Caramella hampir membatalkan sarapan bersama ibunya ketika panggilan itu datang. Ia masih memegang tas dan Susan sudah menunggu di dekat pintu.
Petugas meminta waktu untuk membicarakan hasil pemeriksaan rekaman. Kali ini ada keterangan yang lebih jelas daripada percakapan sebelumnya.
Pria yang berpapasan dengannya di depan gedung telah dikenali sebagai Langford setelah gambar yang tersedia dibandingkan dalam pemeriksaan. Mereka ingin meminta keterangan tambahan tentang pertemuan tersebut.
Caramella tidak langsung menjawab.
Pintu yang sejak tadi terbuka sedikit terasa terlalu lebar. Ia menutupnya, memutar kunci, lalu menyadari Susan sedang memandangnya dengan cemas.
"Aku bisa datang," katanya kepada petugas. Suaranya terdengar begitu jauh di telinganya sendiri.
Setelah panggilan selesai, ia meletakkan tas di kursi.
"Pria itu Langford."
Wajah Susan kehilangan warna. Caramella menjelaskan sebisanya, menahan keinginan untuk menambahkan bahwa semuanya pasti sudah terlambat. Petugas tidak mengatakan itu. Ia tidak akan membiarkan ketakutannya menyusun kesimpulan sendiri.
"Apa dia sudah ditangkap?"
Caramella menggeleng.
Susan mendekat, tetapi berhenti sebelum memeluk. "Ibu ikut denganmu?"
"Iya. Aku ingin Ibu ikut."
Mereka berangkat setelah mengatur ulang rencana pagi itu. Roti dan coklat panas dapat menunggu. Namun Caramella menyimpan keinginan untuk tetap melakukan sarapan bersama pada hari lain, seolah rencana kecil itu dapat menjadi penanda bahwa kehidupan mereka tidak seluruhnya milik ketakutan.
***
Dalam pertemuan, Caramella melihat potongan gambar yang berkaitan dengan keterangannya. Ia tidak diminta memandangnya terus-menerus. Meski demikian, ketika wajah pria itu terlihat, jemarinya langsung menjadi dingin.
Wajahnya memang menua. Garis-garis dalam membelah kulit yang dahulu diingatnya berbeda. Tetapi sekarang, setelah mengetahui siapa yang dilihat, Caramella mengenali sesuatu pada bentuk wajah itu yang membuat perutnya terasa jatuh.
"Aku tidak mengenalinya pagi itu," katanya.
Petugas mencatat jawaban tersebut tanpa menyalahkannya.
Caramella menjelaskan bahwa ia terburu-buru menuju pekerjaan. Mereka bertabrakan, ia meminta maaf, kemudian pergi. Tidak ada percakapan panjang. Ia tidak melihat apakah pria itu mengikuti atau masuk ke gedung sesudahnya.
"Apa dia menanyakan sesuatu?"
"Tidak ada yang kuingat."
Ia hampir mengatakan barangkali pria itu berbicara setelah dirinya pergi, tetapi menahan diri. Ia tidak mendengarnya. Hal yang tidak diketahui harus tetap disebut tidak diketahui.
Ketika pertanyaan beralih pada kemungkinan kontak sebelumnya, Caramella meminta waktu sebentar. Susan tetap berada cukup dekat, menunggu sampai putrinya menoleh.
"Aku bisa melanjutkan," katanya setelah beberapa saat.
Keterangan tentang tempat tinggal dan kegiatan yang relevan dibicarakan tanpa menjadikan Caramella orang yang harus mencari Langford sendiri. Ia bertanya apa yang akan dikabarkan berikutnya dan kepada siapa ia harus menyampaikan informasi baru.
Tidak ada jawaban pasti tentang kapan pria itu akan ditangkap.
Caramella membenci ketidakpastian tersebut, tetapi lebih memilihnya daripada jaminan kosong.
***
Sepulang dari pertemuan, Susan mengusulkan agar mereka mampir membeli makanan. Caramella hampir menolak karena ingin segera berada di balik pintu apartemen. Namun perutnya berbunyi sebelum ia sempat menjawab.
Ibunya tersenyum sedih. "Kita belum sarapan."
Mereka membeli makanan untuk dibawa pulang. Caramella tetap memperhatikan orang-orang di sekelilingnya, kadang terlalu lama sampai ia sendiri merasa lelah. Ia tidak memarahi dirinya karena belum dapat berjalan santai seperti sebelum menerima telepon.
Di gedung apartemen, ia berbicara bersama petugas mengenai pembaruan laporan. Pengelola mencatatnya dan memastikan orang yang bertugas menerima informasi yang diperlukan. Caramella tidak menjelaskan kisah masa kecilnya kepada setiap orang yang lewat.
Pintu lift terbuka saat ia sedang menyimpan ponsel.
Tristan berdiri di dalam bersama Finn. Pria itu tampak hendak berangkat, tetapi langsung melihat perubahan wajah Susan dan Caramella.
"Apa ada sesuatu?" tanyanya.
Caramella ragu. Ia tidak ingin mengubah pertemuan di lobi menjadi percakapan yang dapat didengar siapa pun.
"Ada perkembangan tentang hal yang kuceritakan. Aku belum ingin membahasnya di sini."
Tristan mengangguk, lalu menyingkir untuk memberi jalan. "Baik."
Hanya itu. Tidak ada desakan mengikuti mereka ke atas, tidak ada pertanyaan bertubi-tubi yang membuat Caramella harus menenangkan pria itu lebih dahulu.
Ketika pintu lift menutup, ia masih dapat melihat Tristan berdiri di dekat Finn. Untuk sesaat ia merasa ingin keluar dan memintanya menemani, tetapi tetap tinggal di samping ibunya.
Ia boleh membutuhkan waktu untuk memahami keinginannya sendiri.
***
Di mobil, Finn menunggu sampai Tristan menyebut tujuan. Atasannya sejak tadi diam dengan pandangan tertuju pada gedung.
"Ke kantor," kata Tristan akhirnya.
Finn tidak bertanya tentang Caramella. Ia membuka agenda dan mengingatkan jadwal yang harus dihadiri sebelum siang.
Tristan mendengarkan, tetapi pikirannya masih tertinggal pada wajah wanita itu. Ia ingin menelepon, ingin mengetahui apa yang membuatnya pucat. Tangannya meraih ponsel, kemudian berhenti.
Ia tidak mempunyai izin untuk mencari keterangan melalui orang lain hanya karena Caramella belum ingin bercerita.
Tristan menyimpan ponsel kembali dan meminta Finn mengulangi jadwal. Ia harus mendengar kali ini.
***
Sore hari, Caramella duduk di meja dengan komputer terbuka. Ia menyelesaikan pekerjaan yang masih dapat dilakukan dari rumah setelah membicarakan pengaturan hari itu dengan kantor. Tidak semuanya selesai. Ia menandai bagian yang akan diteruskan besok.
Susan tertidur di kamar setelah memastikan putrinya sudah makan.
Caramella sempat mendengar ibunya menjatuhkan pembatas buku sebelum terlelap. Ia mengambil potongan kertas itu dari lantai dan menyelipkannya kembali tanpa membangunkan Susan. Pada halaman yang terbuka, tulisan tercetak rapat dan beberapa sudutnya sudah melengkung.
Ia menutup pintu kamar perlahan. Ibunya juga membutuhkan istirahat, meskipun sejak pagi terus mengatakan tidak lelah. Caramella pergi ke dapur, merapikan kotak makanan, lalu menaruh dua piring bersih untuk nanti.
Tangannya masih sedikit gemetar ketika menyusun gelas. Ia berhenti sampai dapat memegangnya dengan lebih baik, kemudian meneruskan. Tidak ada orang yang mendesak. Bahkan untuk pekerjaan sekecil itu, ia boleh mengambil waktu yang dibutuhkannya.
Caramella mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Tristan. Ia membaca pesan terakhir yang masih berkaitan dengan undangan ulang tahun. Tidak ada rentetan panggilan yang harus ditolaknya.
Ia akhirnya menulis bahwa orang dari masa lalunya telah terlihat di depan gedung dan ia sedang mendapat bantuan polisi. Ia belum ingin kunjungan, tetapi ingin Tristan mengetahui bahwa Susan menemaninya.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
"Terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan mengikuti yang kamu minta."
Caramella membaca kalimat itu, lalu meletakkan ponsel. Pesan tersebut tidak menghapus apa yang terjadi di Cartagena. Ia juga tidak harus membencinya hanya karena merasa sedikit lebih tenang setelah dibaca.
Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala. Pria yang pernah menghancurkan rasa amannya kini benar-benar berada cukup dekat untuk berpapasan dengannya. Caramella tidak dapat berpura-pura sebaliknya lagi.
Namun kali ini ia bukan anak kecil yang tidak dapat memberitahu siapa pun. Ada laporan yang sudah dibuat, orang-orang yang mendengarkan, dan keputusan yang tetap dapat diambilnya sendiri.
Ia menutup komputer, kemudian mengetuk pintu kamar ibunya untuk mengajak makan. Sebelum beranjak, ia mengambil buku catatan dan menuliskan satu hal untuk pertemuan berikutnya dengan psikolog: ia ingin membicarakan rasa takut yang muncul ketika melihat wajah Langford.
Untuk malam ini, itulah langkah berikutnya yang dapat dipilihnya.