Tristan hampir kembali ke mobil ketika melihat ruang tunggu yang kecil itu. Tidak ada sesuatu yang menakutkan di dalamnya. Justru kesederhanaannya membuat ia tidak tahu harus menyibukkan diri dengan apa.
Ia terbiasa datang ke sebuah pertemuan dengan tujuan, angka, dan orang yang menunggu keputusannya. Hari ini ia hanya membawa dirinya sendiri, dan itu terasa tidak cukup.
Seorang pria memanggil namanya pada waktu yang telah dijanjikan. Tristan mengikutinya ke ruangan dengan dua kursi dan meja rendah. Setelah penjelasan awal mengenai pertemuan mereka, ia ditanya apa yang membuatnya datang.
"Beberapa hal terjadi bersamaan."
Kalimat itu terdengar seperti pembukaan rapat yang buruk.
Pria di hadapannya menunggu.
Tristan bercerita tentang orang tuanya. Ia menjelaskan kabar yang baru diketahui, kemarahan kepada Margaret, dan rasa tidak percaya pada kenangan yang dahulu terasa pasti. Bagian itu lebih mudah diucapkan karena ia tidak perlu mengakui dirinya menyebabkan luka tersebut.
Lalu ia berhenti.
"Ada hal lain," katanya.
***
Ia tidak menyebut malam di Cartagena sebagai kesalahpahaman.
Dengan suara yang beberapa kali tersendat, Tristan mengatakan bahwa ia pernah mengabaikan penolakan Caramella, memaksakan kedekatan, dan menganggap perasaannya dapat membenarkan tindakan yang diambil. Ia juga membicarakan malam ketika wanita itu terlalu mabuk.
Ia tidak memberikan rincian tubuh atau mencoba membuat kejadian itu terdengar romantis.
"Aku mengatakan ingin menikahinya sesudahnya," ujarnya.
"Apa yang Anda harapkan dari mengatakan itu?"
Tristan hendak menjawab bahwa ia mencintainya. Kata-kata tersebut sudah berada di ujung lidah ketika ia menyadari pertanyaannya berbeda.
Ia menunduk.
"Aku ingin dia tetap bersamaku."
Ia belum pernah mengucapkannya sesederhana itu.
Selama ini niat menikah terasa seperti sesuatu yang dapat ditaruh di depan perbuatannya agar orang melihat bagian yang lebih terhormat. Namun janji tentang masa depan tidak mengubah apa yang telah dilakukannya pada masa lalu.
"Aku juga ingin berhenti merasa seperti orang yang sudah menyakitinya," tambahnya.
Pria di hadapannya tidak menawarkan kalimat yang langsung membuatnya merasa lebih baik. Mereka membicarakan tindakan yang telah terjadi, batas yang diminta Caramella, dan bagaimana Tristan menanggapi ketika tidak memperoleh jawaban yang diinginkan.
Percakapan itu melelahkan dengan cara yang tidak pernah dirasakannya dalam pekerjaan.
***
Ketika ditanya apa yang muncul sebelum ia berusaha memaksa keadaan, Tristan mula-mula menjawab marah. Sesudah berpikir lebih lama, ia menyebut takut ditinggalkan.
Ia menceritakan Martha Jilian yang meninggalkannya di altar. Ingatan itu masih membuat wajahnya panas, bahkan setelah bertahun-tahun.
"Seolah semua orang melihat aku tidak dipilih."
"Dan ketika Caramella mengatakan tidak?"
"Aku merasa kalau aku berhenti, semuanya akan berakhir."
Ia mendengar betapa sempitnya pikiran tersebut setelah mengatakannya. Seolah hubungan hanya dapat bertahan jika orang lain tidak mendapat kesempatan menentukan keinginannya sendiri.
Mereka tidak menyimpulkan seluruh perilakunya berasal dari satu kejadian. Kehilangan orang tua dan ditinggalkan Martha merupakan bagian hidupnya, tetapi ia tetap orang yang mengambil keputusan terhadap Caramella.
Tristan mengangguk ketika hal itu dibicarakan. Ia tidak menyukainya, namun ia tidak datang untuk memperoleh alasan yang dapat dibawa pulang sebagai pembelaan.
"Aku sudah meminta maaf," katanya.
"Apa yang Anda lakukan ketika permintaan maaf itu tidak menghasilkan kedekatan yang Anda inginkan?"
Pertanyaan tersebut membuatnya diam lebih lama.
Ia teringat pesan yang nyaris dikirim, hadiah yang ingin dibeli, dan keinginan menceritakan setiap kemajuan kecil supaya Caramella melihatnya.
Ternyata menahan tangan untuk tidak mengetuk pintu belum membuat semua keinginannya berubah.
***
Mereka membahas satu keadaan yang sederhana: menerima pesan singkat tanpa jawaban hangat. Tristan diminta mengenali apa yang langsung diasumsikannya dan tindakan apa yang biasanya ingin dilakukan.
Ia menuliskan bahwa diam bukan undangan untuk terus mendesak.
Kalimat itu terlihat sangat mudah ketika berada di kertas. Ia tahu kesulitannya akan datang pada malam ketika ia merasa kesepian atau takut.
Sebelum pertemuan berakhir, mereka mengatur jadwal berikutnya. Tristan tidak ditawari kepastian bahwa Caramella akan mempercayainya kembali. Ia justru harus memikirkan perubahan yang tetap perlu dilakukan meskipun wanita itu tidak memilihnya.
Di luar, ia duduk sebentar di bangku dekat pintu keluar.
Udara terasa dingin. Orang lewat membawa kantong belanja. Sebuah sepeda berhenti di tepi jalan, lalu bergerak lagi.
Ia tidak merasa menjadi pria baru.
Ia hanya merasa sudah berhenti memperhalus beberapa kalimat yang selama ini digunakannya untuk berbicara tentang dirinya sendiri.
***
Ponselnya bergetar ketika ia hendak berdiri. Seorang rekan kerja meminta mengubah keputusan yang menurut Tristan sudah dibicarakan dengan jelas. Ia mulai mengetik jawaban tajam, lalu berhenti ketika melihat tiga tanda seru pada akhir kalimat.
Ia membaca pesan awal sekali lagi. Rekannya ternyata menanyakan jadwal, bukan membatalkan keputusan.
Tristan menghapus jawaban yang belum dikirim.
Ia membalas pertanyaan yang sungguh diajukan, kemudian memasukkan ponsel ke saku. Kejadian kecil itu membuatnya malu. Sepanjang pagi ia merasa begitu sibuk menahan sesuatu sehingga hampir melemparkannya kepada orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sedang dihadapinya.
Ia tidak menjadikan kesalahan yang nyaris dilakukan sebagai keberhasilan besar. Ia hanya mencatat dalam pikiran bahwa rasa lelah tidak selalu memberitahunya dengan jujur kepada siapa ia sebenarnya marah.
Caramella sedang berada di kantor ketika menerima pesan dari Susan. Ibunya ingin pulang beberapa hari untuk menemui putranya dan mengurus hal yang tertunda.
Pesan itu membuat Caramella terdiam di depan layar. Ia telah terbiasa mendengar suara Susan di dapur setiap malam, dan pikiran tentang apartemen yang sunyi masih mengganggunya.
Namun ibunya mempunyai kehidupan yang tidak berhenti hanya karena ia sedang menghadapi masa sulit.
Mereka berbicara saat makan siang.
"Ibu bisa menunggu kalau kamu belum siap," kata Susan.
"Aku akan merindukan Ibu. Tapi aku tidak ingin Ibu merasa harus menetap."
Mereka menentukan hari keberangkatan dan waktu untuk saling mengabari. Caramella mengatakan ia masih mempunyai jadwal konsultasi, pekerjaan, dan orang yang dapat dihubungi bila membutuhkan bantuan.
Ia tidak mengucapkannya untuk membuktikan bahwa dirinya sudah sembuh. Ia hanya ingin membuat rencana yang tidak bergantung pada ibunya berada di ruangan sebelah.
***
Malam itu, Caramella berpapasan dengan Tristan di lobi. Ia baru pulang membeli beberapa kebutuhan ketika pria itu keluar dari lift.
"Hai," sapanya.
Tristan berhenti dengan jarak yang cukup.
"Hai. Banyak belanjaan?"
"Lebih banyak daripada niat awal."
Ia tersenyum kecil. Tristan menanyakan apakah ia ingin dibantu membawa satu kantong. Caramella mengatakan masih sanggup, dan pria itu tidak mengulangi tawarannya.
Mereka berbicara sebentar tentang cuaca. Tidak ada yang tampaknya penting, tetapi Caramella menyadari ia tidak sedang bersiap menghadapi permintaan lain di akhir percakapan.
"Kamu terlihat lelah," katanya.
"Hari yang panjang."
Ia tidak menjelaskan konsultasinya untuk memperoleh penghargaan. Jika kelak mereka membicarakannya, ia ingin melakukannya karena percakapan itu berguna, bukan karena membutuhkan senyum Caramella sebagai hadiah.
Wanita itu mengangguk.
"Aku juga. Selamat malam, Tristan."
"Selamat malam."
Ia membiarkannya menuju lift. Ketika pintu tertutup, Tristan tetap merasa ingin berbicara lebih lama.
Kali ini ia mengenali keinginan tersebut tanpa segera menjadikannya sesuatu yang harus dipenuhi Caramella.