Tristan tiba sebelum waktu yang dijanjikan. Ia duduk di ruang tunggu sambil memegang map kiriman Ester, memandang sebuah gambar pemandangan di dinding tanpa benar-benar melihatnya.
Semalam ia membaca catatan keluarga dua kali. Pada pembacaan pertama, ia hanya merasa marah. Pada pembacaan kedua, ia mulai menyadari betapa banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh orang-orang yang selama ini menyayanginya.
Jason Emerson mempersilakannya masuk tepat pada waktunya. Pria itu tidak menyambutnya dengan janji akan segera menemukan pembunuh orang tuanya. Ia menawarkan tempat duduk dan air minum, kemudian menanyakan apa yang telah disampaikan Margaret.
Tristan meletakkan map di meja.
"Nenek mengatakan ada seorang wanita bernama Joana. Selama ini aku hanya diberitahu mereka meninggal dalam kecelakaan."
Jason mengangguk. "Saya ingin membedakan beberapa hal sebelum kita mulai. Ada keterangan lama, ada ingatan keluarga, dan ada pencarian keberadaan wanita itu sekarang. Tidak semuanya memberikan jawaban yang sama lengkapnya."
Tristan menahan ketidaksabarannya. "Aku datang untuk mendengar semuanya, termasuk yang belum pasti."
Jason membuka bahan yang dapat dibicarakan. Nama Joana memang sudah muncul dalam penelusuran lama. Ia bukan nama yang diciptakan Margaret setelah bertahun-tahun berduka. Namun menemukan keberadaannya tetap belum sama dengan menjelaskan seluruh perannya dalam kematian Karina dan George.
"Apa dia mengenal orang tuaku?"
"Ada hubungan yang perlu dijelaskan melalui keterangan yang dapat diperiksa kembali. Saya tidak ingin mengganti bagian yang hilang dengan dugaan."
Tristan menatapnya, berusaha menerima jawaban yang tidak memuaskan itu tanpa menganggapnya sebagai penolakan membantu.
"Nenek yakin dia bersalah."
"Saya mengetahui keyakinan beliau. Tugas saya mencari keterangan yang dapat diuji, bukan hanya membenarkan sesuatu karena keluarga sangat ingin mendapat jawaban."
Kalimat itu membuat Tristan diam.
Ia teringat dirinya sendiri ketika menganggap keinginan yang kuat cukup untuk menentukan apa yang seharusnya terjadi. Dengan Caramella, dengan keluarganya, bahkan dengan perkara yang belum dipahaminya. Ia tidak menyukai pantulan tersebut.
Jason memperlihatkan salinan foto lama. Seorang wanita muda memandang kamera, wajah yang tidak dapat dihubungkan Tristan dengan satu pun ingatannya tentang rumah masa kecil.
"Aku tidak mengenalinya."
"Tidak perlu memaksakan ingatan. Anda masih kecil waktu itu."
Tristan memandangi foto tersebut lebih lama, lalu mengembalikannya. Ia tidak ingin mengubah rasa benci yang baru tumbuh menjadi keyakinan bahwa dirinya mengingat sesuatu.
Mereka membicarakan langkah pencarian yang sudah dilakukan. Jason mengatakan ada seorang pria yang pernah menunjukkan reaksi mencolok terhadap foto itu, kemudian menyangkal mengenali wajahnya. Ia sedang berusaha memperoleh keterangan lebih jelas.
"Siapa pria itu?"
"Saya belum memiliki identitas yang terkonfirmasi."
Tristan mengembuskan napas. Di kantornya, kalimat seperti itu biasanya diikuti tuntutan agar seseorang bekerja lebih cepat. Di sini, suara keras tidak akan membuat nama muncul di atas meja.
Ia mengambil kertas pertanyaan yang dibawanya. Satu per satu pertanyaan dibaca, termasuk alasan pencarian kembali dilakukan dan bahan apa yang telah disimpan keluarga. Untuk bagian yang Jason tidak dapat jawab, pria itu mengatakannya terus terang.
Tristan mencatat, kadang berhenti untuk memastikan ia memahami dengan benar.
***
Pertemuan berlangsung hampir satu jam. Ketika selesai, map Tristan tidak berubah menjadi tumpukan jawaban. Namun ia dapat membedakan apa yang diketahui neneknya dari apa yang masih sedang dicari.
"Aku ingin dikabari jika ada perkembangan yang dapat dibagikan kepadaku," katanya.
Jason menyetujuinya. Ia juga menegaskan bahwa Tristan tidak perlu mendatangi siapa pun sendiri berdasarkan foto lama.
"Aku tidak datang untuk membeli hak menghukum seseorang," jawab Tristan setelah jeda. "Aku ingin tahu apa yang terjadi kepada orang tuaku."
Mengucapkan kalimat itu membuat tenggorokannya terasa sakit.
Di luar, ia duduk beberapa saat dalam mobil sebelum meminta berangkat. Finn telah diberitahu ia akan datang lebih lambat. Untuk sekali ini, Tristan tidak merasa perlu berpura-pura bahwa pertemuan tersebut hanya urusan singkat yang tidak memengaruhi harinya.
Sebelum menelepon, Tristan mengeluarkan foto ibunya dari map. Bukan foto yang diperlihatkan Jason, melainkan salinan dari Ester. Karina sedang tertawa di dekat seorang anak kecil yang memegang sesuatu dengan kedua tangan. Anak itu dirinya.
Ia tidak ingat apa yang sedang dipegangnya. Kemarin malam ia hampir menanyakannya kepada Ester, kemudian membatalkan pesan karena merasa pertanyaan kecil tersebut tidak pantas di tengah persoalan sebesar ini.
Sekarang ia menulisnya kembali.
Jawaban bibinya datang ketika mobil berhenti di lampu merah. Menurut Ester, itu sebuah perahu mainan. Ia menambahkan bahwa ingatannya mungkin keliru; foto tersebut diambil terlalu lama untuk memastikan setiap benda.
Tristan memperbesar gambar. Bentuk di tangannya tetap buram.
Untuk pertama kali sejak membuka map, ia tidak merasa harus memecahkan bagian yang tidak terlihat. Ibunya tertawa. Ia sedang berdiri di dekatnya. Dua hal itu cukup jelas.
Ia menyimpan foto di saku bagian dalam, terpisah dari daftar pertanyaan. Ia ingin mencari tahu bagaimana orang tuanya meninggal, tetapi tidak ingin seluruh kenangan tentang mereka berubah menjadi bahan pemeriksaan.
Di kantor nanti, ia akan meminta waktu untuk melihat album lain. Bukan kepada Jason, melainkan kepada orang-orang yang pernah makan, bertengkar, dan tertawa bersama mereka. Kemarahannya kepada Margaret tidak membuat masa kecilnya kehilangan semua hari yang baik.
Ia menelepon Alexis sesuai janji akan memberi kabar.
"Bagaimana?" tanya sahabatnya.
"Belum banyak jawaban. Tapi setidaknya sekarang aku tahu pertanyaan mana yang masih harus dijawab."
"Kamu sudah makan?"
Tristan hampir tertawa. Pertanyaan itu terdengar begitu biasa setelah membicarakan kematian orang tuanya. Ia baru menyadari sarapannya hanya beberapa teguk kopi.
"Belum."
"Makan dulu sebelum kembali marah kepada seluruh dunia."
Kali ini Tristan benar-benar tersenyum, meskipun sebentar.
***
Di Cartagena, Margaret menunggu kabar sambil memandangi halaman. Ester duduk di kursi sebelah, tidak mengisi keheningan dengan dugaan tentang apa yang akan dikatakan Tristan.
Ketika telepon akhirnya berbunyi, Margaret hampir menjatuhkannya.
"Aku sudah bertemu Jason," kata cucunya.
"Apa dia menjelaskan dengan baik?"
"Iya. Ada banyak hal yang belum diketahui."
Margaret menunduk. "Nenek tahu."
Tristan tidak langsung membalas. Di seberang sana, ia sedang mencari cara untuk tetap berbicara tanpa berpura-pura kemarahannya telah hilang.
"Kalau ada sesuatu yang Nenek ingat lagi, katakan. Jangan memilih sendiri apa yang terlalu menyakitkan untuk kudengar."
"Nenek akan berusaha."
"Aku membutuhkan kejujuran, Nek. Bukan jawaban yang membuatku tenang untuk sementara."
Margaret menerima kalimat itu dengan suara pelan. Sebelum menutup telepon, Tristan menanyakan apakah ia sudah makan. Pertanyaan tersebut tidak menyelesaikan luka mereka, tetapi Margaret memegangnya sebagai tanda bahwa percakapan belum berakhir selamanya.
***
Menjelang sore, Jason menerima panggilan dari nomor yang belum disimpan. Ia memperkenalkan diri seperti biasa, kemudian mendengar seorang pria bertanya apakah pencarian wanita dalam foto masih dilakukan.
"Siapa yang berbicara?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ada suara kendaraan di belakangnya.
"Kita pernah bertemu dekat apartemen. Anda memberikan kartu nama kepadaku."
Jason mengambil buku catatannya.
"Apa ada keterangan yang ingin Anda sampaikan?"
"Mungkin. Tapi aku ingin tahu apa yang akan terjadi kalau aku membantu."
Jason tidak memberikan janji. Ia meminta pria itu menjelaskan maksudnya, lalu mendengarkan dengan perhatian yang semakin tajam.