Tiga hari setelah pertemuannya dengan Kristin, Caramella sedang berada di dapur ketika telepon berdering. Ia menoleh kepada Susan yang sedang memotong buah, kemudian mengambil ponsel dari meja.
Nomor petugas yang menangani laporannya terlihat di layar.
Jantungnya langsung berdebar. Beberapa panggilan terakhir selalu membuat dunianya terasa semakin sempit. Ia menjawab sambil bersandar pada tepi meja, bersiap mendengar tempat lain yang telah didatangi Langford.
Kali ini kabarnya berbeda.
Pria itu telah ditangkap.
Caramella memejamkan mata. Ia mendengar penjelasan berikutnya, tetapi beberapa kata seperti melewatinya begitu saja. Ia meminta petugas mengulangi agar tidak salah memahami.
"Dia sudah berada dalam penahanan?"
Jawaban yang diterimanya jelas. Penelusuran setelah laporan pelarian, gambar, dan keterangan tentang kemunculannya telah membawa petugas pada tempat ia ditemukan. Caramella tidak diminta mendatangi atau berhadapan dengannya saat itu.
Ia mengucapkan terima kasih, kemudian mendengarkan informasi yang masih diperlukan. Perkara tentang tindakannya sesudah melarikan diri belum berarti selesai. Keterangan Caramella dan catatan gedung tetap menjadi bagian yang perlu disimpan.
Setelah panggilan berakhir, ia meletakkan ponsel dengan hati-hati.
Susan sudah berhenti memotong buah.
"Apa yang terjadi?"
Caramella membuka mulut, tetapi suaranya tidak segera keluar. Ia harus menarik napas sekali lagi sebelum mengatakan bahwa Langford telah tertangkap.
Pisau diletakkan di talenan. Susan mendekat dan memeluk putrinya setelah Caramella merentangkan tangan.
Tidak ada tawa keras atau ucapan kemenangan. Wanita itu justru menangis dengan tubuh gemetar, seolah baru sekarang kelelahan selama beberapa hari mendapat tempat untuk keluar.
Susan memegangnya tanpa menyuruh berhenti.
***
Beberapa jam kemudian, Caramella masih terkejut ketika mendengar pintu lift terbuka di luar. Ia menoleh terlalu cepat, kemudian merasa kesal. Pria itu sudah ditangkap, tetapi tubuhnya seolah belum menerima kabar yang sama.
Ia menceritakan hal tersebut dalam pertemuan lanjutan dengan psikolog pada hari yang sudah dijadwalkan. Kali ini Susan mengantarnya, lalu berjalan sebentar dan kembali menjelang pertemuan selesai.
Caramella mengatakan ia merasa seharusnya sudah lega sepenuhnya.
"Apa ada bagian yang memang merasa lega?"
"Ada. Aku tidak terus membayangkan dia berdiri di bawah gedung. Tetapi aku masih menoleh setiap mendengar langkah."
Percakapan berjalan tanpa memaksanya memilih salah satu perasaan. Ia dapat lega dan masih takut. Ia dapat ingin kembali bekerja seperti biasa sambil tetap membutuhkan beberapa penyesuaian.
Untuk pertama kali, ia juga menceritakan malam di Cartagena lebih lengkap, sebatas yang mampu diucapkannya. Tidak semua kalimat keluar lancar. Ada jeda panjang ketika ia merasa ingin meminta maaf karena ceritanya membingungkan.
Ia berhenti sebelum mengucapkan permintaan maaf itu.
Ketika pertemuan berakhir, Caramella tidak memperoleh jawaban tentang apakah harus mencintai atau meninggalkan Tristan. Namun ia berhasil mengatakan bahwa ia belum ingin didesak menentukan akhir hubungan tersebut.
Keputusan untuk belum memutuskan akhirnya terasa seperti sesuatu yang dapat dihormati.
***
Willow menerima kabar penangkapan menjelang sore. Caramella menyampaikan informasi seperlunya, lalu membicarakan agenda esok hari. Pengaturan tamu tidak langsung diabaikan hanya karena satu kabar baik datang.
"Saya senang Anda sudah mendengar kabar itu," kata sekretarisnya.
"Aku juga. Terima kasih karena membantu beberapa hari ini."
"Sama-sama, Miss Hewitt."
Caramella tersenyum mendengar panggilan yang begitu akrab dalam kesehariannya. Ia merindukan rasa bosan yang sederhana ketika agenda hanya berisi pekerjaan, bukan pertanyaan apakah seseorang sedang menunggunya di lobi.
Namun untuk kembali ke sana, ia tidak harus menghapus apa yang baru dilaluinya.
Ia menyiapkan pakaian kerja untuk besok dan menggantung mantel merah di tempat biasa. Setelah itu ia duduk di depan jendela dengan coklat panas, membiarkan cahaya sore masuk tanpa segera menarik tirai.
Susan datang membawa buku yang belum selesai dibacanya. Ia duduk di kursi sebelah dan membuka halaman bertanda kertas tanpa mengajak putrinya berbicara.
Caramella menyukai keheningan itu. Beberapa hari sebelumnya, diam selalu terasa seperti waktu untuk menunggu dering telepon berikutnya. Sekarang ia mendengar suara halaman dibalik dan sendok menyentuh cangkir.
Ia mengambil buku yang sudah lama diletakkan di dekat sofa. Baru beberapa halaman dibaca ketika pikirannya kembali melayang, tetapi ia tidak menutupnya dengan marah. Ia menyelipkan pembatas, lalu bertanya apakah ibunya ingin menambah minuman.
Sore yang tenang tidak harus berlangsung sempurna agar tetap berarti baginya.
***
Tristan pulang lebih awal setelah memastikan pekerjaan yang perlu diselesaikan sudah ditangani. Pertemuannya dengan Jason dijadwalkan pada hari berikutnya. Ia telah menerima beberapa bahan dari Ester, tetapi belum membaca semuanya sekaligus.
Di antara kiriman tersebut ada foto dirinya saat kecil bersama ibunya. Kepala Tristan terpotong sedikit di bagian atas bingkai, sementara Karina tertawa di belakangnya.
Ia memandang foto itu lama sekali.
Ponselnya berbunyi ketika ia hendak menyimpannya. Sebuah pesan dari Caramella mengatakan Langford telah ditangkap. Wanita itu menambahkan bahwa ia ingin berbicara sebentar melalui telepon jika Tristan mempunyai waktu.
Ia membalas bahwa ia bisa, kemudian menunggu sampai Caramella menelepon.
"Aku ingin kamu mendengarnya langsung dariku," kata wanita itu.
"Aku senang kamu mendapat kabar itu. Bagaimana keadaanmu?"
Caramella terdiam sesaat. "Lebih lega. Masih lelah."
"Apa kamu sudah makan?"
Ia tertawa kecil. "Ibu sudah memastikan itu berkali-kali."
Tristan tersenyum mendengar tawanya, tetapi tidak menjadikan kehangatan tersebut alasan meminta bertemu.
Mereka berbicara beberapa menit tentang hari yang berjalan lambat setelah telepon dari petugas. Caramella tidak menceritakan isi konsultasinya dan Tristan tidak bertanya. Ia hanya mendengarkan ketika wanita itu mengatakan ingin mencoba kembali menikmati perjalanan ke kantor tanpa menghitung setiap orang di belakangnya.
"Aku harap pelan-pelan kamu bisa," jawabnya.
Caramella memperhatikan kelelahan dalam suara pria itu. "Kamu sendiri baik-baik saja?"
Tristan memandang foto di tangannya. Ia dapat mengatakan tidak ada apa-apa, tetapi kebohongan kecil itu terasa terlalu dekat dengan apa yang baru dilakukannya bersama keluarganya.
"Ada kabar tentang orang tuaku. Aku masih memahaminya. Tidak perlu kita bicarakan malam ini."
"Kabar yang buruk?"
"Kabar yang seharusnya sudah kuketahui sejak lama."
Caramella tidak mendesak. Ia mengatakan berharap Tristan mempunyai seseorang untuk diajak membicarakannya.
"Aku sudah berbicara dengan Alexis. Besok aku akan menemui orang yang menangani pencarian keterangan itu."
"Baiklah."
Keheningan berikutnya tidak terasa seperti hukuman. Ada banyak hal yang belum boleh mereka masuki dalam kehidupan masing-masing, tetapi percakapan singkat itu tetap dapat berakhir dengan baik.
"Aku ingin istirahat sekarang," kata Caramella.
"Tentu. Selamat malam."
Setelah panggilan berakhir, Tristan tidak menelepon kembali.
Caramella meletakkan ponsel di meja dan memandang pintu kamarnya. Ia tidak baru saja memaafkan atau menyetujui sesuatu yang lebih jauh. Ia hanya memilih berbicara pada malam ketika dirinya ingin berbicara.
Di dapur, Susan sedang menyimpan sisa buah. Caramella menghampirinya dan mengambil satu potong sebelum tutup wadah dipasang.
"Besok aku ingin sarapan sebelum berangkat," katanya. "Tidak terburu-buru seperti biasanya."
Susan tersenyum. "Kalau begitu bangun sedikit lebih awal."
Caramella mengangguk. Di luar, kota tetap bergerak. Untuk malam itu, ia tidak perlu ikut mengejar apa pun.