Alexis sedang memasukkan wadah makanan ke dalam kantong ketika Tristan kembali dari dapur. Malam sudah larut. Mereka tidak lagi membicarakan tabrakan, tetapi keheningan belum terasa cukup ringan untuk ditinggalkan begitu saja.
"Kamu akan mencoba tidur?" tanya Alexis.
"Sebentar lagi."
Tristan meletakkan gelas, lalu memandang sahabatnya. Selama percakapan tadi ia lebih sering menyebut Joana. Nama itulah yang melekat pada masa kecilnya, meskipun wanita tersebut kini memakai nama lain.
"Yang membuat semuanya semakin aneh, dia ternyata istri ayah Caramella."
Gerakan Alexis berhenti.
"Siapa?"
"Kristin. Istri Derick Hewitt."
Alexis tidak segera menjawab. Ia meletakkan kembali kantong yang sudah diangkat.
"Aku pernah mengenal seorang Kristin," katanya perlahan. "Dia juga mengatakan sudah berpisah dengan suaminya."
Tristan menatapnya.
Ada begitu banyak cara kalimat tersebut dapat berakhir. Untuk beberapa detik, keduanya sama-sama menunggu yang paling sederhana: kebetulan nama.
***
Alexis mengambil ponsel. Ia tidak menghubungi wanita itu. Ia mencari percakapan lama yang masih tersimpan, kemudian mengatakan bahwa ia pernah menjalin hubungan dengannya.
"Kamu tidak pernah menyebut nama keluarganya," ujar Tristan.
"Aku tidak membicarakan banyak hal tentang kami setelah putus."
Ia memperlihatkan kontak yang dimaksud, tetapi tidak menyatakan bahwa dirinya mengenali Joana dari foto masa muda. Yang ia kenal seorang wanita dengan wajah sekarang, kisah perkawinan yang bermasalah, dan kehidupan yang ternyata hanya dipahaminya sebagian.
Tristan duduk kembali.
"Seberapa lama kamu mengenalnya?"
Alexis menjawab dengan urutan yang sanggup diingat. Ia menyebut pertemuan terakhir di pusat perbelanjaan bersama Gabriella. Kristin hendak mencari pakaian, dan percakapan mereka tidak menyentuh apa pun tentang keluarga Ramsey.
"Aku bahkan masih membelanya ketika Gabriella mengatakan dia tidak baik untukku."
Suara Alexis terdengar getir.
Tristan memandang meja. Ia ingin bertanya mengapa sahabatnya tidak mengetahui sesuatu yang begitu besar. Namun pertanyaan itu mengandung tuntutan yang tidak masuk akal. Ia sendiri baru mengetahui keluarganya menyimpan cerita selama puluhan tahun.
"Apakah dia pernah menyebut orang tuaku?"
"Tidak pernah kepadaku."
"Joana?"
Alexis menggeleng.
Jawaban itu tidak membuat mereka merasa lebih baik. Setidaknya tidak mengubah ketidaktahuan menjadi tuduhan.
***
Mereka sepakat bahwa keterangan Alexis perlu disampaikan dengan jelas. Tristan meminta izin memberikan kontak Jason, dan Alexis memilih menghubunginya sendiri pada pagi berikutnya.
Ia tidak ingin seluruh kisah hubungannya diteruskan melalui sahabat yang sedang berduka.
Sebelum pulang, Alexis berhenti di dekat pintu.
"Aku tidak tahu, Tristan."
"Aku mendengarmu."
"Aku tetap merasa perlu mengatakannya."
Tristan mengangguk. Ia tidak menawarkan pengampunan untuk kesalahan yang belum ada. Ia hanya meraih bahu sahabatnya sebentar.
"Terima kasih sudah memberitahuku sekarang."
Alexis pulang dengan perasaan yang berbeda dari saat datang. Tadi ia berniat menemani seseorang menghadapi masa lalu. Kini masa lalunya sendiri ikut duduk di antara mereka.
***
Pagi berikutnya, Jason menerima keterangan awal Alexis. Kecocokan informasi kontak dan riwayat yang dapat diperiksa memperjelas bahwa wanita yang dibicarakannya memang Kristin yang sedang ditelusuri.
Tidak ada hubungan rahasia antara Alexis dan keluarga Ramsey yang perlu diciptakan untuk menjelaskan semuanya. Ia pernah berpacaran dengan wanita yang menyembunyikan bagian besar hidupnya.
Kesederhanaan itu justru terasa memalukan baginya.
Jason menanyakan hal yang sungguh diketahui: tempat mereka biasa bertemu, cerita yang pernah disampaikan Kristin, dan kapan hubungan berakhir. Alexis beberapa kali memeriksa pesan sebelum memberikan waktu yang lebih tepat.
"Aku ingin membedakan apa yang kutahu sekarang dari apa yang dia katakan waktu itu," ujarnya.
Jason memberinya kesempatan.
Pada satu bagian, Alexis berhenti membaca. Ada pesan lama Kristin yang mengatakan dirinya lelah karena selalu disalahkan orang. Dahulu ia menjawab bahwa ia percaya kepadanya.
Kini ia tidak tahu harus merasa marah kepada wanita itu atau kepada dirinya sendiri.
"Anda tidak perlu mengubah isi pesan karena pandangan Anda sekarang berbeda," kata Jason.
Alexis mengangguk dan melanjutkan.
***
Sesudah pertemuan, ia menelepon Gabriella. Ia tidak memberikan rincian perkara atau meminta adiknya mencari sesuatu. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya sedang menghadapi kabar sulit mengenai seseorang dari masa lalu.
"Kakak baik-baik saja?"
"Belum terlalu. Tapi Kakak sedang mengurusnya."
Gabriella terdengar ingin bertanya lagi, lalu mengatakan ia akan berada di rumah sore itu.
Alexis berterima kasih.
Ia menyesal pernah meremehkan ketidaknyamanan adiknya. Namun ia tidak ingin sekarang memberi Gabriella beban seolah seorang anak seharusnya mampu melihat seluruh rahasia orang dewasa.
Ketika pulang nanti, ia akan meminta maaf karena tidak mendengarkan perasaannya. Ia tidak perlu menjadikannya penyelidik yang ternyata lebih pandai daripada dirinya.
***
Sore itu ia benar-benar meminta maaf. Gabriella duduk di ujung sofa dan mengatakan ia dahulu hanya tidak suka melihat kakaknya selalu sedih setelah bertemu Kristin.
"Aku tidak tahu apa-apa tentang masalah yang sekarang," katanya.
"Kakak tahu. Kamu tidak perlu tahu untuk boleh merasa tidak nyaman."
Gabriella mengangguk, lalu bertanya apakah ia boleh memesan makanan.
Alexis menyerahkan pilihan kepadanya. Mereka berdebat sebentar tentang jumlah yang terlalu banyak, dan ia akhirnya mengalah. Rasanya menyenangkan membicarakan sesuatu yang akibat terburuknya hanya sisa makan malam.
Ia tidak kembali membela Kristin. Ia juga tidak meminta adiknya ikut membenci wanita itu untuk membuktikan bahwa mereka berada di pihak yang sama.
Di kantor, Tristan menerima pembaruan mengenai pencocokan bahan lama. Beberapa bagian keterangan Kristin mengenai kendaraan dan lokasi sesuai dengan catatan yang telah ada. Itu tidak menjawab setiap hal yang baru diucapkannya, terutama mengenai pikiran dan niat orang yang sudah meninggal.
Tristan mencatat bagian yang boleh diketahuinya.
Ia tidak menelepon Alexis untuk meminta lebih banyak cerita tentang Kristin. Sahabatnya telah menghubungi Jason, dan ia tidak perlu mengulang pemeriksaan itu demi menenangkan dirinya sendiri.
Finn masuk membawa berkas pekerjaan. Tristan membaca halaman pertama, kemudian meminta satu bagian dijelaskan ulang.
"Saya bisa kembali nanti, Mr. Ramsey."
"Tidak. Jelaskan lagi. Aku ingin memahami sebelum memutuskan."
Finn duduk dan menerangkan dengan lebih pelan. Setelah beberapa menit, angka-angka mulai masuk akal. Tristan menandatangani bagian yang sudah dipahaminya dan menunda satu keputusan yang belum siap diambil.
Untuk pertama kali pagi itu, ia berhasil menyelesaikan sesuatu yang tidak berkaitan dengan kematian.
***
Menjelang malam, Alexis mengirim pesan bahwa keterangannya sudah diberikan. Tristan membalas terima kasih, lalu menambahkan pertanyaan tentang apakah sahabatnya sudah makan.
Jawaban datang cepat.
"Sekarang giliranku menerima pertanyaan itu?"
Tristan tersenyum tipis.
Mereka tidak membicarakan Kristin lagi malam itu. Alexis mengirim foto makanan yang terlalu banyak dibeli Gabriella, dan Tristan mengatakan sebagian tampaknya dapat disimpan untuk besok.
Setelah menutup percakapan, Tristan memandang foto orang tuanya.
Ada saat ketika kemarahan membuatnya ingin memutus hubungan dengan siapa pun yang pernah dekat dengan Joana. Malam sebelumnya hampir menunjukkan betapa mudah keinginan itu mengenai orang yang juga telah dibohongi.
Ia tidak ingin kehilangan sahabat hanya agar dunia terlihat lebih sederhana.
Ia mematikan lampu meja, meninggalkan foto tetap di tempatnya. Kebenaran yang datang tidak membuat semua orang terbagi menjadi yang bersalah dan yang mengetahui segalanya.
Sebagian dari mereka hanya terlambat melihat orang yang pernah dipercaya.