Ailana membuka pintu sebelum Sherly sempat memanggil pelayan. Di tangannya terdapat daftar kegiatan sekolah yang penuh lingkaran tinta biru.
"Ayah datang tepat waktu."
"Apa biasanya aku selalu terlambat?"
Gadis itu mengangkat alis, dan Tristan tidak jadi membela diri. Ia melepaskan mantel, kemudian mengikuti Ailana ke ruang keluarga.
Dexter sudah duduk di sana. Keduanya bertukar salam yang masih terasa sedikit kaku. Mereka tidak akan tiba-tiba menjadi sahabat hanya karena ingin membuat suasana nyaman, tetapi Tristan dapat duduk tanpa memulai pertengkaran.
Sherly membawa minuman dan meletakkannya di meja.
"Kita makan setelah berbicara sebentar."
"Jangan terlalu lama," ujar Ailana. "Aku masih punya tugas."
Tristan tersenyum. Ia ingat gadis itu dahulu dapat menunggu berjam-jam hanya untuk melihatnya pulang. Sekarang ia mempunyai tugas, teman, dan rencana yang tidak selalu berkisar pada orang-orang dewasa di rumah.
Sherly memulai dengan menjelaskan bahwa belum ada rencana meminta Ailana meninggalkan kamar atau sekolahnya. Pengaturan yang lebih lengkap masih dibicarakan, dan mereka ingin mengetahui kebutuhan yang selama ini belum disebut.
Ailana memandang Dexter. "Kalau nanti tinggal di sini, apa semua barang akan dipindahkan?"
Dexter tampak terkejut oleh pertanyaan itu. Ia melihat sekeliling, baru memahami bahwa bagi gadis tersebut sebuah rumah juga terdiri dari rak, kursi, dan pintu kamar yang dikenalnya.
"Aku tidak datang untuk membuang barangmu. Kalau ada perubahan di ruang bersama, kita bisa membicarakannya."
"Foto Ayah juga?"
Sherly menoleh kepada Tristan, lalu kembali kepada putrinya.
"Kamu boleh menyimpan foto bersama Ayah. Tidak ada yang akan melarangmu."
Ailana menunduk. Jemarinya meratakan ujung kertas yang sudah terlipat. "Aku hanya tidak ingin harus menyembunyikannya."
Tristan merasakan dadanya menghangat dan sakit sekaligus. Ada kekhawatiran yang tidak pernah terpikir olehnya ketika membahas rumah sebagai bagian kesepakatan perceraian.
"Kamu tidak perlu menyembunyikan siapa yang kamu sayangi," katanya.
Dexter mengangguk. Ia tidak mencoba mengambil kesempatan itu untuk meminta panggilan khusus. Ia hanya menanyakan jadwal kegiatan yang tadi dibawa Ailana dan mendengarkan ketika gadis itu mulai menjelaskan.
Percakapan menjadi lebih mudah setelah ada kertas di antara mereka. Hari kegiatan, kebutuhan antar jemput yang perlu diatur, serta waktu bertemu Tristan mulai dibicarakan sebagai sesuatu yang nyata.
Tidak semuanya langsung cocok.
Tristan mempunyai perjalanan kerja pada salah satu akhir pekan yang diinginkan Ailana. Ia hampir menjanjikan akan membatalkannya, lalu memeriksa lagi sebelum berbicara.
"Untuk hari itu aku belum bisa memastikan. Aku akan memeriksa jadwal dan mengabarimu besok. Kita juga bisa mencari hari lain."
Gadis itu tampak kecewa, tetapi mengangguk. "Jangan lupa memberi kabar."
"Aku tidak akan lupa."
Sherly mencatat bagian yang masih menunggu jawaban. Ia tidak mengubah kekecewaan putrinya menjadi sindiran kepada Tristan.
Ailana kemudian menunjukkan buku catatan biru yang diterimanya saat ulang tahun. Halaman pertamanya berisi daftar kegiatan dengan tulisan yang semakin kecil mendekati bagian bawah.
"Aku salah memperkirakan tempatnya," katanya.
Tristan menahan senyum. "Kamu boleh memakai halaman berikutnya."
"Aku tahu. Tapi aku ingin semua terlihat sekaligus."
Sherly mengambil selembar kertas kosong untuk membantu menyusun ulang daftar tanpa mencoret buku itu. Ailana menulis sendiri, sementara yang lain menunggu ketika ia menghitung hari.
Tidak ada pembicaraan tentang hadiah yang lebih mahal atau barang baru untuk membuatnya gembira. Gadis itu justru ingin mengetahui siapa yang dapat datang pada waktu tertentu dan apakah rencana dapat berubah mendadak.
Tristan meminta melihat daftar setelah selesai. Ia memotretnya dengan izin Ailana, kemudian memastikan tulisan yang kecil tetap dapat dibaca.
"Ayah benar-benar akan menyimpannya?"
"Iya. Bukan hanya mengingatnya sebentar lalu lupa."
Ailana memandangnya seolah ingin menilai janji tersebut. Akhirnya ia menyerahkan kertas itu agar dibuatkan salinan, kemudian kembali membuka buku birunya.
Tristan tidak meminta gadis itu langsung percaya. Ia menyimpan daftar tersebut di tempat yang mudah ditemukan dan bertanya pada Sherly tentang bagian yang belum dipahaminya. Kehadiran yang dijanjikannya harus dimulai dari mengingat hal-hal kecil yang selama ini sering diserahkan kepada orang lain.
***
Setelah Ailana kembali ke kamar mengambil tugas, ketiga orang dewasa itu duduk dalam keheningan singkat. Dexter akhirnya mengatakan bahwa ia belum mempunyai pengalaman menjalani pengaturan keluarga seperti ini.
"Aku mungkin akan melakukan kesalahan. Aku lebih suka diberi tahu daripada semuanya didiamkan sampai menjadi pertengkaran."
Tristan menatapnya. Selama ini ia lebih sering memikirkan pria itu sebagai orang yang dipilih Sherly. Sulit mengabaikan sejarah tersebut, tetapi Ailana membutuhkan lebih dari persaingan dua pria.
"Yang penting jangan menjadikan dia pembawa pesan kalau kita tidak sepakat," jawabnya.
Sherly mengangguk. "Kita bicara langsung."
Mereka menyepakati beberapa kebiasaan praktis untuk sementara dan mencatat bagian yang perlu dibahas lebih lanjut dengan pihak yang menangani pengaturan pengasuhan. Tidak ada yang mengumumkan persoalan telah selesai hanya karena percakapan berjalan tenang.
Saat makan, Ailana menceritakan Gabriella yang salah membawa buku. Tristan tertawa ketika mendengar adik Alexis mencoba menyalahkan tasnya sendiri. Sherly menambahkan cerita tentang kue ulang tahun yang masih disimpan terlalu banyak.
Dexter membantu mengambil piring tanpa membuat suasana seolah ia sedang menjalani ujian.
Tristan menyadari dirinya dapat hadir di rumah tersebut tanpa kembali menjadi suami Sherly. Kenyataan itu terasa asing, tetapi tidak seluruhnya menyedihkan.
***
Caramella menerima perkembangan pemeriksaan sore itu. Pria yang datang ke firma menggunakan nama lain memang cocok dengan Langford berdasarkan pemeriksaan gambar. Ia belum berhasil masuk ke area kantor mereka.
Wanita itu duduk diam setelah mendengarnya. Sekarang tidak ada lagi penghiburan bahwa pertemuan di apartemen mungkin hanya kebetulan. Pria itu telah berusaha menemukan tempat kerjanya juga.
Ia memberikan keterangan tambahan sesuai yang diketahuinya, lalu mengabarkan hal yang diperlukan kepada firma. Setelah selesai, ia meminta waktu sendiri sebentar kepada Susan.
Di kamarnya, Caramella tidak langsung menangis. Ia memandangi sepatu merah yang diletakkan dekat lemari dan merasa marah. Ia menyukai pekerjaannya. Ia telah membangun kehidupan itu dengan susah payah, dan sekarang seseorang membuat setiap keberangkatan terasa seperti pertanyaan tentang keselamatan.
Ketika air mata akhirnya jatuh, ia membiarkannya.
Beberapa saat kemudian ia keluar dan menemukan ibunya masih menunggu. Susan tidak mengatakan agar ia berhenti bekerja atau menghilang dari semua orang.
"Besok apa yang kamu perlukan?"
"Aku akan menyesuaikan jadwal dengan kantor. Lalu tetap datang ke pertemuan yang sudah kujanjikan untuk diriku sendiri."
Susan mengangguk, memahami pertemuan mana yang dimaksud.
***
Tristan pulang setelah berpamitan kepada Ailana. Di mobil, ia menuliskan pengingat untuk mengabarkan perubahan jadwal kepada putrinya besok.
Ia sempat teringat Caramella yang dahulu mengingatkannya agar tidak menjanjikan semuanya akan tetap sama. Ia ingin mengatakan bahwa nasihat itu membantunya hari ini. Namun ia tidak mengirim pesan hanya untuk membuat wanita tersebut melihat kemajuannya.
Perubahan yang sungguh-sungguh tidak selalu mempunyai penonton.
Ia memasukkan ponsel ke saku ketika kendaraan berhenti. Malam itu, ia membawa pulang salinan jadwal Ailana dan beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Untuk pertama kalinya, hal-hal tersebut terasa seperti bagian penting dari menjadi ayah, bukan gangguan di antara pekerjaannya.