Beberapa hari kemudian.
Pustin mengantar sang istri untuk pergi ke sebuah pedesaan terpencil. Dia berencana melahirkan di sana karena tidak ingin mendapatkan ketenangan. Pustin menitipkan sang ibu pada istrinya agar dijaga ketat dan penuh kasih sayang.
"Kau pasti akan menyusul 'kan, Sayang?" Salsa memastikan kepada Pustin, sebelum dia masuk ke peron stasiun.
"Jangan khawatir, Sayang. Aku pasti akan menyusulmu." Pustin mengusap-usap bahu Salsa agar istrinya tenang.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sana."
Sepasang suami istri itu berpelukan. Salsa takut kalau Pustin tidak pernah menyusulnya, tapi Salsa mencoba percaya kepada Pustin.
Satu kecupan Pustin berikan ke Salsa. Pustin juga mencium anak pertama mereka yang berdiri di samping Salsa.
"Jaga dirimu, ya, Sayang. Kau harus mendengar