Derick baru mengirim pesan menjelang malam berikutnya. Ia telah menemukan map yang dimaksud, tetapi tidak semua halaman berada di dalamnya.
Caramella membaca kabar itu sambil berdiri di depan lift kantor. Ia meminta ayahnya memotret bahan yang ditemukan dengan jelas dan tidak terburu-buru.
Balasannya berupa gambar miring yang sebagian tertutup jari.
Ia menarik napas, lalu menelepon.
"Ayah, kertasnya diletakkan di meja. Jangan dipegang sambil difoto."
"Sebentar."
Terdengar suara gesekan, kemudian sesuatu jatuh. Derick mengumpat pelan sebelum meminta maaf.
Biasanya Caramella akan merasa kesal. Malam itu ia justru membayangkan pria yang pernah begitu menakutkan sedang berjuang memotret selembar kertas di kamar yang sempit. Gambaran itu tidak menghapus masa lalu, tetapi membuat percakapan mereka terasa berbeda.
"Pelan-pelan saja," katanya.
"Ayah tidak pandai melakukan ini."
"Aku tahu. Makanya jangan sambil berjalan."
Gambar berikutnya lebih jelas.
***
Di rumah, Caramella membuka kiriman melalui layar yang lebih besar. Sebagian merupakan catatan pengeluaran lama. Ada pula salinan dokumen perkawinan yang memperlihatkan nama Kristin sebagaimana dikenalnya.
Tidak ada kata Joana.
Ia menandai halaman yang perlu diteruskan kepada pengacaranya dan menuliskan asal kiriman. Beberapa angka dapat dibaca, beberapa lainnya terlalu buram. Ia tidak mencoba menebak.
Susan lewat membawa segelas minuman, kemudian berhenti ketika melihat nama Derick di layar.
"Ayahmu sudah mengirim?"
"Sebagian."
Ibunya mengangguk. Ia tidak mendekat untuk memeriksa atau mengambil alih percakapan yang belum terjadi. Caramella menghargai itu, meskipun ada bagian dirinya yang ingin bertanya apakah Susan pernah mendengar nama lama Kristin.
Pertanyaan itu akhirnya diucapkan.
Susan berpikir beberapa saat, lalu menggeleng.
"Ibu tidak tahu. Setelah berpisah, banyak hal tentang hidup ayahmu yang memang tidak Ibu ikuti."
Caramella mengangguk. Tidak mengetahui sesuatu bukan berarti ibunya melewatkan tanda yang seharusnya terlihat. Ia mulai lelah pada kebiasaan dirinya sendiri mencari orang yang semestinya dapat mencegah semua ini.
Ia menutup satu gambar dan membuka berikutnya.
***
Derick menelepon kembali setelah selesai makan. Suaranya terdengar letih, tetapi jelas.
"Apakah cukup?"
"Ada beberapa yang perlu difoto ulang. Aku akan tandai."
"Baik."
Caramella menatap salinan perkawinan itu.
"Ayah, aku ingin bertanya tentang Kristin. Tentang sebelum kalian menikah."
Derick tidak langsung menjawab. Ia khawatir putrinya akan menanyakan hal yang harus diakuinya sebagai pengkhianatan terhadap Susan.
"Apa yang ingin kamu tahu?"
"Seberapa banyak Ayah mengetahui keluarganya dan hidupnya sebelumnya?"
"Dia tidak suka membicarakannya."
"Ayah pernah bertanya?"
"Pernah. Tidak banyak."
Ada keheningan yang membuat Caramella ingin mendesaknya. Ia menahan diri dan menunggu.
Derick akhirnya mengatakan bahwa dulu ia terlalu senang mempunyai seseorang yang mau mendengarkan keluhannya. Ia tidak mencari kebenaran tentang kehidupan Kristin; ia mencari tempat untuk membenarkan kehidupannya sendiri.
Pengakuan itu membuat Caramella terdiam.
"Ayah membuat ibumu terlihat seperti penyebab semua masalah," lanjutnya. "Padahal Ayah yang membawa banyak masalah pulang."
Caramella memandang pintu dapur. Susan sedang membilas cangkir dan tidak mendengar percakapan itu.
"Jangan meminta aku menyampaikan permintaan maaf untuk Ayah."
"Tidak. Ayah hanya menjawab."
***
Ia menerangkan bahwa ada pemeriksaan mengenai masa lalu Kristin yang berkaitan dengan keluarga Ramsey. Ia tidak menyebut ayahnya terlibat dan tidak meminta Derick menebak nama dalam foto.
Derick menarik napas panjang.
"Ramsey? Tristan Ramsey?"
"Iya."
Pria itu mengenal nama tersebut dari pertemuan di Cartagena dan cerita tentang putrinya. Mendengarnya dalam percakapan mengenai istrinya membuat pikirannya sempat bergerak ke arah yang keliru.
"Apa ini karena hubunganmu dengan dia?"
"Bukan. Ada perkara tentang orang tuanya. Aku tidak ingin Ayah mencampurkannya dengan urusanku."
Caramella mengucapkannya tegas.
Derick menerima teguran itu, kemudian bertanya apa yang dapat dilakukannya. Caramella mengatakan ia mungkin akan diminta memberi keterangan melalui pihak yang tepat. Ia hanya perlu menjawab apa yang diketahui dan mengatakan jika tidak ingat.
"Jangan menelepon Kristin untuk menyamakan cerita dengannya."
"Ayah tidak ingin berbohong lagi."
"Kalau begitu jangan buat janji besar. Mulai dengan foto yang jelas dan jawaban yang benar."
Derick tidak tersinggung. Atau kalaupun tersinggung, ia tidak mengubahnya menjadi kemarahan kepada putrinya.
Ia mengatakan akan memperbaiki kiriman sebelum tidur.
***
Sebelum berpisah, Derick sempat meminta agar satu halaman pengeluaran tidak dikirim karena menurutnya hanya akan mempermalukan dirinya. Caramella meminta penjelasan. Ternyata halaman itu memuat pembelian yang dahulu dibantahnya ketika Kristin bertanya.
"Kalau memang itu catatannya, biarkan tetap ada," kata Caramella.
"Ayah takut kamu berpikir semua kesalahan Kristin berasal dari Ayah."
"Aku bisa melihat kesalahan kalian masing-masing."
Derick mengusap wajah. Ia tidak terbiasa mendengar jawaban yang tidak memilih salah satu dari mereka sebagai orang yang sepenuhnya benar. Selama perkawinannya, pertengkaran hampir selalu berubah menjadi perlombaan mencari siapa yang lebih buruk.
Ia akhirnya menyertakan halaman tersebut. Caramella tidak mengomentari setiap pengeluaran. Ia menyimpan kiriman tanpa menawarkan pengampunan sebagai hadiah karena ayahnya tidak lagi menyembunyikannya.
Sesudah panggilan selesai, Derick duduk lama di tepi tempat tidur. Map terbuka di sebelahnya. Selama bertahun-tahun ia menganggap kertas-kertas itu hanya sisa kehidupan yang gagal.
Sekarang orang lain mungkin membutuhkannya untuk memahami kehidupan yang bahkan tidak pernah ia perhatikan sungguh-sungguh.
Di sudut kamar terdapat botol air. Ia mengambilnya, meminumnya, lalu memandang nomor kontak yang diberikan pada pertemuan bantuan pertama. Malam itu keinginannya mencari minuman keras datang bersama rasa malu yang lama dikenalnya.
Ia tidak mengatakan kepada Caramella bahwa ia sedang berjuang. Ia tidak ingin menjadikan keberhasilannya bertahan malam ini sebagai beban yang harus dipuji putrinya.
Ia mengirim pesan singkat untuk meminta penjelasan tentang dukungan sebelum jadwal berikutnya. Setelah itu ia keluar sebentar mencari makanan ringan, memilih jalan yang tidak melewati tempat biasanya membeli alkohol.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang.
Namun ia kembali ke kamar dan memotret kertas-kertas itu satu per satu.
***
Keesokan paginya, Caramella menerima gambar yang lebih baik. Ia meneruskan bahan yang berkaitan dengan uang kepada pengacaranya, kemudian menghubungi Jason mengenai salinan yang mungkin relevan dengan identitas Kristin.
Jason tidak menyebut dokumen tersebut sebagai bukti bahwa Kristin adalah Joana. Ia mengatakan bahan itu membantu memperjelas identitas yang digunakan dalam hubungan perkawinannya.
Caramella merasa lega mendengar batas kesimpulan tersebut.
Ayahnya bersedia dihubungi jika diperlukan. Jason mencatat kesediaan itu dan akan mengatur tindak lanjut yang sesuai, bukan meminta Caramella terus menjadi penghubung.
Ketika ponselnya akhirnya diletakkan, Willow masuk membawa surat.
"Yang ini untuk ditinjau sebelum siang."
Caramella mengambilnya. Di bagian atas tertera nama klien yang sama sekali tidak berkaitan dengan ayah, Kristin, atau keluarga Ramsey.
Ia hampir tersenyum melihatnya.
"Terima kasih. Aku baca sekarang."
Willow keluar, dan Caramella membuka halaman pertama. Pikirannya masih sesekali kembali kepada Derick, tetapi kali ini ada sesuatu yang benar-benar telah dilakukan pria itu. Tidak cukup untuk mengubah sejarah mereka. Cukup untuk dicatat sebagai satu janji yang dipenuhi.
Di Cartagena, Derick memeriksa bahwa seluruh gambar telah terkirim sebelum bersiap bekerja. Map diletakkannya di tempat yang mudah ditemukan.
Ia tidak lagi menyimpannya di bawah tumpukan pakaian.