Caramella datang ke pertemuan dengan map yang jauh lebih tipis daripada yang biasanya dibawa untuk klien. Isinya salinan cek, pesan, dan catatan pembicaraan dengan Kristin. Kertas-kertas itu terlihat sederhana, padahal setiap halaman membawa rasa kecewa yang belum selesai.
Ia telah memilih meminta pendapat pengacara lain mengenai persoalan tersebut. Bukan Evelyn yang sedang menangani perceraian Tristan, dan bukan seseorang yang akan dimintanya membela seluruh keluarganya sekaligus.
Ketika diminta menjelaskan awal pembayaran, Caramella bercerita tanpa memperindah keputusannya sendiri. Ia mengakui bahwa kemarahan kepada Derick membuatnya terlalu cepat menanggapi cerita Kristin.
"Aku tidak memeriksa dokumen sebelum memberikan cek."
Pria di depannya mencatat, kemudian menanyakan apa yang dikatakan Kristin dalam pertemuan terakhir.
Caramella membacakan bagian yang dapat diingat dengan jelas. Cerita penjaminan tidak benar, uang digunakan untuk kebutuhan pribadi, dan nama orang yang membantu kebohongan belum diberikan.
Ia tidak mengatakan telah mengetahui seluruh penipuan hanya karena satu pengakuan akhirnya keluar.
Percakapan berlanjut pada pilihan tindak lanjut. Caramella bertanya tentang hal yang perlu dipersiapkan, tentang komunikasi berikutnya, dan bagaimana menjaga catatan tetap lengkap. Ia mendengarkan penjelasan tanpa menjadikannya janji bahwa uang akan segera kembali.
"Apa Anda sudah menentukan yang ingin dilakukan?"
Caramella memandang mapnya. Ada bagian dalam dirinya yang masih berharap persoalan keluarga dapat dibereskan melalui satu telepon. Namun harapan itu tidak didukung oleh apa yang telah terjadi.
"Aku ingin membuat laporan dengan keterangan yang kumiliki. Aku tidak ingin terus menunggu sampai muncul alasan berikutnya."
Keputusan tersebut diucapkan dengan suara yang lebih tenang daripada perasaannya.
***
Pembuatan laporan tidak terasa seperti adegan kemenangan. Caramella menjawab pertanyaan, memeriksa kembali keterangannya, dan menyerahkan bahan yang diminta. Ia membedakan yang dialaminya sendiri dari keterangan yang didapat melalui Derick.
Nama Kristin disebut berulang kali. Setiap kali mendengarnya, ia teringat wanita yang pernah datang sambil menangis dan meminta perlindungan dari akibat perbuatan ayahnya.
Ketika proses hari itu selesai, tidak ada petugas yang mengatakan seluruh masalah sudah terpecahkan. Keterangannya akan diperiksa dan ia akan dihubungi jika diperlukan.
Caramella keluar dengan salinan catatan yang perlu disimpannya. Udara di luar terasa hangat, tetapi ia masih merapatkan mantel.
Ia menelepon Susan dari tempat yang tenang.
"Sudah selesai untuk hari ini."
"Apa kamu ingin langsung pulang?"
"Aku akan ke kantor sebentar. Ada pekerjaan yang belum kututup."
Susan tidak melarang. Ia hanya menanyakan apakah putrinya sudah makan, lalu mengingatkan bahwa makan malam dapat menunggu jika ia pulang sedikit terlambat.
Caramella tersenyum. Ia menyukai tawaran yang tidak mengubah dirinya menjadi seseorang yang harus diselamatkan sepanjang hari.
***
Di kantor, Willow sudah memisahkan surat yang membutuhkan tanda tangan dari bahan yang bisa menunggu. Caramella menggantung mantel dan mencoba membaca halaman pertama. Setelah tiga kali mengulang paragraf yang sama, ia meletakkannya kembali.
"Aku perlu sepuluh menit sebelum membahas ini."
"Baik. Aku pindahkan panggilan yang belum dikonfirmasi ke setelah makan siang?"
Caramella memeriksa agenda, lalu menunjuk satu nama. "Yang ini saja. Yang satunya tetap."
Willow mengangguk dan keluar. Tidak ada pertanyaan tentang siapa yang dilaporkan atau mengapa mata atasannya tampak lelah. Caramella bersandar, berterima kasih dalam hati atas percakapan yang cukup sederhana itu.
Ia mengambil roti yang belum disentuh dari tas. Rasanya sudah dingin, tetapi ia menghabiskannya sambil membuka jendela sedikit. Dari bawah terdengar suara kendaraan dan seseorang tertawa keras. Hari orang lain terus berjalan.
Ketika kembali membaca, ia menemukan satu angka yang perlu dikoreksi. Ia menandainya dengan pena, lalu menemukan bagian lain yang sudah benar. Pekerjaan itu perlahan kembali dapat dipahaminya.
Menjelang pulang, ia menyimpan map pribadinya di dalam tas, terpisah dari berkas kantor. Tangannya sempat berhenti pada salinan cek. Dulu ia merasa malu karena mudah percaya; sekarang rasa malu itu masih ada, tetapi tidak lagi menjadi alasan untuk membiarkan Kristin mengatur cerita berikutnya.
Ia mematikan lampu meja. Sebelum meninggalkan ruangan, ia membalas pesan Susan bahwa ia akan makan di rumah. Untuk malam ini, ia menginginkan percakapan yang tidak membutuhkan salinan bukti. Ia juga membeli buah di perjalanan, mengingat ibunya menghabiskan persediaan terakhir saat sarapan.
Kristin menerima kabar mengenai keputusan Caramella melalui komunikasi yang disampaikan dengan jelas. Tidak ada ancaman akan mempermalukannya di tempat kerja atau menyebarkan ceritanya kepada semua orang. Justru ketenangan itu membuat perutnya terasa dingin.
Ia segera menelepon Caramella. Kali ini panggilannya dijawab setelah beberapa saat.
"Kamu benar-benar melakukannya?"
"Iya. Aku sudah membuat laporan berdasarkan bahan yang kumiliki."
"Aku bilang akan menjelaskan."
"Kamu masih bisa memberikan keterangan yang benar. Aku tidak meminta kamu mengarang sesuatu untuk membuatku tenang."
Kristin duduk di sofa dan menutup mata. Ia ingin marah, ingin mengatakan Caramella terlalu kejam terhadap istri ayahnya. Namun kata-kata itu terdengar tidak meyakinkan bahkan sebelum diucapkan.
"Aku akan mencari bantuan untuk menghadapi ini," katanya.
"Itu keputusanmu. Aku tidak akan menjadi pengacaramu dalam masalah yang melibatkanku."
Panggilan berakhir tanpa pertengkaran panjang. Kristin tetap duduk, merasakan bahwa salah satu jalan keluar yang selama ini digunakannya telah tertutup. Tangis dan kedekatan keluarga tidak lagi membuat Caramella menyetujui apa pun.
Ia mengambil catatan kontak bantuan yang sebelumnya diberikan. Setelah ragu cukup lama, ia memilih satu nomor dan meminta waktu berkonsultasi. Kali ini ia harus menjelaskan mengapa bantuan itu dibutuhkan, bukan sekadar mengaku mempunyai suami yang menyusahkan.
***
Derick menelepon malam hari. Caramella sempat menegang ketika melihat namanya, khawatir percakapan akan menjadi permintaan agar laporan ditarik.
Ternyata ayahnya ingin mengabarkan bahwa ia sudah menghadiri pertemuan pertama untuk membicarakan masalah minumnya.
"Bagaimana?" tanya Caramella.
Derick menarik napas panjang. "Sulit. Ayah merasa ingin pergi sebelum dipanggil."
"Tapi Ayah tetap masuk?"
"Iya."
Ia tidak mengatakan sudah sembuh atau tidak akan pernah mengulang kesalahan. Ia justru mengakui beberapa pertanyaan membuatnya malu karena harus menyebut perbuatan yang selama ini lebih mudah disembunyikan dalam permintaan maaf.
Caramella mendengarkan tanpa menyusun pembelaan untuknya.
"Ada pertemuan berikutnya," lanjut Derick. "Ayah akan menjalaninya."
"Aku senang Ayah datang hari ini."
Kalimat itu terasa kecil dibandingkan bertahun-tahun yang mereka lewatkan, tetapi itulah yang sungguh dapat dikatakannya. Ia belum siap menjanjikan kedekatan yang sama seperti dahulu.
Derick juga mengatakan akan memberikan catatan keuangan lama yang ditemukan ketika sudah dapat mengirimnya dengan benar. Caramella meminta agar ia tidak mengubah atau membuang sesuatu karena malu pada isinya.
"Kirim apa adanya. Kalau tidak ingat, katakan tidak ingat."
"Baik."
Setelah telepon ditutup, ia duduk bersama Susan. Ibunya tidak menanyakan apakah ia sudah memaafkan Derick.
"Dia datang ke pertemuannya," kata Caramella.
Susan mengangguk perlahan. "Semoga dia melanjutkannya."
Mereka tidak perlu mengatakan lebih banyak malam itu. Masa lalu tidak berubah, tetapi hari tersebut telah menghasilkan dua keputusan yang benar-benar dilakukan: Caramella berhenti menutup-nutupi kebohongan, dan Derick mulai mencari bantuan yang pernah dihindarinya.