Tanpa peringatan, suara tembakan menggema.
Mereka berlindung di balik meja. "Apa rencana kita?" tanya Aoi.
Renji menarik napas. "Kita harus melawan."
Kenta mengangguk. "Kalau begitu, ayo buat neraka kecil untuk mereka."
Dengan koordinasi cepat, mereka menyerang balik. Aoi menembak dari jendela, sementara Kenta melempar granat improvisasi.
Renji? Dia melakukan sesuatu yang lebih gila.
Ia berlari ke luar, langsung menghadapi musuh. Peluru melesat ke arahnya, tapi entah bagaimana, dia bisa menghindarinya dengan refleks yang tak biasa.
Matanya membara merah sesaat.
Dia meraih salah satu tentara, menendangnya ke dinding, lalu merebut pistolnya.
"Renji?! Apa yang kau lakukan?!" Aoi berteriak.
Namun, Renji merasakan sesuatu di dalam dirinya. Tenaga yang luar biasa.
Tapi juga… sesuatu yang lain.
Tiba-tiba, seorang pria besar muncul—pemimpin mereka. "Menarik… bocah ini memang istimewa."
Sebelum Renji bisa bereaksi, pria itu mengangkat senjata unik—peluncur listrik.
BZZZT!
Arus listrik menyambar tubuh Renji. Seketika, kesadarannya menghilang.
Saat Renji sadar, dia berada di ruangan gelap. Tangan dan kakinya terikat.
Di depannya, pria besar tadi menatapnya.
"Selamat pagi, bocah."
"Di mana teman-temanku?" Renji mendesis.
Pria itu tertawa. "Mereka masih hidup. Untuk sekarang."
Renji menggertakkan gigi. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin tahu… bagaimana kau bisa bertahan dari virus ini? Kenapa kau tidak berubah? Atau mungkin… kau sudah berubah?"
Renji tidak menjawab, tapi sesuatu dalam dirinya mulai bereaksi. Luka di tangannya yang seharusnya sembuh… berdenyut dengan warna hitam pekat.
Pria itu tersenyum. "Ya… kau berbeda. Kau bisa menjadi senjata yang sempurna."