Derick datang lebih awal ke pertemuan bantuan yang kedua. Ia duduk dekat pintu, sama seperti pertama kali, tetapi kali ini tidak terus memandangi jalan keluar.
Di saku terdapat ponsel yang berisi kabar tentang Kristin. Ia sudah mengetahui pengakuan nama Joana melalui komunikasi lanjutan mengenai keterangannya sendiri. Hal itu membuatnya merasa seluruh perkawinannya ditulis dalam bahasa yang tidak pernah dipelajari.
Ketika dipersilakan masuk, pertanyaan pertama yang dijawabnya justru bukan tentang istrinya.
"Ayahku dahulu selalu bilang aku keras kepala," katanya, lalu menggeleng karena menyadari ia sedang memulai cerita terlalu jauh. "Maksudku, minggu ini sulit."
Ia membicarakan keinginan minum yang datang setelah mengirim dokumen kepada Caramella, pesan meminta dukungan, dan jalan yang dipilihnya supaya tidak melewati tempat biasa.
Ia tidak mengaku telah mengatasi semuanya.
"Aku masih memikirkan minum ketika malu."
Percakapan berlanjut pada apa yang dapat dilakukannya sebelum rasa malu itu berubah menjadi alasan menyakiti diri sendiri atau orang lain. Derick mendengarkan sambil menggosok telapak tangannya yang kasar karena pekerjaan.
***
Ada bagian yang membuatnya tidak nyaman ketika ia mulai menceritakan kebohongan Kristin.
Ia ingin mengatakan sekarang jelas siapa penyebab hidupnya rusak. Kalimat itu terdengar memuaskan dalam pikiran: seorang istri yang menipu, menyembunyikan nama, dan membawa masa lalu yang tidak diketahuinya.
Namun ia ingat Susan.
Kristin belum berada di kehidupan mereka ketika ia membuat rumah pertama terasa menakutkan.
Derick menunduk.
"Yang dilakukan istriku tidak membuat perbuatanku kepada keluargaku hilang."
Mengucapkannya tidak membuat ia merasa mulia. Justru ia merasa kehilangan satu alasan yang ingin dipakai agar dapat pulang dengan dada lebih ringan.
Pertemuan itu tidak memintanya memutuskan seluruh masa depan perkawinan hari tersebut. Ia perlu melanjutkan bantuan yang sudah dimulai dan memberikan keterangan yang benar mengenai hal yang diketahuinya.
Sesudah selesai, ia berdiri di luar beberapa saat. Udara Cartagena terasa hangat, tetapi punggung kemejanya basah oleh keringat.
Ia sudah ingin mengirim kabar kepada Caramella. Kali ini ia menunggu sampai tahu apa yang hendak dikatakan selain meminta putrinya merasa bangga.
***
Caramella menerima pesan ayahnya ketika sedang menunggu makan siang. Derick hanya mengatakan ia hadir pada pertemuan berikutnya dan sudah mencatat jadwal lanjutan.
Ia membalas bahwa ia senang ayahnya meneruskannya.
Tidak ada foto ruangan, tidak ada janji tidak akan pernah minum lagi, dan tidak ada permintaan agar ia menelepon Kristin.
Kesederhanaan pesan itu membuatnya dapat kembali memilih makanan tanpa merasa harus mengurus kehidupan ayahnya sepanjang siang.
Di meja kecil dekat jendela, ia makan sendiri. Pada beberapa hari pertama setelah Susan pulang, ia selalu membawa makanannya ke apartemen secepat mungkin. Hari ini ia ingin mencoba duduk di tempat yang dahulu sering dikunjunginya.
Seorang pelayan menanyakan apakah kursi di depannya masih dipakai.
"Tidak," jawabnya.
Kursi itu dibawa ke meja lain. Caramella memperhatikannya sebentar, lalu melanjutkan makan.
Tidak ada orang yang perlu datang agar makan siangnya dianggap lengkap.
***
Sore harinya ia menghadiri konsultasi yang sudah dijadwalkan. Ia menceritakan apartemen yang kembali sunyi, kebiasaan memeriksa suara di lorong, dan malam ketika ia berhasil tidur tanpa menelepon Susan dua kali.
Ia juga menyebut Tristan.
"Aku masih ingin bertemu dengannya kadang-kadang."
Kalimat itu membuat wajahnya terasa panas. Ada bagian dirinya yang takut dianggap tidak memahami apa yang pernah terjadi hanya karena rasa sayang belum hilang.
Psikolognya tidak menyuruhnya mendekat atau menjauh sebagai keputusan yang harus diambil hari itu. Mereka membicarakan perbedaan antara keinginan yang sungguh dirasakannya dan tekanan untuk merawat kesedihan orang lain.
Caramella memikirkan kabar tentang orang tua Tristan.
"Aku tidak ingin menemuinya hanya karena merasa bersalah keluargaku mengenal Kristin."
Ia mendengar kejelasan pada kalimatnya sendiri.
Kalau bertemu, ia ingin karena memang ingin berbicara. Ia juga ingin tetap dapat pulang ketika merasa cukup.
***
Setelah pulang, ia menelepon Susan. Ibunya sedang memasak dan menjawab sambil meminta putranya mengecilkan suara dari ruangan lain.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Di luar."
"Enak?"
"Lumayan. Aku salah memilih saus."
Susan tertawa. Mereka berbicara tentang makanan, tanaman, dan pakaian yang ternyata tertinggal di kamar tamu. Caramella menyukai percakapan yang tidak dimulai dengan pertanyaan apakah ia takut.
Ketika menyebut Derick menghadiri pertemuan kedua, Susan hanya mengangguk melalui layar.
"Semoga terus."
"Ibu tidak harus ingin mendengar kabarnya."
"Ibu tahu. Terima kasih sudah mengatakannya."
Caramella mengerti bahwa kemajuan ayahnya bukan undangan agar Susan membuka kembali hubungan yang telah lama diakhiri. Ia tidak ingin menjadi kurir permintaan maaf yang belum diminta.
Sesudah telepon ditutup, ia meletakkan ponsel dan memanaskan air.
***
Saat bekerja, sebuah kesalahan kecil sempat membuatnya ingin membentak. Ia salah membaca nomor ruangan dan membawa perlengkapan ke tempat yang tidak membutuhkan. Seorang rekan menunjuk daftar, lalu meminta ia memeriksanya lagi.
Derick merasakan panas naik ke wajah. Dahulu rasa dipermalukan seperti itu sering membuatnya mencari seseorang yang dapat disalahkan.
Kali ini ia melihat daftar.
"Aku yang keliru," katanya.
Ia mengembalikan perlengkapan dan memulai lagi. Tidak ada tepuk tangan atau percakapan tentang perubahan hidup. Pekerjaan hanya perlu diselesaikan dengan benar.
Derick menyukai kenyataan tersebut lebih daripada yang diduganya. Ia dapat memperbaiki satu kesalahan tanpa harus segera membuktikan bahwa seluruh dirinya telah menjadi orang yang berbeda.
Di Cartagena, Derick selesai bekerja lebih lambat dari biasanya. Seorang rekan mengajaknya mampir minum, dan ia mengatakan tidak.
Rekannya tidak mengubahnya menjadi persoalan besar. Ia mengangkat bahu dan pergi bersama yang lain.
Derick sempat merasa bodoh karena telah menyiapkan alasan panjang. Ternyata ada penolakan yang dapat diucapkan tanpa membuat seluruh dunia bertengkar.
Ia membeli makan malam dan kembali ke kamar. Map masih berada di tempat yang mudah ditemukan. Di atasnya ia meletakkan catatan jadwal berikutnya.
Ponselnya berisi nomor Kristin.
Ia belum siap berbicara dengannya. Ia juga tidak ingin menelepon hanya untuk berteriak lalu merasa lebih baik beberapa menit.
Ia menulis pertanyaan tentang urusan perkawinan yang perlu dipahami sebelum mencari bantuan yang sesuai. Bukan putusan, bukan ancaman. Sekadar hal yang akhirnya hendak diurus tanpa memakai Caramella sebagai jalan keluar.
***
Caramella membuka kalender sebelum tidur. Akhir pekannya belum penuh. Ia mempunyai pekerjaan yang bisa diselesaikan pagi, lalu beberapa jam yang ingin dipakai di luar apartemen.
Ia memikirkan taman dengan jalan setapak yang cukup ramai dan sebuah kedai kecil di dekat pintu masuk.
Setelah beberapa menit, ia menulis kepada Tristan.
"Kalau kamu senggang hari Minggu, aku ingin berjalan sebentar di taman. Siang, sekitar satu jam."
Ia membaca pesan itu sebelum mengirim. Tidak ada janji tentang hubungan mereka. Tidak ada pertanyaan mengenai berkas atau Kristin.
Hanya sebuah keinginan yang dapat ditolak atau diterima.
Balasan Tristan datang setelah ia selesai mencuci cangkir. Ia bersedia dan menanyakan pintu masuk mana yang akan dipakai.
Caramella memberikan tempat pertemuan, lalu meletakkan ponsel.
Untuk malam itu, ia tidak mencoba memutuskan apa arti seluruh masa depan dari satu rencana berjalan kaki.