.
Robie mengeluarkan ponsel dan menelepon Kristin.
Wanita itu menjawab setelah dering yang panjang. "Apa lagi?"
"Orang yang mencari wanita itu datang lagi."
Tidak ada suara dari seberang.
"Kristin?"
"Aku mendengar."
Robie ingin menanyakan kebenaran sekali lagi. Ia ingin mendengar wanita itu mengaku agar keraguannya berakhir. Namun keinginan lain datang lebih cepat: jika ia tetap menjadi satu-satunya orang yang memperingatkan Kristin, mungkin wanita itu tidak akan meninggalkannya.
"Kamu harus bicara kepadaku."
"Aku tidak harus membicarakan apa pun denganmu."
Panggilan terputus.
Robie memandang layar dengan marah. Ia berjalan menjauhi gedung, belum memutuskan apa yang akan dilakukannya dengan kartu nama tersebut.
***
Di Cartagena, Ester membantu Margaret memindahkan foto Karina ke dekat lampu meja. Ibunya tampak sangat tua ketika duduk diam seperti itu, lebih tua daripada saat menggoda Tristan tentang pernikahan.
"Tristan seharusnya tahu bahwa Ibu masih mencari jawaban," ujar Ester.
Margaret menoleh. "Dia sudah cukup menderita."
"Dia juga bisa terluka kalau mendengarnya dari orang lain."
Ester teringat caranya mengirim gaun dengan nama keponakannya. Ia sudah mengira sedang membantu. Ternyata niat baik tidak membuat sebuah kebohongan terasa menyenangkan ketika akhirnya diketahui.
Perkara ibunya tentu jauh lebih berat, tetapi alasan untuk menunda terdengar begitu mirip.
"Aku tidak menyuruh Ibu mengatakan sesuatu yang belum pasti," lanjutnya. "Katakan yang memang Ibu ketahui."
Margaret menatap wajah Karina dalam foto. Ia telah melindungi kisah tentang putrinya dengan begitu erat sampai tidak mengetahui lagi bagian mana yang dilakukan demi Tristan dan bagian mana demi dirinya sendiri.
"Beri Ibu sedikit waktu," katanya.
Ester mengangguk. Ia tidak mendesak malam itu, tetapi kali ini ia juga tidak menjanjikan bahwa rahasia tersebut sebaiknya disimpan selamanya.