Mereka berhasil keluar dari zona zombie dan beristirahat di sebuah bangunan bekas toko.
Renji duduk di sudut, menatap tangannya yang terluka. Luka itu sudah sembuh… terlalu cepat.
"Ada yang mau menjelaskan apa tadi itu?" tanya Kenta.
Aoi menghela napas. "Zombie itu berbeda… seperti berevolusi."
Renji mengepalkan tangan. "Aku tidak yakin, tapi—"
Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, suara aneh terdengar dari belakang mereka.
KREEK. KREEK.
Mereka segera mengambil senjata. Dari sudut ruangan, seorang gadis kecil berdiri. Bajunya robek, tubuhnya kurus kering, dan matanya kosong.
Aoi menodongkan senapannya. "Siapa kau?"
Gadis itu tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengangkat tangannya… dan menunjuk ke arah Renji.
"Kau… bukan manusia."
Renji membeku. "Apa?"
Gadis itu tersenyum kecil, lalu tubuhnya bergetar hebat sebelum dia roboh. Darah hitam merembes dari mulutnya.
Mereka semua terdiam, sebelum Kenta memeriksa denyut nadinya. "Dia… sudah mati."
Namun, sebelum mereka bisa bereaksi lebih jauh, suara sirine terdengar di luar.
"Kita punya masalah." Aoi menunjuk ke luar jendela.
Di luar, sekelompok pria bersenjata muncul. Mereka mengenakan pakaian tempur dan membawa senapan.
"Siapa mereka?" bisik Kenta.
Salah satu pria itu berbicara dengan suara keras. "Kami dari The Warlord! Kami tahu kalian di dalam! Serahkan diri kalian, terutama bocah yang kebal itu!"
Renji menggertakkan gigi. Bagaimana mereka tahu?
"Persetan," gumamnya. "Sepertinya kita akan bertarung."