Pada akhir pekan berikutnya, Caramella pergi ke toko buku yang dahulu sering dikunjunginya. Susan memilih tinggal di apartemen untuk menelepon seorang teman. Setelah beberapa hari terus bersama, keduanya mulai menikmati kesempatan melakukan hal masing-masing lagi.
Caramella berjalan di antara rak dengan langkah pelan. Ia mengambil sebuah buku, membaca bagian belakangnya, kemudian mengembalikannya. Tidak ada alasan penting mengapa ia harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin berada di tempat yang tidak berhubungan dengan laporan atau kenangan buruk.
Di dekat jendela terdapat meja dengan beberapa buku baru. Ia melihat satu judul yang mengingatkannya pada percakapan tentang Ailana, lalu tersenyum sebentar.
Senyum itu membuatnya memikirkan Tristan.
Ia tidak lagi dapat mengatakan bahwa dirinya hanya merasa kesal setiap kali mengingat pria tersebut. Ada kerinduan yang tetap muncul, berdekatan dengan marah dan ketidakpercayaan. Caramella tidak ingin membiarkan salah satunya berpura-pura menghapus yang lain.
Ia mengambil ponsel dan melihat waktu. Setelah ragu, ia menulis pesan kepada Tristan: jika ia senggang, Caramella ingin minum sebentar di kafe dekat toko buku. Satu jam saja, dan mereka pulang sendiri-sendiri.
Balasan datang beberapa menit kemudian. Tristan sedang tidak mempunyai janji dan bersedia datang.
Caramella menyimpan ponsel, kemudian membeli buku yang akhirnya dipilihnya. Ia memberi tahu Susan rencananya, bukan untuk meminta izin, melainkan agar ibunya tidak menunggu tanpa kabar.
***
Tristan tiba dengan pakaian santai. Rambutnya tidak ditata serapi saat bekerja dan wajahnya terlihat sedikit lelah. Ia berhenti di sisi meja sebelum duduk.
"Di sini?"
Caramella mengangguk.
Tidak ada ciuman atau tangan yang langsung meraih jemarinya. Pria itu duduk di kursi seberang dan menanyakan apakah ia sudah memesan.
"Coklat panas."
Tristan tersenyum kecil. "Tentu saja."
Keakraban dalam jawaban tersebut membuat dada Caramella terasa hangat. Ia membiarkan perasaan itu ada tanpa memberinya arti yang lebih besar.
Mereka memulai dengan percakapan tentang buku. Tristan menanyakan mengapa ia memilih judul tersebut, dan Caramella mengatakan ia menyukai sinopsisnya. Tidak ada teori tentang cinta atau rayuan yang membuatnya harus membela diri.
Setelah minuman datang, mereka sama-sama terdiam. Suara sendok dan percakapan dari meja lain mengisi ruang yang belum mudah mereka lalui.
"Aku belum tahu apakah aku siap sering bertemu," kata Caramella akhirnya.
"Aku mengerti."
"Pertemuan ini juga tidak berarti semua yang kita bicarakan sudah selesai."
Tristan menatapnya. "Aku tidak menganggapnya begitu."
Wanita itu mengangguk perlahan. Ia masih harus melihat apakah perkataan tersebut akan tetap sama sesudah hari ini. Namun setidaknya ia tidak perlu menghabiskan setengah pertemuan untuk mempertahankan alasan datang.
Pelayan sempat kembali karena salah menaruh satu pesanan di meja mereka. Tristan mengangkat tangan untuk menunjukkan cangkir yang belum disentuh, lalu menunggu sampai pesanan ditukar. Caramella memperhatikan bahwa pria itu tidak kehilangan kesabaran.
"Kopimu hampir menjadi teh," katanya.
"Aku mungkin baru menyadarinya setelah mengeluh kopinya terlalu encer."
Ia tertawa sebelum sempat menahan diri. Tristan ikut tersenyum, kemudian menunduk pada bungkus gula yang sedang dibukanya. Gula itu justru tumpah ke piring kecil.
"Sepertinya pagi ini aku sebaiknya tidak menyentuh apa pun."
"Kamu boleh memegang serbet."
Tristan mengambil serbet dengan patuh. Percakapan kecil tersebut mengingatkan Caramella bahwa ia pernah menyukai kehadirannya karena alasan yang tidak selalu besar. Ada saat ketika bersama pria itu terasa menyenangkan, dan mengakuinya tidak membuat peristiwa lain menjadi lebih ringan.
Ia menggeser tas bukunya agar tidak terkena tumpahan. Tristan bertanya apakah ia biasa membaca beberapa buku sekaligus.
"Sering. Lalu lupa tokoh yang mana tinggal di rumah yang mana."
"Jadi pengacara juga bisa kehilangan jejak orang?"
"Di luar jam kerja, aku berhak bingung."
Ia mendapati dirinya lebih mudah bernapas setelah tertawa. Ketika percakapan mereda lagi, keheningan di meja mereka tidak terasa seperti ujian yang harus segera dijawab. Caramella menyesap coklatnya sambil memilih sendiri apa yang ingin dibicarakan berikutnya.
Ia menanyakan kabar Ailana. Wajah Tristan menjadi lebih ringan ketika menceritakan daftar kegiatan yang ditulis terlalu rapat dalam buku biru.
"Dia tidak ingin pindah halaman karena semua harus terlihat sekaligus."
Caramella tertawa. "Aku bisa memahaminya. Agendaku kadang begitu."
Tristan menceritakan bahwa ia sudah menyesuaikan satu waktu kunjungan dan mengabarkannya langsung kepada putrinya. Ia tidak menyebut hal tersebut sebagai bukti bahwa dirinya sudah menjadi orang yang sepenuhnya berbeda.
"Bagaimana pembicaraan dengan Sherly?"
"Lebih jelas. Masih ada bagian yang harus diselesaikan melalui Evelyn dan pengaturan terkait Ailana."
Caramella menerima jawaban itu tanpa mengambil kembali peran sebagai pengacaranya. Ia tidak meminta dokumen atau menyusun langkah berikutnya di atas meja kafe.
***
Di luar, hujan ringan mulai turun. Orang-orang merapatkan jaket ketika melewati kaca. Caramella memperhatikan tetesan air, mengingat pantai Cartagena yang begitu berbeda dari pagi London tersebut.
Tristan mengikuti arah pandangnya, tetapi tidak menggunakan kenangan liburan untuk membuatnya tersenyum.
"Kabar tentang orang tuamu," ujar Caramella setelah beberapa saat. "Apa kamu ingin menceritakan sedikit? Kalau tidak, tidak apa-apa."
Pria itu meletakkan cangkir.
Ia menjelaskan bahwa keluarganya menyimpan keterangan yang tidak pernah diberikan kepadanya mengenai kematian mereka. Ada pencarian yang kini ingin dipahaminya sendiri. Ia belum menyebut nama Joana atau memperlihatkan foto, karena pertemuan tersebut tidak perlu berubah menjadi pemeriksaan sebuah kasus.
"Aku marah pada Nenek, lalu merasa bersalah karena marah padanya."
Caramella memandangnya. "Kamu masih menyayanginya. Itu tidak membuatmu harus menyukai keputusannya."
Tristan terdiam, menyadari kalimat itu dapat menjelaskan begitu banyak hal lain di antara mereka. Ia tidak mengucapkannya. Caramella sedang menanggapi kesedihannya, bukan menawarkan pengampunan.
"Aku sedang mencoba berbicara tanpa langsung menutup telepon," katanya.
"Kadang berhenti sebentar juga perlu."
Mereka tidak saling memberikan janji akan menyembuhkan luka yang lain. Percakapan hanya bergerak sejauh yang dapat ditanggung pada pagi itu.
Ketika waktunya hampir habis, Caramella melihat jam. Tristan memperhatikan gerakan tersebut dan memanggil pelayan untuk meminta tagihan. Wanita itu membayar pesanannya sendiri, dan ia tidak memperdebatkannya.
"Terima kasih sudah datang," katanya.
"Terima kasih sudah mengajakku."
Di depan kafe, hujan tinggal gerimis. Tristan membuka payung yang dibawanya, kemudian bertanya apakah Caramella ingin dipayungi sampai kendaraan jemputannya tiba.
Caramella menerima. Mereka berdiri berdampingan dengan jarak yang masih terasa jelas. Bahu mereka tidak bersentuhan.
Ketika mobil berhenti, Tristan tidak menanyakan kapan pertemuan berikutnya. Ia hanya mengucapkan selamat menikmati buku yang dibeli.
Caramella masuk, lalu menoleh sebelum pintu ditutup. Pria itu masih berdiri di bawah payung, menunggu sampai kendaraan bergerak tanpa berusaha ikut masuk ke kehidupannya lebih jauh pada hari itu.
***
Di apartemen, Susan menanyakan apakah ia ingin makan siang. Caramella mengatakan sudah minum coklat, tetapi masih lapar.
Ibunya tertawa. "Coklat bukan makan siang."
Caramella meletakkan buku di meja dan membantu mengambil piring. Ia tidak merasa sembuh dari semua yang terjadi. Ia juga tidak menyesal telah pergi.
Satu jam itu telah dimulai karena ia menginginkannya, dan berakhir ketika waktu yang dipilihnya selesai. Untuk sekarang, ia dapat menerima pertemuan tersebut sebatas itu.