Ailana sudah menunggu di dekat pintu ketika Tristan datang. Tasnya tergantung pada satu bahu dan buku biru dari Caramella dijepit di bawah lengan.
"Kupikir Ayah lupa."
Tristan melihat jam. Ia tidak terlambat, tetapi wajah putrinya mengatakan sesuatu yang tidak dapat dijawab dengan menunjukkan waktu.
"Ayah ingat. Kamu sudah menunggu lama?"
"Dari tadi."
Sherly muncul dari ruang makan sambil membawa botol air. Ia menyerahkannya kepada Ailana dan mengingatkan bahwa tutupnya harus diputar sampai rapat.
Tristan hampir tersenyum melihat putrinya memeriksa tutup itu dua kali. Lalu Ailana memandangnya lagi, memastikan ia belum pergi ketika sibuk memasukkan botol ke dalam tas.
Hari itu mereka berencana membeli beberapa keperluan sekolah dan makan siang. Jadwal sudah dibuat bersama, namun sejak pembicaraan tentang perceraian menjadi semakin nyata, janji sederhana pun tampaknya membutuhkan bukti kedatangan.
Tristan membukakan pintu, kemudian menunggu Ailana berjalan lebih dahulu.
***
Di toko, Ailana memilih alat tulis seolah sedang membuat keputusan paling penting sepanjang minggu. Ia membandingkan dua tempat pensil, mengembalikan keduanya, lalu mengambil yang pertama lagi.
"Yang ini?"
"Kalau kamu menyukainya."
"Ayah bahkan belum melihat."
Tristan menoleh dari ponsel. Di layar ada pemberitahuan pesan pekerjaan yang belum dibukanya. Ia segera mengunci layar dan memasukkannya ke saku.
"Kamu benar. Coba tunjukkan lagi."
Ailana mengangkat kedua pilihannya. Tristan membandingkannya dengan serius, meskipun perbedaan utama bagi dirinya hanya warna.
"Yang satu muat penggaris."
"Penggarisku pendek."
"Berarti alasan Ayah tidak berguna."
Ailana tertawa. Ia memilih tempat pensil berwarna gelap, lalu memasukkannya ke keranjang. Tristan mengikuti langkahnya ke rak berikutnya tanpa mengeluarkan ponsel lagi.
Di bagian buku tulis, putrinya berhenti.
"Kalau Ayah pindah lagi, barang-barangku yang di tempat Ayah ikut pindah juga?"
Pertanyaan itu membuat Tristan memegang keranjang lebih erat.
"Kalau suatu hari Ayah pindah, tentu kita membicarakannya dulu. Sekarang Ayah masih tinggal di tempat yang sama."
"Tapi boleh tetap ada barangku?"
"Tentu."
Ailana mengangguk, namun Tristan merasa jawabannya belum menyentuh hal yang sebenarnya ditanyakan.
"Tempatmu dalam hidup Ayah tidak bergantung pada satu lemari atau satu rumah," katanya pelan. "Tapi barang-barangmu tetap boleh punya tempat."
Putrinya memandangnya cukup lama sebelum kembali memilih buku.
***
Saat makan siang, Ailana membuka buku birunya. Halaman yang pernah diceritakan Tristan kepada Caramella memang penuh tulisan kecil.
Ada jadwal sekolah, kegiatan bersama Gabriella, dan beberapa hari yang diberi lingkaran. Tristan menunjuk salah satunya.
"Ini waktu kita bertemu?"
Ailana mengangguk.
"Kalau ada perubahan, Ayah akan memberitahumu. Kamu tidak perlu menunggu sampai hari itu untuk tahu."
"Aku tidak suka semua orang bilang nanti kita lihat."
Tristan meletakkan sendok. "Ayah bisa memahami itu."
"Ibu juga bilang masih ada yang dibicarakan."
"Memang ada urusan orang dewasa yang belum selesai. Tapi untuk rencana yang sudah bisa kita tentukan, kita akan mencoba membuatnya jelas."
Di ujung halaman, Ailana menggambar sebuah kotak kecil yang belum diisi. Ia mengatakan tempat itu sengaja disisakan jika ada kegiatan sekolah tambahan.
Tristan menunjuk ruang kosong tersebut. "Ayah senang kamu menyisakan tempat untuk hal yang belum diketahui."
"Aku belajar setelah halaman sebelumnya terlalu penuh."
Ia memperlihatkan halaman lama yang penuh coretan. Tristan menahan keinginan menawarkan buku baru. Putrinya tidak mengeluh tentang bukunya; ia sedang memperlihatkan cara menemukan jalan ketika rencana berubah. Ia cukup mendengarkan dan mengangguk.
Ailana merapikan sudut halaman yang terlipat.
"Dexter bertanya makanan apa yang kusukai."
"Bagus kalau dia ingin tahu."
"Ayah tidak marah?"
"Tidak."
Ia menjawab tanpa perlu memikirkan perasaannya terhadap Dexter terlebih dahulu. Kekhawatiran Ailana bukan tempat untuk membuktikan bahwa dirinya ayah yang lebih berhak dicintai.
Putrinya terlihat sedikit lega.
"Kubilang aku tidak suka kalau orang mencampur saus ke semuanya."
"Catatan penting."
"Ayah pernah melakukannya."
Tristan mengangkat kedua tangan. "Dan Ayah menerima keluhannya."
Kali ini tawa Ailana lebih lepas. Mereka menghabiskan makan siang dengan membicarakan guru dan sebuah tugas yang menurutnya terlalu sulit. Tristan tidak memahami seluruh pelajarannya, tetapi ia dapat mendengarkan tanpa memeriksa jam.
***
Ketika mengantar pulang, ia berbicara sebentar dengan Sherly sementara Ailana membawa belanjaan ke kamarnya.
"Dia takut jadwalnya berubah tanpa diberi tahu," ujar Tristan.
"Aku tahu. Kemarin dia menanyakan akhir pekan yang sama tiga kali."
Mereka memeriksa rencana yang sudah disepakati dan menuliskan satu penyesuaian kecil. Tidak ada pembicaraan tentang siapa yang lebih banyak berkorban.
Sherly kemudian menanyakan apakah Tristan sudah membaca pesan Evelyn mengenai dokumen perceraian.
"Sudah. Aku akan menanggapi bagian yang masih perlu dilengkapi besok."
"Aku juga."
Keheningan muncul sesudahnya, tetapi tidak setegang dahulu. Mereka sama-sama melihat ke arah tangga ketika terdengar sesuatu jatuh, disusul seruan Ailana bahwa semuanya baik-baik saja.
Sherly tersenyum lelah.
"Kita harus belajar melakukan ini dengan baik."
"Iya," jawab Tristan. "Dia tidak seharusnya menebak-nebak apakah kita akan tetap datang."
Sebelum pergi, ia menunggu sampai Ailana kembali untuk mengucapkan selamat tinggal. Putrinya memperlihatkan tempat pensil yang sudah diisi.
Kini penggaris pendek itu benar-benar muat.
***
Finn menelepon ketika Tristan tiba di apartemen. Ada keputusan pekerjaan yang dapat ditunda sampai pagi, dan satu dokumen yang perlu ditinjau malam itu.
"Anda ingin saya kirim keduanya sekarang, Mr. Ramsey?"
"Kirim yang harus selesai malam ini. Yang satunya besok."
Setelah pekerjaan selesai, Tristan tetap duduk di meja. Sehari bersama Ailana membuatnya memikirkan betapa mudah seseorang mengatakan cinta, lalu membiarkan orang lain menanggung ketidakpastian dari tindakannya.
Ia teringat Caramella di Cartagena.
Untuk sesaat ia ingin mengirim pesan tentang hari bersama putrinya. Lalu ia menyadari keinginan lain di baliknya: ingin dilihat sebagai pria yang dapat melakukan hal benar.
Ia meletakkan ponsel.
Caramella tidak berutang penilaian baik setiap kali ia berhasil menahan diri atau memenuhi janji. Ailana juga bukan bukti yang dapat digunakan untuk memperbaiki gambaran dirinya di mata seorang wanita.
Tristan bangkit dan mengambil air. Ketika kembali, ia mencari catatan nomor layanan konseling yang pernah dipertimbangkannya tetapi belum dihubungi. Malam sudah terlalu larut untuk menelepon. Ia menulis permintaan janji untuk dirinya sendiri.
Pada kolom alasan, ia berhenti lama.
Bukan hanya kesedihan tentang orang tua. Bukan hanya hubungan yang rumit.
Ia menulis bahwa ia perlu membicarakan cara menghadapi penolakan, kemarahan, dan tindakan yang telah menyakiti orang lain.
Sebelum mengirim, ia membaca kalimat itu sekali lagi. Tidak ada bagian yang menyebut Caramella harus datang bersama.
***
Di apartemen sebelah, Caramella sedang membaca ketika sebuah foto masuk dari Ailana. Tempat pensil baru diletakkan di atas buku biru yang pernah diberikannya.
Pesannya meminta pendapat tentang pilihan warna.
Caramella tersenyum dan membalas bahwa pilihannya bagus. Ia tidak menanyakan apa yang dibicarakan Tristan sepanjang hari. Ailana berhak menceritakan barang sekolah tanpa dijadikan pembawa kabar orang dewasa.
Setelah itu Caramella menutup ponsel dan kembali membaca.
Dua pintu memisahkan dirinya dari Tristan. Malam itu tidak ada yang mengetuk. Namun kehidupan masing-masing tetap bergerak, melalui janji yang ditepati dan keputusan kecil yang tidak perlu dipamerkan kepada siapa pun.